kutipan dr :
http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/22/kat/0/news_id/1703


2008-07-26 07:51:00
'Israel Teroris Sebenarnya'

Arthur G Gish atau akrab disapa Art, memang penganut Kristiani. Ia
juga warga negara AS (AS). Tapi, sejak 1995, petani organik ini
menghabiskan waktu beberapa bulan setiap tahunnya di Palestina.Bersama
timnya, Christian Peacemaker Teams (CPT), Art menjadi aktivis
perdamaian. Baru-baru ini, pengalamannya di Palestina itu dituangkan
dalam buku berjudul Hebron Journal. Republika berkesempatan berbincang
dengannya. Selasa (22/7), saat berkunjung ke Indonesia selama 10 hari,
atas prakarsa Mizan. Berikut bagian terakhir wawancara dengan Art.

Apa pandangan Anda mengenai konflik internal Fatah dan Hamas?
Itu hal yang sangat sulit dan menjadi hambatan. Namun, hal lain yang
saya pahami, masalah itu diciptakan oleh orang-orang di luar
Palestina. Israel telah melakukan banyak hal terkait Hamas. Israel
berharap Hamas yang punya senjata saling berperang dengan Fatah.
Israel yang menciptakan konflik Hamas dan Fatah.
Dua tahun lalu, Hamas menang pemilu dan tak ada yang meragukan bahwa
pemilu jujur dan adil. Namun, tak lama, Israel dan AS menghancurkan
pemerintahan yang dibentuk Hamas. Seluruh bantuan keuangan dihentikan
karena pemerintahan dijalankan Hamas. Dan, akhirnya, kita melihat
Fatah dan Hamas saling bertentangan.

Bagaimana pandangan Anda tentang Hamas? Sebagian kalangan menyebut
Hamas sebagai kelompok teroris?
Saya tak akan memanggil Hamas sebagai kelompok teroris. Saya seorang
pasifis yang pantang melakukan kekerasan. Hamas memang memiliki sayap
militer yang melakukan aksi. Namun, setahu saya, pengeboman dan bentuk
kekerasan apa pun juga bertentangan dengan Islam.
Menurut saya, Hamas sangat sedikit melakukan kekerasan. Dalam
kegiatannya, sebagian besar justru Hamas melakukan hal yang tak
terkait kekerasan. Mereka menjalankan rumah sakit, klinik, memberi
bantuan makanan bagi yang kelaparan, dan mereka memiliki integritas.
Kemenangan Hamas pada pemilu dua tahun lalu karena warga Palestina
mengetahui Fatah yang korup. Mereka percaya pada Hamas karena jujur.
Saat itu, tak hanya Muslim, tapi juga orang sekuler dan Kristen banyak
yang memilih Hamas.
Jika orang mengatakan Hamas kelompok teroris, Israel adalah kelompok
teroris sebenarnya. Dan, saya pikir, teroris yang paling buruk dan
paling besar di dunia adalah George W Bush.
Alqaidah, misalnya, dalam lima tahun terakhir telah membunuh ribuan
orang. Namun, dalam waktu yang sama, Bush telah membuat lebih dari
jutaan orang tewas.

Selama ini, Pemerintah AS selalu memberikan dukungan penuh kepada
Israel. Ketika Anda memutuskan pergi ke Hebron dan berinteraksi dengan
Muslim Palestina, apakah ada pertentangan dalam diri Anda sebagai
warga AS?
Saya mengerti dan saya menentang kebijakan AS. Saya telah terlibat
dalam aksi antikekerasan selama 50 tahun. Saya pernah bekerja dengan
Martin Luther King dalam aksi antikekerasan dan juga menentang Perang
Vietnam. Saya harus katakan, saya cinta negara saya. Tapi, apa yang
dilakukan negara saya membuat saya sangat sedih.

Menurut Anda, Pemerintahan AS mendatang akan mengubah kebijakan mereka
soal Palestina-Israel?
Saya tak bisa secara tegas mengatakannya. Sebagian besar politisi yang
kemudian terpilih jadi presiden berbuat berbeda dengan yang mereka
kampanyekan. Well, dalam soal Palestina, Barack Obama (kandidat dari
partai Demokrat--Red) terdengar lebih buruk dibandingkan Bush.
Saat Obama berbicara di Washington DC sebulan lalu, dalam pertemuan
American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), mengatakan, seluruh
Yerusalem milik Yahudi dan tak bisa dipecah. Dia menginginkan suara
dari pemilih Yahudi.
Secara politik, Yahudi memberikan suaranya kepada Demokrat. Sementara
itu, Kristen sayap kanan, termasuk Christian-Zionism, memberikan
dukungan terhadap Partai Republik. Jadi, baik Demokrat maupun Republik
punya komitmen yang tinggi kepada Israel.

Apakah Anda setuju bila dikatakan siapa pun yang menjadi presiden AS,
keberpihakan AS terhadap Israel tak akan berubah?
Tak akan pernah, sejak Truman (Harry Truman, presiden AS yang mengakui
berdirinya Israel pada 1948). Namun, yang harus kita lakukan adalah
bagaimana memahami cinta Tuhan. Ini dasar yang mendorong saya
melakukan aksi nonkekerasan di Hebron.

Bagaimana pendapat Anda tentang Christian-Zionism?
Ini merupakan heresi (bid'ah) yang sangat mengerikan. Ini sebuah
distorsi atas Kristianitas. Mereka percaya Tuhan akan menyelesaikan
masalah di dunia. Namun, Tuhan akan menjalankan kehendak-Nya itu
melalui Israel, pendirian ''negara'' Israel.
Saya pernah mendengarkan khutbah Jumat yang mengatakan bahwa hal yang
terpenting terjadi di dunia adalah terwujudnya sebuah ummah. Ini hal
yang sama, Kristen dan Islam percaya tentang keberadaan ummah. Jadi
bukan konsep negara.
Tuhan melakukan pekerjaan khusus dengan membawa semua ummah dalam
kebersamaan. Ini bukan dalam bentuk sebuah negara bangsa. Ini bukan
dalam bentuk Pemerintahan AS ataupun Israel, juga Indonesia. Ini
adalah ummah.
Menurut Christian-Zionism,itu adalah gerakan politik. Keberadaan
mereka masih ada. George W Bush mendapatkan banyak dukungan politik
dari mereka. Kristen konservatif juga memberikan dukungan kepada mereka.

Menurut Anda, apakah ketidaktahuan sejarah berdirinya Israel membuat
orang salah paham pada seluk-beluk konflik kawasan ini?
Saya pikir tidak dan akhirnya membuat mereka salah menilai atas
konflik antara Palestina dan Israel. Saya pikir, orang yang telah
pergi ke sana akan mengubah pemikiran mereka. Dan, saya berharap buku
saya bisa turut mengubah pemikiran yang salah itu.

<B>Bagaimana media di Barat menggambarkan konflik Palestina dan
Israel? Apakah mereka seimbang memberitakan konflik ini?<B>
Tidak, tidak di AS. Saya tak bisa mengomentari media di negara lain,
namun di AS tak ada keseimbangan berita. Israel baik dan Palestina
buruk. Jika ada seorang Israel terbunuh oleh warga Palestina, akan
menjadi berita besar.

Apakah Anda bahagia?
Ya, saya sangat bahagia. Ketika Anda menyerahkan hidup ke Allah dan
berupaya melakukan yang Allah perintahkan, itu sangat mengesankan.
Ketika di Hebron, saya diundang oleh sebuah keluarga dan tidur di
rumah mereka. Ini keistimewaan. Bayangan saya, hidup George W Bush
pasti membosankan karena tidak punya pengalaman seperti yang saya
miliki (Art pun tertawa).
Bagi saya, ini sebuah pembebasan. Kita bebas jika kita tidak takut
mati. Kita hanya menyerahkan diri pada Allah. Anda bisa bayangkan,
saat saya di Hebron, beberapa kali tentara Israel menghadang dan
menodongkan senjata kepada saya dan mengatakan, ''Saya akan membunuhmu.''
Saya bilang, ''Silakan saja, tembak saya.''
Saya bisa mengatakan itu karena saya seorang yang bebas dan
menyerahkan diri kepada Allah.

Lalu, apa yang Anda harapkan ketika mati?
Harapan saya adalah Rahman dan Rahim Allah. Ketika berada di hari
perhitungan nanti, amalan baik dan buruk saya diperlihatkan. Saya
berharap Allah memberikan belas kasihan-Nya. Hanya ini jalan keluarnya.
Saya pikir, dalam Islam, ada hadis yang juga menyatakan demikian. Nabi
Muhammad SAW mengatakan, seorang nabi pun hanya dapat masuk surga
semata karena kasih sayang-Nya. Dalam kasus lain, orang sering
bertanya kepada saya, apakah ada harapan di Palestina? Saya jawab,
mungkin tidak. Namun, saya punya harapan lain. Harapan saya bukan pada
proses politik yang kini terus berjalan, tapi hanya pada Allah.

Bagaimana hubungan Anda dengan istri?
It's a big problem. Hati saya berada di Palestina dan hati istri saya
di Irak. Kedua-duanya keras kepala. Saya terkadang menghabiskan waktu
di Irak dengan dia. Dia pula terkadang datang ke Palestina.
Bagi saya, perpisahan ini adalah spirit dari puasa. Seperti kita
ketahui, puasa tak hanya menahan diri dari makanan dan minuman, tapi
segala sesuatu. Saya belajar makna puasa dari Islam, lebih dari 10
tahun saya mengikuti Ramadhan.
Kembali kepada terpisahnya saya dengan istri, apa yang saya lakukan
adalah puasa. Kami melakukannya untuk Allah. Pada 1991, saya hadir
dalam pertemuan di masjid Athens dan imam mengucapkan terima kasih
atas apa yang telah saya lakukan bagi perdamaian.
Dia mengatakan bahwa saya telah melakukan hal besar dalam ranah
kemanusiaan. Tapi, saya katakan tidak. Saya melakukannya untuk Allah.
Dia lalu memeluk saya erat. Puasa membuat saya berdisiplin. Saya
pikir, keterpisahan saya lebih kecil daripada mereka yang terpisah
akibat penderitaan.

Terakhir, apa saran Anda agar kami pun dapat menciptakan perdamaian?
Buatlah Muslim Peacemaker Team. Betapa indahnya jika kita bisa bekerja
sama menebarkan benih cinta dan perdamaian. Perdamaian akan tercipta
jika ada cinta. Perdamaian tidak akan berjalan seiring dengan
ketidakadilan. Jadi, tegakkan keadilan. Insya Allah.  fer/yyn
(-) 

Kirim email ke