http://groups.yahoo.com/group/ac4x3/message/1255 Adab Menggunakan Kata
As Salamu 'alaikum wr. wb., Rekan-rekan sekalian milis Manajemen Cinta Islami. Perkenankan ane hari ini sharing tafsir satu ayat yg berkesan, sekaligus utk memurnikan cinta kita kpd Nabi Muhammad saw dgn kembali menata kata, memaki adab dalam memilah dan menggunakan kata utk disandingkan kpd Nabi Muhammad saw. Mari kita baca Al-Quran, Surat ke-2, yakni Surat Al-Baqoroh, ayat 104-105. Kira-kira terjemahannya sbb: (ane nukil dari al-Quran Digital versi 2.1) 104. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): "Raa'ina", tetapi katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih[80]. 105. Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar. Tatkala kita membaca Asbabun-Nuzulnya (bukunya dijual dgn judul Asbabun-Nuzul, bisa didapatkan di toko buku Gunung Agung, Gramedia, Walisongo), tertulis sebagai berikut: 80]. Raa 'ina berarti: sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. Di kala para sahabat menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orang Yahudipun memakai kata ini dengan digumam seakan-akan menyebut Raa'ina padahal yang mereka katakan ialah Ru'uunah yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya Tuhan menyuruh supaya sahabat-sahabat menukar perkataan Raa'ina dengan Unzhurna yang juga sama artinya dengan Raa'ina. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa dua orang Yahudi bernama Malik bin Shaif dan Rifa'ah bin Zaid, apabila bertemu dengan Nabi SAW mereka mengucapkan: "Ra'ina sam'aka was ma' ghaira musmai'in." Kaum Muslimin mengira bahwa kata-kata itu adalah ucapan ahli Kitab untuk menghormati Nabi-nabinya. Mereka pun mengucapkan kata-kata itu kepada Nabi SAW. Maka Allah menurunkan ayat ini (S. 2: 104) sebagai larangan untuk meniru-niru perbuatan kaum Yahudi. (Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari as-Suddi.) Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kata "Ra'ina" dalam bahasa Yahudi berarti caci maki yang jelek. Sehubungan dengan itu ada peristiwa sbb: Ketika kaum Yahudi mendengar sahabat-sahabat Nabi SAW memakai perkataan itu (Ra'ina) mereka sengaja mengumumkan agar perkataan itu biasa dipergunakan dan ditujukan kepada Nabi SAW. Apabila para shahabat Nabi mempergunakan kata-kata itu, maka mereka menertawakannya. Maka turunlah ayat ini (S. 2: 104). Ketika salah seorang shahabat, yaitu Sa'd bin Mu'adz mendengar ayat ini, berkatalah ia kepada kaum Yahudi: "Hai musuh-musuh Allah! Jika aku mendengar perkataan itu diucapkan oleh salah seorang di antaramu sesudah pertemuan ini akan kupenggal batang lehernya." (Diriwayatkan oleh Abu Na'im di dalam kitab ad-Dala'il dari as-Suddi as-Shaghir, dari al-Kalbi, dari Abi Shaleh yang bersumber dari Ibnu Abbas.) Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (S. 2: 104) ketika seorang laki-laki berkata: "Ari'na sam'aka". (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ad-Dlahhak.) Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa pada waktu itu ada beberapa orang Yahudi yang mengatakan: "Ari'na sam'aka" yang ditiru oleh beberapa orang Islam. Akan tetapi Allah membencinya dengan menurunkan ayat ini (S. 2: 104). (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari 'Athiyyah.) Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika kaum Muslimin mengucapkan "Ra'ina sam'aka", datanglah kaum Yahudi dan berkata seperti itu. Maka turunlah ayat ini (S. 2:104). (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah.) Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (S. 2: 10) sehubungan dengan ucapan "ra'ina", yaitu bahasa yang dipakai kaum Anshar di zaman Jahiliyyah, dan karenanya dilarang oleh ayat ini (S. 2: 104). (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari 'Atha'.) Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa sesungguhnya orang Arab apabila bercakap dengan salah seorang temannya berkata: "Ari'na sam'aka." Kemudian mereka dilarang menggunakan kata-kata itu dengan turunnya ayat ini (S. 2:104). (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abil-'Aliah.) Apa hikmah yg kita dapatkan hari ini? Bahwa kita harus berhati-hati memilah dan menggunakan kata utk disandingkan kpd Nabi Muhammad saw, inilah adab yg langsung diajarkan oleh Allah swt kpd kita semua, muslimin/muslimat, para pencinta Nabi Muhammad saw. Benar mungkin kita memakai suatu kata yg pd awalnya memiliki makna yg baik...namun ada bagusnya dikaji ulang, dan mungkin bisa ditinggalkan bila kata-kata tersebut mengandung syubhat utk memancing polemik, terutama utk dieksploitasi menjadi mengarah kepada pelecehan terhadap Nabi Muhammad saw, baik secara eksplisit (tegas) maupun implisit (tersirat). Mari di penghujung minggu ini, kita merenung...sudah benarkah adab kita dalam menyandingkan suatu kata kepada Nabi Muhammad saw? Mohon maaf bila kurang berkenan. Yg Benar dari Allah swt semata, yg salah dari ane pribadi belaka. Allah swt dan Rasulullah saw terlepas dari segala kesalahan, kekhilafan, dan kebodohan ane. Wassalam, Nugon Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!! http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/ http://nugon19.multiply.com/journal
