Adab Dalam
Membicarakan Khabar Terkait Allah, Khususnya Terkait Sifat dan Asma Allah

 

Kekisruhan berkepanjangan melanda umat
Islam, akibat pembahasan beberapa topik. Topik tersebut membuat polemik debat 
berkepanjangan,
dan membuat perpecahan di antara umat Islam. Bahkan sampai taraf pupusnya adab,
dan lebih parah lagi, sampai menggelincirkan para pendebat itu kedalam
kesesatan dan kelalaian.


Dan Topik Khabar terkait Allah, terutama
yang dianggap sebagai Khabar yang menerangkan Sifat dan Asma Allah, merupakan
satu dari sekian banyak topik yang membuat umat Islam berpecah-belah. Bukan
hanya umat Islam, umat agama Samawi lainnya pun turut berpecah karena topik
ini. Bahkan juga umat agama Ardhi dan para penganut filsafat atau pun aliran
kepercayaan berpecah karena topik ini.

 


Ada sebagian dari umat Islam yang terjebak
pada kutub penetapan bahwa segala Khabar terkait Allah adalah dipastikan  
merupakan Sifat dan Asma Allah secara hakiki. Sehingga
saking bersemangatnya dalam menetapkan, mereka menetapkannya dan membahasnya
dengan kalimat yang mengandung `aura` penyerupaan dan penjasadan terhadap Dzat
Allah. Dan mereka sering memberi memberi pernyataan bahwa sikap mereka meniru
ahli hadits, sehingga mereka menganggap dirinya ahli hadits.


Di kutub yang lain, banyak orang yang
menganggap dirinya ahli dalam logika, yang menganggap dirinya ahli kalam, saking
bersemangatnya untuk mensucikan Allah dari segala bentuk penyerupaan atau pun
penjasadan, mereka selalu melakukan takwil di segala Khabar terkait dengan
Allah, terlebih kepada yang dikaitkan dengan Sifat dan Asma Allah, mentakwil 
hingga
ke tingkatan takwil yang terlalu dibuat-buat dan berlebihan.

 


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yang namanya
sering dikaitkan dengan polemik ini, dan sering dianggap pro terhadap salah
satu kutub, sebenarnya pernah memberi peringatan halus sekaligus menerangkan
bahwa dirinya bukanlah pendukung salah satu kutub tersebut. Beliau pernah
berkata, “Kesalahan ahli kalam dalam menafikan sifat-sifat lebih banyak, dan
kesalahan ahli hadits dalam menetapkan lebih banyak.” [1]

 


Di masa salaf, para salafus-sholih sangat
berhati-hati, menghindari diskusi dan pembahasan yang berkepanjangan dan
berlebihan terkait segala Khabar Sifat dan Asma Allah. 


Mereka menjaga adab dalam menggunakan kata
terhadap Nabi Muhammad saw, dan mereka jauh lebih menjaga diri dalam menggunakan
kata terhadap Allah swt. 

Mereka cenderung lebih memilih diam, dan
tidak menafsirkannya, demi keselamatan, dan demi menjaga adab terhadap Allah
swt, mengagungkannya sebagaimana mestinya, sebagaimana Allah mengagungkan
diri-Nya.


Allah swt bukanlah dijadikan objek
pembahasan, target pembedahan, bahan perdebatan!!! 

Melainkan Allah swt wajib diimani, ditaati
segala perintah-Nya, dijauhi segala larangan-Nya, dan kita harus selalu
merasakan begitu melekatnya pengawasan Allah terhadap kita!!! 


Sehingga mengubah dan membentu prilaku kita
menjadi lebih baik. Dan kita selalu memakai adab luhur terhadap segala hal yang
terkait dengan-Nya, termasuk untuk Khabar yang terkait dengan Allah, terutama
yang dianggap mempunyai kaitan dengan Sifat dan Asma Allah.

 


Mari kita telaah beberapa hadits Nabi
Muhammad saw, dan perkataan salafus-sholih berikut ini, juga beberapa renungan
ayat-ayat suci Al-Quran.


Dari Abu Hurairah
ra berkata: Rasulullah saw bersabda,
“Orang banyak selalu saling bertanya, sampai-sampai mereka mengatakan begini,
“Allah menciptakan makhluk lalu siapakah yang menciptakan Allah?”. Maka 
barangsiapa
menghadapi masalah macam ini, hendaklah ia menjawab, “Aku beriman kepada
Allah”. (HR. Muslim)[2]


Demikianlah, Rasulullah saw telah
memperingatkan akan kecenderungan manusia untuk mencari tahu hakikat sesuatu,
terhadap apa pun atau siapa pun, termasuk terhadap Allah. Maka hendaknya
banyaknya pertanyaan tentang hakikat Dzat Allah, pencarian secara rinci terkait
Sifat dan Asma Allah dikendalikan, karena sering kali merupakan jebakan setan.


Sabda Rasulullah
saw, “Pikirkanlah makhluk Allah dan jangan memikirkan Dzat Allah sebab kamu
benar-benar tidak akan mampu melakukannya”. Hadits ini menurut Al Iraqi
diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam kitab “Al Hilyah” dengan sanad yang
lemah, Al Ashbihani meriwayatkannya di dalam kitab “At Targhib Wat Tarhib”
dengan sanad yang lebih kuat (shahih) dibandingkan dengan sanad periwayatan Abu
Nu’aim; dan demikian pula Abusy Syaikh meriwayatkannya. [3]


Begitulah kadar kemampuan manusia, tidak
akan sanggup mencari tahu hakikat Dzat Allah, termasuk rincian Sifat dan Asma
Allah. Bahkan jangankan kepada Allah, dalam kadarnya terhadap ruang lingkup
makhluk Allah pun, manusia masih awam, masih jahil dari pemahaman hakikat
makhluk Allah tersebut, termasuk dirinya sendiri.


Di dalam kitab
“Ushulus Sunnah”, Abul Qasim Al Lalikai meriwayatkan dari Muhammad Ibnul Hasan,
teman Abu Hanifah ra. katanya, “Semua ahli fiqih baik di Barat maupun di Timur
sepakat beriman kepada Al-Quran dan hadits-hadits Nabi saw mengenai sifat Allah
swt yang diriwayatkan oleh orang-orang yang mempunyai sifat
kepercayaan/kejujuran. Mereka tidak memberikan penafsiran, penyifatan dan
penyerupaan. Barangsiapa pada saat sekarang ini sedikit memberikan penafsiran
terhadap hal itu berarti ia telah menyimpang keluar dari apa yang dilakukan
oleh Nabi saw dan memisahkan diri dari persatuan (jama’ah) sebab mereka tidak
menyifati dan tidak pula menafsirkannya. Mereka hanya memberi fatwa apa yang
terdapat di dalam Al-Quran dan As-Sunnah, kemudian mereka diam tidak memberikan
komentar”. [3]


Begitulah para salafus-sholih, cenderung
diam, tidak mau sering membahas Khabar terkait Allah, terutama yang terkait
dengan Sifat dan Asma Allah secara  berkepanjangan, karena dikhawatirkan menjadi
debat, dan tergelincir kepada sikap tidak mengagungkan Allah swt sebagaimana
mestinya.

 


Renungkan juga perkataan berikut, yang
memberikan peringatan adab dan kehati-hatian dalam membahas Khabar yang terkait
dengan Sifat dan Asma Allah. Bisa jadi ada sikap kita yang dianggap tidak
beradab kepada Allah swt kendati sebenarnya kita tidak sengaja dan tidak
berpikir ke arah tersebut. Renungkan saudara/i sekalian.


Harmalah bin Yahya
meriwayatkan, katanya, “Aku mendengar Abdullah bin Wahb berkata “Aku mendengar
Malik bin Anas berkata, “Barangsiapa sedikit saja menyifati Allah seperti
firman-Nya, “Orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu” seraya menunjuk
kepada lehernya dengan tangannya, atau seperti firman-Nya, “Dan Dia-lah Yang
Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” sambil menunjuk matanya atau kupingnya atau
sesuatu dari tangannya maka berarti ia telah memastikan demikian itu sebab ia
telah menyerupakan Allah dengan dirinya”.


Lebih lanjut Malik
berkata, “Tidakkah kamu mendengar ucapan Al-Barra’ ketika ia menceritakan bahwa
Nabi sw tidak berkurban dengan empat ekor binatang kurban, seraya
mengisyaratkan dengan tangannya sebagaimana Nabi saw mengisyaratkannya – kata
al-Barra’ melanjutkan – padahal tanganku lebih pendek daripada tangan beliau”.
Oleh sebab itulah maka Al Barra’ tidak suka menyifati tangan Rasulullah saw
sebagai sikap memuliakan kepada beliau. Padahal Rasul itu manusia, maka
bagaimana halnya dengan Allah swt. yang tidak ada sesuatupun yang serupa dengan
Dia?”. [3]

 


Dan sungguh Allah telah mensucikan diri-Nya
dari segala yang terlintas dan terpikirkan oleh kita dengan Firman-Nya.


Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. (QS Al Ikhlas: 4)


…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia… (QS Asy-Syura: 11)


...Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat
yang mereka berikan. (QS Al An’aam: 100)


Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang
Dia dapat melihat segala penglihatan itu… (QS 
Al An’aam: 103)


Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami)
pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung)
kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau)
kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman:
"Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu,
maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat
melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu,
dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah
Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada
Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (QS  Al A’raaf: 143)


…Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang
tidak kamu ketahui? (QS Yunus: 68)


Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka
katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya. (QS Al Israa: 43)


…"Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah)
selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang
yang zalim." (QS Al Anbiyaa: 87)

 

Maka hendaklah orang-orang berakal
mengambil dan memahami hikmah ini.

Demikianlah sedikit renungan untuk kita
semua. Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.


Yang Benar dari Allah swt semata, dan yang
salah adalah dari saya pribadi belaka. Allah swt dan Rasulullah saw terlepas
dari segala kesalahan, kekhilafan, dan kebodohan saya.

Astaghfirullooh lii wa lakum.


Wassalam,

 


 

Nugon



 



[1] Akidah Salaf & Khalaf – Kajian
Komprehensif seputar Asma’ wa Sifat, Wali & Karamah, Tawassul dan Ziarah
Kubur; hal 191; Karya Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, diterjemahkan oleh Arif Munandar
Riswanto, Lc.; Cetakan Pertama, tahun 2005; Penerbit: Pustaka Al-Kautsar.

[2] Aqidah Islam; hal 66; Al ‘Aqaid buah
pena Syeikh Hasan Al Banna, dibukukan oleh Ridwan Muhammad Ridwan, dan
diterjemahkan oleh Drs. M. Hasan Baidaie; Keluaran tahun 1979;Penerbit: PT Al
Ma’arif.

[3] ibid, hal 84-86.




Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal


      

Kirim email ke