HIDAYAH YANG HILANG ATAU..?
Oleh Dessy Lusinah Wati
Ramadhan sudah di depan mata, rasanya hati begitu bahagia bisa menghampirinya
lagi. Sudah kangen rasanya ingin merasakan ritual puasa fardhu yang satu ini.
Seperti ada semangat baru yang susah saya hadirkan dihari-hari yang lain.
Mungkin karena bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Tapi terus terang bagi saya
terlalu berarti untuk dilewatkan begitu saja.
Pagi itu saya lihat ada mukena baru yang sudah menggantung santai dijemuran
teman. Saya yakin itu pasti baru dia beli kemarin saat liburan. Dan ini juga
pasti tidak lain salah satu bagian dia menyambut sang bulan suci nanti.
Iseng-iseng saya tanyakan ke teman saya “Mukena barunya bagus mba. Kok tidak
dipakai?” Langsung dia jawab “Saya tidak shalat. Mungkin belum dapat hidayah
saja.” Astaghfirullahal ‘adzim.. saya tertegun dengan jawaban singkatnya yang
begitu sakti itu karena mampu membuat saya terdiam begitu lama di tempat.
Saya jadi teringat masa kecil saya. Masa kecil yang lumayan bikin ibu saya
pusing karena ulah saya. Pasalnya menjelang lebaran begini, sisi kreatifitas
saya diperlihatkan dengan menyodorkan daftar permintaan saya tentang barang
baru yang ingin saya miliki, jauh-jauh hari tanpa berpikir panjang tentang
kesulitan hidup orang tua saya. Kalau tidak dapat lampu hijau senjata ampuhnya
nangis. Walau akhirnya saya bisa mengerti kesulitan hidup setelah diberi
penataran darurat oleh ibu saya dengan sabar.
Sampai sekarang dewasa pun kebiasaan untuk merayakan lebaran masih biasa
dibumbui dengan pakaian baru atau barang baru lainnya. Seperti pengalaman saya
dengan tahun lalu yang ikut-ikutan teman beli mukena baru di Choi Hung. Detail
bentuknya yang membuat saya begitu tertarik untuk membelinya walau sebenarnya
saya masih punya yang lama. Saya pikir tidak ada salahnya biar bisa saya pakai
saat shalat ied nanti di Victory Park, Causeway Bay. Saking penasarannya
sebelum hari H-nya saya sudah ingin mencoba memakainya. Barulah saya kecewa,
karena rasanya tidak nyaman sekali. Malah lebih nyaman mukena lama saya yang
sudah usang bertahun-tahun itu. Alih-alih ingin menghilangkan aroma barunya
malah warna bordirnya langsung luntur. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala
sambil tersenyum sendiri.
Peristiwa tersebut membuat saya menyadari satu hal lagi dari
kesalahan-kesalahan saya. Mukena baru dan langsung luntur. Sama seperti saya
yang suka terobsesi membaharui hal-hal yang bersifat fana dan belum tentu
bermanfaat apalagi dalam jangka waktu yang panjang. Sesuatu yang mubadzir.
Padahal sejatinya bukan mukena barunya yang harus diperbaharui.Tapi lebih dari
iman dan taqwa saya terhadap sang Khalik, sang maha pemberi ampun. Apalah
gunanya mukena baru kalau tidak pernah dipakai shalat, atau ingin meniru
orang-orang berduit yang hobbynya mengoleksi barang-barang sehingga membuat
dunia terasa lebih sempit saja saking banyaknya barang.
Lantas apa yang salah dengan hidayah itu dalam kehidupan ini? Kok sepertinya
gampang sekali mengkambing hitamkan hidayah sebagai alasan mautnya demi
pembelaan atas kebathilan dalam hidupnya. Memang hidayah itu hak prerogatif
Allah Subhana Wata’ala terhadap hamba yang terpilih, tapi ketika hidayah sudah
pernah dihadiahkan oleh-Nya dalam kehidupan manusia lantas kelakuan manusia
tersebut kembali ke perbuatan jahiliyahnya, apa terus bisa diartikan Allah
sudah mengambil/menghapus hidayah itu dan selesai sudah perkara? Orang kalau
ingin pintar saja disuruh kreatif banyak bertanya dan membaca, kenapa dalam hal
sepenting hidayah harus ungkang-ungkang kaki menunggu datangnya hidayah itu
tanpa berusaha mendekatkan diri ke hal-hal yang diridhoi-Nya. Apalagi kalau
sudah dianugerahi hidayah tapi malah disia-siakan begitu saja. Sedangkan kita
semua tahu bahwa ajal bisa menjemput kita sewaktu-waktu dan di mana saja.
Terkait dengan hidayah.. Masya Allah.. suatu hari saya terkagum-kagum dengan
kuasa Allah subhana wata’ala yang telah menyusupkan seberkas hidayah kepada
salah satu ukhti anggota baru di organisasi majlis ta’lim yang saya ikuti. Dan
hari itu juga dia telah sempurna melafadzkan kalimat Syahadat dibimbing da’i
kondang, disaksikan hampir seratus lebih jamaah. Alhamdulillahirobbil
‘alamin..tiada terkira bahagianya. Namun ketika saya bertemu lagi dengannya
dilain kesempatan.. astaghfirullahal ‘adzim..
Penampilan ukhti itu sudah kontras banget dari sebelumnya dan nongkrongnya
bersama anak-anak gank yang tidak mencirikan orang-orang muslimah. Tidak pernah
terbayangkan oleh saya maupun ukhti-ukhti yang lain. Dan perubahan itu tidak
membutuhkan waktu lama. Tidak sebanding dengan saat menunggu lamanya hidayah
menghampiri hidupnya.
Jadi masih pantaskah menyalahkan hidayah lagi???
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan
sesudah Engkau beri petunjuk kepada kamu, dan karuniakanlah kepada kami rahmat
dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia). Ya
Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan
pada) hari yang tak ada keraguan padanya. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi
janji” (QS. Ali-Imran: 8-9).
Bukankah Allah Subhana Wata’ala tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum
kaum itu berusaha mengubahnya?
Wallahu ‘alam bissawab
SMILE,
Riyand