Mungkin ada yg asing mendengar bahwa di Indonesia ternyata ada ulama kelas 
Internasional dan selevel dgn yg di Timur-Tengah...dan mungkin lebih ada yg 
asing lagi mendengar nama alm. Muallim Syafi'i Hadzami.

Sekilas biografi beliau ane forward agar kita juga rajin menimba ilmu dan 
membaca literatur dari kalangan ulama Indonesia, sebagaimana kita rajin menimba 
ilmu dan membaca literatur ulama Timur-Tengah.

Wassalam,



Nugon

--- In [EMAIL PROTECTED], Arul Cool 
<[EMAIL PROTECTED]>
wrote:



Note: forwarded message 
attached.


MUALLIM SYAFI'I HADZAMI
Ulama Asli Betawi yang Disegani 
para Habaib
02/09/2008

Pada masa kekuasaan Prabu Siliwangi, kawasan 
Betawi disebut sebagai
Sunda Kelapa di bawah kerajaan Pajajaran. Pada Masa 
kerajaan Islam,
kawasan ini berada di bawah kendali Kesultanan Banten, 
sedangkan ketika
Belanda datang, maka ia disebut sebagai 
Batavia.

Karena sebenarnya Batavia adalah sebuah kota baru (benar-benar 
dibangun
baru) yang berupa kota benteng dengan meniru semacam kastil di 
Eropa,
yakni terletak di sepanjang garis pantai yang sekarang disebut 
sebagai
kawasan Kota dan Ancol, maka daerah-daerah pemukiman penduduk Asli 
yang
bukan kawasan pesisir murni tetap berada dalam situasi 
sebagaimana
asalnya, seperti sebelum benteng Batavia didirikan oleh Belanda. 
Yang
membedakan hanyalah, statusnya yang terjajah dan penguasanya yang 
kejam
serta kondisi kehidupan yang kian sengsara, selebihnya tetap 
utuh
seperti adanya, mengaji dan bercocok tanam.

Betawi adalah sebuah 
kawasan yang sangat religius sebelum menjadi
seperti yang kita kenali 
sekarang sebagai kawasan metropolitan dengan
berbagai kesibukan pemerintahan, 
bisnis dan hiburan saat ini. Betawi
adalah sebuah tempat yang khas dengan 
tradisi kesantrian yang berbeda
dengan kawasan-kawasan lain di pulau Jawa, 
baik tanah Pasundan maupun
wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Tradisi 
kesantrian di Betawi sungguh sangatlah unik, karena masyarakat
betawi umumnya 
tidak mengandalkan pesantren dengan asrama tinggal para
santri dalam mendidik 
generasi penerusnya. Betawi memiliki tradisi
mengaji yang sedemikian kuat 
terhadap para ulama di tempat tinggal yang
berbeda-beda. Para santri pergi 
mengaji dan kemudian pulang kembali ke
rumahnya begitu pengajian selesai. 
Mereka dapat berpindah-pindah guru
mengaji menurut kecocokan masing-masing 
santri. Kondisi seperti ini
berlangsung hingga tahun 1960-an. Biasanya jika 
mereka ingin meneruskan
pendidikannya, biasanya mereka akan melanjutkan ke 
Timur Tengah,
terutama ke Makkah.

Di tengah-tengah suasana penjajahan 
Belanda yang menjadikan kehidupan
seluruh rakyat berada dalam kesulitan, 
terlahirlah seorang bayi mungil
pertama dari pasangan suami istri Muhammad 
Saleh Raidi dan Ibu Mini yang
diberi nama Muhammad Syafi'i pada tanggal 31 
Januari 1931 M. bertepatan
dengan 12 Ramadhan 1349 H. di kawasan Rawa Belong, 
Jakarta Barat. Ayah
Syafi'i adalah seorang Betawi asli, sedangkan ibunya 
berasal adari
daerah Citeureup Bogor. Ayahnya adalah seorang pekerja pada 
perusahaan
minyak asing di Sumatera Selatan. Dua tahun kemudian, setelah 
Syafi'i
lahir, ayahnya pulang ke kampung halaman dan tidak pernah kembali 
lagi
bekerja di perusahaan minyak asing. Ayahnya kemudian bekerja 
sebagai
penarik bendi.

Ulama Betawi ini sejak kecil di asuh oleh 
kakeknya dari pihak ayah, yang
merupakan seorang guru agama yang tinggal di 
daerah Batu Tulis XIII,
Pecenongan yang bernama guru Husin. Karenanya, 
Syafi'i kecil juga didik
sebagai guru agama. Kakeknya ini adalah seorang 
pensiunan pegawai
percetakan yang tidak memiliki anak, sehingga sebenarnya, 
ia bukanlah
kakek langsung, melainkan paman dari ayah Syafi'i. dengan 
demikian ia
memiliki banyak waktu untuk mendidik syafi'i mengaji bersama 
dengan
teman-temannya di samping berdagang kecil-kecilan untuki mengisi 
waktu
senggang. Dari sini terlihat bahwa Syafi'i adalah anak yang cerdas 
dan
ulet, ia tidak suka menyia-nyiakan waktunya hanya untuk 
bersantai-santai
saja.

Kakeknya ini sangat keras dalam mendidik 
anak-anak, sehingga dalam usia
Sembilan tahun, Syafi'i telah berhasil 
menghatamkan al-Qur'an. Sejak
kecil Syafi'i tidak pernah mengalami benturan 
dengan kakeknya. Meskipun
kakeknya ini adalah orang kaya dan pensiunan 
pegawai percetakan, namun
ia sama sekali tidak pernah mencita-citakan cucunya 
kelak menjadi
seorang pegawai juga. Karenanya, kakeknya selalu mengajak 
Syafi'i ke
tempat-tempat pengajian, kemana pun kakeknya ini mengaji. 
Sebagai
seorang guru ngaji, kakeknya juga menginginkan cucunya belajar 
mengaji
dan bergulat di bidang agama.

Sehingga teman-teman dan 
guru-guru kakeknya, secara otomatis juga
menjadi guru langsung dari Syafi'i 
muda. Di antara teman-teman kakeknya
ini adalah, Guru Abdul Fatah yang 
tinggal di daerah Batu Tulis. Juga
kepada Bapak Sholihin di Musholla 
kakeknya, sehingga Musholla tempatnya
mengaji ini kemudian dinamakan dengan 
Raudhatus Sholihin.

*Menikah dan Terus Belajar*
Sebagaimana kebiasaan 
masyarakat Betawi pada waktu itu, bahkan
masyarakat Indonesia pada umumnya, 
maka Syafi'i juga menikah di usia
muda, yakni tujuh belas tahun. Syafi'i 
menikahi gadis teman
sepermainannya di Batu Tulis, seorang gadis bernama 
Nonon. Ketika
menikah Syafi'i telah mengikuti neneknya pindah ke kawasan 
Kemayoran
sepeninggal kakeknya.

Syafi'i yang sejak kecil memang sangat 
gigih dalam menuntut ilmu dan
menjalani hidup yang serba dibatasi dalam 
didikan kakeknya, tek
menjadikan pernikahan sebagai hambatan untuk terus 
mencari ilmu. Syafi'i
menamatkan sekolah dasar pada tahun 1942 M. dan setelah 
kemerdekaan ia
bekerja sebagai karyawan di RRI. Karena ia juga selalu 
membawa-bawa
kitab-kitab bacaannya, maka ruang kerjanya yang di RRI juga 
berfungsi
sebagai tempat muthala'ah.
Karena telah dewasa dan memiliki 
cukup ilmu, maka selain bekerja dan
berumah tangga, Syafi'i juga mulai 
mengajar secara resmi.
Berangsur-angsur kemudian ia sering dipanggil sebagai 
Muallim syafi'i,
yang berarti Guru Syafi'i. Namun bukan berarti setelah mulai 
mengajar,
ia berhenti berguru dan mengaji. Muallim Syafi'i tetap merupakan 
pribadi
yang tawadhu' dan senantiasa giat menuntut ilmu. Karenanya, ia 
tetap
memiliki banyak guru yang aktif menyampaikan ilmu-ilmu agama 
kepadaya,
selain telah mulai memiliki banyak murid.

Di antara 
guru-gurunya tersebut adalah, Habib Ali bin Husein al-Atthas,
di Bungur 
kawasan Senen Jakarta Pusat; Ajengan KH. Abdullah bin Nuh,
dari Cianjur Jawa 
Barat yang aktif berceraman di RRI; Habib Ali bin
Abdurrahman al-Habsyi, 
Kwitang Jakarta Pusat; KH. Ya'qub Saidi, Kebun
Sirih Jakarta Pusat; KH. 
Muhammad Ali Hanafiyah: Pekojan Jakarta Barat;
KH. Muhtar Muhammad, kebun 
Sirih; KH. Muhammad Sholeh Mushonnif,
Kemayoran Jakarta Pusat; KH.Zahruddin 
Usman yang berasal dari Jambi; dan
sederet ulama-ulama lain di seantero 
Jakarta, baik yang memang tinggal
di Jakarta, maupun para ulama yang sedang 
bertugas di Jakarta. Syeikh
Yasin bin Isa al-Fadani adalah salah satu guru 
dari Muallim Syafi'i,
karena seringkali ketika Syeikh Yasin berkunjung ke 
Jakarta dan tinggal
di tempat salah seorang temannya di Prapanca Jakarta 
Barat, Muallim
Syafi'i selalu menyempatkan hadir di pengajian-pengajian yang 
di buka
oleh Syeikh Yasin di sana.

Dari tata cara beginilah, mengajar 
sembari terus menuntut ilmu, Muallim
Syafi'i mendarmabaktikan hidupnya untuk 
perkembangan islam di Jakarta.
Lambat laun, nama muallim Syafi'i bertambah 
menjadi Syafi'i Hadzami.
Ketika Beliau telah bergelut dengan masyarakat sela 
puluhan tahun, maka
namanya kemudian menjadi salah satu tokoh terdepan di 
kehidupan umat
Islam Jakarta. Murid-muridnya terdiri dari beragam usia, latar 
belakang
profesi dan kesukuan. Hal ini terjadi seiring terus tergesernya 
dan
perpindahan para penduduk asli Betawi dari kampong-kampung asal 
mereka.
Sehingga pengajian-pengajian Muallim Syafi'i Hadzami yang dahulu 
ramai
dikunjungi oleh penduduk suku Betawi, lambat laun juga dibanjiri 
oleh
penduduk-penduduk pendatang yang beragam sukunya.

*Kharisma dan 
Daya Tarik*
Termasuk pula yang menjadi daya tarik pengajian Muallim Syafi'i 
Hadzami
adalah karena pengajian-pengajiannya selalu juga dihadiri oleh para 
Kyai
dan teman-teman seperjuangannnya. Bahkan banyak sekali para ulama 
yang
dahulunya adalah guru-guru Muallim Syafi'i, kini 
menghadiri
pengajian-pengajian Beliau sebagai murid atau 
pendengar.

Sejak awal, Muallim Syafi'i Hadzami telah mengajar ke berbagai 
majlis
ta'lim. Pada tahun 1963, pada usia 32 tahun, Beliau membentuk 
sebuah
Badan Musyawarah Majlis Ta'lim (BMMT) yang diberi nama 
al-'Asyirotus
Syafi'iyyah. Badan ini kemudian berkembang menjadi sebuah 
Yayasan pada
tahun 1975 yang mampu mendirikan sebuah komplek pesantren di 
kampung
Dukuh, kebayoran lama, Jakarta Selatan. Pesantren ini 
kemudian
berkembang mejadi sebuah lembaga pendidikan yang berhasil 
mengelola
pendidikan dari tingkat TK hingga Aliyah. Di komplek pesantren 
inilah
kemudian Muallim Syafi'i tinggal sepanjang usianya. Namun 
demikian
pengajian-pengajian ke berbagai penjuru Jakarta tetp 
dilakoninya
sepanjang hidup. Bahkan hampir-hampir tiada waktu luang untuk 
sekedar
bersantai, karena kalaupun Muallim sedang tidak mengajar, maka 
Beliau
pasti sedang Muthola'ah. Hal ini dikarenakan sedemikian cinta 
beliau
kepada ilmu-ilmu agama. Bahkan karena cintanya ini, ruang tamu 
di
rumahnya pun lebih mirip sebagai perpustakaan.

Gaya bicaranya 
datar-datar saja namun tertib dan jelas, cara
berpakaiannya yang wajar-wajar 
saja, dan sikapnya yang tenang, serta
pembawaannya yang sederhana, menjadikan 
Muallim disegani oleh seluruh
ulama di betawi, baik dari kalangan habaib 
maupun para ulama Betawi
Asli. Hal ini terutama sekali dikarenakan sikap 
Beliau yang sangat teguh
dalam memegang prinsip-prinsip agama. Selain itu 
Muallim Syafi'i Hadzami
juga terkenal sangat rendah hati dan mencintai para 
muridnya.

Menurut KH. Rodhi Sholeh, salah seorang Mustasyar PBNU yang 
mengenal
Muallim Syafi'i Hadzami ini dalam sebuah pengajian di PWNU DKI 
Jakarta,
Muallim Syafi'i Hadzami adalah sosok guru yang tidak suka 
menyombongkan
diri meskipun Beliau sangat alim. Banyak orang-orang dari 
daerah yang
merasa telah menjadi Betawi setelah kenal dengan beliau, karena 
Beliau
sama sekali tidaklah membedakan mana orang-orang pendatang dari 
daerah
dan mana orang-orang asli Jakarta.

Sementara KH. Irvan Zidni 
yang mengaku sering bertemu langsung di
forum-forum Batsul Masail Muktamar 
PBNU mengakui bahwa Muallim Syafi'i
Hadzami memberi bobot yang berbeda kepada 
ulama-ulama asal Jakarta,
karena dalam forum-forum seperti itu, memang 
biasanya pendapat mereka
sering ditolak. Namun keberadaan Muallim Syafi'i 
Hadzami mampu menepis
kebiasaan ini. Muallim memang memiliki kemampuan 
keilmuan yang cukup
untuk mempertahankan pendapat-pendapatnya. Dalam arena 
batsul masail,
kemampuannya sebanding dengan para ulama dari daerah-daerah 
lain yang
sedari kecil menuntut ilmu di pesantren selama puluhan tahun, 
sehingga
sangatlah sukar untuk meruntuhkan argumen-argumen 
Beliau.

*Karya-Karya*
Muallim Syafi'i Hadzami, selain 
mendarmabhaktikan seluruh aktivitasnya
untuk kemajuan umat Islam, khususnya 
di daerah Jakarta, Beliau juga
memiliki karya-karya tulis yang masih dapat 
dijadikan referensi hingga
sekarang. Karya-karya Muallim hampir semuanya 
ditulis sebelum era
1980-an meski masih memiliki usia panjang hingga akhir 
2006, namun tidak
lagi ditemukan karya-karya yang merupakan buah tangan 
langsung Beliau
pada era-1990-an. Beberapa buku memang kemudian banyak di 
terbitkan,
terutama setelah tahun 2000 M. namun kesemuanya adalah kumpulan 
hasil
transkripsi pidato-pidato Muallim, baik dalam pengajian-pengajian 
darat
maupun pengajian-pengajian yang disiarkan melalui gelombang 
radio.

Karya-karya tersebut antara lain adalah Taudhihul Adillah 
yang
menjelaskan tentang hukum-hukum syariat berikut dengan dalil-dalil 
dan
keterangan-keterangannya; Sullamul Arsy fi Qiro'atil Warsy 
yang
menjelaskan tentang seluk beluk bacaan bacaan al-Qur'an menurut 
Imam
Warsy, kitab ini disusun pada tahun 1956 M. saat berusia 25 
tahun.

Sementara karya-karya lain biasanya berupa penjabaran tentang 
suatu
permasalahan, seperti penggalan-penggalan sebuah permasalahan hokum 
dan
ibadah-ibadah tertentu. Karya-karya jenis ini antara lain, Qiyas 
adalah
Hujjah Syariah (1969 M.); Qabliyyah Jum'at; Shalat tarawih; 
Ujalah
Fidyah Sholat (1977 M.) dan Mathmah ar-Ruba fi Ma'rifah ar-Riba 
(1976
M.).

*Muallim dan Kitab Kuning*
Hingga usia senjanya, 
hari-hari Muallim Syafi'i Hadzami senantiasa diisi
dengan mengajar 
berpindah-pindah, dari satu majlis ta'lim ke majlis
ta'lim lain. Meskipun 
lembaga pendidikan yang didirikannya kini telah
berkembang dan mapan, namun 
Beliau senantiasa membagi waktunya untuk
ummat secara 
merata.

Kenyataan ini menjadikan hari-hari Muallim senantiasa berjibaku 
dengan
kitab kuning, sebab pengajian-pengajian Muallim Syafi'i Hadzami 
tidak
pernah lepas dari kitab kuning. Di sini Beliau tampak menekankan 
betapa
tradisionalisme adalah sebuah watak perjuangan yang tidak 
boleh
ditinggalkan begitu saja.
Dalam pandangan Muallim, kitab kuning 
merupakan dasar bagi pemahaman
umat Islam untuk memahami sumber hukum asal 
syariat.

Ini berarti bahwa dalam pandangan Syafi'i Hadzami, sebuah 
kesalahan
fatal apabila mencoba memahami al-Qur'an dan hadits secara 
langsung
tanpa mengerti pandangan dari para ulama terlebih dahulu. 
Syafi'i
Hadzami meyakini bahwa kitab kuning masih selalu relevan dan 
selalu
menawarkan hal-hal baru bagi masyarakat Muslim. Hal ini tentu 
saja
menunjukkan bahwa Muallim Syafi'i sangat mengikuti perkembangan 
kitab
kuning. Artinya pembacaan dan oleksi kitab-kitab kuningnya 
boleh
dibilang up to date. Memang Muallim Syafi'i Hadzami sangat 
banyak
mengoleksi kitab-kitab kuning yang beraneka ragam, mulai klasik, 
modern
hingga kontemporer.

Karena telah mengenyam manfaat yang 
demikian besar dari kitab kuning,
maka Muallim memiliki kiat-kiat jitu untuk 
dapat menguasai kitab kuning
dengan benar, dengan arti yang sebenarnya. 
Menurut Muallim, hal
pertama-tama yang semestinya dilakukan oleh para santri 
yang mempelajari
kitab kuning adalah menguasai ilmu-ilmu alat, hingga masalah 
yang
sekecil-kecilnya. Ini berarti seorang pembaca kitab kuning 
haruslah
memahami lughat. Artinya harus mengenal lughat yg berbeda-beda, 
serta
harus memiliki rasa penasaran yang tinggi kepada ilmu-ilmu 
perbandingan
madzhab, sehingga tidak kaku dalam memberikan fatwa atau 
memandang suatu
permasalahan hukum.

Hal ini jelas sangat terlihat dari 
aktivitas-aktivitas muallaim yang
bukan hanya di MUI DKI Jakarta saja, 
melainkan juga di NU. Muallaim
sangat rajin menghadiri batsul masail-batsul 
masail, dan rapat
pleno-rapat pleno yang diadakan oleh PBNU, terutama yang 
diadakan di
Jakarta. Hingga pada muktamar NU ke 29 di Cipasung, Tasikmalaya, 
Muallim
Syafi'i Hadzami dipercaya menjadi salah satu Rois Suriah PBNU. Hal 
ini
tentu saja merupakan pengakuan keilmuan dan keulamaan dari NU 
mengingat
jarang sekali ada ulama dari Batawi yang dipercaya untuk 
menduduki
posisi ini.

Karisma keulamaan dalam diri Muallim Syafi'i 
Hadzami memancar bukan
hanya di Indonesia. Kedalaman ilmu Muallim juga 
dikenal hingga Mekkah
dan Hadramaut. Hal ini nampak dari seringnya muallim 
mendapat kunjungan
dari beberapa ulama dan para Habaib dari 
Hadramaut.

Ba'da mengajar di Masjid Ni'matul Ittihad, tepatnya tanggal 07 
mei 2006
M. Muallaim Syafi'I Hadzami merasakan nyeri di dada dan sesak 
napas.
Muallim berpulang ke rahmatullah dalam perjalanan menuju ke Rumah 
Sakit
Pertamina Pusat (RSPP). Linangan air mata mengalir 
mengantarkan
kepergian sang guru yang sangat dicintai oleh seluruh penduduk 
Jakarta
ini. /*(Syaifullah Amin)*/




[Non-text portions of 
this message have been removed]

--- End forwarded message ---



Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal


      

Kirim email ke