Dari posting milis sebelah, bagus sekali,
singkat tapi insyaaAllah bermanfaat.

Aslinya bisa didapat dari sini >>
http://tinyurl.com/55hsrf

***
yang belum join milisnya, ditunggu =)
[EMAIL PROTECTED]
***

-- 
Haryo Prabowo
A man can't be polished without trials
Like a gem can't be polished without frictions
I promised to myself :: to be a better man

---------- Forwarded message ----------
From: Fadil Basymeleh <EMAIL PROTECTED>
Date: 2008/9/9
Subject: [pengusaha-muslim] Kekayaan dan Kemiskinan Hakiki
To: [EMAIL PROTECTED]


  Oleh: Al Ustadz Abdul Jabbar -hafizhahullahu-

Harta benda merupakan bagian dari rizki yang telah ditetapkan oleh
ALLAH Subhanahu wa Ta'ala atas setiap hamba. Sebagian dilebihkan atas
sebagian yang lain. Sehingga muncullah sebutan kaya dan miskin. Akan
tetapi, siapakah sebenarnya orang yang disebut kaya atau
miskin?Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

"Bukanlah kekayaan itu dari banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu
adalah rasa cukup yang ada di dalam hati." (HR. Al-Bukhari no. 6446
dan Muslim no. 1051 dari Abu Hurairah radhiyallahu `anhu)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata dalam penjelasannya
terhadap hadits ini:

"Alhasil, orang yang disifati dengan ghina an-nafs (kekayaan jiwa)
adalah orang yang qana'ah terhadap apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala
rizkikan kepadanya. Dia tidak tamak untuk menumpuk-numpuk harta tanpa
ada kebutuhan. Tidak pula dia meminta-minta kepada manusia dengan
mendesak. Dia merasa ridha dengan apa yang diberikan Allah Subhanahu
wa Ta'ala kepadanya, seakan-akan ia terus-menerus merasa cukup.

Sedangkan orang yang disifati dengan faqru an-nafs (kefakiran jiwa)
adalah kebalikannya. Karena dia tidak qana'ah terhadap apa yang
diberikan kepadanya. Dia selalu rakus untuk menimbun kekayaan, dari
arah mana saja. Kemudian, bila dia tidak mendapatkan apa yang ia cari,
ia akan merasa sedih dan menyesal. Seakan-akan dia adalah orang yang
tidak memiliki harta. Karena dia tidak merasa cukup dengan apa yang
diberikan kepadanya, sehingga seakan-akan dia bukan orang yang kaya."
(Fathul Bari, 2/277)

Demikian pula, Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam telah
menyebutkan orang yang pada hakikatnya miskin, seperti dalam sabda
beliau Shallallahu `alaihi wa sallam:

"Bukanlah orang yang miskin itu orang yang meminta-minta kepada
manusia untuk diberi satu atau dua suap makanan, dan satu atau dua
butir kurma. Akan tetapi orang yang miskin itu adalah orang yang tidak
memiliki (rasa cukup dalam hatinya yang membuat dirinya tidak
meminta-minta kepada orang lain) dan orang yang tidak menyembunyikan
keadaannya, sehingga orang bersedekah kepadanya tanpa dia
meminta-minta." (HR. Al-Bukhari no. 1479 dan Muslim no. 1472 dari Abu
Hurairah radhiyallahu `anhu)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: "Kecukupan dalam hati akan
tumbuh dengan keridhaan terhadap qadha Allah Subhanahu wa Ta'ala dan
berserah diri terhadap ketetapan-Nya, meyakini bahwa apa yang ada di
sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah lebih baik dan kekal, sehingga
membawa dirinya berpaling dari tamak dan rakus serta meminta-minta
kepada manusia." (Fathul Bari, 2/277)

Wallahu a'lam bish-shawab.

Sumber:

http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=600

http://tinyurl.com/55hsrf

Kirim email ke