--- On Thu, 9/18/08, diyan budiyanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: diyan budiyanto <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [smu-112] [OOT] Bocah Misterius
To: "112" <[EMAIL PROTECTED]>, "dina" <[EMAIL PROTECTED]>, "pak totok" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "anisa ramdhani" <[EMAIL PROTECTED]>, "Feby ku" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "mba arvie" <[EMAIL PROTECTED]>, "nanto" <[EMAIL PROTECTED]>, 
"Bambang T" <[EMAIL PROTECTED]>, "upil" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thursday, September 18, 2008, 9:30 AM










    
            Bocah Misterius 



Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. 

Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung. 



Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan

bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan. 



Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana

kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat

menyala. 



Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan

butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut. 



Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya

bukan pada bulan puasa! 



Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak

orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu

saja menggoda orang yang melihatnya. 



Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga

hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari

biasanya. 



Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampong mengenai bocah itu. Mereka

tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan

bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging

tersebut. 



Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan

sekaligus keheranan. 



Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan

kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya. 



************ ********* ** 

Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung,

belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. 



Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari

kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama

juga! 



Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu dating lagi. Benar, ia menari-nari

dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain

menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga. 



Luqman pun lalu menegurnya.. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu malah

mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar. 



"Bismillah.. ." ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia

kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia

akan korek keterangan apa maksud semua ini. 



Kalau memang bocah itu "bocah beneran" pun, ia juga akan cari keterangan,

siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu. 



Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan

Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu,

dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda

tanya dari orang-orang yang melihatnya. 



"Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging

ini? Bukankah ini kepunyaan saya?" tanya bocah itu sesampainya di rumah

Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya.

Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman. 



"Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa," jawab Luqman dengan

halus,"apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu

bukannya 



ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu

itu.." 



Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu.

Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman

lebih tajam lagi. 



"Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang

lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu

mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada

sebelas bulan diluar bulan puasa? 



Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan

menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? 



Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang

menangis? 



Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang,

sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian

menjemput ajal..?! 



Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian

untuk menahan lapar dan haus? 



Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali

pada kerakusan kalian...!?" 



Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk

menyela. 



Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan

terdengar "sangat" menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba. 



"Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa

meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa

kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja. 



Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang

menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu

kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri? 



Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang

luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya

dengan istilah menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri? 



Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan

pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula. 



Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua

belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah

saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil

seperti kami...! 



Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? 



Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih? 



Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan

tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? 



Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya

pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan akan

adanya azab Tuhan yang akan menimpa? 



Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan...,

jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan 'tuk

setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi

kelak...." 



************ ********* * 



Wuahh..., entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi

kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. 



Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya! 



Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah

sembarangan. 



Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja

meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong. 



Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. 



Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan

raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa

dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu. 



Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan,

tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu

penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari

rumah Luqman! 



Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang! 



Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia

ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak

masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang

betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan

pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya

kita ingat.. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan

mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak. 



Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang

sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan

sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan

dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan. 



Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus

menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk

menahan lapar. 



Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang

luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata

hatinya. 



Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau

tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu

sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang

dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang. 



Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki

bercahayanya hati. 



Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah

lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan

tudingan-tudingan yang memang betul adanya. 



Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk

hidungnya ketika ia salah. 



Selamat menjalankan ibadah puasa..... 



New Email addresses available on Yahoo!

Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 

Hurry before someone else does!

http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ aa/



[Non-text portions of this message have been removed]




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke