Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!
http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/ http://nugon19.multiply.com/journal --- In [email protected], "Asma Nadia" <asma.na...@...> wrote: "Jangan pernah berpikir kita naik haji karena kaya, Asma... Kita naik haji karena kita diundang sama Allah... dipilih sama Allah. Bukan karena kita mampu secara materi ke sana. Kamu bisa kesana, karena kamu diundang sama Allah!" Kalimat itu terpatri betul di ingatan dan hati saya. Kalimat yang diucapkan Kang Gito Rollies tahun lalu ketika saya lewat handphone berpamitan kepada beliau, sekaligus meminta maaf jika ada kesalahan selama persahabatan kami. Dan kalimat itu terngiang lagi di kepala saya saat 1 Desember lalu melepas Mami di Bandara Soekarno Hatta, untuk berangkat haji. Mami tidak sendiri, melainkan berada bersama 6 saudara lain, Mas Tomi (suami mbak Helvy alias menantu) juga berangkat bersama Ibu dan saudara2 ibunya. Selain Mami yang turut juga menemaninya adalah Om Toni, adik Mami. Melihat mami dan Om Toni, tidak terasa mata saya berkaca-kaca. Saya yakin... beberapa tahun lalu mereka sendiri mungkin tidak menyangka akan menjadi tamu pilihan yang diundang Allah untuk bertamu di rumahNya. Mami dan Om Toni adalah dua mualaf... yang selama ini masih berjuang untuk menjadi muslim yang baik. Pikiran untuk haji itu...sebelumnya terasa jauh. Tapi jika Allah yang menggerakkan, siapa yang bisa mencegah? "Mami ingin ke Cina, Ran... lihat Cina sekalian cari saudara Opa di Beijing..." Sebagai keturunan Cina, mami tidak pernah pulang kampung. Maka mengupayakan agar Mami bisa ke Cina, diam-diam saya catat sebagai PR. Lalu ketika dana itu cukup... tiba-tiba Mami berubah pikiran. "Mami pengin ke Eropa aja Ran. Gak usah ke Cina dulu deh. Kata teman-teman Mami eropa bagus, Ran." Mami, berpuluh-puluh tahun hidup dalam mimpi untuk melihat negara-negara lain. Khususnya Roma. Dulu sekali mami suka mengulang kalimat "Jangan mati sebelum melihat Roma!" Dan selama ini kehidupan kami sangat sederhana, sementara Mami suka berjalan... suka melihat museum, suka membaca sejarah, imajinasinya yang kuat membuat Mami bisa seakan-akan melihat berbagai peristiwa di masa lalu, dengan tokoh-tokoh pentingnya, terasa hidup di benak Mami ketika mendatangi suatu tempat. Teman-teman Mami, khususnya yang keturunan Cina, sebagian besar orang berada. Mereka mengetahui kecintaan "Maria" terhadap hal itu. Dan suatu hari mengumpulkan uang bersama untuk mengajak Mami dalam sebuah perjalanan ke Turki. Dan Mami sangat senang, sekalipun tidak memegang uang banyak. Hanya sedikit sangu dari anak-anaknya yang kala itu masih baru membina keluarga dan belum lagi mapan. Saya menangis dalam hati ketika dengan semangat setelah pulang, Mami bercerita tentang betapa indahnya Turki dan apa saja yang dilihatnya di sana. Mami juga cerita bagaimana beliau berusaha menghemat uang agar cukup untuk membeli sedikit oleh-oleh... bagi anak dan cucu2nya. "Mami gak pernah beli minuman di luar. Mahal-mahal Ran. bisa 2 atau 4 dollar! Sayang. jadi Mami selalu bawa air dari hotel kemana-mana." Dan ketika teman-teman Mami belanja... Mami duduk menunggui barang-barang, dengan setia. Tawaran teman-temannya untuk ikut membelanjakan, atau jika Mami ingin dibelikan apa, ditolak dengan halus oleh Mami. Mami tidak punya foto yang benar-benar bagus selama berkunjung ke sana, hanya beberapa hasil bidikan kamera pocket teman-temannya. Mami sendiri gak punya kamera , dan anak-anaknya kala itu belum mampu membelikan bahkan yang sederhana sekalipun, untuk Mami. Sebagai penulis, saya dan HTR tidak pernah membayangkan akan kaya melalui menulis. Bukan karena iming-iming materi itu kami tekun menulis. Tapi karena begitu banyak hal yang mengusik nurani dan harus disuarakan. Tetapi Allah, di luar apa yang kami bisa harapkan, memberi lebih dari yang diminta bagi saya dan HTR melalui dunia menulis. Salah satunya yang mengharukan adalah... ketika Allah mengizinkan saya memenuhi panggilan ke tanah suci, melalui rizkiNya lewat menulis. Sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya. Pulang dari tanah suci, saya menabung lebih giat.. sebagai anak ada bakti lain yang harus kami tunaikan. Membahagiakan Mami. Dan ongkos ke Cina yang sudah terpenuhi, harus ditambah untuk membawa Mami ke Eropa. "Kenapa tidak pergi haji dulu? Barulah jalan-jalan." Kalimat seorang saudara kepada Mami. Saya mengenal Mami... dan sangat mengerti betapa Mami harus melakukan sesuatu dengan kehendak Mami sendiri. Mami tidak bisa dipaksa. Pengenalan Islam kepada mami kami lakukan dengan bertahap. Karena itu saya tidak pernah menyuruh Mami pergi haji saja dan tidak usah ke Cina atau Eropa. Yang saya lakukan bersama HTR dan Aeron adalah terus bekerja dan berusaha mewujudkan mimpi-mimpi Mami, termasuk ke Eropa. Tetapi pikiran tentang Mami pergi haji sebenarnya menguat. Saya tidak tahu kenapa ketika di tanah suci, tiba-tiba berpikir bagaimana Mami akan melalui thawaf dan sai ini dalam kondisi kakinya yang sakit? Bagian yang mengikat tempurung lutut Mami memang sudah rusak permanen dan harus dibantu knee support. Dan mami tidak kuat berjalan, bahkan sempat lumpuh. Tetapi jawaban bagi pertanyaan itu muncul seketika. Saya yang ketika itu sedang mengelilingi ka'bah, tiba-tiba tersentak karena rasa sakit di kaki yang terkena 'serangan' mendadak yang berasal dari tongkat seorang ibu tua di depan saya. Kaki saya sakit...tapi waktu itu hati saya tertawa. Geernya, saya merasa Allah menjawab kekhawatiran saya tentang Mami. Ibu di hadapan saya jauh lebih tua, lebih ringkih dan lebih sulit berjalan dibanding Mami... tapi dengan gagah bahkan tidak ada yang memapah, sosoknya berjalan cepat. Orang-orang memberikan ruang karena melihat betapa ibu tua yang berjalan dengan tongkat itu. Setelah itu, saya meminta lebih sering kepada Allah agar memudahkan jalan bagi Mami untuk datang ke rumahNya. Agar Allah kuatkan langkah-langkah Mami ke sana... Dan doa yang saya ucapkan di tanah suci dan disambung setiap usai shalat mendapatkan jawaban. Lebih cepat dari yang saya harapkan. Ketika saya menyampaikan kepada Mami bahwa tabungan anak-anaknya sudah cukup dan mengajukan pertanyaan itu, "Jadi kapan Mami mau ke Eropa?" Saya tidak mengerti kenapa Mami tidak terlalu bersemangat lagi mendengar kata eropa. Setelah diam beberapa saat, Mami hanya menyuruh saya menyimpan saja dana tersebut. "Kayaknya gak usah deh Ran. Simpan saja dulu. Siapa tahu nanti Mami pengin naik haji!" Mami... naik haji? Kemana impian tentang Eropa dan melihat Roma sebelum mati? Museum-museumnya, bangunan dan tempat-tempat yang selama ini begitu indah dalam angan Mami? Dan keinginan mami kami yang mualaf itu kemudian makin menguat. Hanya beberapa bulan setelah saya pulang dari haji, mami kemudian mantap dengan niatnya. Dan semua mendadak jadi mudah. Allah yang memudahkan. RizkiNya tercurah... hingga tidak hanya Mami tapi kemudian Om Toni, adik Mami yang mualaf dan tahun lalu istrinya (Tante Yaya) berangkat haji, juga menyatakan keinginan yang sama. Saya lega Mami bisa ditemani Om Toni. Karena Tomi sendiri harus mendampingi ibunya tahun ini. Yang mengharukan bagi saya adalah, betapa kesungguhan Mami dalam menyiapkan diri. Menyadari betapa minimnya pengetahuan Mami, maka beliau banyak meminjam buku-buku tentang haji, sebagiannya malah tidak terkejar saya baca waktu haji dulu. Mami banyak bertanya... juga rajin selama manasik haji. Om Toni? Persiapannya tidak kalah luar biasa. Beliau bahkan mengikuti dua manasik, satu lagi bimbingan di Bandung yang diikuti istrinya sebelumnya. Seperti Mami Om Toni banyak bertanya dan berusaha memanfaatkan masa manasik sebaik mungkin. Padahal OM Toni baru memulai usahanya sendiri... yang mau tidak mau sekarang harus dihandle oleh sang istri sendirian. Tawakal... ya. Tentang persiapan Mami, Bang Isa secara bergurau bahkan sempat berkomentar:"Kayaknya Mami malah lebih tahu dari ayah deh, Bunda... Pas diterangin tentang ini tentang itu... mami ternyata udah tahu." Mami berangkat dengan biro haji yang sama, yang saya dan Isa percayakan tahun lalu. Sebuah biro haji yang menurut saya memang dijalankan oleh orang-orang yang peduli. ONH plus tapi bukan yang mewah, bukan pula yang terlalu sebentar. 26 Hari... Mudah-mudahan cukup untuk menguatkan iman dan islam mami, juga Om Toni selama di sana. Saya sempat menangis ketika akhirnya Mami masuk check in ke dalam. Melihat wajahnya yang terbalut kerudung kaus berwarna tosca. Senyum yang terus tersungging di sana... dan hey... kemana mami yang cengeng? Mami justru sama sekali tidak menangis. Tidak teringat Nadya (anak Mb Helvy nomor dua yang masih kecil dan sering menjadi pusat kekhawatiran Mami). "Hati Mami tenang Ran... kaki rasanya enteng sekali..." Saya melirik Om Toni yang menyeka keringat. Adik mami yang satu itu sudah seperti anak pertama Mami, baktinya luar biasa kepada Mami... Buktinya sekarang saja dia yang membawakan tas ransel mami yang berat selain tas-nya sendiri... "Mi, terang aja Mami enteng. Mami gak bawa apa-apa. Yang berat kan Om Toni, hehehe." Mami dan OM Toni tertawa. Tentu saja saya hanya bercanda. Saya kira, baik saya, papa yang ketika itu juga ikut mengantar, dan Helvy... bisa melihat senyum ketulusan dan keikhlasan yang terus menerus terukir di bibir Mami... Selamat jalan Mi... semoga Allah terima sai mami... thawaf mami... haji Mami. Juga Om Toni... Dan semoga Allah tetapkan kebaikan menjadi jalan Mami hingga akhir hayat nanti... Cepat kembali ya Mi... Kami rindu. (mohon doa dari rekan-rekan untuk Mami dan Om Toni ya...) -- Asma Nadia TELAH TERBIT: CATATAN HATI BUNDA, Apakah yang Allah bisikkan ketika engkau di rahimku, sayang? http://anadia.multiply.com bestarinasyid.multiply.com [Non-text portions of this message have been removed] --- End forwarded message ---
