Apakah Anda Membaca Bacaan? (Oleh Syarif Niskala, also blogged at syarifniskala.com)
Ketika rangkaian kata atau kalimat masih ada di dalam taman pikiran, kita tidak dapat menyebutnya sebagai Bacaan. Ketika rangkaian kata atau kalimat masih bersemayam di Arasy, pengetahuan menyebutnya sebagai ilham, bukan Bacaan. Ketika para penerbit menuangkan tinta pada lembar-lembar kertas, kita (sebaiknya) menyebutnya sebagai buku, bukan Bacaan. Komputer menyimpan kalimat-kalimat itu sebagai data elektronik ke dalam lempengan-lempengan material memori, kita sepakat bahwa itu bukan Bacaan. Ketika titik-titik warna diatur menyerupai huruf-huruf di layar monitor (LCD atau pun tabung), kita menyebutnya sebagai image, bukan Bacaan. Kumpulan getaran suara yang teratur mewakili kalimat-kalimat dan dilantunkan pada ruang hampa manusia, bukan Bacaan. Dia hanya gelombang suara saja. Apa pun bentuk datanya: ilham, ingatan, buku, data elektronik, data image (citra), ataupun data audio, baru akan menjadi Bacaan kalau dibaca oleh manusia. Saat pembacaan, boleh dikeraskan suaranya, dilembutkan suaranya, atau disembunyikan dalam jiwa. Bacaan bisa hanya diindera oleh mata, atau oleh telinga, atau oleh raba tangan (braile), atau kombinasi ketiganya. Selama kalimat-kalimat itu terindera oleh tiga jenis indera manusia, dapat dinamakan Bacaan. Bacaan ini diperuntukkan bagi manusia, karena hanya manusia yang bisa membaca dalam arti yang sesungguhnya. Banyak makhluk yang dapat melihat, mendengar, atau meraba. Walau demikian, mereka tidak dapat dikatakan membaca, karena mereka tidak memahami apa yang diinderanya. Maha Suci Allah Swt. yang telah memilihkan nama bagi mukjizat terbaik sepanjang zaman, sehingga apapun kondisinya peradaban manusia, tetaplah pilihan nama itu sangat sesuai. Sebuah Bacaan dalam bahasa Arab adalah Al Qur’an. Catatan : Mohon Anda berkenan mengingat bahwa, membaca = mengindera + memahami. Dengan itu, Bacaan adalah untuk diindera + dipahami. Jika Anda tulus menaati apa yang Anda pahami, hadiahnya adalah kemuliaan yang tinggi. >From the note of Syarif Niskala
