Sudah Baik dan Benar-kah? Oleh Syarif Niskala (*also blogged at* syarifniskala.com)
Sebuah kata, senantiasa memiliki makna dan rasa yang spesifik. Makna kata terkait pengertian yang dapat diterima oleh pikiran. Sedangkan rasa kata terkait dengan sensasi penerimaan jiwa terhadap rangsangan dari indera (intonasi-telinga, warna suasana-mata, aroma-hidung, kecap-lidah, atau fisik-kulit). Pilihan kata berjenis santun, berarti pengertian yang mudah dimengerti serta sensasi jiwa yang diterima (damai). Seorang bijak mengatakan bahwa jika kita memahami makna, maka kita memiliki pengertian. Dan hanya orang yang mengerti, yang mampu bersikap bijak. Itulah sebabnya, orang yang luas pengertiannya, dikenal sebagai pribadi yang tinggi level bijaknya atau dikenal sebagai pribadi yang bijaksana. Terkait judul tulisan yang diketengahkan, sudahkah Anda mampu membedakan dengan jernih antara kata *baik* dan *benar*? Apakah pengertian dan penerimaan Anda terhadap dua kata itu, sangat berhimpitan? --- Menurut Pak Mario Teguh, kebaikan adalah kebenaran yang diterima. Itu berarti pula, kata baik memiliki dua unsur penting, *benar* dan *diterima*. Jadi, kebaikan itu senantiasa terkait dengan substansi dan cara. Kebenaran hanya datang dari Yang Maha Benar. Sementara kebaikan mengalir dalam dan/atau dari ciptaan-Nya. Untuk itulah makna seruan berbuatlah kebaikan, yaitu berbuatlah sesuatu yang benar dan diterima. Jika Anda menyampaikan suatu *kebenaran* dengan *cara yang tepat* sehingga* diterima*, jika tidak (atau belum) menjadi kebaikan bagi penerima, dia telah menjadi kebaikan (amal shalih) bagi Anda. Jika Anda menyampaikan suatu *kebenaran*dengan *cara yang salah* sehingga* tidak diterima*, pasti tidak menjadi kebaikan bagi pihak penerima. Untuk itu, berfokuslah pada ketepatan cara. Berupayalah memiliki pilihan-pilihan cara yang kaya, sehingga ketepatannya menjamin keberhasilannya. Berhasil diterima, berarti berhasil menjadi kebaikan. Jika Anda ingin menyampaikan atau melakukan sesuatu yang benar (bersumber dari Yang Maha Pencipta), janganlah ragu. Setelah segenap upaya dilakukan untuk memilih cara yang tepat, dan ternyata kemudian tidak diterima (berarti pilihan caranya salah), jangan khawatir. Kesalahan (ketidak-tepatan cara) dalam melakukan atau menyampaikan kebenaran tidak serta merta menjadi keburukan. Sebab *keburukan* adalah *dusta* yang *diterima*. Mohon Anda ingat, kesalahan bukan keburukan. Itulah sebabnya, manusia diizinkan berbuat salah, agar ada ruang untuk memilih cara lain yang lebih tepat. >From the note of Syarif Niskala.
