Akhwat yang Aktif di Medan Haraki

Subhanallah…kata itulah yang pertama kali keluar ketika ana telah selesai 
membaca sebuah buku yang berjudul "Tarbiyah Menjawab Tantangan" yang ditulis 
oleh Sitaresmi.S.Soekanto yang diterbitkan oleh Rabbani Press. Sungguh luar 
biasa bagi ana, karena beliau adalah seorang penulis yang berbakat dan tak 
pernah lelah dan letih untuk terus menegakkan Agama Allah hingga usianya saat 
ini. Apalagi beliau adalah seorang wanita, luaar  biasaa..Allahu 
Akbar..(Semangat mode : ON).
Ana perhatikan beberapa tahun kebelakang dari saat ini, Islam telah banyak 
mengalami perkembangan dan kemajauan dengan begitu pesat(Asumsi mode: ON). 
Sebagai salah satu contoh realnya, saat ini banyak wanita yang turut berperan 
aktif dalam medan haraki. Sebagai contoh lainnya wanita kini banyak turun 
berperan serta untuk turun kejalan melakukan aksi – aksi seperti dukungan 
terhadap Undang - Undang  Anti Pornografi dan Pornoaksi dan juga aksi dalam 
membela Saudara – Saudara  kita yang ada di Palestine (Allahu Akbar!!). Tidak 
sedikit juga wanita yang turut menegakkan syariat islam melalui jalan dakwah, 
seperti contohnya Mahasiswi – Mahasiswi yang aktif dalam Lembaga Dakwah Kampus 
(LDK) dikampusnya (kyk MT Alkhawarizmi dah..Narsis mode: ON). Menurut ana, 
tidak mudah bagi seorang wanita yang turut berperan aktif dalam medan haraki, 
karena mereka bekerja di luar kelaziman wanita-wanita lain pada umumnya. 
Seorang akhwat yang turut berperan aktif dalam medan haraki harus memiliki 
kondisi fisik, aqliyah dan ruhiyah yang prima. Mereka tidaklah egois, karena 
mereka memikirkan umat, karena mereka punya cita-cita mulia yakni menegakkan 
syariat Islam dan tentu saja karena mereka ingin masuk surga dengan jihad di 
jalan-Nya.
Kiprah dakwah para akhwat memang turut andil dalam mengubah kondisi masyarakat 
saat ini. Era globalisasi dan teknologi informasi yang berkembang pesat kadang 
membuat dunia Islam dibanjiri informasi seperti air bah yang juga membawa 
kotoran-kotoran. Tanpa proses filterisasi, bagaimana jadinya anak-anak wajah 
generasi mendatang. Disinilah pentingnya kiprah dakwah para akhwat, akhwat 
seharusnya tidak tinggal diam, aman dan suci dirumahnya yang indah dan nyaman 
sementara dunia terus menjadi bobrok dan mengalami pembusukkan. 
Namun, muncul kekhawatiran dari akhwat ketika Ia akan walimah. Mereka takut 
setelah menikah nanti mereka dilarang oleh suami untuk banyak berkiprah diluar, 
walaupun yang akan dinikahinya adalah ikhwan yang komited dengan dakwah. 
Bekerja keras menyeimbangkan tugasnya di dalam rumah tangga dengan aktivitas 
mengikuti ta'lim, mengisi ta'lim, mengikuti baksos untuk orang-orang yang 
terkena musibah karena jika tidak sigap para missionaris begitu cekatan 
membantu dengan sekaligus paket pembaptisan. Tetapi rupanya sifat ananiyah 
(egoisme) dan sense of belonging (rasa kepemilikan) suaminya begitu besar. 
Tiba-tiba saja ia diminta menghentikan semua aktivitas amal shalehnya dan 
berdiam di rumah melayaninya dan anak-anak sebagai jalan pintas menuju surga, 
"Kamu tidak usah repot-repot ngurusin orang, sementara ada jalan pintas menuju 
surga dengan berbakti pada suami dan keluarga." akhwat ini pun sebenarnya tak 
ingin membantah perkataan suaminya, karena ia juga tahu kebenaran tentang 
besarnya pahala berkhidmat di rumah tangga. Namun apa jadinya dengan sebuah 
dunia luar yang ingin ia sediakan sebagai bi'ah yang baik bagi anak-anaknya, 
generasi mendatang. Bukankah ia harus ikut juga berperan untuk itu. Apalagi 
selama ini ia meniatkan pernikahan adalah satu noktah dari garis perjuangan 
yang panjang, sehingga menikah harusnya justru akan meningkatkan perjuangannya. 
Dua tugas mulia yakni berbakti di dalam rumah tangga dan berjihad di jalan 
Allah bukan dua hal yang harus dibenturkan atau dipertentangkan satu sama lain, 
dan kebajikan yang satu tak harus meliquidir kebajikan yang lainnya, melainkan 
menjadi sesuatu yang seiring sejalan secara sinergis. Belum lagi kondisi ironis 
tentang sesama muslimah yang harusnya saling membantu dan mendukung malah 
memojokkan dan menakut-nakuti kaumnya sendiri yang aktif di medan haraki. 
Tetapi akhwat tak boleh menyerah. Ia memang tak perlu segera menyalahkan 
pihak-pihak lain yang kurang atau tidak mendukung. Lebih baik ia berpikir 
positif membangun citra diri akhwat muslimah yang baik, berjiddiyah menjaga 
keseimbangan dan memiliki kemampuan mengatur skala prioritas.
Masalahnya adalah untuk saat ini dan saat mendatang apa yang bisa dilakukan 
muslimah? Bagaimana caranya untuk berjuang mewujudkan gagasan mulia menegakkan 
syariat Allah di muka bumi. Yang jelas tak mungkin berjuang seorang diri tanpa 
program yang matang, jelas dan terarah serta tanpa adanya amal jama'i yang 
terorganisir. Bukankah Allah berfirman dalam QS. 61:4 bahwa Ia menyukai 
orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang rapi seolah-olah 
menyerupai bangunan yang kokoh. Ali r.a. pun pernah berucap: "Kebenaran yang 
tidak tertata, terorganisir secara rapi akan mampu dikalahkan oleh kebatilan 
yang terorganisir dengan baik." . Keberhasilan sebuah gagasan sangat ditentukan 
oleh sejauh mana aktivitas, ketangguhan dan kemampuan para pendukungnya dalam 
merekrut massa serta kemudian membentuk sebuah pergerakan yang terdiri dari 
sekelompok manusia yang dikendalikan oleh suatu kepemimpinan beserta struktur 
organisasinya. Dan agar pengaruhnya terasa lebih kuat dan hasilnya pun lebih 
cepat, efisien, tahan lama dan kokoh, hal itu hanya bisa direalisir melalui 
amal islami haraki jama'i. Banyak dalil dalam Al-Qur'an seperti 3:104, 61:4, 
16:96, 9:71 serta hadits Nabi SAW. "Innama nisa'u syaqaaiqu ar rijal" 
(sesungguhnya wanita saudara kandung laki-laki), yang menunjukkan bahwa wanita 
pun memiliki hak dan kewajiban yang setara dalam perjuangan menegakkan syari'at 
Allah dan membangun masyarakat Qur'ani. 
Islam adalah agama yang merupakan rahmatan lil `alamin termasuk untuk wanita. 
Dan ketika Islam menginginkan kemerdekaan mentalitas perempuan tidak lain 
karena hendak membangun mentalitas pendobrak atau anashirut taghyir yang mampu 
membedakan antara yang hak dan yang bathil, menentang kebatilan dan 
berinteraksi dengan kebenaran berdasarkan tolok ukur nilai-nilai Rabbani. Islam 
ingin memuliakan wanita menjadi wanita aktif yang berinteraksi dengan realitas 
baru, Berpartisipasi memeliharanya dan ikut ambil bagian dalam pengembangan 
Islam menuju universalitasnya. Ajaran Islam yang berkaitan dengan masalah 
kewanitaan ditujukan untuk mencetak wanita haraki (aktivis) yang aktif dalam 
pembinaan diri, keluarga, pekerjaan dan masyarakatnya. Bila ia berhasil menjadi 
wanita yang aktif lagi positif, wanita baru akan merasa nilai dan kedudukannya 
yang hakiki sebagai wanita. Sosok itulah yang insya Allah ada dalam diri 
muslimah. Mereka memiliki kekhasan-kekhasan yang menjadikannya istimewa, yakni 
kepribadian yang khas lagi kuat,  Keberanian dan kepercayaan diri, Kemandirian, 
Berpikir rasional dan sistematis, serta memiliki kemampuan intelektual dalam 
mengkritik, mengevaluasi, membangun, menantang dan memilih.


Gerakan Islam Akan Menghasilkan Muslimah yang Tidak Gamang Dalam Melangkah

Islam memang piawai dalam mencetak mentalitas muslimah, namun hal tersebut akan 
nampak semakin nyata bila mereka melibatkan diri secara aktif dalam sebuah 
pergerakan/harakah. Ada beberapa manfaat nyata dari keterlibatannya tersebut, 
antara lain:
1.  Menyadarkan muslimah dan wanita pada umumnya akan nilai dan kedudukannya di 
tengah masyarakat. Ia akan berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan 
problematika umum di masyarakat.
2. Memperoleh wawasan yang ideal, memadai dan selektif.
3. Menghilangkan keengganan, kegamangan, kepasifan dan ketergantungan pada   
orang lain.
4. Membersihkan kabut dan karat dalam pemikiran muslimah karena adanya stagnasi 
pemikiran dan sifat-sifat buruk seperti individualis, egois, apatis.

5. Menghindarkannya dari kejenuhan karena ia disibukkan dengan 
aktivitas-aktivitas yang bermanfaat untuk dakwah Islam. Ia juga akan terhindar 
dari kegiatan sia-sia seperti bergunjing, bersenda gurau dan menyebarkan 
desas-desus.

6. Membantunyan meningkatkan ketinggian spiritual.

7. Mendidik muslimah untuk gemar bekerja sama dalam hal-hal yang bermanfaat.

8. Menjauhkan perhatiannya dari hal-hal yang kurang berarti seperti mode dan 
dandanan make up untuk menggoda laki-laki dengan mengandalkan penampilan fisik.

9. Menumbuhkan keberanian dalam diri muslimah untuk memerangi adat dan tradisi 
usang yang bertentangan dengan nilai-nilai islami.

10. Berta'aruf, berinteraksi dan saling membina, mendidik dengan 
saudara-saudara seiman dan sefikrah.

11. Berani melawan kemungkaran dan mampu menanggung beban, kesulitan dan derita 
dengan sabar.

12. Menjadikan urusan-urusan hidupnya terprogram, teratur dan tertata dengan 
baik.

13. Menyebabkan terasah dan tergalinya kemampuan intelektual, kreativitas 
berpikir dan keterampilan tangannya dengan kreasi dan potensi yang tidak hanya 
berguna untuk dirinya saja.

14. Mempertajam sikap kemandirian muslimah tetapi tetap dalam koridor syar'i.


Pengaruh Gerakan Islam bagi Proses Perubahan di Masyarakat

Paling tidak ada tiga pilar utama perubahan di tengah masyarakat yakni:
1. Gagasan yang benar dan sesuai dengan fitrah manusia.

2.     Aktivis-aktivis yang tidak kenal lelah dalam mendukung dan 
menyebarluaskan    gagasantersebut.

3. Kepemimpinan yang baik, kokoh, memiliki kapabilitas memadai dan dapat 
diteladani.
Munculnya sebuah pergerakan dalam proses perubahan masyarakat menuju ke arah 
yang lebih baik akan memunculkan pengaruh-pengaruh positif yang nyata. Di 
antaranya ialah masyarakat jadi terdorong untuk segera berada dalam proses 
perubahan. Kemudian banyak individu yang tergerak untuk ikut serta dalam 
gerakan perubahan sehingga dapat menjadi alat untuk membedakan mana anggota 
masyarakat yang baik, hanif dan siap diajak berubah serta mana yang tidak. 
Selain itu pergerakan juga akan mampu menyingkirkan musuh-musuh perubahan dan 
pembaharuan di masyarakat serta sebagai gantinya menumbuhsuburkan semangat 
pergerakan dan pembaharuan di dalam masyarakat. Selanjutnya harakah atau 
pergerakan akan memungkinkan terbukanya pintu ijtihad, menumbuhkan kesadaran 
umum dan menggoyahkan sendi-sendi diktatorisme, sekularisme dan atheisme. 
Akhirnya sebuah harakah akan sangat membantu proses lahirnya individu-individu 
muslim, rumah tangga muslim dan masyarakat muslim serta membuat rencana jitu 
untuk mengobati penyakit-penyakit yang ada di tengah masyarakat.
Untuk para akhwat, mulai saat ini janganlah pernah ragu – ragu untuk turut 
andil dan jangan pernah ragu – ragu katakan "ana da'iyah".
JADILAH AGEN PERUBAHAN….!! Keep Hamasah n istoqomah…=)
Ditunggu ya replynya untuk kritik dan saran serta tanggapanya…

Visit myblog:  http://Rendralestiyanto.blogspot.com



Kirim email ke