*Do You Want It?*
Oleh Syarif Niskala (also blogged at syarifniskala.com)

Keinginan adalah salah satu bentuk emosi. Itulah sebabnya, para penyusun
strategi pemasaran senantiasa mengupayakan agar setiap kebutuhan (penting
atau tidak penting) terlihat seperti keinginan. Hanya kebutuhan yang sudah
dicitrakan sebagai keinginanlah yang mampu mewujudkan penjualan, terutama
dalam era kompetisi yang ketat. Itulah mengapa desain cover sebuah buku
harus emosional. Atau beras diwadahi kemasan penuh tulisan provokasi. Atau
sebongkah sabun padat diiklankan oleh super model yang pasti tidak sudi
memakainya, kecuali saat pengambilan gambar iklannya. Atau seorang gadis
yang mematutkan dirinya dihadapan pria incarannya. Bukankah semua pria
normal membutuhkan wanita? Tetapi yang dipilih sang pria hanyalah gadis yang
diinginkannya.

Nasihat seorang sahabat mengatakan, jangan padamkan keinginan untuk meraih
sesuatu yang besar dan bernilai melainkan lipat gandakanlah upaya hingga
Anda pantas mendapatkan keinginan itu. Lagi pula, keinginan yang baik adalah
anugerah dari Yang Maha Penyayang, maka bersyukurlah dengan upaya yang
pantas mewujudkannya.

Sebagai makhluk yang diciptakan memiliki naluri alamiah menguasai, manusia
cenderung memiliki banyak keinginan. Bahkan jika Anda membuat daftar
keinginan sendiri, mungkin akan terkejut melihat jumlahnya. Untungnya, kita
dianugerahi kemampuan berpikir untuk melihat keterkaitan antar banyak hal.
Dengan itu, seharusnya kita dapat melihat urutan logis hirarki
keinginan-keinginan kita yang banyak itu. Maka, nasihat terbaiknya adalah
memilih keinginan yang pemenuhannya juga sekaligus menjawab
keinginan-keinginan lainnya yang banyak itu. Fokuslah hanya pada sedikit
saja keinginan yang bernilai tinggi, berukuran besar, dan bermanfaat bagi
banyak orang.

Sebagai sebuah emosi, keinginan memiliki energi. Untuk itu, semakin besar
keinginannya maka akan semakin berdaya energi yang ditimbulkannya. Itulah
sebabnya ada keinginan yang sirna karena cuaca mendung, tetapi juga ada
keinginan yang mampu mencairkan badai salju lebat (Napoleon Bonaparte). Ada
keinginan yang patah karena gagal dalam percobaan pertama, tetapi juga ada
keinginan yang mampu mentenagai percobaan 999 kali yang berujung pada
kegagalan (Thomas Alfa Edison).

Ya, benar sekali. Sebagai sebuah emosi, keinginan tidak bisa diukur.
Satu-satunya ciri bahwa keinginan Anda besar adalah upaya yang dilakukan
untuk mencapainya besar. Sebuah keinginan mulia ditandai dengan upaya yang
mulia. Sebuah keinginan yang kerdil, dapat terlihat jelas pada upayanya yang
juga kerdil. Seorang yang berkata ingin menjadi presiden, tidak lebih baik
dibandingkan seseorang yang sedang berupaya keras menjaga sikap, mencari
ilmu, menjalin relasi, mengabdi pada publik tapi tidak mengucapkan ‘aku
ingin jadi presiden'. Keinginan itu tergambar pada upaya, bukan pada
lantangnya kata-kata.

Do you want it?
Do not say it, but DO IT!

(From the note of Syarif Niskala)

Kirim email ke