Tausiyah
Assalamu'alaikum Warrahmatullah wabarakatuh...
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan 
kepada Rasulullah SAW,  keluarga, sahabatnya, dan kepada pengikutnya yang 
senantiasa istiqomah hingga yaumil akhir.
Sahabat – sahabatku pengurus  MT al – khawarizmi rahimakumullah...
Alkisah, suatu hari Rasulullah SAW sedang dalam perjalanan bersama para 
sahabatnya. Namun, ditengah perjalanan Rasulullah turun dari Untanya dan 
kemudian menengadahkan tangannya layaknya orang yang berdoa, lantas setelah itu 
beliau pun sujud. Kemudian Rasulullah kembali bangun dan menengadahkan 
tangannya seperti layaknya orang yang berdoa untuk kedua kalinya, dan setelah 
itu beliau pun kembali sujud. Kemudian Rasulullah bangun dan kembali 
menengadahkan tangannya untuk ketiga kalinya, dan setelah itu pun beliau 
kembali bersujud. Setelah beliau selesai, seorang sahabat Rasullullah yaitu 
Muadz Ra bertanya kepada beliau karena Muadz Ra begitu penasaran dengan hal 
apakah yang baru saja Rasulullah perbuat. Lalu Rasulullah SAW menjawab 
bahwasanya beliau baru saja berdoa agar sepertiga umatnya mendapatkan syafaat 
dihari kiamat nantinya, Allah mengabulkan doa Rasulullah bahwa sepertiga umat 
Rasulullah SAW akan mendapatkan syafaat di hari kiamat nanti, karena doanya 
dikabulkan lantas Rasulullah pun langsung bersujud sebagai tanda syukurnya 
kepada Allah. Lalu beliau bangun kembali dan kembali berdoa kepada Allah agar 
sepertiga umatnya yang kedua mendapatkan syafaat di hari kiamat nantinya, lalu 
Allah mengabulkannya bahwa sepertiga umatnya yang kedua akan mendapatkan 
syafaat dihari kiamat nantinya, lantas beliau kembali bersujud sebagai tanda 
syukurnya. Lalu  beliau bengun kembali dan berdoa lagi untuk ketiga kalinya 
agar sepertiga umanya yang ketiga akan mendapatkan syafaat di hari kiamat 
nantinya, lalu Allah mengabulkannya bahwa sepertiga umatnya yang ketiga akan 
mendapatkan syafaat dihari kiama nantinya, kemudian Rasulullah kembali bersujud 
sebagai tanda syukurnya kepada Allah karena doanya telah dikabulkan.
Sahabat – sahabatku pengurus  MT al – khawarizmi rahimakumullah...
Terbesit sebuah pertanyaan ketika kita dapat memahami sebuah pesan dari kisah 
diatas, yaitu apakah akankah kita termasuk kepada golongan umat Rasulullah SAW 
yang akan mendapatkan syafaat di hari kiamat nantinya??? Bisa saja kita mengaku 
– ngaku sebagai umat Nabi Muhammad Rasulullah SAW, tapi beliau tidak mau 
mengakui kita sebagai umatnya...
Didalam diri Kita ada segumpal daging yang mana jika segumpal daging itu baik, 
maka baiklah diri kita ini dan manakala segumpal daging itu buruk, maka 
buruklah diri kita ini, dan segumpal daging itu adalah Hati. Hati adalah 
lentera bagi kita, karena manakala hati kita bersih, maka hidayah serta 
petunjuk Allah lah yang senantiasa menghiasinya. Namun, indahnya dunia yang 
fana ini terkadang membuat kita lupa dan terlena. Disaat kita memandang seisi 
dunia ini dengan segala aktivitas – aktivitas yang menghiasinya, kemudian dari 
pandangan mata tersebut diproses dalam logika dan menjadi keinginan dan angan – 
angan dalam hati, tentunya keinginan – keinginan yang berhubungan dengan dunia. 
Untuk itu Rasulullah melarang kita untuk panjang angan – angan, karena semua 
keinginan – keinginan akan dunia yang fana ini dapat mengotori dan membutakan 
hati kita. Kita akan menjadi seseorang yang begitu berambisi pada dunia ini dan 
ingin memiliki semua yang ada di dunia ini hingga timbul pikiran untuk 
menghalalkan berbagai cara untuk meraih ambisi tersebut. Nauzubillah...
Rasulullah SAW bersabda : "Jadilah engkau di dunia ini seperti seorang musafir 
atau bahkan seperti seorang pengambara. Apabila engkau telah memasuki waktu 
sore, maka janganlah engkau menanti datangnya waktu pagi, dan apabila engkau 
telah memasuki waktu pagi, maka janganlah engkau menanti datangnya waktu sore. 
Ambilah waktu sehatmu untuk ( bekal masa ) sakitmu, dan hidupmu untuk ( bekal ) 
matimu." 
   Seorang pejalan atau pengembara selalu menyiapkan bekalnya saat bepergian 
dan tidak berlebihan dengan barang bawaanya agar dapat mengurangi beban 
perjalanannya. Ini adalah indikasi untuk berzuhud di dunia dengan nafkah yang 
secukupnya, sebagaimana seorang musafir yang tidak memerlukan bekal berlebihan, 
kecuali sekedar yang diperlukannya untuk dapat sampai ke tempat tujuannya. 
Bahkan, imam nawawi menjelaskan untuk tidak memprioritaskan harta dan dunia, 
sehingga melupakan kewajiban dasarnya. Wallahualambishawab.
Semoga Allah senantiasa mencurahkan Rahmat dan Hidayahnya dan menjadikan kita 
golongan orang – orang yang selalu mengingatnya, golongan orang – orang yang 
senantiasa memperbaiki diri dan golongan orang – orang yang ikhlas bieribadah 
semata- mata kepada Allah. Amin.
Wassalamu'alaikum warrahmatullah wabarakatuh...

Semangatz Yuk untuk menggapai Syurganya Allah...=)



Kirim email ke