Kekuatan Air Mata
Senin, 06 April 2009 00:12

Ia hadir hampir dalam setiap denyut nadi gerakan dan aktivitas mahasiswa. 
Penampilannya sederhana. Sikapnya santun. Mudah tersenyum. Suka menyapa, 
perhatian, dan ringan tangan.
Saya baru mengenalnya ketika mengikuti sebuah acara seminar. Ia tampil sebagai 
pemateri. Air mukanya yang jernih dan tenang telah mampu menarik perhatian 
setiap pendengar. Untaian kata-katanya yang lembut, jelas dan tepat semakin 
menjadi daya tarik tersendiri bagi semua orang. Kata-katanya penuh ilmu dan 
hikmah. Bahkan candanya sekalipun tak kosong dari ilmu dan hikmah. Sehingga 
kesempatan bisa duduk dan ngobrol dengannya menjadi kesenangan tersendiri bagi 
saya.

Sangat gemar membaca, tak jarang setelah seharian kuliah ia sering ditemukan 
asyik menikmati buku-buku di Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo (PMIK). 
Full aktivitas, kegiatannya hampir tak terputus dan tanpa henti. Kendati 
demikian ia tidak pernah kehilangan kesempatan shalat berjamaah di mesjid, 
takbir pertama bersama imam. Walau sibuk, ia tak lupa menyempatkan diri 
bermesraan dengan mushâf saku yang selalu ia bawa. Ia selalu tampak kuat, 
bersemangat dan bisa menyelesaikan setiap pekerjaan dengan baik. Kebaikan yang 
ada pada dirinya mendorong saya untuk ingin lebih dekat mengenalnya. Saya ingin 
mengetahui apa yang menjadi rahasia kekuatan semangat, ketenangan dan 
kejernihan hati dan pikirannya.

Menurut salah seorang teman yang tinggal serumah dengannya, bahwa ia sering 
kedapatan menangis. Ya, ia sering ditemukan terisak menangis. Ketika ditanya 
kenapa ia menangis, ia berkata, "Akhi, kita hidup di dunia hanya sebentar, 
kematian datang kapan saja, setiap amal kita akan dihisab dan saya tidak tahu 
apakah kelak di akhirat saya akan tergolong menjadi ahli sorga ataukah neraka."

Suatu kali ketika shalat subuh berjamaah, saya berdiri di sampingnya. Dan saat 
itu imam membaca ayat, "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang. 
Maka dia akan berteriak, "celakalah aku". Dan dia akan masuk kedalam api yang 
menyala-nyala(neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira dikalangan 
kaumya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali 
tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian), yang benar, 
sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya." (Al-Insyiqâq: 10-15 ). Saya mendengar 
ia menangis sejadi-jadinya, saya seakan-akan mendengarkan air mendidih dari 
rongga dadanya.

Seusai shalat, saya melihat tangisan itu masih membekas di wajahnya. Hatinya 
begitu lembut, begitu mudah tersentuh dengan Al-Qur`ân.

Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh pendahulu kita, para Al-Salafus Sâlih. 
Menurut suatu riwayat, jika mengerjakan shalat subuh, Umar Ra. sering membaca 
surat Al-Kahfi, Thaha dan surat-surat lain yang sama panjangnya dengan surat 
itu. Pada saat itulah Umar Ra. sering menangis sehingga tangisannya terdengar 
ke barisan belakang. Pada suatu ketika dalam shalat subuh , Umar Ra. membaca 
surat Yusuf, ketika sampai pada ayat, "Sesungguhnya hanya pada Allah saya 
mengadukan kesusahan dan kesedihanku. " ( Yusuf : 86 )

Umar Ra. menangis terisak-isak sehingga suaranya tidak lagi terdengar ke 
belakang. Terkadang dalam shalat tahajudnya Umar Ra. membaca ayat-ayat 
Al-Qur`ân sambil menangis sehingga ia terjatuh dan sakit. Inilah perasaan takut 
pada Allah seorang yang apabila disebut namanya saja, akan menggetarkan dan 
membuat takut hati raja-raja besar.

Rasulullah Saw. bersabda, "Akar dari kebijaksanaan adalah takut kepada Allah."

Suatu hari Rasulullah Saw. melewati seorang sahabat yang sedang membaca 
Al-Qur`ân, ketika sahabat tadi sampai pada ayat, "Maka apabila langit telah 
terbelah dan menjadi merah seperti kulit yang merah." (Ar-Rahman: 37), maka 
bulu pembaca tadi berdiri tegak dan dia menangis terisak-isak dan berkata, 
"Aduh, apakah yang akan terjadi pada diriku apabila langit terbelah pada hari 
kiamat? Sungguh malang nasibku." Nabi berkata padanya, "Tangisanmu membuat para 
malaikat ikut menangis bersamamu."
Abdullah bin Rawahah salah seorang sahabat Rasulullah Saw., pada suatu hari 
menangis dengan sedihnya, melihat keadaan itu istrinya pun turut menangis 
bersamanya. Dia bertanya pada istrinya, "Kenapa engkau menangis?" istrinya 
menjawab, "Apa yang menyebabkan engkau menangis, itulah yang menyebabkan saya 
menangis." Abdullah berkata, "Ketika saya ingat bahwa saya harus menyeberangi 
neraka melalui shirat, saya tidak tahu apakah saya akan selamat atau tidak."

Rasulullah Saw. bersabda : "Wajah yang dibasahi air mata karena takut pada 
Allah walaupun sedikit akan diselamatkan dari api neraka." Beliau juga 
bersabda, "Jika seseorang menangis karena takut pada Allah maka dia tidak akan 
masuk neraka, seperti tidak mungkinnya air susu masuk kembali ke putingnya."

Aisyah bertanya kepada Rasulullah Saw., "Adakah diantara pengikut-pengikutmu 
yang akan masuk surga tanpa hisab?", "Ia" jawab Nabi. "Dia adalah orang yang 
banyak menangis karena menyesali dosa-dosa yang telah ia lakukan."

Dalam kesempatan lain Rasulullah Saw. bersabda, "Ada dua jenis tetesan yang 
sangat disukai oleh Allah, tetesan air mata karena takut pada-Nya dan tetesan 
darah karena perjuangan di jalan-Nya."

Sungguh masih banyak lagi riwayat yang menjelaskan penting dan bermanfaatnya 
menangis karena takut pada Allah Swt. sambil menyesali dosa-dosa dan mengingat 
kebesaran Allah. Dan kisah-kisah diatas adalah suatu teladan bagi kita.
Ternyata air mata tidak selamanya menjadi simbol kelemahan, di dalamnya justru 
terdapat kekuatan, ada daya rubah yang luar biasa. Dengannya banyak pekerjaan 
besar bisa diselesaikan secara optimal. Terutama saat-saat bersama Al-Qur`ân, 
disaat sendiri mengingat dosa dan kesalahan.

Marilah kita melihat diri kita yang bergelimang dengan noda dan dosa, diri yang 
tidak pernah merasa takut dengan siksa Allah. Mata yang sangat jarang atau 
bahkan tidak pernah menangis karena takut pada Allah. Dan mari kita hitung, 
sampai detik ini, sudah berapa kali air mata kita menetes karena takut pada 
Allah? Karena mengingat dosa-dosa dan kesalahan kita dan karena mengingat 
siksa-Nya. Wallâhul musta`ân wa a`lam

penulis : 
M. Arif As Salman 
 
Sumber: 
http://www.warnaislam.com/kajian/quran/2009/4/6/720/Kekuatan_Air_Mata.htm

 
SMILE,

Riyand


      

Kirim email ke