Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal



--- In [email protected], Fahmi Faqih <fahmifa...@...> wrote:

KESIMPULAN FORUM TABAYYUN DAN DIALOG TERBUKA
ANTARA JARINGAN ISLAM LIBERAL DAN FORUM KIAI MUDA JAWA TIMUR
DI PP BUMI SHOLAWAT, TULANGAN, SIDOARJO, JAWA TIMUR
AHAD, 11 OKTOBER 2009

Dewasa ini sedang berlangsung perang terbuka dalam pemikiran (ghazwul
fikri) pada tataran global. Melalui sejumlah kampanye dan agitasi
pemikiran seperti perang melawan terorisme dan promosi ide-ide
liberalisme politik dan ekonomi neo-liberal, Amerika Serikat sebagai
kekuatan dunia berupaya menjinakkan ancaman kelompok-kelompok radikal,
memanas-manasi pertikaian di antara kelompok radikal dan moderat dalam
tubuh umat Islam, serta menyeret umat Islam dan bangsa ini ikut menjadi
proyek liberal mereka.
Dengan memperhatikan perkembangan global tersebut, dan terdorong oleh
kepentingan membela Tradisi Ahlussunnah Waljamaah yang dianut oleh Warga
NU sebagai bagian dari identitas dan jatidiri bangsa ini, Forum Kiai
Muda Jawa Timur memberikan kesimpulan tentang hasil-hasil dialog dengan
Jaringan Islam Liberal (JIL) sebagai berikut:


1. Sdr. Ulil Abshar Abdalla dengan JIL-nya tidak memiliki landasan teori
yang sistematis dan argumentasi yang kuat. Pemikiran mereka lebih banyak
berupa kutipan-kutipan ide-ide yang dicomot dari sana-sini, dan terkesan
hanya sebagai pemikiran asal-asalan belaka (plagiator), yang tergantung
musim dan waktu (zhuruf), dan pesan sponsor yang tidak berakar dalam
tradisi berpikir masyarakat bangsa ini.


2. Pada dasarnya pemikiran-pemikiran JIL bertujuan untuk membongkar
kemapanan beragama dan bertradisi kaum Nahdliyin. Cara-cara membongkar
kemapanan itu dilakukan dengan tiga cara: (1) Liberalisasi dalam bidang
aqidah; (2) Liberalisasi dalam bidang pemahaman al-Quran; dan, (3)
Liberalisasi dalam bidang Syariat dan Akhlaq.


3. Liberalisasi dalam bidang aqidah yang diajarkan JIL, misalnya bahwa
semua agama sama, dan tentang pluralisme, bertentangan dengan aqidah
Islam Ahlussunnah Waljamaah. Warga NU meyakini agama Islam sebagai agama
yang paling benar, dengan tidak menafikan hubungan yang baik dengan
penganut agama lainnya yang memandang agama mereka juga benar menurut
mereka. Sementara ajaran pluralisme yang dimaksud JIL berlainan dengan
pandangan ukhuwah wathaniyah yang dipegang NU yang mengokohkan
solidaritas dengan saudara-saudara sebangsa. NU juga tidak menaruh
toleransi terhadap pandangan-pandangan imperialis neo-liberalisme
Amerika yang berkedok “pluralisme dan toleransi agama”.


4. Liberalisasi dalam bidang pemahaman al-Quran yang diajarkan JIL,
misalnya al-Quran adalah produk budaya dan keotentikannya diragukan,
tentu berseberangan dengan pandangan mayoritas umat Islam yang meyakini
al-Quran itu firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan
terjaga keasliannya.


5. Liberalisasi dalam bidang syari’ah dan akhlaq dimana JIL
mengatakan bahwa Hukum Tuhan itu tidak ada, jelas bertolak belakang
dengan ajaran Al Qur’an dan Sunnah yang mengandung ketentuan
hukum bagi umat Islam. JIL juga mengabaikan sikap-sikap tawadhu’
dan akhlaqul karimah kepada para ulama, kiai. JIL juga tidak menghargai
tradisi pesantren sebagai modal sosial bangsa ini dalam mensejahterakan
bangsa dan memperkuat Pancasila dan NKRI.


6. Ide-ide liberalisasi, kebebasan dan hak asasi manusia (HAM) yang
diangkat oleh kelompok JIL dalam konteks NU dan pesantren tidak bisa
dilepaskan dari Neo-Liberalisme yang berasal dari dunia kapitalisme,
yang mengehendaki agar para kiai dan komunitas pesantren tidak ikut
campur dalam menggerakkan tradisinya sebagai kritik dan pembebasan dari
penjajahan dan kerakusan kaum kapitalis yang menjarah sumber-sumber daya
alam bangsa kita..


7. JIL cenderung membatalkan otoritas para Ulama Salaf dan menanamkan
ketidakpercayaan kepada mereka, sementara di sisi lain mereka mengagumi
pemikiran orientalis Barat dan murid-muridnya seperti Huston Smith, John
Shelby Spong, Nasr Hamid Abu Zaid dan sebagainya.


8. Menghadapi Pemikiran-pemikiran JIL tidak dilawan dengan amuk-amuk dan
cara-cara kekerasan, tapi harus melalui pendekatan yang strategis dan
taktis, dengan dialog-dialog dan pencerahan.


Forum Kiai Muda Jawa Timur,
Tulangan, Sidoarjo, 11 Oktober 2009




[Non-text portions of this message have been removed]

--- End forwarded message ---





      

Kirim email ke