Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal


--- In [email protected], Prasetyo Adhy Nugroho <adh...@...> 
wrote:

O, Pahlawan Negeriku

Di masa pembangunan ini", kata Chairil Anwar mengenang Diponegoro, "Tuan hidup 
kembali. Dan bara kagum menjadi api".


Kila selalu berkata jujur kepada nurani kita ketika kita melewati
persimpangan jalan sejarah yang curam. Saat itu kita merindukan
pahlawan. Seperti Chairil Anwar tahun itu, 1943, yang merindukan
Diponegoro. Seperti juga kita saat ini. Saat ini benar kita merindukan
pahlawan itu. Karena krisis demi krisis telah merobohkan satu per satu
sendi bangunan negeri kita. Negeri ini hampir seperti kapal pecah yang
tak jemu-jemu dihantam gunungan ombak.


Di tengah badai ini kita merindukan pahlawan itu. Pahlawan yang,
kata Sapardi, "telah berjanji kepada sejarah untuk pantang menyerah".
Pahlawan yang, kata Chairil Anwar, "berselempang semangat yang tak bisa
mati." Pahlawan yang akan membacakan "Pernyataan" Mansur Samin:


Demi amanat dan beban rakyat

Kami nyatakan ke seluruh dunia

Telah bangkit di tanah air

Sebuah aksi perlawanan

Terhadap kepalsuan dan kebohongan

Yang bersarang dalam kekuasaan

Orang-orang pemimpin gadungan


Maka datang jugalah aku ke sana, akhirnya. Untuk kali pertama. Ke
Taman Makam Pahlawan di Kalibata. Seperti dulu aku pernah datang ke
makam para sahabat Rasulullah saw di Baqi' dan Uhud di Madinah. Karena
kerinduan itu. Dan kudengar Chairil Anwar seperti mewakili mereka:


Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan 
arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Tulang-tulang
berserakan itu. Apakah makna yang kita berikan kepada mereka? Ataukan
tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan?
Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki
seperti Khalid bin Walid? Ataukah tak lagi ada ibu yang mau, seperti
kata Taufiq Ismail di tahun 1966, "merelakan kalian pergi
berdemonstrasi..karena kalian pergi menyempurnakan..Kemerdekaan negeri
ini."


Tulang belulang berserakan itu. Apakah makna yang kita berikan
kepada mereka? Ataukah, seperti kata Sayyid Quthub, "Kau mulai jemu
berjuang, lalu kau tanggalkan senjata dari bahumu?"

Tidak!
Kaulah pahlawan yang kurindu itu. Dan beratus jiwa di negeri sarat
nestapa ini. Atau jika tidak, biarlah  kepada diriku saja aku berkata:
jadilah pahlawan itu.





Anis Matta - Mencari Pahlawan Indonesia - The Tarbawi Center



--- End forwarded message ---





      

Kirim email ke