Mantap artikelnya. Thanks berat Mas Bayu. Wassalam,
Nugon --- In [email protected], bayu bintang <bintang_aldi...@...> wrote: > .... .... > Kesendirian (atau lebih > tepatnya penyendirian) adalah salah satu ciri khas dakwahnya > aliran-aliran sesat. Untuk âmengajiâ harus sembunyi-sembunyi, meskipun > keadaan memungkinkannya untuk berdakwah secara terbuka. Orang lain tak > boleh tahu, bahkan orang tua sendiri. Kalau orang tua tidak mendukung, > maka kafirlah mereka. Harta orang tua adalah hartanya sendiri, dan kita > tak ada kepentingan atasnya. Karena itu, boleh diambil saja demi > kepentingan dakwah. Dunia mau hancur, moralitas umat rusak berantakan, > terserah. Itu urusan masing-masing! > > Lain lagi kesendiriannya > orang-orang nyeleneh. Mereka senantiasa merasa dirinya single fighter; > tidak punya ikatan dengan para pendahulunya. Sejarah bagi mereka > hanyalah arkeologi, bukan hikmah; kerjanya mencari makam raja-raja dan > peninggalan peradaban yang sudah punah. Mereka tidak tertarik pada > pengalaman orang-orang di masa lampau dan peninggalan pemikirannya. > Ramai orang berdebat tentang hal-hal yang sudah dibicarakan sejak > dahulu, seolah-olah bangunan pemikiran umat harus dileburkan hingga ke > pokok pondasinya. Belum lama ini, mahasiswa sosiologi IAIN Sunan Ampel, > Surabaya, mengadakan sebuah seminar sebagai tugas kuliahnya. Seminar > itu pada intinya mendukung homoseksualitas, lengkap dengan pendapat > para pelakunya dengan sharing pengalamannya yang cukup vulgar. Hebohlah > dosen-dosen mereka menyatakan dukungannya; hadits ini dhaif, penafsiran > ayat Al-Qurâan yang ini belum jelas, kaidah yang itu masih > diperdebatkan dan seterusnya. Ulamakah yang lalai mewariskan ilmu, > ataukah anak-anak muda ini yang tidak merasa diwarisi? > > Di > kalangan aktifis dakwah sendiri pun ternyata ada fenomena kesendirian > ini. Merekalah orang-orang yang menutup mata terhadap adanya perbedaan > pendapat diantara ulama dan kemungkinan terjadinya perbedaan tersebut. > Al-Ghazali mengutip hadits dhaif, tiba-tiba saja semua pemikirannya > nampak seolah tak berharga. Istri dan anak seorang ulama tak berjilbab, > seolah-olah terlupakanlah semua jasanya. Ulama yang berjuang melalui > demokrasi sekonyong-konyong dituduh sebagai penyembah thaghut dan > sistem kufur. Semua dosa bagaikan syirik yang bisa menghapus seluruh > amal baik, sedangkan perdebatan dalam masalah-masalah tertentu malah > diabaikan sama sekali. > > Merekalah yang berjalan sendiri-sendiri. > Saudaranya ada dimana-mana, tapi ia tak merasa bersaudara dengan > mereka. Mau saling menjenguk rasanya berat, karena beda harakah. Mau > bertanya kabar tapi enggan, karena ia adalah anggota partai politik. > Mau bicara baik tentang si fulan tapi ragu-ragu, karena walaupun si > fulan orang baik, tapi istrinya tak berjilbab. > > Sudah di surga, tapi minta ke neraka. Ditawari ukhuwwah, tapi rindu kehidupan jahiliyyah. > > http://akmal.multiply.com/journal/item/763 > > > Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini! > http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/ >
