http://groups.yahoo.com/group/muslim_binus/message/1268


Kesendirian dalam Dakwah


Kesadaraan berjamaah adalah masalah yang sangat penting bagi umat
Islam. Tidaklah sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya
sebagaimana ia cintai dirinya sendiri. Pada peristiwa hijrah ke
Madinah, salah satu hal yang pertama sekali dilakukan oleh Rasulullah
saw. adalah menghubungkan kaum Anshar dan Muhajirin dalam ikatan tali
persaudaraan. Si fulan bersaudara dengan si fulan, keduanya bertanggung
jawab untuk memastikan kebutuhan hidup saudaranya terpenuhi. Aktifis
dakwah pun dibiasakan untuk saling menyapa dengan sebutan “akhi” dan
“ukhti” untuk mengingatkan bahwa mereka semua bersaudara.

Uzlah
(menyendiri) tidak pernah jadi opsi utama bagi Rasulullah saw. dan para
sahabatnya. Rasulullah saw. hanya sering menyendiri ke Gua Hira
menjelang turunnya wahyu pertama. Justru wahyu-wahyu awal itulah yang
kemudian memberi instruksi tegas kepada beliau untuk menyingsingkan
lengan baju dan terjun ke masyarakat untuk berdakwah.

Seketika
mengucap syahadatain, ketika itulah kita lepas dari kesendirian. Kita
tidak lagi sendiri-sendiri. Urusan kita adalah urusan seluruh umat
Muslim di dunia, dan urusan mereka adalah urusan kita. Tidak ada
individualisme dalam Islam. Kalau kaya, harus ingat pada yang miskin.
Kalau kenyang, harus diingatkan pada yang lapar. Kalau membuat makanan,
bagikanlah juga kepada tetangga. Kalau ada yang sakit, jenguklah. Kalau
ada yang wafat, shalatkanlah. Kalau tidak ada yang mau menshalatkannya,
maka berdosalah seluruh umat.

Itulah sebabnya ketika ada seorang
sahabat mangkir dari panggilan jihad, kemudian ia mengakui bahwa
sikapnya itu bukan didasari oleh alasan-alasan yang syar’i, maka
Rasulullah saw. menetapkan hukuman boikot, yang terbukti sangat ampuh.
Orang yang tadinya hidup dalam kehangatan ukhuwwah bersama Rasulullah
saw. tiba-tiba saja dilemparkan kembali pada kehidupan jahiliyyah yang
mengabaikan urusan orang lain. Orang-orang tidak lagi menyapanya, tidak
lagi menjabat erat tangannya, tidak lagi bertanya kabarnya, tidak lagi
bertamu ke rumahnya. Tapi hukuman ini lebih berat lagi baginya, karena
ia tidak disuruh pergi mengasingkan diri. Ia dibiarkan tinggal di
rumahnya dan ‘menonton’ bagaimana para sahabat berinteraksi setiap
harinya. Kehangatan ukhuwwah itu hanya untuk dilihat olehnya, namun
tidak untuk dirasakannya sendiri. Ia benar-benar dibuat sendiri.

Hukuman
itu sangat efektif bagi orang yang sudah mengecap lezatnya ukhuwwah.
Bagi yang sudah tahu nikmatnya berjamaah, tentu tak mau hidup sendiri
lagi. Betapa ganjilnya orang yang memiliki kesempatan untuk membina
ukhuwwah, namun ia memutuskan untuk mencabik-cabiknya dan hidup sendiri
selamanya.

Yang seperti ini bukannya tidak ada, bahkan ia ada di
tengah-tengah umat Islam sendiri. Sementara dakwah Rasulullah saw.
mengeluarkan orang dari kesendiriannya menuju amal jama’i, sebagian
pengikutnya justru percaya sebaliknya.

Kesendirian (atau lebih
tepatnya penyendirian) adalah salah satu ciri khas dakwahnya
aliran-aliran sesat. Untuk ‘mengaji’ harus sembunyi-sembunyi, meskipun
keadaan memungkinkannya untuk berdakwah secara terbuka. Orang lain tak
boleh tahu, bahkan orang tua sendiri. Kalau orang tua tidak mendukung,
maka kafirlah mereka. Harta orang tua adalah hartanya sendiri, dan kita
tak ada kepentingan atasnya. Karena itu, boleh diambil saja demi
kepentingan dakwah. Dunia mau hancur, moralitas umat rusak berantakan,
terserah. Itu urusan masing-masing!

Lain lagi kesendiriannya
orang-orang nyeleneh. Mereka senantiasa merasa dirinya single fighter;
tidak punya ikatan dengan para pendahulunya. Sejarah bagi mereka
hanyalah arkeologi, bukan hikmah; kerjanya mencari makam raja-raja dan
peninggalan peradaban yang sudah punah. Mereka tidak tertarik pada
pengalaman orang-orang di masa lampau dan peninggalan pemikirannya.
Ramai orang berdebat tentang hal-hal yang sudah dibicarakan sejak
dahulu, seolah-olah bangunan pemikiran umat harus dileburkan hingga ke
pokok pondasinya. Belum lama ini, mahasiswa sosiologi IAIN Sunan Ampel,
Surabaya, mengadakan sebuah seminar sebagai tugas kuliahnya. Seminar
itu pada intinya mendukung homoseksualitas, lengkap dengan pendapat
para pelakunya dengan sharing pengalamannya yang cukup vulgar. Hebohlah
dosen-dosen mereka menyatakan dukungannya; hadits ini dhaif, penafsiran
ayat Al-Qur’an yang ini belum jelas, kaidah yang itu masih
diperdebatkan dan seterusnya. Ulamakah yang lalai mewariskan ilmu,
ataukah anak-anak muda ini yang tidak merasa diwarisi?

Di
kalangan aktifis dakwah sendiri pun ternyata ada fenomena kesendirian
ini. Merekalah orang-orang yang menutup mata terhadap adanya perbedaan
pendapat diantara ulama dan kemungkinan terjadinya perbedaan tersebut.
Al-Ghazali mengutip hadits dhaif, tiba-tiba saja semua pemikirannya
nampak seolah tak berharga. Istri dan anak seorang ulama tak berjilbab,
seolah-olah terlupakanlah semua jasanya. Ulama yang berjuang melalui
demokrasi sekonyong-konyong dituduh sebagai penyembah thaghut dan
sistem kufur. Semua dosa bagaikan syirik yang bisa menghapus seluruh
amal baik, sedangkan perdebatan dalam masalah-masalah tertentu malah
diabaikan sama sekali.

Merekalah yang berjalan sendiri-sendiri.
Saudaranya ada dimana-mana, tapi ia tak merasa bersaudara dengan
mereka. Mau saling menjenguk rasanya berat, karena beda harakah. Mau
bertanya kabar tapi enggan, karena ia adalah anggota partai politik.
Mau bicara baik tentang si fulan tapi ragu-ragu, karena walaupun si
fulan orang baik, tapi istrinya tak berjilbab.

Sudah di surga, tapi minta ke neraka. Ditawari ukhuwwah, tapi rindu kehidupan 
jahiliyyah.

http://akmal.multiply.com/journal/item/763



      

Kirim email ke