Keep Istiqomah!
 
Sumber :
http://inilah.com/berita/politik/2009/12/08/208722/di-phk-karena-tak-tonjolkan-lekukan-dada/
http://inilah.com/berita/politik/2009/12/08/208732/ya-kami-kader-pks/

Kisah 3 Perawat Berjilbab (1)
Di-PHK Karena Tak Tonjolkan Lekukan Dada
Irvan Ali Fauzi
 
INILAH.COM, Jakarta - Wajah tiga perempuan ini begitu tenang. Ada keyakinan 
yang sedang mereka perjuangkan. Meski, untuk itu mereka harus membayar mahal: 
dipecat setelah 15 tahun mengabdi.
Suharti, Sutiyem dan Wiwin Winarti tak banyak bicara. Senin siang (7/11), 
ketiga wanita ini mendatangi Komnas HAM. Mereka sedang memperjuangkan 
keyakinannya: jilbab.
Tiga wanita ini adalah perawat di Rumah Sakit Mitra Internasional, Jatinegara, 
Jakarta Timur. Saat ini, mereka sedang menunggu proses pemecatan resmi dari 
tempat dimana mereka sudah 15 tahun mengabdi. 
Suharti, 42 tahun, Sutiyem, 36 tahun dan Wiwin Winarti, 40 tahun terpaksa 
menuntut keadilan lewat Komnas HAM. Ketiganya mengaku telah dizalimi 
keyakinannya.
“Saya masih ingin tetap bekerja di RS Mitra Internasional. Saya merasa ini 
cubitan dari Allah, teguran dari Tuhan karena kelalaian saya di masa lalu. Saya 
harus tabah menghadapi cobaan ini,” kata Suharti, perempuan yang mulai berjihad 
mengenakan jilbab sejak 2000 ini. 
Ya, Suharti dan dua temannya, sudah mendapatkan Surat Peringatan 1, 2 dan 3 
dari RS Mitra Internasional. Artinya, secara administratif ketiganya sudah 
layak untuk diproses PHK.
Saat ditanya, kenapa mereka di-PHK? Jawabannya sama: jilbab!
M Luthfie Hakiem, pengacara dari ketiga perawat ini mengatakan, ada prosedur 
yang tidak sesuai di RS Mitra Internasional. 
''Pertama, soal dikeluarkannya SP-1 sampai SP-3. Dalam perjanjian kerja, tiap 
SP baru bisa dikeluarkan dalam waktu 6 bulan,'' katanya.
Tapi, kenyataannya SP-1 sampai SP-3 keluar hanya dalam waktu dua minggu. Selain 
itu, ada masalah prinsip. Yaitu, tentang alasan pemecatannya.
''Hanya karena ketiga perawat ini tidak memasukkan jilbab mereka. Padahal, di 
SOP perusahaan, tidak ada aturan itu,'' kata Luthfie.
Suharti mengangguk. Juga kedua temannya, Wiwin dan Sutiyem. Mereka bercerita, 
sejak bulan Januari 2009, RS Mitra Internasional mengeluarkan izin bagi 
karyawatinya untuk mengenakan jilbab.
Ijin pemakaian jilbab itu sendiri baru dikeluarkan setelah ada tuntutan dari 
karyawan. 
Nah, saat itu Suharti dan beberapa temannya sempat mengajukan usulan disain 
untuk seragam bagi mereka yang berjilbab, yang sedang dirancang oleh seorang 
disainer dari Bandung. 
Rupanya, pihak manajemen rumah sakit sudah mempunyai disain sendiri. Kemudian, 
disain itu menjadi aturan pemakaian jilbab bagi karyawati RS Mitra 
Internasional. Yaitu, jilbab dimasukkan ke dalam kerah dan baju yang tidak 
sampai ke pergelangan. 
Atau, dalam sebutan mereka, itu adalah jilbab gaul karena masih memperlihatkan 
lekukan bentuk bagian dada. Di sinilah masalah muncul.
Sebab, disain itu dinilai tidak sesuai dengan aqidah yang diyakini. Beberapa 
perawat dan karyawati RS Mitra Internasional tidak sepakat dengan disain itu. 
Akhirnya, mereka memilih untuk tetap mengenakan jilbab yang mereka yakini benar 
secara syariah. Yaitu, jilbab longgar yang justru harus menutupi lekukan tubuh.
''Apa yang kami lakukan dan kenakan ini, yaitu jilbab yang lebar hinga menutup 
dada, adalah sesuai dengan tuntutan syariah seperti yang ada dalam Al-Quran,'' 
kata Suharti, dan diiyakan oleh dua temannya.
Pilihan ini beresiko. Tiga perawat ini diintimidasi. “Sepuluh kali dipanggil 
HRD, diintimidasi dengan pertanyaan: Kamu nggak takut digeser? Saya dilarang 
menggunakan jilbab yang benar menurut keyakinan saya. Semua disertai dengan 
ancaman,'' kata Suharti.[bersambung/ims]

 
 
Kisah 3 Perawat Berjilbab (2)
Ya, Kami Kader PKS
Irvan Ali Fauzi
 
INILAH.COM, Jakarta- Pernah, ketiga perawat ini memakai jilbab yang tidak 
terlalu longgar. Mereka memakai jilbab bandana dan jilbab yang dimasukkan ke 
dalam baju. Tapi, mereka ingat syariah.
“Kami sudah ikuti aturan itu, termasuk kewajiban memakai bandana dan pakaian 
ketat. Tapi menurut keyakinan kami, berjilbab yang sesuai syariah adalah jilbab 
yang menutup dada hingga tak terlihat lekukan tubuh, seperti tercantum dalam 
Al-Quran,” kata Suharti, bersemangat.
Mereka juga mengenakan seragam berkerudung lebar menutup hingga sebatas 
punggung. Juga mengenakan kaos kaki untuk menutup telapak kakinya. 
“Alasan pihak perusahaan terlalu dibuat-buat, yaotu menuntut agar kerudung 
mereka dimasukkan ke dalam baju. Jadi, tidak ada persoalan dalam performance 
atau keluhan dari pasien,” kata M Luthfie Hakim, pengacara dari tiga perawat 
ini.
Artinya, model kerudung yang dikeluarkan di baju atau dimasukkan ke dalam baju, 
tidak diatur dalam SOP perusahaan.
Apalagi, peraturan jilbab itu telah disertifikasi oleh MUI.
“Kami mengira ada manipulasi sertifikasi halal berpakaian versi MUI oleh RS 
Mitra Internasional,” tegas Luthfie, yang pernah menjadi pengacara mantan 
Danjen Kopassus Muchdi PR. 
Komisioner Komnas HAM, Johny Nelson Simanjuntak yang menerima pengaduan tiga 
perawat ini, berjanji akan menindaklanjuti kasus ini. Dia menjanjikan tiga hal.
Pertama, akan menegur RS Mitra Internasional untuk lebih menghargai keyakinan 
karyawana. Kedua, menegur Disnaker Jakarta Timur untuk tidak memperantarai dan 
melanjutkan proses pemecatan terhadap ketiga perawat ini. Ketiga, menegur 
Serikat Pekerja RS Mitra Internasional karena gagal menjalankan fungsinya dalam 
membela hak anggotanya.
“Kita berharap mereka mendapat keadilan dan meminta sertifikasi halal pakaian 
RS Mitra Internasional ditinjau kembali. Karena sertifikasi itu telah 
dimanipulasi untuk memecat karyawannya,” kata Luthfie.
Ketika ditanya dari mana mereka bisa meyakini bahwa jilbab yang mereka kenakan 
itu sesuai syariah, Suharti menjawab:''Saya dan Mbak Wiwin rutin ikut liqo 
(kajian agama yang rutin diselenggara oleh PKS). Tapi kami berbeda murabbi,” 
Ujar Suharti sambil melirik Wiwin. 
Mereka mengatakan bahwa mereka adalah kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS). 
Namun, mereka mengaku sebelumnya mereka tidak berteman. Mereka baru berteman 
dekat ketika dipersatukan oleh kasus pemecatan ini.
“Sebetulnya kami berhasil menggalang sekitar sebalas orang, namun yang tersisa 
hanya tinggal kami bertiga. Seperti seleksi alam,” ujar Suharti kepada 
INILAH.COM di Komnas HAM, Jakarta, Senin (7/11).
Sampai berita ini diturunkan, pihak manajemen RS Mitra Internasional masih 
tidak mau dikonfirmasi. INILAH.COM hanya diberi jawaban bahwa direksi dan HRD 
sedang tidak ada di tempat oleh staf di resepsionis.[habis/ims]
 
 
 
 
SMILE,

Riyand


      

Kirim email ke