Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal



http://groups.yahoo.com/group/insistnet/message/18119

--- In [email protected], Zaki <zaki.fathuroh...@...> wrote:

Beberapa tahun yang lalu saat berbicara di depan mahasiswa Universitas
Indonesia di Jakarta, Dr. Tariq Ramadhan sempat menyinggung tentang
sikap
umat Islam kontemporer yang sering bersikap berlebihan terhadap
orang-orang
Yahudi. Banyak yang secara sadar atau tidak telah menisbatkan berbagai
persoalan yang menimpa kaum Muslimin kepada orang-orang Yahudi.

Setiap kali mendapati simbol yang berbau Yahudi maka mereka merasa ada
konspirasi Yahudi di baliknya. Bahkan terhadap sebuah kotak makanan
sederhana yang dipenuhi motif bintang segi enam barangkali akan
menyebabkan
kita merasa catering yang menyiapkan makanan tersebut telah terlibat
gerakan
Yahudi internasional, demikian kurang lebih penjelasan cucu Hasan
al-Banna
ini.

Bulan lalu, tepatnya tanggal 12 Desember 2009, dalam sebuah diskusi
tentang
Leopold Weiss atau Muhammad Asad di Kuala Lumpur, beliau juga sempat
menyinggung hal yang sama. Leopold Weiss merupakan seorang Yahudi Eropa
yang
masuk Islam dan kemudian melibatkan diri dalam gerakan revivalis Islam.

Tariq Ramadhan menjelaskan bahwa banyak umat Islam yang ketika mendengar
seorang Yahudi masuk Islam dan mereka menyukai keislamannya, maka mereka
akan berseru dengan gembira, "He is a Jew." Tapi saat mereka
tidak setuju
dengan pemikirannya maka mereka akan mencurigai seluruh motif yang
dimilikinya, "Be careful, he is a Jew." Padahal seharusnya kita
menjauhi
sikap semacam ini.

Mungkin Tariq Ramadhan betul, kita seringkali terlalu berlebihan dalam
menganggap persoalan-persoalan yang terjadi pada diri kita sebagai
perbuatan
yang direkayasa oleh orang-orang Yahudi.

Secara tidak sadar kita telah ikut menciptakan sebuah gambaran tentang
kedigdayaan Yahudi yang begitu hebat dan tak tertandingi. Bahkan pada
tingkat tertentu, terutama saat berbicara tentang teori konspirasi, kita
ikut mendukung citra orang-orang Yahudi yang nyaris bisa berbuat apa
saja
untuk mengendalikan dunia. Seolah mereka itu Tuhan yang bisa
mengendalikan
perjalanan sejarah sekehendak hati mereka.

Tentu saja kami tidak bermaksud mengabaikan banyaknya kerusakan yang
telah
dilakukan oleh orang-orang Yahudi, khususnya oleh mereka yang tergabung
dalam zionisme internasional dewasa ini. Mereka memang telah melakukan
berbagai kerusakan dan rekayasa yang merugikan kaum Muslimin dan
kemanusiaan
secara umum. Tapi kita toh tidak bisa selalu menyalahkan orang lain
untuk
persoalan yang menimpa diri kita. Sumber masalah sebenarnya tidak
terletak
di luar sana, tetapi ada pada diri kita sendiri. The problem is not out
there ..., it is within ourselves.

Mungkin banyak penceramah dan ustadz selama ini telah bersikap kurang
arif
saat menyampaikan kepada khalayak ramai tentang kejahatan yang dilakukan
segolongan Yahudi. Hal ini menimbulkan kesalahpahaman yang serius di
kalangan sebagian kaum Muslimin. Sampai-sampai, seperti yang dikatakan
seorang kawan, "sekiranya ada dua ekor ikan berkelahi di laut,
mungkin kita
akan mengatakan bahwa orang-orang Yahudi-lah yang menjadi
penyebabnya."
Seolah Yahudi merupakan akar dari segala jenis kejahatan dan merupakan
virus
untuk segala jenis penyakit yang menimpa umat. Dan karenanya kita
memerlukan
sejenis salep anti-Yahudi untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang ada
pada
diri kita.

Dalam hal ini kita jadi seperti orang tua yang tidak mendidik anak-anak
kita
dengan baik. Setiap kali anak jatuh karena berlari dan melompat-lompat
tanpa
kendali, maka kita akan berkata, "Kenapa Nak? Kamu jatuh? Hmm,
lantai ini
memang nakal karena telah membuat kamu jatuh. Sini biar ayah pukul
lantainya."

Jelas bukan lantainya yang salah, tapi sikap si anak yang tidak
berhati-hati
dalam bermain. Mengapa tidak kita jelaskan duduk persoalannya dengan
lebih
jujur, agar anak tadi bisa bersikap lebih dewasa dan karenanya lebih
mampu
untuk menjaga diri dari terjatuh ke dalam persoalan yang sama?

Sikap yang tidak tepat ini telah menciptakan perasaan yang tidak
kondusif di
tengah masyarakat Muslim. Kita jadi merasa takut dan benci secara
berlebihan
terhadap orang-orang Yahudi. Bahkan tanpa sadar barangkali sebagian dari
kaum Muslimin telah merasa kagum secara berlebihan atas
'kehebatan'
komunitas Yahudi. Hal ini sempat diceritakan oleh seorang ustadz yang
merasa
kesal dengan komentar tamunya yang memuji kecerdasan anak ustadz tadi
sambil
berkata, "Pintar sekali anak ini, seperti Yahudi saja." Ustadz
tersebut
menjawab dengan nada jengkel, "Apakah di dunia ini hanya orang-orang
Yahudi
saja yang pintar, sementara orang-orang lainnya bodoh?"

Sebetulnya kesan semacam inilah yang terus-menerus coba dibentuk oleh
masyarakat Yahudi, bahwa mereka adalah orang-orang yang cerdas, brilian,
powerful, dan pada akhirnya tak tertandingi. Mereka telah berhasil
menanamkan kesan ini kepada masyarakat dunia, dan juga kepada kaum
Muslimin.
Sampai-sampai ada seorang 'intelektual Muslim' Indonesia yang
pergi ke
Israel belum lama ini dan menyatakan kekaguman yang luar biasa terhadap
masyarakat Yahudi di sana. Dengan nada takjub ia mengatakan bahwa dari
"setiap 2 orang Israel yang saya jumpai, ada 3 yang cerdas."
Kata-kata orang
ini sama sekali tidak perlu dipertimbangkan, karena ia jelas tidak bisa
berhitung dan karenanya memiliki tingkat kecerdasan dan pemahaman yang
meragukan.

Setiap kali kita membahas persoalan-persoalan dunia yang ditimbulkan
oleh
orang-orang Yahudi kita perlu berhati-hati agar jangan sampai
menimbulkan
kesan semacam ini di tengah umat. Sebetulnya orang-orang Yahudi tidak
sehebat dan sekuat yang kita bayangkan. Kalaupun pada hari ini mereka
berkuasa, maka itu karena mereka mau belajar, bekerja keras, dan
menyatukan
langkah mereka. Sementara kita kalah karena kelalaian kita sendiri,
bukan
karena kesalahan pihak lain. Kita telah terlalu lama berkubang dalam
kebodohan, kemalasan, dan kesenangan berkonflik dengan saudara sendiri.
Dan
yang terpenting, kita telah menjauhkan diri dari sumber dan akar kita
sendiri, yaitu Kalamullah dan suri tauladan Nabi.

Al-Qur'an tidak pernah mengajarkan pada kita bahwa persoalan utama
kita
disebabkan oleh musuh-musuh di luar sana. Al-Qur'an memang
menjelaskan
upaya-upaya makar yang dilakukan musuh, tetapi ketika umat Islam
tergelincir
dan kalah, maka kesalahan utamanya ada pada diri mereka sendiri, bukan
pada
pihak lain. Ketika kaum Muslimin kalah di Perang Uhud, al-Qur'an
tidak
menyatakan bahwa hal itu disebabkan oleh makar musuh, melainkan
kekalahan
itu telah disebabkan oleh kelalaian sebagian kaum Muslimin sendiri (QS
3:
152-154).

Tulisan ini sama sekali tidak menganjurkan agar para penulis dan
peneliti
yang mendalami tema-tema freemasonry, zionisme internasional, dan teori
konspirasi untuk menghentikan upaya mereka. Tetapi mereka perlu
menghindarkan diri dari hal-hal yang secara tidak langsung akan ikut
mendukung kepentingan zionis sendiri, seperti pencitraan kedigdayaan
Yahudi
sebagaimana yang telah diterangkan di atas. Kajian-kajian ini perlu
dikembangkan untuk memahami kelebihan dan kelemahan musuh serta strategi
yang mereka gunakan, serta memberikan informasi kepada umat tentang
ancaman
yang menghadang mereka. Sementara pada saat yang sama perhatian yang
lebih
besar perlu ditujukan untuk mempelajari kesalahan-kesalahan yang telah
kita
lakukan sehingga menyebabkan keterpurukan seperti sekarang ini. Kemudian
berangkat dari sana kita memperbaiki diri dari berbagai kesalahan yang
ada,
mulai dari yang paling serius hingga ke masalah-masalah internal yang
lebih
ringan.

Pada akhirnya, kita perlu menyadari bahwa orang-orang Yahudi tidak
sehebat
yang kita bayangkan. Mereka juga memiliki persoalan mereka sendiri.
Komunitas zionis internasional berkuasa karena umat Islam lemah dan
tidak
mau bangkit. Mereka berhasil mempertahankan kekuasaan mereka antara lain
dengan terus menerus mengupayakan agar kaum Muslimin tertidur lelap
dalam
kelalaiannya. Ini memang kepentingan dan pekerjaan mereka. Masalahnya
adalah
mengapa kaum Muslimin mau dilalaikan dan mengapa mereka membiarkan diri
mereka terus merosot dalam kemunduran. Pada saatnya kaum Muslimin sadar
dan
berhasil mengatasi persoalan yang ada di dalam diri mereka, maka pada
saat
itu umat akan kembali unggul dan menang, tanpa mampu dihalangi oleh
kepintaran Yahudi manapun.

Jadi, kita tidak memerlukan salep anti-Yahudi untuk mengatasi berbagai
penyakit dan keterpurukan kita. Yang kita perlukan adalah obat
keikhlasan,
pemahaman yang benar, serta amal yang sungguh-sungguh, yang bersumber
pada
al-Qur'an dan Sunnah Nabi, untuk setiap sikap anti-Islam yang ada di
dalam
diri kita. Wallahu a'lam.

Kuala Lumpur,
3 Muharram 1431/ 20 Desember 2009

*Alwi Alatas**, Mahasiswa PhD International Islamic University Malaysia
*

*Sumber:
Eramuslim<http://eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/alwi-alatas-m\
ahasiswa-phd-universitas-salahnya-yahudi.htm>
*


[Non-text portions of this message have been removed]

--- End forwarded message ---





      

Kirim email ke