Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal

--- On Thu, 1/21/10, nugon19 <[email protected]> wrote:

--- In [email protected], qc_...@... wrote:

-DARI MILIS TETANGGA ....

From: ahmad antawirya <ahmadantawi...@...>



Soal Sesat, Benarkah Hanya Tuhan yang Tahu?



Tidak berdasar, muslim yang mengatakan bahwa manusia tidak berhak

mengatakan siapa manusia yang sesat dan siapa tidak sesat



Zarnuzi Ghufron*



"Siapa yang punya otoritas untuk menilai sesat, siapa yang yang tahu faham

ini sesat atau tidak, tiada yang berhak untuk menilai sesat kecuali

Tuhan".



Kalimat-kalimat seperti ini akhir-akhir ini sering kita dengar, baik di

televisi atau di media tulis, diungkapkan oleh orang yang menolak

penilaian suatu faham tertentu, seperti Ahmadiyah, Lia Aminudin, dan

lainnya sebagai faham yang sesat. Menurut mereka, yang mengetahui sesat

atau tidak hanyalah Tuhan. Di antara mereka ada yang mencoba menukil

sebuah ayat dari Al-Quran:



"Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang

tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang

dapat petunjuk." (QS An-Nahl:125)



Bisakah ayat ini dijadikan legitimasi pendapat mereka? Sepertinya kita

perlu memperhatikan ayat sebelumnya dan segala hal yang terkait dengan

ayat ini untuk mengetahui kejelasan pemahaman ayat ini.



Ayat ini diturunkan kepada Nabi Muhammad saw ketika berselisih dengan kaum

Yahudi dalam menetapkan hari yang diagungkan Allah swt di setiap minggunya

untuk dijadikan hari raya dan hari berkumpul bersama untuk beribadah.

Sebelumnya, Allah swt telah menetapkan hari Jumat kepada Nabi Ibrahim as.,

kepada kaum Yahudi lewat lisan Nabi Musa as., dan kepada kaum Nasrani

lewat lisan Nabi Isa as. Akan tetapi kaum Yahudi menolak dan memilih

hari Sabtu, serta kaum Nasrani menolak dan memilih hari Minggu.



Nabi Muhammad saw mengajak kaum Yahudi untuk kembali mengikuti petunjuk

Tuhan dan mereka pun tetap menolak dan memilih dalam kesesatan. Dan Allah

swt berkata kepada Nabi Muhammad bahwa Dia yang lebih mengetahui siapa

yang berhak Dia beri petunjuk dan siapa yang berhak mendapat kesesatan,

dan tugas Nabi hanyalah menunjukan jalan kebenaran yang telah Tuhan

berikan agar terhindar dari kesesatan, adapun hidayah adalah hak absolut

Tuhan. (lihat:Tafsir Ibnu Katsir, dll)



Dari keterangan ini dapat kita fahami bahwa pemahaman ayat tersebut bukan

menunjukan manusia tidak bisa mengetahui siapa yang sesat dan bukan, akan

tetapi siapa yang berhak Tuhan beri petunjuk dan Dia sesatkan setelah Dia

mengutus para Rasul untuk memberi tahu umat manusia; mana jalan sesat dan

mana jalan yang benar.



Menjadi mentahlah argumen orang yang mengatakan, "Manusia tidak berhak

menilai tentang sesat atau bukan, karena hanya Tuhan yang tahu," karena

Allah swt sendiri telah memberi tahu kepada kita, siapa yang yang menurut

Dia sesat atau bukan lewat Rasul yang Dia utus dan Kitab Suci yang Dia

turunkan yang berisi firman-firman-Nya.



"Sesungguhnya kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al-Quran) untuk manusia

dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu)

untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka Sesungguhnya dia

semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri". (QS Al-Zumar:41)



"Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran

sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk

itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)."(QS.Al-Baqoroh:185)



Orang yang menolak adanya klaim sesat di dunia --karena menurutnya hanya

Tuhan yang tahu, sebenarnya memiliki kerancuan di dalam berpikir. Mereka

seolah-olah ingin mengagungkan Tuhan, akan tetapi sebenarnya malah

sebaliknya. Di sini dapat kita ketahui kerancuan cara berpikir mereka:



Pertama, kita tahu Allah swt akan menempatkan orang yang sesat di dalam

neraka, sebagai balasan atas perbuatannya ketika di dunia. Jika dilihat

dari cara berpikir mereka, seolah Tuhan tidak bijaksana (Maha Suci Allah

dari ketidakbijaksanaan), karena Tuhan menempatkan orang-orang yang

menurut Dia sesat di neraka, sedangkan mereka tidak tahu kalau perbuatan

mereka selama di dunia adalah sesat, karena hanya Tuhan yang tahu. Jika

demikian, sama dengan mengganggap Tuhan berbuat tidak adil (Maha Suci

Allah dari ketidakadilan) karena ingin menghukum manusia yang tersesat

tanpa memberi tahu apa itu sesat terlebih dahulu, atau dalam bahasa kita,

tidak ada sosialisai atau informasi sebelumnya.



Di dalam Al-Quran, penghuni neraka mengeluh karena menyesal tidak

mengikuti petunjuk Tuhan ketika mereka hidup di dunia. Hal ini akan

berbeda jika kita mengikuti asumsi tentang sesat yang tahu hanya Tuhan,

maka keluhan ahli neraka akan berubah menjadi perotes:



" Ya Tuhan...! Kenapa Kau masukan aku ke neraka karena menurutmu aku

sesat, kami kan tidak tahu kalau apa yang aku lakukan selama di dunia

ternyata sesat, yang tahu kan hanya Engkau. Kenapa Engkau tidak memberi

tahu kami, agar kami bisa menjauhinya".



Kedua, seolah Tuhan telah melakukan kesia-siaan (Maha Suci Allah dari

kesia-siaan dari apa yang Dia perbuat) di dalam mengutus para Nabi dan

menurunkan Kitab Suci kepada hamba-Nya, karena manusia tetap saja tidak

mendapat informasi apa itu sesat atau bukan, padahal dengan jelas Dia

berfirman di dalam Al-Quran bahwa Dia mengutus para rasul dengan membawa

kitab suci untuk menjadi petunjuk bagi manusia.



Ketiga, jika mereka benar-benar tetap mengatakan bahwa hanya Tuhan yang

tahu, kenapa mereka tidak mencari informasi dari firman Tuhan itu sendiri

(Kitab Suci: Al-Quran) atau lewat para utusan-Nya(Rasul), atau mereka

memang tidak mengimani keduanya sebagai sumber dari Tuhan? Lalu dengan

petunjuk apa dan siapa mereka dapat mengetahui tentang sesat, sedangkan

neraka telah menanti orang-orang yang sesat di dunia, apakah mereka ingin

langsung bertanya dengan Tuhan?



Maha suci Allah swt yang Maha Bijaksana, yang telah mengutus Rasul dan

menurunkan Kitab Suci sebagai pemberi informasi tentang kebenaran dan

kesesatan kepada manusia, sehingga mereka dapat memilih jalan mana yang

harus ditempuh dengan segala konsekuensinya.



Dan Maha Adil Allah swt yang tidak akan menyiksa hamba yang tersesat

karena Dia belum menurunkan informasi tentang jalan yang benar dan jalan

yang sesat, dan Dia yang akan menyiksa setiap orang yang menolak untuk

mengikuti petunjuk yang telah Dia berikan kepada umat manusia lewat para

Rasul.



"Barang siapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah swt), maka

sesungguhnya dia telah berbuat untuk (keselamatan) diri sendiri; dan

barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian)

diri sendiri, dan seseorang yang berdosa tidak bisa memikul dosa orang

lain dan kami tidak akan mengazab sebelum kami mengutus seorang Rasul."

(QS.Al- Isro:17)



Itulah kebijaksanaan Tuhan, yang tidak akan meminta pertanggung jawaban

kepada hamba-Nya kecuali bagi mereka yang telah diberi tahu tentang

tanggung jawab apa yang harus dipikulnya di hadapan-Nya.



Dari sinilah pula kita mengetahui fungsi diutusnya para Rasul dengan

membawa Kitab Suci, yang tidak lain adalah untuk memberi petunjuk kepada

kita, mana jalan yang sesat yang harus kita jauhi dan mana jalan yang

lurus yang harus kita tempuh.



"Dialah (Allah) yang telah mengutus rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk

(Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama,

walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai." (QS Al-Taubah:33)



"Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati

Allah." (QS:Al-Nisa:80)



"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan

mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia

leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia

ke dalam jahanam, dan jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali."



Saya rasa sangat tidak berdasar orang -terlebih jika orang muslim- yang

mengatakan bahwa manusia tidak bisa mengetahui; siapa manusia yang sesat

dan bukan, karena tidak mau memahami fungsi diturunkannya Kitab Suci dan

diutusnya rasul oleh Allah swt. Dan sekarang bukan saatnya lagi untuk

mengatakan tidak adanya informasi tentang hal ini, karena Rasul telah

diutus, firman Tuhan telah diturunkan, yang tertuang dalam kitab suci dan

pewaris para nabi (ulama) sangat banyak untuk kita jadikan tempat

bertanya tentang agama.



"(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi

peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah swt

sesudah diutusnya rasul-rasul itu. dan adalah Allah swt Maha Perkasa lagi

Maha Bijaksana." QS: Al-Nisa:165)



"Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi ingkar/kafir, padahal ayat-ayat Allah

swt dibacakan kepada kamu, dan rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu?

Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah swt, maka

sesungguhnya ia Telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus."( QS: Ali

Imron:101)



Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya mereka para ulama adalah pewaris

para nabi." (HR.Bukhori)



"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ulama) jika

kamu tidak mengetahui." (Al-Nahl : 43)



Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengungkapkan apa dan siapa yang sesat,

karena sangat banyaknya kriteria sesat yang tertulis di dalam Al-Quran dan

As-Sunah. Tulisan ini hanya bertujuan memberi informasi bahwa informasi

tentang sesat itu terdapat di dalam dua kitab tersebut. Dan bukan saatnya

lagi untuk mengatakan bahwa yang tahu hanya Tuhan dan kita tidak ada yang

tahu, karena Tuhan sendiri telah memberi tahu kita lewat Al-Quran dan

Sunah rasul-Nya, dan kita pun bisa mengetahui. Walaupun kita tidak

mengingkari bahwa Tuhan lebih mengetahui, akan tetapi informasi yang telah

Tuhan berikan sudah sangat mencukupi untuk dijadikan petunjuk.



Sekarang tinggal diri kita, mau atau tidak untuk memanfaatkan kedua sumber

informasi tersebut. Bagi yang belum mampu memahami (QS:Al-Nisa:115)isi

kedua kitab tersebut dengan baik, lebih baik bertanya kepada ulama yang

berkompeten di bidangnya atau mengikuti fatwa-fatwa mereka agar terhindar

dari kesalahfahaman.



*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Sariah Universitas Al Ahqoff,

Hadramaut,Yaman

Hidayatullah.com









[Non-text portions of this message have been removed]


--- End forwarded message ---





      

Kirim email ke