Pluralisme sebenarnya bentuk tipu daya Barat untuk  menghilangkan identitas 
Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia

Hidayatullah.com-Pluralisme
di Indonesia saat ini bukan lagi sekedar wacana tapi telah merangsek
menjadi gerakan aksi. Lebih dari itu pengasong paham pluralisme di
Indonesia nampak begitu bersemangat untuk mewujudkan konstruk sosial
yang mereka khayalkan.
Hal ini bisa dilihat dari upaya LSM AKKBB
baru-baru ini yang menghendaki pencabutan UU pelarangan penistaan agama
ke Mahkamah Konstitusi. Apa sebenarnya pluralisme masih banyak orang
yang belum memahami secara mendalam. Secara historis pluralisme
merupakan hasil perjalanan panjang dari masa modernisme dan
postmodernisme pada kultur Barat. Demikian penjelasan Hamid Fahmy
Zarkasy, Ph.D, dalam diskusi interaktif kemarin di Gedung Insani Press
(GIP) Kalibata Jakarta Selatan.

“Berbicara pluralisme kita harus
mengerti asal-usul paham tersebut muncul. Ini berarti secara mutlak
kita mesti mengerti pandangan hidup dan sejarah Barat itu sendiri.
Sebab pluralisme bukan sekedar konsep tapi konstruk budaya Barat yang
traumatic dengan hegemoni gereja dan pada saat yang sama merebaknya
sikap intoleransi antar sekte dalam Kristen yang berlangsung
berabad-abad lamanya. Awalnya bukan pluralism yang didagangkan tapi
sekularisme. Namun setelah dinilai gagal maka pluralisme pun hadir
sebagai penggantinya”, ujar Hamid.

Menurut Hamid, secara
konseptual, antara masa modernisme dengan masa postmodernisme terjadi
suatu pergeseran paradigma yang sangat luar biasa. Jika modernisme
identik dengan paham sekularis dan saintifis-nya maka postmodernisme
hadir dengan ciri kebebeasan dan anti kemapanan.

Modernisme
dengan cara berpikir saintifiknya, sementara itu postmodernisme tidak
lagi menjadikan logika formal modernisme sebagai suatu hal yang
berharga alias tidak lagi berlaku. Postmodernisme lebih menekankan pada
aspek pemaknaan kata-kata (logika bahasa) yang sasarannya tidak lain
untuk melakukan dekontruksi makna sebagaimana dikenalkan oleh Derrida.
Lebih jelasnya postmodernisme menghendaki perubahan cara berpikir
formal dengan pemaknaan kata-kata dengan semangat dekkontruksi terhadap
kemapanan.

Logika bahasa mengandung spirit nihilisme dan
relativisme yang mana keduanya menjadi akar lahirnya pluralisme dan
liberalisme. Sebagaimana spirit nihilisme dan relativisme pluralisme
pun menghendaki adanya kebenaran bersama. Dengan kata lain semua benar
atau semua salah atau tidak ada yang lebih benar dari yang lain.

“Logika
bahasa mengarah pada dekontruksi makna dan upaya ini sama dengan apa
yang ditawarkan Nietzsche dengan nihilisme-nya. Sehingga tidak saja
kebenaran yang telah lenyap, Tuhan pun telah mati. Tetapi pluralisme
nampak sedikit lebih elegan dengan mengakomodir semua kebenaran pada
semua agama yang sejatinya tidak lebih dari sekedar upaya agar dunia
menerima apa yang menjadi pandangan hidup Barat. Sebab pandangan hidup
Barat tidak akan pernah diterima oleh dunia jika pluralisme gagal
dipasarkan, apalagi masih ada komunitas agama yang mengklaim bahwa
kebenaran ada pada pihaknya,” tambahnya.

Lebih Dewasa

Lebih
jauh, Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Pondok Modern Darussalam
Gontor Ponorogo ini juga menjelaskan hubungan liberalisme dan
pluralisme. Menurutnya, liberalisme, menghendaki kebebasan untuk
beragama juga termasuk kebebasan untuk tidak beragama. Oleh karena itu
klaim kebenaran bagi kaum pluralis adalah haram.

Paham ini
(pluralisme dan liberalisme, red) tidak lagi menyempitkan ruang Tuhan
agar tidak mencampuri urusan manusia, lebih jauh mereka menghendaki
untuk menjadi pengatur Tuhan itu sendiri. Dari keinginan semacam ini
(mengatur Tuhan) Barat pun menciptakan agama baru yang kita kenal
dengan istilah humanisme.

Jadi, humanisme tidak lain adalah
liberalisme itu sendiri. Menurut kaum humanis untuk menjadi orang baik
tidak perlu religius cukup dengan menjadi seorang moralis saja. Maka,
nantinya akan ada pelacur yang dermawan dan kiai yang “teroris”, dan
lain sebagainya.

Humanisme yang kini dikemas dalam pluralisme
hadir karena proyek sekularisasi dinilai telah gagal mensekulerkan umat
Islam Indonesia secara khusus. Maka sebagai gantinya Peter Berger
menawarkan pluralisme sebagai proyek baru. Semua isme yang dihadirkan
Barat dan diamini oleh para pemikir liberal sejatinya bukanlah
pandangan hidup melainkan sebuah proyek global yang menghendaki
rusaknya aqidah umat Islam dan Indonesia merupakan satu-satunya negara
yang paling sukses dalam penjualan proyek pluralisme itu sendiri.

Terkait
dengan antusiasme kaum liberal di Indonesia bukan saja karena secara
sadar paham pluralisme mereka yakini sebagai sebuah kebenaran. Tapi ada
satu faktor lain yang cukup menggiurkan, yakni keuntungan materi dan
berbagai fasilitas lain bagi mereka yang mau mengasong pluralisme dan
menjajakannya di Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Pemimpin
Redaksi Jurnal ISLAMIA ini menegaskan bahwa pluralisme tidaklah tepat
untuk diterapkan di Indonesia. Hal ini bukan saja karena Indonesia
mayoritas Muslim, secara konsep Islam lebih “dewasa” di banding Barat
sebagai peradaban. Menurutnya, secara historis Islam pertamakali hadir
di tengah pluralitas masyarakat; ada Yahudi, Nashrani, Majusi,
Musyrikin bahkan Jahiliyah. Sedangkan Barat berkembang tanpa tetangga,
sehingga wajar ketika terjadi perbedaan paham yang melahirkan sekte
dalam Kristen antara satu sekte dengan sekte lainnya saling benci
bahkan saling serang dan saling bunuh dan kondisi ini tetap berlangsung
hingga saat ini, paparnya.
 
“Kalau pluralisme diterapkan di
Barat ya tidak masalah tapi kalau untuk Indonesia nanti dulu, sebab
pluralisme itu sebenarnya bentuk tipu daya Barat untuk mencabut dan
menghilangkan identitas Indonesia sebagai negara muslim terbesar di
dunia”, pungkasnya. [imam/www.hidayatullah.com]


      Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke 
Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer

Kirim email ke