http://groups.yahoo.com/group/mualafindonesia/message/10274

http://www.dakwatuna.com



Komunikasi Efektif



Oleh: Tim dakwatuna.com





dakwatuna.com – Kehidupan selalu ditandai dengan konflik dan

pertentangan. Pertentangan ini mungkin bukan pertentangan yang

bersifat fisik dan anarkis. Pertentangan juga bisa berupa situasi di

mana dua orang atau lebih memiliki pandagan yang sama sekali berbeda,

keinginan-keinginan yang berbeda, atau tujuan-tujuan yang tidak sama

dan masing-masing berusaha untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.



Sebagaimana dalam sebuah pertempuran, setiap prajurit harus tahu

senjata apa yang ia miliki, dan kapan harus memanfaatkannya. Namun,

senjata bukan segala-galanya. Ingat ungkapan “the man behind the gun”.

Senjata tanpa kemampuan atau kompetensi orang di belakangnya dapat

amat berbahaya. Kita perlu memanfaatkan kekuatan-kekuatan yang ada

dalam diri kita dan mendesakkannya terhadap kelemahan-kelemahan lawan.

Jangan kita masuk dalam situasi di mana kita hanya dimanfaatkan oleh

kekuatan lawan.



Ada sebuah ungkapan menarik dari J. Robert Parkinson, seorang ahli

organisasi dan manajemen yang menegaskan:



“Jangan pernah menendang seekor kangguru.”



Dalam soal tendang-menendang, seekor kangguru tentu jauh lebih baik

dari kita. Karena itu, bila kita ikut kontes tendang-menendang dengan

seekor kangguru, tentu kita akan kalah; sama sekali tidak masuk akal.

Hal itu bukan berarti kita menghindari konflik atau pertentangan. Itu

hanya berarti kita harus tahu lebih baik daripada sekedar memilih

tendangan sebagai senjata. Pilih, rencanakan, dan pikirkan sebelumnya,

agar kita dapat menentukan aturan mainnya, maka kita tidak akan

terpaku pada permainan tendang-menendang dengan seekor kangguru.



Beberapa hal yang harus diketahui, agar komunikasi lebi efektif:



1. Mempengaruhi orang lewat perjumpaan (negosiasi)



Sebelum merencanakan taktik dan strategi dalam mempengaruhi, hal yang

sangat penting harus dilakukan adalah menyatakan dengan

sejelas-jelasnya apa yang kita inginkan. Paksa diri kita untuk

menulisnya. Kita mungkin bisa membohongi diri sendiri, tapi kita tidak

dapat berbohong pada kertas putih. Tanpa ada tujuan yang jelas, kita

tak mungkin mengetahui apakah kita sudah mencapainya atau belum. Kita

juga sulit menentukan strategi apa yang tepat untuk mencapai tujuan

tersebut.



Ibarat mengendarai sebuah mobil. Jika kita tidak memiliki tujuan yang

pasti, maka sebenarnya tidak ada bedanya jalan manapun yang kita lalui

dan seberapa cepat kita mengendarai mobil tersebut. Kita hanya akan

menghamburkan banyak waktu, tenaga, dan bahan bakar. Kita tidak akan

mencapai apa-apa. Mulai sekarang kita harus berprinsip:



“apapun yang kita lakukan, lakukan hal itu atas dasar tujuan.”



Kebiasaan salah yang kerap dilakukan dalam proses negosiasi adalah

terlalu luas dan general dalam menentukan tujuan. Karena luasnya,

hingga tujuan tersebut tidak dapat dijalankan. Ingatlah ungkapan:



“Setiap perjalanan ribuan kilometer harus dimulai dengan satu langkah pertama.”



Ketika kita menggambarkan tujuan yang kita ingin capai, anggap

pernyataan itu seakan-akan sebagai satu langkah, dan bukan seluruh

perjalanan itu. Kita perlu menentukan apa yang ingin kita capai

sekarang, dengan orang tertentu, pada pertemuan tertentu ini, dalam

pembicaraan ini.



Dalam melangsungkan pertemuan untuk bernegosiasi, ada beberapa saran

pokok yang kiranya penting dijadikan perhatian:



Pertama, bayangkan pertemuan tersebut di benak kita. Persiapkan

sebelumnya dengan menuliskan skenario yang mungkin kita masuki, tapi

jangan terlalu kaku berpegang padanya kata demi kata. Kalau kita

terlalu kaku, kita akan dihadapkan pada kebingungan jika lawan

memberikan tanggapan yang lain dari yang kita skenariokan. Lebih baik

kita memikirkan pokok-pokok perkara yang kiranya akan dikemukakan oleh

pihak lain (lawan) dalam memberikan reaksi dan kemudian memberikan

urutan perkara yang ingin kita kemukakan.



Setelah itu cobalah untuk mem-visualisasikan dimana pertemuan itu

berlangsung. Apakah kita akan berdiri di podium? Duduk di meja? Di

kantor pribadi atau di kantor lawan bicara kita?. Cobalah bayangkan!

Pikirkan dalam-dalam cara yang kita mau dan situasi yang kita masuki

sebelum kita mempraktekkannya dalam perjumpaan riil. Kendalikan

pertemuan tersebut sesuai dengan rencana yang kita buat. Dengan

begitu, kita dapat memenangkan menit-menit atau detik-detik pertama

yang amat penting dalam pertemuan tersebut. Amat mungkin bahwa lawan

kita tidak melakukan proses mental semacam itu, sehingga situasi

aktualnya akan merupakan sesuatu yang benar-benar baru baginya, maka

kita akan lebih diuntungkan.



Kedua, rencanakan faktor-faktor kebetulan. Contoh sederhana, suatu

saat kita membayangkan bertemu seorang pria, namun kenyataannya ia

adalah seorang wanita. Karena itu, ketika mengembangkan sebuah

rencana, pastikan bahwa rencana itu mencakup hal-hal kebetulan yang

mungkin akan terjadi tetapi belum dapat anda prediksi. Tegasnya,

“Jangan membiarkan apapun ditentukan oleh faktor kebetulan. Jangan

mengandaikan apa-apa tanpa kita selidiki dan persiapkan terlebih

dahulu.”



Ketiga, Santailah! Ketika pertemuan tiba, bisa jadi kita merasa adanya

tekanan, stress, ketegangan, dan selusin perasaan serupa. Itu

merupakan hal yang lumrah. Dalam keadaan seperti itu, adrenalin

mengalir dalam sistem tubuh dan jantung terpacu. Kita tidak dapat

mengontrol aliran adrenalin itu tapi kita dapat mengendalikan

pengaruhnya. Pada saat itu, bagian tubuh yang pertama bereaksi adalah

kaki kita dengan mengikuti “Sindroma melawan atau lari”. Tolak

dorongan untuk melarikan diri dan berkonsentrasilah pada upaya untuk

mengendalikan kaki kita.



Jika kita sedang berdiri, berdirilah tegak dengan dua kaki menapak

kuat di atas lantai dan sedikit renggang. Usahakan berat badan terbagi

rata pada kedua kaki. Jangan mengalihkan berat badan dari kaki satu ke

kaki yang lain. Jangan pula bergoyang-goyang. Berdirilah tegak dengan

sikap tenang.



Jika kita duduk, lupakan kursi memiliki sandaran, duduklah tegak

dengan tatapan ke depan. Jangan menggeser-geser kaki jika tidak

diperlukan. Ingat, kendalikan adrenalin lewat kontrol pada kaki anda.

Dengan sikap tenang tanpa terburu-buru. Lakukan gerakan-gerakan dengan

tenang. Bentuklah kesan bahwa kita Atentif (penuh perhatian), Aktif,

Waspada, dan Agresif (AAWA). Konsentrasi! Jadikanlah hal itu sebagai

prioritas utama dan berusahalah dengan keras untuk itu.



Keempat, cari “petunjuk” sebagai senjata. Terkadang kita dihadapkan

oleh situasi yang sangat kaku dan dingin, atau situasi yang membuat

kita terpojok. Salah satu kiat mengatasinya adalah dengan mengalihkan

perhatian pada hal-hal yang bisa mencairkan suasana. Lawan kita pasti

memiliki hobby atau kesenangan. Terkadang kita dapat menemukannya

dengan cepat di ruangannya. Lukisan, hiasan atau lainnya dapat kita

gunakan sebagai petunjuk. Asal daerah terkadang perlu juga kita

tanyakan. Mungkin kita dapat mencairkan suasana dengan mencoba membuai

lawan bicara kita untuk bernostalgia dengan kampung halamannya. Ingat

jangan terburu-buru pada tujuan utama kita! Observasilah dengan cepat

dan teliti ruangan atau dokumen yang ada dan gunakan petunjuk apapun

yang dapat digunakan.



Tips Menjual Gagasan



Gagasan adalah buah dari cara berpikir anda. Gagasan ibarat bayi yang

baru dilahirkan, masih amat lemah tanpa bantuan sekelilingnya. Gagasan

memerlukan penanganan khusus sejak dilahirkan hingga diubah menjadi

cara-cara praktis mengerjakan sesuatu lebih baik.



Ada beberapa tips menjual gagasan pada orang lain:



1. Rancang gagasan dengan baik

2. Jelaskan dengan berhati-hati

3. Perhatikan soal waktu dalam gagasan itu

4. Perhatikan daya guna dalam gagasan itu

5. Buatlah gagasan itu betul-betul meyakinkan

6. Pakailah penilaian yang tepat

7. Ajaklah pengikutsertaan orang lain di dalamnya

8. Ujilah keampuhan gagasan itu

9. Lakukan pembaharuan

10. Bersikaplah tabah



Tips menyusun pesan untuk mempengaruhi orang lain:



* Attention (perhatian)

* Need (kebutuhan)

* Satisfaction (pemuasan)

* Visualization (visualisasi)

* Action (tindakan)



Jadi, bila anda ingin mempengaruhi orang lain, rebutlah lebih dulu

perhatiannya, selanjutnya bangkitkan kebutuhannya, berikan petunjuk

bagaimana cara memuaskan kebutuhan itu, gambarkan dalam pikirannya

keuntungan dan kerugian yang diperoleh bila ia menerapkan atau tidak

menerapkan gagasan anda. Doronglah ia untuk bertindak.



Contoh sederhana. Bila anda berkata kepada teman anda, “Lihat

rambutmu!” Anda berada pada tahap pertama. Bila kemudian anda

menyatakan bahwa rambut itu perlu dipotong, Anda berusaha meyakinkan

dia akan kebutuhannya sendiri. Katakan bahwa sudah saatnya memotong

rambut. Ini pemuasan. Anda tentu akan menjelaskan, bila tidak dipotong

cepat-cepat, rambut itu akan mengganggunya, menyebabkan ia kelihatan

tidak rapi; sedangkan bila dipotong, ia akan tampak gagah, sopan, rapi

dan tampan. Ini usaha visualisasi. “Ayo, cukurlah rambutmu sekarang.”

Adalah saran Anda supaya komunikasi melakukan tindakan.



Tips Komunikasi Efektif



Langkah 1



* Kenalilah tujuan anda

* Kenalilah pendengar anda

* Kenalilah pendekatan anda



Langkah 2



* Apa yang akan saya bicarakan

* Siapa yang terlibat

* Dimana sesi tersebut

* Kapan sesi tersebut disampaikan

* Mengapa sesi disampaikan

* Bagaimana saya melakukan



Langkah 3



* Carilah kisi-kisi yang merealisasi tujuan

* Carilah kisi-kisi yang berhubungan dengan pendengar

* Carilah pendekatan yang tepat



Semoga dengan tulisan singkat ini menjadi bekal bagi para pembaca

untuk mampu mengamalkan kaidah “Khatibul qaumi ‘ala qadri uqulihim”,

Berkomunikasilah dengan suatu kelompok masyarakat sesuai dengan kadar

intelektualitas mereka.” Allahu a’lam



http://www.dakwatuna.com/2009/komunikasi-efektif/







      

Kirim email ke