Fwd Artikel ini adalah utk Sharing salah satu hikmah Wudhu dan Tayammum.
Ada pun tata caranya, itu semua murni bentuk Ibadah yg harus kita jalankan, 
tidak peduli apakah kita tahu hikmahnya atau tidak, sebagai bentuk kepatuhan 
dan penghambaan kpd Allah swt.

Wassalam,



Nugon



http://groups.yahoo.com/group/Muhammadiyah_Society/message/27789


"Rois" <royfath...@...> 

royfathoni 


Wudhu, Tayamum dan Listrik Statis


Assalaamu'alaikum, wr, wb.

Teman saya bertanya kepada saya, "Kamu sering kesetrum listrik statis waktu 
memegang handle pintu kantor kita?"
Saya jawab, "Iya, betul sekali. Tetapi hanya waktu winter saja."
Setiap
musim winter tiba, saya memang sering merasa kesetrum ketika memegang
handle pintu yang terbuat dari bahan logam seperti almunium.

Ia bertanya, "Tahukah kamu mengapa hal ini tidak terjadi di musim yang lain?"
Saya jawab, "Tidak tahu."
Kata teman saya, "Karena udara sangat kering di musim winter."
Saya tanya, "Kok bisa begitu?"

Jawab
dia, "Karena molekul air yang mengembun di tubuh kita akan menetralkan
listrik statis yang terakumulasi di tubuh kita. Di musim winter, udara
sangat kering, sehingga tidak ada molekul air di permukaan kulit kita.
Elektron yang terkumpul di tubuh kita, yang kebanyakan berasal dari
gesekan jaket yang kita kenakan, akan terus terakumulasi. Dan begitu
tangan kita menyentuh logam yang merupakan konduktor yang baik,
elektron yang terakumulasi tadi langsung "meloncat" dari tubuh kita ke
logam tsb. Itu adalah fenomena "petir mini", dan ujung jarimu yang
merasa seperti tersambar petir. Hal ini mirip dengan fenomena penangkal
petir. Di atas ada gumpalan uap air yang kaya akan elektron. Elektron
elektron itu akan "meloncat" ke bumi melalui titik titik terdekat
dengan awan yang terbuat bahan konduktor yang bagus."

Saya terkesima, dan berujar, "Oooo, begitu ya, ceritanya."

Ia
pun dengan semangat meneruskan kuliahnya, "Jadi, kalau kamu tidak ingin
tersambar petir mini alias kesetrum listrik statis, sebelum kau
memegang handle pintu, basahilah dulu tanganmu dengan air. Atau, kalau
tidak ada air, salurkanlah elektron di tubuhmu ke bumi dengan
menebakkan tanganmu ke tanah atau tembok."

Saya terperangah dengan kalimat terakhir itu. Saya terperanjat. Saya terkagum 
kagum. Saya bertakbir: Allahu Akbar!
Berpuluh
- puluh tahun saya bertanya - tanya tentang tayamum sebagai pengganti
wudhu, berpuluh puluh tahun naluri keingintahuan saya pendam. Hari ini,
temanku yang notabene seorang atheis yang menjelaskannya dengan
gamblang dengan teori listrik statis; sebuah ilmu sederhana yang sudah
saya pelajari sejak bangku SD dan selalu saya dapatkan pelajaran itu di
jenjang sekolah berikutnya.

Dulu, saya mengira bahwa (satu
satunya) hikmah berwudhu adalah membersihkan badan dari kotoran yang
menempel di tubuh kita. Tetapi saya tidak habis fikir, bagaimana bisa
wudhu diganti dengan tayammum yang dilakukan dengan membasuhkan debu ke
wajah dan telapak tangan? Bukankah dengan tayamum justru tangan dan
wajah kita menjadi "kotor" ? Ada apa ini? Apa rahasia di balik semua
ini?

Ternyata, "kotoran" yang ada di dalam tubuh kita ternyata
bukan hanya debu yang menempel ke tubuh kita. Ada jenis "kotoran" yang
tidak terlihat oleh mata, jauh lebih berbahaya bila tidak segera
di"buang". "Kotoran" itu bernama elektron, yang apabila terlalu banyak
terakumulasi di tubuh kita bisa merusak kesetimbangan sistem elektrolit
cairan di dalam tubuh kita. Padahal konon lebih dari 90% tubuh kita
adalah cairan. 

Molekul molekul air H2O yang bersifat polar
sangat mudah menyerap elektron elektron yang terakumulasi di tubuh
kita. Hanya dengan mengusapkan air ke permukaan kulit saja, maka
"kotoran" elektron itu dengan mudah "terbuang" dari tubuh kita.
Sekarang saya faham, mengapa Rasulullah SAW pernah "mandi besar" hanya
dengan menggunakan air satu ciduk saja; kurang lebih satu liter saja.
Rupa - rupanya yang dibutuhkan hanyalah membasahi seluruh permukaan
tubuh dengan air, tanpa harus mengguyurnya. Dan itu pulalah sebenarnya
definisi syar'i wudhu dan mandi besar: hanya perlu membasuh saja, dan
bukan mengguyur dengan air. Ternyata, hanya dengan membasuh kulit tubuh
dengan air itulah kelebihan elektron di permukaan tubuh kita akan
dinetralkan. 

Dengan teori "kotoran" elektron listrik statis
inilah akhirnya rahasia di balik tayamum sebagai pengganti wudhu
menjadi terang benderang di mata saya; bahwa air yang dibasuhkan ke
kulit tubuh akan menetralkan listrik statis di tubuh kita, dan
penetralan itu bisa diganti dengan menebakkan tangan ke tanah dan
mengusapkan debu wajah dan telapak tangan. Pernah ada kisah seorang
sahabat bergulung gulung di tanah karena ia harus mandi besar dan tidak
ada air. Ia mengira, bahwa ia harus melumuri tubuhnya dengan debu,
sebab ia beranalogi dengan wudhu dan tayamum. Kalau wudhu yang mengusap
hanya wajah, kepala, tangan dan kaki difanti dengan tayamum yang
mengusap wajah dan telapak tangan, maka mandi janabat yang harus
membasuh seluruh tubuh diganti dengan tayamum seluruh tubuh. Rasulullah
pun menjelaskan bahwa tayamum untuk mandi janabah dilakukan sama persis
dengan tayamum sebagai pengganti wudhu, yaitu cukup wajah dan telapak
tangan saja. Ternyata, efek penetralan elektron itu cukup dengan
menebakkan tangan ke tanah dan mengusapkan debu tipis ke telapak tangan
dan wajah kita.

Subhaanallaah. ... Satu lagi Allah tunjukkan
kepada saya bukti kebenaran Alqur'an sebagai wahyu Allah dan bukan
karangan manusia:

يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا
وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ
وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ غڑ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا غڑ
وَإِن كُنتُم مَّرْضَىظ° أَوْ عَلَىظ° سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم
مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً
فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم
مِّنْهُ غڑ مَا يُرِيدُ اللَّـهُ لِيَجْعَلَ
عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَـظ°كِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ
نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ï´؟ظ¦ï´¾   Hai
orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka
basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu
dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub
maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali
dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak
memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih);
sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak
menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan
menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (6) QS
AlMaidah.


O ye who believe! when ye prepare for prayer, wash
your faces, and your hands (and arms) to the elbows; Rub your heads
(with water); and (wash) your feet to the ankles. If ye are in a state
of ceremonial impurity, bathe your whole body. But if ye are ill, or on
a journey, or one of you cometh from offices of nature, or ye have been
in contact with women, and ye find no water, then take for yourselves
clean sand or earth, and rub therewith your faces and hands, Allah doth
not wish to place you in a difficulty, but to make you clean, and to
complete his favour to you, that ye may be grateful. (6)


Merasa
mendapatkan "ilmu baru", saya pun mengklarifikasi hal ini ke mbah
Google. Rupa rupanya saya ketinggalan jaman. Ternyata literatur
mengenai wudhu, tayamum dan listrik statis ini sudah berjibun
jumlahnya. Inilah salah satunya:

http://fountainmagazine.net/article.php?ARTICLEID=435

Untungnya
saya melakukan literatur search kecil kecilan sebelum membagi
pengalaman saya di atas. Jika tidak, bisa bisa saya mendapat gelar
baru: Plagiator! 

Alaa kulli haal, above all, mudah mudahan
sharing pengalaman saya ini bisa menambah keyakinan bagi rekan rekan
semua akan kebenaran Alqur'an. Sukur sukur ada yang bersedia
menjelaskan lebih detail. Amin.

Wassalam,



      

Kirim email ke