Wa'alaikumusalam wa rahmatullah wa barakaatuh..

Mungkin artikel berikut bisa menjawab seputar wahabi. Diambil dari kitab 
Minhajul Firqah An-Najiyah Wat Thaifah Al-Manshurah, edisi Indonesia Jalan 
Golongan Yang Selamat, Penulis Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Penerjemah 
Ainul Haris Umar Arifin Thayib, Penerbit Darul Haq.

Orang-orang biasa menuduh "wahabi " kepada setiap orang yang melanggar tradisi, 
kepercayaan dan bid'ah mereka, sekalipun kepercayaan-kepercayaan mereka itu 
rusak, bertentangan dengan Al-Qur'anul Karim dan hadits-hadits shahih. Mereka 
menentang dakwah kepada tauhid dan enggan berdo'a (memohon) hanya kepada Allah 
semata.

Suatu kali, di depan seorang syaikh penulis membacakan hadits riwayat Ibnu 
Abbas yang terdapat dalam kitab Al-Arba'in An-Nawa-wiyah. Hadits itu berbunyi.

"Artinya : Jika engkau memohon maka mohonlah kepada Allah, dan jika engkau 
meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepa-da Allah." [Hadits Riwayat 
At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih]

Penulis sungguh kagum terhadap keterangan Imam An-Nawawi ketika beliau 
mengatakan, "Kemudian jika kebutuhan yang dimintanya -menurut tradisi- di luar 
batas kemampuan manusia, seperti meminta hidayah (petunjuk), ilmu, kesembuhan 
dari sakit dan kesehatan maka hal-hal itu (mesti) memintanya hanya kepada Allah 
semata. Dan jika hal-hal di atas dimintanya kepada makhluk maka itu amat 
tercela."

Lalu kepada syaikh tersebut penulis katakan, "Hadits ini berikut keterangannya 
menegaskan tidak dibolehkannya meminta pertolongan kepada selain Allah." Ia 
lalu menyergah, "Malah sebaliknya, hal itu dibolehkan!"

Penulis lalu bertanya, "Apa dalil anda?" Syaikh itu ternyata marah sambil 
berkata dengan suara tinggi, "Sesungguhnya bibiku berkata, wahai Syaikh 
Sa'd![1]" dan Aku bertanya padanya, "Wahai bibiku, apakah Syaikh Sa'd dapat 
memberi manfaat kepadamu?" Ia menjawab, "Aku berdo'a (meminta) kepadanya, 
sehingga ia menyampaikannya kepada Allah, lalu Allah menyembuhkanku."

Lalu penulis berkata, "Sesungguhnya engkau adalah seorang alim. Engkau banyak 
habiskan umurmu untuk membaca kitab-kitab. Tetapi sungguh mengherankan, engkau 
justru mengambil akidah dari bibimu yang bodoh itu."

Ia lalu berkata, "Pola pikirmu adalah pola pikir wahabi. Engkau pergi berumrah 
lalu datang dengan membawa kitab-kitab wahabi."

Padahal penulis tidak mengenal sedikitpun tentang wahabi kecuali sekedar 
penulis dengar dari para syaikh. Mereka berkata tentang wahabi, "Orang-orang 
wahabi adalah mereka yang melanggar tradisi orang kebanyakan. Mereka tidak 
percaya kepada para wali dan karamah-karamahnya, tidak mencintai Rasul dan 
berbagai tuduhan dusta lainnya."

Jika orang-orang wahabi adalah mereka yang percaya hanya kepada pertolongan 
Allah semata, dan percaya yang menyembuhkan hanyalah Allah, maka aku wajib 
mengenal wahabi lebih jauh."

Kemudian penulis tanyakan jama'ahnya, sehingga penulis mendapat informasi bahwa 
pada setiap Kamis sore mereka menyelenggarakan pertemuan untuk mengkaji 
pelajaran tafsir, hadits dan fiqih.

Bersama anak-anak penulis dan sebagian pemuda intelektual, penulis mendatangi 
majelis mereka. Kami masuk ke sebuah ruangan yang besar. Sejenak kami menanti, 
sampai tiada berapa lama seorang syaikh yang sudah berusia masuk ruangan. 
Beliau memberi salam kepada kami dan menjabat tangan semua hadirin dimulai dari 
sebelah kanan, beliau lalu duduk di kursi dan tak seorang pun berdiri untuknya. 
Penulis berkata dalam hati, "Ini adalah seorang syaikh yang tawadhu' (rendah 
hati), tidak suka orang berdiri untuknya (dihormati)."

Lalu syaikh membuka pelajaran dengan ucapan,

"Artinya : Sesungguhnya segala puji adalah untuk Allah. Kepada Allah kami 
memuji, memohon pertolongan dan ampunan.", dan selanjutnya hingga selesai, 
sebagaimana Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa membuka khutbah dan 
pelajarannya.

Kemudian Syaikh itu memulai bicara dengan menggunakan bahasa Arab. Beliau 
menyampaikan hadits-hadits seraya menjelaskan derajat shahihnya dan para 
perawinya. Setiap kali menyebut nama Nabi, beliau mengucapkan shalawat atasnya. 
Di akhir pelajaran, beberapa soal tertulis diajukan kepadanya. Beliau menjawab 
soal-soal itu dengan dalil dari Al-Qur'anul Karim dan sunnah Nabi Shalallaahu 
alaihi wasalam . Beliau berdiskusi dengan hadirin dan tidak menolak setiap 
penanya. Di akhir pelajaran, beliau berkata, "Segala puji bagi Allah bahwa kita 
termasuk orang-orang Islam dan salaf.[2]. Sebagian orang menuduh kita 
orang-orang wahabi. Ini termasuk tanaabuzun bil alqaab (memanggil dengan 
panggilan-panggilan yang buruk). Allah melarang kita dari hal itu dengan 
firmanNya,

"Artinya : Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk." 
[Al-Hujurat: 11]

Dahulu, mereka menuduh Imam Syafi'i dengan rafidhah. Beliau lalu membantah 
mereka dengan mengatakan, "Jika rafidah (berarti) mencintai keluarga Muhammad. 
Maka hendaknya jin dan manusia menyaksikan bahwa sesungguhnya aku adalah 
rafidhah."

Maka, kita juga membantah orang-orang yang menuduh kita wahabi, dengan ucapan 
salah seorang penyair, "Jika pengikut Ahmad adalah wahabi. Maka aku berikrar 
bahwa sesungguhnya aku wahabi."

Ketika pelajaran usai, kami keluar bersama-sama sebagian para pemuda. Kami 
benar-benar dibuat kagum oleh ilmu dan kerendahan hatinya. Bahkan aku mendengar 
salah seorang mereka berkata, "Inilah syaikh yang sesungguhnya!"

PENGERTIAN WAHABI
Musuh-musuh tauhid memberi gelar wahabi kepada setiap muwahhid (yang mengesakan 
Allah), nisbat kepada Muhammad bin Abdul Wahab, Jika mereka jujur, mestinya 
mereka mengatakan Muhammadi nisbat kepada namanya yaitu Muhammad. Betapapun 
begitu, ternyata Allah menghendaki nama wahabi sebagai nisbat kepada Al-Wahhab 
(Yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari nama-nama Allah yang paling baik 
(Asmaa'ul Husnaa).

Jika shufi menisbatkan namanya kepada jama'ah yang memakai shuf (kain wol) maka 
sesungguhnya wahabi menisbatkan diri mereka dengan Al-Wahhab (Yang Maha 
Pemberi), yaitu Allah yang memberikan tauhid dan meneguhkannya untuk berdakwah 
kepada tauhid.

MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB
Beliau dilahirkan di kota 'Uyainah, Nejed pada tahun 1115 H. Hafal Al-Qur'an 
sebelum berusia sepuluh tahun. Belajar kepada ayahandanya tentang fiqih 
Hambali, belajar hadits dan tafsir kepada para syaikh dari berbagai negeri, 
terutama di kota Madinah. Beliau memahami tauhid dari Al-Kitab dan As-Sunnah. 
Perasaan beliau tersentak setelah menyaksikan apa yang terjadi di negerinya 
Nejed dengan negeri-negeri lainnya yang beliau kunjungi berupa kesyirikan, 
khurafat dan bid'ah. Demikian juga soal menyucikan dan mengkultuskan kubur, 
suatu hal yang bertentangan dengan ajaran Islam yang benar.

Ia mendengar banyak wanita di negerinya bertawassul dengan pohon kurma yang 
besar. Mereka berkata, "Wahai pohon kurma yang paling agung dan besar, aku 
menginginkan suami sebelum setahun ini."

Di Hejaz, ia melihat pengkultusan kuburan para sahabat, keluarga Nabi (ahlul 
bait), serta kuburan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, hal yang 
sesungguhnya tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah semata.

Di Madinah, ia mendengar permohonan tolong (istighaatsah) kepada Rasulullah 
Shalallaahu alaihi wasalam, serta berdo'a (memohon) kepada selain Allah, hal 
yang sungguh bertentangan dengan Al-Qur'an dan sabda Rasulullah Shalallaahu 
alaihi wasalam . Al-Qur'an menegaskan:

"Artinya : Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa'at dan 
tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat 
(yang demikian) itu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang 
zhalim." [Yunus : 106]

Zhalim dalam ayat ini berarti syirik. Suatu kali, Rasulullah Shalallaahu alaihi 
wasalam berkata kepada anak pamannya, Abdullah bin Abbas:

"Artinya : Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta 
pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah." [Hadits Riwayat At-Tirmidzi, ia 
berkata hasan shahih)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyeru kaumnya kepada tauhid dan berdo'a 
(memohon) kepada Allah semata, sebab Dialah Yang Mahakuasa dan Yang Maha 
Menciptakan sedangkan selainNya adalah lemah dan tak kuasa menolak bahaya dari 
dirinya dan dari orang lain. Adapun mahabbah (cinta kepada orang-orang shalih), 
adalah dengan mengikuti amal shalihnya, tidak dengan menjadikannya sebagai 
perantara antara manusia dengan Allah, dan juga tidak menjadikannya sebagai 
tempat bermohon selain daripada Allah.

[1]. Penentangan Orang-Orang Batil Terhadapnya
Para ahli bid'ah menentang keras dakwah tauhid yang dibangun oleh Syaikh 
Muhammad bin Abdul Wahab. Ini tidak mengherankan, sebab musuh-musuh tauhid 
telah ada sejak zaman Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Bahkan mereka 
merasa heran terhadap dakwah kepada tauhid. Allah berfirman:

"Artinya : Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? 
Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan." [Shaad : 5]

Musuh-musuh syaikh memulai perbuatan kejinya dengan memerangi dan 
menyebarluaskan berita-berita bohong tentangnya. Bahkan mereka bersekongkol 
untuk membunuhnya dengan maksud agar dakwahnya terputus dan tak berkelanjutan. 
Tetapi Allah Subhannahu wa Ta'ala menjaganya dan memberinya penolong, sehingga 
dakwah tauhid terbesar luas di Hejaz, dan di negara-negara Islam lainnya.

Meskipun demikian, hingga saat ini, masih ada pula sebagian manusia yang 
menyebarluaskan berita-berita bohong. Misalnya mereka mengatakan, dia (Syaikh 
Muhammad bin Abdul Wahab) adalah pembuat madzhab yang kelima[3], padahal dia 
adalah seorang penganut madzhab Hambali. Sebagian mereka mengatakan, 
orang-orang wahabi tidak mencintai Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam serta 
tidak bershalawat atasnya. Mereka anti bacaan shalawat.

Padahal kenyataannya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab -rahimahullah- telah 
menulis kitab "Mukhtashar Siiratur Rasuul Shalallaahu alaihi wasalam ". Kitab 
ini bukti sejarah atas kecintaan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab kepada 
Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam. Mereka mengada-adakan berbagai cerita 
dusta tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, suatu hal yang karenanya mereka 
bakal dihisab pada hari Kiamat.

Seandainya mereka mau mempelajari kitab-kitab beliau dengan penuh kesadaran, 
niscaya mereka akan menemukan Al-Qur'an, hadits dan ucapan sahabat sebagai 
rujukannya.

Seseorang yang dapat dipercaya memberitahukan kepada penulis, bahwa ada salah 
seorang ulama yang memperingatkan dalam pengajian-pengajiannya dari ajaran 
wahabi. Suatu hari, salah seorang dari hadirin memberinya sebuah kitab karangan 
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Sebelum diberikan, ia hilangkan terlebih 
dahulu nama pengarangnya. Ulama itu membaca kitab tersebut dan amat kagum 
dengan kandungannya. Setelah mengetahui siapa penulis buku yang dibaca, 
mulailah ia memuji Muhammad bin Abdul Wahab.

[2]. Dalam Sebuah Hadits Disebutkan:

" Artinya : Ya Allah, berilah keberkahan kepada kami di negeri Syam, dan di 
negeri Yaman. Mereka berkata, 'Dan di negeri Nejed.' Rasulullah berkata, 'Di 
sana banyak terjadi berbagai kegoncangan dan fitnah, dan di sana (tempat) 
munculnya para pengikut setan." [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]

Ibnu Hajar Al-'Asqalani dan ulama lainnya menyebutkan, yang dimaksud Nejed 
dalam hadits di atas adalah Nejed Iraq. Hal itu terbukti dengan banyaknya 
fitnah yang terjadi di sana. Kota yang juga di situ Al-Husain bin Ali 
Radhiyallahu anhuma dibunuh.

Hal ini berbeda dengan anggapan sebagian orang, bahwa yang dimaksud dengan 
Nejed adalah Hejaz, kota yang tidak pernah tampak di dalamnya fitnah 
sebagaimana yang terjadi di Iraq. Bahkan seba-liknya, yang tampak di Nejed 
Hejaz adalah tauhid, yang karenanya Allah menciptakan alam, dan karenanya pula 
Allah mengutus para rasul.

[3]. Sebagian Ulama Yang Adil Sesungguhnya Menyebutkan
Bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah salah seorang mujaddid (pembaharu) 
abad dua belas Hijriyah. Mereka menulis buku-buku tentang beliau. Di antara 
para pengarang yang menulis buku tentang Syaikh adalah Syaikh Ali Thanthawi. 
Beliau menulis buku tentang "Silsilah Tokoh-tokoh Sejarah", di antara mereka 
terdapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ahmad bin 'Irfan.

Dalam buku tersebut beliau menyebutkan, akidah tauhid sampai ke India dan 
negeri-negeri lainnya melalui jama'ah haji dari kaum muslimin yang terpengaruh 
dakwah tauhid di kota Makkah. Karena itu, kompeni Inggris yang menjajah India 
ketika itu, bersama-sama dengan musuh-musuh Islam memerangi akidah tauhid 
tersebut. Hal itu dilakukan karena mereka mengetahui bahwa akidah tauhid akan 
menyatukan umat Islam dalam melawan mereka.

Selanjutnya mereka mengomando kepada kaum Murtaziqah[4] agar mencemarkan nama 
baik dakwah kepada tauhid. Maka mereka pun menuduh setiap muwahhid yang menyeru 
kepada tauhid dengan kata wahabi. Kata itu mereka maksudkan sebagai padanan 
dari tukang bid'ah, sehingga memalingkan umat Islam dari akidah tauhid yang 
menyeru agar umat manusia berdo'a hanya semata-mata kepada Allah. Orang-orang 
bodoh itu tidak mengetahui bahwa kata wahabi adalah nisbat kepada Al-Wahhaab 
(yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari Nama-nama Allah yang paling baik 
(Asma'ul Husna) yang memberikan kepadanya tauhid dan menjanjikannya masuk Surga.


________
Foote Note
[1]. Dia memohon pertolongan kepada Syaikh Saâd yang dikuburkan di dalam 
masjidnya.
[2]. Orang-orang Salaf adalah mereka yang mengikuti jalan para Salafus Shalih. 
Yaitu Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam, para sahabat dan tabi'in
[3].Sebab yang terkenal dalam dunia Fiqih hanya ada empat madzhab, Hanafi, 
Maliki, Syafi'i dan Hambali.
[4]. Kaum Murtaziqoh yaitu orang-orang bayaran. 

--- In [email protected], Iqbal Al_Katiri <iqbal_e...@...> wrote:
>
> Assalamualaikum,
> 
> Sahabat sekalian, apa kabar.??
> 
> Ane mau tany nih, pertanyaan lama siy..!! :D
> 
> Syi'ah itu sesat ya..?? :(
> 
> Qlo Wahabi..
> 
> Ane baca di Wiki dan referensi lainnya..
> 
> Syi'ah itu bener-bener melenceng!! :(
> 
> Qlo Wahabi yang ane belum ngerti.. :(
> 
> Gimana tuh...?? 
> 
> Syukron...
> 
> Wassalamualaikum.
>


Kirim email ke