http://groups.yahoo.com/group/Muhammadiyah_Society/message/28313 http://groups.yahoo.com/group/Muhammadiyah_Society/message/28307
Menarik sekali postingan Mas Arif. Malah menurut ane bisa dibilang ini kritikan dan masukan thd pendidikan secara umum (sekolah negeri) dan pendidikan yg berafiliasi/berbasiskan komunitas Muslim pada umumnya, bukan hanya utk komunitas Muhammadiyah saja. Postingan Mas Arif akan ane forward ke komunitas Rumah Ilmu - komunitas yg concern thd dunia pendidikan. Mohon izinnya ya Mas. Jadi ingat ulasan Ayah Edy di Radio Smart FM... dulu sekolah tujuannya asal murid punya/hafal/ingat banyak pengetahuan. lalu evolusi asal murid punya kemampuan logika yg baik, terutama terkait kemampuan analisa. kemudian evolusi lagi sekarang ini utk tujuan agar murid punya kemampuan kreativitas yg baik. .... .... dari ulasan tsb dari postingan ini, ane asumsikan evolusi berikutnya adalah agar murid merangkum semuanya, terutama point kreativitas dan analisa...dalam skema think global, act local. Wassalam, Nugon --- In [email protected], Arif Nur Kholis <anurkho...@...> wrote: Ada artikel menarik di KOMPAS, April tentang dua sekolah yang berbeda dari sekolah biasa. Beberapa waktu lalu kita sempat memperdebatkan tentang bentuk sekolah Unggul, dan kemudian melakukan kritikan terhadap amalr usaha pendidikan Muhammadiyah. Dua sekolah di bawah ini satunya sekolah Kanisius, satunya sekolahnya Ciputra. Konsepnya.. pendidikan yang mengusung kebebasan, mengajarkan esensi pendidikan dan membaur dengan realitas masyarakat. Di Islam sebenarnya juga banyak, khususnya pondok-pondok pesantren salaf, tradisional yang tidak perlu baju seragam, juga menyatu dengan masyarakat sekitar....hanya saja mereka "tidak modern". Saya pernah teringat cerita seorang teman ketika membandingkan fenomena KKN (Kuliah Kerja Nyata) antara perguruan tinggi Islam dan Katolik, dimana di PT Katolik dibekali kursus bahasa jawa dulu dari berbagai tingkat dari paling rendah hingga kromo inggil. Yah... dalam pikiran saya,... tentu akan lebih menyatu dengan masyarakat mereka yang dibekali kursus bahasa jawa. Terus ada anekdot, ketika ada seorang alumni pondok pesantren modern ditanya apa yang menjadi keunggulannya, dia menjawab dengan mantab : Saya mahir bahasa Arab, Inggris dan Indonesia. Kemudian bapaknya bertanya.... kenapa bukan bahasa jawa....? Bukankah kamu akan berdakwah kepada orang-orang yang berbahasa jawa....? Kok kemudian saya curiga.. moderinsasi Islam di Indonesia yang dibawa Muhammadiyah sering meninggalkan realitas umat yang seharusnya menjadi obyek dakwah. Sekolah Muhammadiyah terbangun dalam bentuk benteng-benteng yang memisahkannya dengan masyarakat. Semakin unggul semakin tinggi temboknya, semakin unggul semakin tidak ada waktu berinteraksi dengan realitas. Apakah upaya Kyai Dahlah belajar membangun sekolah dan rumah sakit kepada orang-orang Belanda masih belum selesai..? Apakah upaya Kyai Dahlan mengajak murid muridnya melihat kebersihan di Gereja Kota Baru untuk menggerakkan hati santrinya membersihkan Masjid masih relevan sekarang...? Arip Pendidikan di Sekolah Pengusung Kebebasan Jumat, 9 April 2010 | 03:27 WIB Oleh IRENE SARWINDANINGRUM Kreativitas dan kemampuan berpikir kritis saat ini disepakati sebagai pilar utama pengembangan jiwa kewirausahaan (entrepreneurship). Namun, jauh sebelum kata entrepreneurship didengung- dengungkan, dua sekolah di Yogyakarta telah mempraktikkannya. Mengusung konsep pendidikan yang membebaskan, sekolah-sekolah yang tak biasa ini berusaha mendobrak kekakuan dalam pola pendidikan. Dua sekolah itu adalah Sekolah Dasar Kanisius Eksperimen Mangunan, Kalitirto, Berbah, Sleman, yang berdiri tahun 2002 dan Sanggar Anak Alam (Salam) di Nitiprayan, Bantul, yang berdiri tahun 2000. Nuansa kebebasan yang membedakannya dari sekolah-sekolah lain langsung terasa saat memasuki dua sekolah ini. Setidaknya, kebebasan berpakaian karena tak ada kewajiban berseragam. Proses pembelajaran berlangsung santai, lebih mirip diskusi. Anak-anak tampak dengan mudah menyampaikan pendapat kepada guru yang mengajar. Kepala SD Kanisius Eksperimen Mangunan Y Siswandi mengatakan, nuansa kebebasan sengaja ditumbuhkan untuk menghindari tumbuhnya rasa takut pada anak. Seragam, misalnya, sering kali menjadi alasan murid menerima hukuman yang sebenarnya tidak esensial untuk proses pendidikan. Seragam dan tata tertib yang kaku sering kali menjadi instrumen penanaman ketakutan dari guru kepada murid. ”Padahal, ketakutan hanya akan memadamkan kreativitas dan daya eksplorasi anak,” ujarnya di Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (28/3). Meskipun masih mengacu pada kurikulum pemerintah, proses pembelajaran sekolah yang lebih dikenal sebagai SD Mangunan itu mengedepankan pengasahan kreativitas, daya eksplorasi anak, dan perpaduan integral dari keduanya yang membentuk kemampuan berpikir kritis. Sekolah yang pembangunannya dirintis budayawan YB Mangunwijaya itu mencanangkan hari Sabtu sebagai Hari Kreativitas. Melalui kegiatan jalan-jalan, anak-anak diarahkan bersosialisasi dengan masyarakat dan alam di sekitarnya. Memang ketika sekolah yang dikonsep awalnya untuk kelompok anak dari keluarga miskin ini belakangan menghadapi persoalan: adakah untuk tetap anak miskin atau harus berubah? Mengapa? Karena ternyata belakangan yang masuk bukan hanya berasal dari keluarga miskin, melainkan juga dari keluarga menengah ke atas. Dalam refleksi Yayasan Dinamika Edukasi Dasar tahun lalu, penyelenggara SD Mangunan, akhirnya disepakati perlunya peninjauan atau pemerkayaan konsep kemiskinan. Namun, dalam praksis pendidikan tetaplah diselenggarakan sifat khas obsesi Romo Mangunwijaya, yakni pendidikan yang membebaskan. Tetap dikembangkan program-program pembebasan, di antaranya Kotak Pertanyaan. Setiap hari Senin-Kamis, semua murid di SD Mangunan yang berjumlah 154 anak diwajibkan mencari pertanyaan di luar pelajaran. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa berasal dari hal-hal yang ditemui sehari-hari atau peristiwa yang menggelitik rasa ingin tahu. Pertanyaan ini selanjutnya dimasukkan dalam kotak atau amplop untuk dibahas bersama dengan guru dan teman-temannya. ”Yang terpenting bukan jawaban yang diperoleh, tetapi kepekaan anak dalam melihat lingkungannya dan keberanian untuk memunculkan pertanyaan itu,” ujar Siswandi. Lokasi kompleks SD Mangunan pun cukup unik. Letaknya benar-benar berbaur dengan permukiman penduduk Kalitirto. Tak ada gedung sekolah dan pagar yang membatasi sekolah dengan masyarakat. Ruang kelas, ruang guru, dan perpustakaan terdiri atas beberapa rumah tradisional. Kegiatan sehari-hari masyarakat di sekitarnya pun menjadi keseharian di SD tersebut. Sanggar Salam Seperti di SD Mangunan, tak banyak peraturan dan tata tertib diterapkan di Sanggar Anak Alam (Salam). Anak-anak tampak bebas bermain di sawah dan kebun yang mengelilingi sekolah. Sebagian tampak asyik menggambar di lumpur yang ditinggalkan hujan. Proses pembelajaran di Salam memang lebih dekat dengan alam. Sekolah untuk jenjang playgroup, TK, dan SD itu berada di tengah persawahan yang luas. Kegiatan pembelajaran tingkat SD diawali dengan kegiatan berkebun sayur-mayur atau menyiapkan hidangan di dapur. Tanpa harus menghafalkan, kegiatan ini mengajak anak mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. ”Paling tidak mereka belajar IPA, Matematika, dan Bahasa Indonesia,” kata Pengasuh dan Pendiri Salam, Sri Wahyaningsih (49). Otomatis kepekaan terhadap lingkungan dan alam terasah. Setiap hari mereka mengamati perubahan cuaca, fauna sawah, dan perkembangan tanaman yang mereka rawat. Menurut Sri, inilah pengetahuan yang sebenarnya perlu diberikan dalam pendidikan. ”Bukan hafalan-hafalan yang sebenarnya tidak relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari,” ujar perempuan yang akrab disapa Wahya ini. Pendirian Salam bermula dari ketidakpuasan sejumlah warga masyarakat akan pola pendidikan di sekolah yang cenderung mengekang kebebasan berpikir. Anak-anak yang sering bertanya dan melanggar tata tertib justru sering dianggap nakal. ”Anak saya pernah dianggap tidak patuh karena bertanya kenapa harus pakai sepatu hitam, kenapa tidak boleh gondrong,” kata Wahya. Selain itu, beban kurikulum dianggap terlalu berat sehingga tidak memberi kesempatan anak mengembangkan pemikirannya sendiri. ”Di sekolah umum anak-anak harus menghafal banyak sekali materi pelajaran sehingga tidak sempat berpikir di luar itu,” kata salah satu wali murid, Hesti Sunarsih (36). Dalam bukunya yang laris di pasaran, Pemikiran Lateral, pakar kreativitas dari Amerika Serikat, Edward de Bono, secara implisit menyebutkan kreativitas muncul dalam pemikiran yang bebas. Buku ini kini menjadi salah buku acuan utama dalam pengembangan entrepreneurship. Kepala Laboratorium Dinamika Edukasi Dasar Nasarius Sudaryono mengatakan, pendidikan entrepreneurship harus dimulai dari pendidikan yang memberi ruang bagi kreativitas, berpikir kritis, berpikir bebas, dan berdaya eksploratif pada anak. Pendidikan yang memerdekakan mengasah kemampuan anak untuk menemukan atau bahkan menciptakan peluang di sekitarnya. Hal ini tentu membutuhkan daya kreativitas, eksplorasi, dan kepekaan akan permasalahan dalam masyarakat. ”Seorang entrepreneur pertama-tama harus mampu melihat permasalahan di masyarakat, yang artinya harus mempunyai pemikiran kritis dan daya eksplorasi,” ujarnya. Pendidikan dengan model ini, kata Nasarius, tidak mengutamakan seberapa banyak seorang anak mampu menghafal pelajaran, tetapi mengutamakan kemampuan anak dalam memaknai dan menggunakan pengetahuan—sesederhana apa pun pengetahuan itu—untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Menurut pendiri Universitas Ciputra Entrepreneurship Center, Ciputra, ciri-ciri seorang entrepreneurship adalah orang yang mampu mengubah sampah menjadi emas. Untuk itu diperlukan pemikiran yang bebas dan nyeleneh. -- riP ! .
