http://inpasonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=323:dari-al-ghazli-hingga-al-maqdisi&catid=71:inspirasi&Itemid=120
Dari Al-Ghazāli Hingga Al-MaqdisiMinggu, 13 September 2009 21:08        
InspirasiMS. Murajjab Hari ini adalah hari kedua saya membawa buku Muhktashar 
Minhāj al-Qāsidin (Ringkasan buku "Jalan bagi Orang-orang yang Menuju Tuhan") 
ke tempat kerja.Sebagaimana biasanya, saya seringkali menyelipkan buku 
atau print out artikel-artikel tertentu kedalam tas yang saya bawa ke kantor 
untuk saya baca saat memanfaatkan waktu luang menunggu kereta listrik (KRL) di 
stasiun, atau untuk dibaca di dalam KRL yang memakan waktu kurang lebih antara 
setengah hingga satu jam perjalanan dari stasiun dekat rumah kontrakan menuju 
kantor atau arah sebaliknya. Maklum, sebagai seorang pekerja kantoran (baca: 
kuli berkerah?) saya kehabisan banyak waktu untuk membaca, yang menjadi pelepas 
dahaga di tengah kebisingan hidup sebuah kota metropolitan.Buku yang saya bawa 
kali ini adalah karya Ibn Qudamah Al-Maqdisi (w. 689) yang memiliki nama 
lengkap Ahmad ibn Abd al-Rahman ibn Muhamad
 ibn Ahmad ibn Qudamah Al-Maqdisi Al-Hanbali. Buku ini merupakan ringkasan dari 
buku Minhāj al-Qāshidin-nya Ibn Al-Jauzi (w. 597). Buku Ibn al-Jauzi sendiri 
juga merupakan ringkasan darimasterpiece-nya Abū Hāmid al-Ghazali (w.505) yang 
berjudul Ihyā Ulūmiddin.  Di Indonesia sudah banyak bertebaran terjemahan 
buku Muhktashar Minhāj al-Qāsidin milik Ibn Qudamah Al-Maqdisi ini. Sayangnya 
orang sering tidak menyadari bahwa buku tersebut adalah sari pati dari Ihya-nya 
Al-Ghazali. Atau orang terkadang juga keliru menyebut buku Ibn Qudamah ini 
dengan sebutan Minhāj al-Qāshidin saja. Kitab Ihya sendiri meski mendapat 
pujian cukup luas dan dijadikan referensi utama oleh berbagai kalangan di 
seluruh dunia, pun tidak sepi dari kritik dan hujatan pedas khususnya oleh 
ulama dari wilayah Maghrib `Arabi (Arab wilayah barat). Abu `Abdillah Muhamad 
ibn 'Ali al-Māziri al-Siqilly (dari Sicilia, Italia) adalah satu contoh nama 
yang mengkritik keras
 buku Al-Ghazali tersebut. Diriwayatkan pula bahwa sejumlah ulama di Andalusia 
dulu bahkan pernah memerintahkan pembakaran naskah-naskah kitab Ihya. Untuk 
zaman kini, kalangan yang "menolak" kitabIhya kebanyakan dari kelompok Ahl 
al-Hadits (atau Salafiyyun).Namun Ihya ditangan Ibn Al-Jauzi bernasib "cukup 
baik". Ibn Al-Jauzi yang juga dikenal keras mengkritik Ihya, dapat menempatkan 
kritikan-kritikan beliau pada tempatnya. Mengkritik tidak berarti membuang 
jauh-jauh apa yang dikritik. Dari buku Ihya yang dikritiknya, justru lahir 
karya ilmiah lain berupa Minhāj al-Qāshidin dengan membuang hadits-hadits batil 
dan bagian-bagian yang dianggap tidak bermanfaat yang terdapat dalam Ihya-nya 
Al-Ghazali. Ibn Qudamah al-Maqdisi kemudian meneruskan semangat Ibn Al-Jauzi, 
meringkasnya kembali dalam wujud buku yang sedang menjadi topik kita kali ini. 
Kerja Ibn Al-Jauzi dan Al-Maqdisi ini lebih tepatnya disebut 
sebagai tahdzib yang bisa berarti
 meringkas, mengurangi, menambahi, mengoreksi ataupun merubah seperlunya 
laiknya seorang editor.Walhasil, pelajaran besarnya yang ingin saya katakan 
bahwa salah satu prinsip ilmiah dalam memperlakukan ide-ide maupun gagasan dari 
"luar" atau orang lain adalah dengan cara menempatkan ide tersebut pada 
tempatnya secara proporsional. Jangan sampai jatuh pada generalisasi yang 
membodohi. Akhdzu mā shofa, wa tarku mā  kadar (mengambil yang jernih, dan 
membuang yang kotor), demikian pendahulu kita mengajarkan.


      

Kirim email ke