http://groups.yahoo.com/group/mualafindonesia/message/10771 Teguh I Perdana <teguhfri...@...>teguhfri...@... Send Email "Laa Ya'tihil Bathil: Takkan Datang Kebatilan Terhadap al Qur'an" "...Melalui kacamata anda yang hitam dan terlapisi dendam yang kelam, barangkali kau telah lihat Muhammad SAW telah menduduki pusat kekuasaan dan kerajaan, serta telah mewujudkan ambisi yang menghabiskan seluruh hidupnya? Kalau begitu, tunjukkan padaku, fenomena tersebut dalam hidup beliau...!" (hal. 128)Kegeraman dan ujung-ujungnya, tantangan, memang akhirnya tak dapat tertutupi dalam bahasa Syekh Dr. Said Ramadhan al Buthy, ulama kharismatik dan amat berpengaruh asal Syria, dalam buku yang ditulisnya untuk mengurai jawaban atas kritik-kritik yang ditujukan pada Al Qur'an dan Naby SAW. Kalimat di atas itu adalah ujung jawaban beliau ketika menjawab seorang penanya yang terang-terangan menyebut niat dakwah Muhammad SAW adalah semata mencari tahta, harta dan wanita! Ya, dalam buku berjudul "Laa Ya'tihil Bathil: Takkan Datang Kebatilan Terhadap al Qur'an" ini, menantu pendiri Ikhwanul Muslimin,Hasan al Bana ini, tampil sungguh lugas menepis segala keraguan yang dilontarkan terhadap al Qur’an dan pilar-pilar ajaran Islam lainnya. Lewat buku yang hadir di Indonesia berkat penerbit Hikmah (yang satu grup penerbit Mizan itu), ulama sekaliber Syekh al Buthy memang tak dapat menyembunyikan ‘kekesalannya’, karena sejatinya, banyak kritik yang dilontarkan pada al Qur'an pada gilirannya lebih beranjak dari upaya mencari-cari kesalahan ketimbang bersikap kritis dalam artian telaahan yang berpijak pada sikap objektif.Maka mencuatlah pertanyaan sinis terhadap al Qur'an, seperti mempermasalahkan burung Ababil dalam al Qur'an, gambaran surga yang terlalu simpel, penciptaan langit dan bumi dalam 6 hari dan 8 hari, menganggap Allah ‘berlaku zalim’ serta masih banyak lagi. Namun alih-alih menjawab dengan kemarahan, kesemuanya dijawab al Buthy dengan lugas, gamblang serta yang menarik, dengan contoh-contoh yang menohok dan memaksa logika berfikir si penanya untuk menerimanya.Bahkan dengan tajam, yang saya kira menjadi poin penting dari sekian banyak poin buku ini, adalah kepiawaian Al Buthy ‘membelejeti’ logika dibalik pertanyaan yang diajukan. Contohnya adalah ketika dengan jitu al Buthy mempertanyakan bagaimana mungkin kata ‘zalim’ dikenakan pada Dzat Allah SWT! Mungkin selama ini paling banter kita hanya mengkontraskannya dengan sifat Allah Yang Maha Adil. Namun al Buthy menohok logika si penanya lebih jauh lagi. Simak penjelasan yang beliau tulis:“…Kezaliman ialah menggunakan orang lain tanpa idzinnya. Sementara itu seluruh alam dengan segala isinya adalah milik Allah SWT. Dialah yang mengadakannya dari ketiadaan semata mengikuti kehendaknya. Daialah yang mengembalikannya kepada ketiadaan, semata mengikuti kehendaknya. Lalu dimana celah untuk memasukkan sifat zalim pada Allah?...” (hal. 156)Saya pribadi sungguh salut pada beliau. Benar-benar pemikiran jitu yang tak terbayangkan sebelumnya.Sepanjang yang saya amati dalam buku ini, hampir-hampir tak ada jawaban yang sifatnya dogmatik-apologetik, Padahal pertanyaan yang diajukan terkadang benar-benar berada pada taraf yang menyebalkan saking mengada-adanya. Jawaban-jawaban al Buthi’ benar-benarmembantu kita untuk menabalkan keyakinan, bahwa Al Qur'an sungguh-sungguh firmanNYA yang sempurna dari kebathilan, kehidupan Rosulullah begitu luhur tanpa sedikit pun tersentuh kejahatan, dan ajaran Islam sungguh merupakan ajaran yang serasi dengan kemanusiaan.Sebenarnya, jawaban-jawaban semacam ini dapat juga kita dijumpai dalam buku lain, yang tak kalah menariknya. Quraish Shihab, misalnya, memberi jawaban yang komprehensif dan lebih lengkap ketika menjelaskan masalah bidadari sebagai mahluk berbentuk wanita ‘adicantik’ yang seolah-olah disediakan hanya untuk laki-laki penghuni surga, dalam karya monumentalnya, “Mukjizat al Qur’an”. Cuma, tidak seperti pak Quraish, buku al Buthi ini menghimpun begitu banyak pertanyaan kritis dan sinis itu, sementara pak Quraish tidak secara khusus menuliskannya dalam buku tersendiri.Dengan keluasan dan kekayaan isinya yang demikian ini, saya kira, buku ini amat bermanfaat guna mendampingi kita menemukan jawaban atas pusaran keraguan terhadap Islam, dan khususnya al Qur’an. Di era kebebasan seperti saat ini, hal-hal itu dilontarkan tanpa henti, semisal yang begitu mudah kita jumpai di internet. Kadang kita begitu jengkel, marah, merasa tuduhan itu ngawur, namun juga pada saat yang sama, bingung harus menjawabnya seperti apa. Nah, dengan membaca dan menyelami jawaban-jawaban al Buthy di buku ini, lontaran keraguan terhadap kandungan al Qur'an, yang mungkin awal-awalnya kita baca dengan kecemasan, dengan segera berubah menjadi‘sampah’, setelah kita tahu jawabannya dari buku al Buthy tersebut. Meski begitu, harus diakui bahwa para penghujat dan pencari masalah tidak akan surut dalam mencari-cari “kesalahan” al Qur’an. Apa boleh buat. Bagi yang gemar melakukan hal ini, padahal KTP masih tertera Islam sebagai agamanya, peringatan Syekh al Buthy, dengan mengutip firman Allah dalam al A'raf 146 ini sungguh layak diperhatikan:"...Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat (Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya…”Walaahu a’lam bis shawab.
