Hal yg sama pernah diulas di Majalah Tarbawi di edisi beberapa bulan lalu.Dan 
juga ada beberapa WNI yg menjadi pemerhati dan kontributor dlm urusan 
ini...info ini ane dapatkan dari milis Muhammadiyah.
Wassalam,



Nugon

http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/pustaka/10/06/11/119533-menemukan-kembali-sistem-tatawaktu-islam-yang-hilang

Menemukan Kembali Sistem Tatawaktu Islam yang HilangJumat, 11 Juni 2010, 18:05 
WIB
    darmawan
Cover buku Kabah Universal TimeJudul buku: KUT, Ka’bah Universal Time
Penulis: Bambang E Budhiyono
Penerbit: Pilar
Cetakan: II, 2010
Tebal: xii+104 hlm


GAGASAN mengganti sistem Greenwich Mean Time (GMT) yang dipakai sebagai acuan 
tatawaktu dunia saat ini menjadi system Ka’bah Universal Time (KUT)  mungkin 
aneh bagi sebagian orang. Tapi bagi penulis buku, Bambang E Budhiyono,  doktor 
Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menyukai astronomi dan komputer ini, 
gagasan itu punya dalil-dalil ilmiah yang kuat, dan Al-Qur’an serta As-Sunnah 
untuk diterapkan secara luas di kalangan umat Islam dunia.

Apa saja dalil-dalil itu? Benarkah gagasan ini bukan sekadar transformasi 
linear pergeseran koordinat meridian 0° dari Kota Greenwich ke arah “kanan” (ke 
Ka‘bah di Kota Makkah) sejauh 40 satuan derajat (+40° Bujur Timur Greenwich) 
pada bidang proyeksi Mercator? Lalu betulkah selama ini ummat Islam di seluruh 
dunia sudah terkecoh dengan sistem yang keliru, sehingga perlu meñata-ulang 
jadwal waktu ibadah harian ummat Islam di Indonesia dan ummat Islam yang 
berkedudukan di wilayah di antara Masjid I-Haram (terletak di meridian 40º 
Bujur Timur/BT Greenwich) dan “Garis Tanggal Internasional” (International Date 
Line atau meridian 180º Greenwich). Buku ini mencoba untuk menjawab 
pertanyaan-pertanyaan itu.

Bermula dari suatu malam di bulan Jumadi l-Awal 1415 (Oktober 1994), penulis 
kedatangan dua sahabat, salah satunya bernama Harits Abu Ukasyah, dan membawa 
oleh-oleh berupa beberapa buah “jam dinding” dengan bingkai terbuat dari kayu 
pinus limbah petikemas barang-barang impor - yang konon merupakan hasil 
rekayasa-ulang (re-engineering) mereka - berikut buku petunjuknya (“Jam 
Hijriyah: Solar Time”) yang ditulis oleh Harits Abu Ukasyah sendiri.

Yang unik pada jam dinding itu adalah semua jarumnya berputar dari kanan ke 
kiri, kebalikan dari arah perputaran jarum-jarum jam yang lazim kita kenal. 
Orang lazim menyebut gerak berlawanan arah jarum jam sebagai (counter 
clockwise). Keunikan lain yang ada pada sistem khronometer tersebut adalah 
pukul 00:00:00 sebagai “awal hari” bukan dimulai dari “tengah malam,” melainkan 
dari “petang,” berimpit dengan pukul 18:00:00 pada jam biasa.

Dari pertemuan dan oleh-oleh jam Hijriyah itu kemudian terjadi diskusi. 
Meskipun menyadari bukan atronomer professional, penulis ketika itu mengaku 
sangat tertarik untuk mengkajinya. Layangan pikiran penulis ketika itu adalah 
bagaimana penjelasan kedua sahabat penulis itu dapat dijadikan hujjah 
(argumentasi) mengapa arah gerak bagi hal-hal yang baik harus dimulai dari 
kanan ke kiri (halaman 2). Selain itu, mereka pun mencoba membuka-buka berbagai 
kitab hadits, mencari kalau-kalau ada nash yang dapat pula dijadikan sebagai 
hujjah.

Arah perputaran jarum “Jam Fithrah” dari kanan ke kiri tersebut juga sesuai 
dengan Sunnah Rasul, yakni “mendahulukan yang kanan dari yang kiri” dalam 
mengerjakan setiap pekerjaan yang baik-baik, baik pekerjaan ibadah ukhrowi 
maupun pekerjaan duniawi, termasuk ber-Thawaf mengelilingi ka‘bah dalam 
rangkaian ibadah haji di Masjid l-Haram.

Oleh karena itu, “Jam Fithrah” dapat juga disebut “Jam Thawaf.  Dalam urusan 
syari’ah, selain dalam ibadah Thawaf -yang arah putarannya dari kanan ke kiri 
(dilihat dari atas ke bawah atau dari posisi orang yang sedang ber-Thawaf), 
menolehkan wajah ke kanan terlebih dahulu daripada menoleh ke kiri juga wajib 
dalam pengucapan dua kalimat salam sebagai akhir ibadah shalat. Rasulullãh saw.

Dari kedua alasan tadi, nampaknya yang selama ini lazim kita sebut sebagai 
“clockwise” (searah jarum jam) sebenarnya lebih tepat kita sebut “counter 
naturalwise” (bertentangan dengan arah gerak alamiah); sedangkan yang lazim 
kita sebut sebagai “counter clock-wise” (kebalikan arah jarum jam) justeru 
lebih tepat disebut “natural-wise” atau “Fithrahwise” (searah dengan gerak 
alami atau searah dengan gerak Fithrah).

Menurut penulis, ummat Islam sebenarnya telah memiliki sistem tata - waktu  
sendiri, yakni sistem almanak qamariyah-syamsiyah (lunar and solar systems), 
yang ternyata tidak terlalu banyak dipahami oleh ummat Islam sendiri. Bagi 
ummat Islam, sistem almanak qamariyahsyamsiyah mengatur antara lain mengenai 
jumlah hari dalam setahun, mengapa 12 bulan dalam setahun, dan satu minggu 
(week) yang terdiri atas tujuh hari, yang semuanya bukan karya manusia atau 
hasil rekayasa, hasil perhitungan matematis-astronomis melainkan juga ketetapan 
Allãh yang Maha Memiliki Ilmu, yang dapat pula Anda temui di dalam Al-Qur’an.

Dijelaskan, ummat Islam di seluruh dunia mengakui keabsahan dan ketetapan 
(validity and applicability) sistem almanak syamsiyah yang membagi waktu satu 
tahun 365 hari, bukan karena penerapan tata waktu syamsiyah murni yang 
digunakan sebagai dasar bagi sistem almanak Grogorian atau almanak Masehi sejak 
4 Oktober 1582, tapi karena hal itu memang ditemui di dalam Al-Qur’an.

Buku ini terdiri dari empat bab. Pada Bab I, penulis menjelaskan sekitar awal 
munculnya gagasan KUT. Bab II membahas tentang konsepsi KUT, paradigma 
keterkecohan dan kembali kepada Kitabullah. Bab III mengupas  awal hari bagi 
umat Islam meliputi sistem almanak Masehi dan sistem almanak Hijriah, mu’jizat 
Falaqiyah dan Imsyakiyah di balik peristiwa Hijrah. Lalu pada Bab IV dijelaskan 
soal penampakan hilal terbaik dan penetapan.

Pandangan yang aneh itu, diakui penulis, pada bagian Pengantar, ketika 
mengisahkan tanggapan seorang cendikiawan muslim dari ITB, yang menyebut 
konsepsi Ka’bah Universal Time atau Ka’bah Meridian System” yang digagasnya 
sebagai “sekadar transformasi linear”. Menurut professor itu, hanya sekadar 
pergeseran linear ‘awal hari’ dari meridian 180° Greenwich ke Meridian Nol 
Ka’bah atau pergeseran linear Meridian Nol Greenwich ke Meridian Nol Ka’bah.

Namun, tegas penulis, KUT ini bukanlah sekadar “transformasi linear” 
penggeseran koordinat meridian 0° dari kota Greenwich ke arah “kanan” (ke 
Ka‘bah di Kota Mekkah) sejauh 40 satuan derajat (+40° Bujur Timur Greenwich) 
pada bidang proyeksi Mercator. Justru konsepsiini pada hakikatnya adalah 
“transformasi hati dan pikiran” Ummat Islam dari “ketersesatan” dan 
“keterkecohan” untuk kembali kepada “fithrah”: Al-Qur’an dan As-Sunnah; agar 
disempurnakan ni‘matNya atas umat Islam dan agar umat Islam selalu mendapat 
petunjuk-NyaRed: taufik rachman
Rep: irwan kelana


      

Kirim email ke