Artikel bagus...saatnya menginventarisir daftar orang sholih, utk melakukan 
amal bersilaturahmi dgn mereka, dan menjadikan mereka pelajaran agar segala 
amal sholihnya bisa diteladani.
Wassalam,




Nugon

Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal

http://almanar.wordpress.com/2010/06/25/mengobati-hati-dengan-memandang-wajah-orang-shalih/
Mengobati Hati dengan Memandang Wajah Orang ShalihJuni 25, 2010 pukul 1:38
 pm | Ditulis dalam Tarbiyah | Tinggalkan sebuah Komentar 
Abu Bakar Al Muthawi’i selama dua belas tahun selalu aktif mengikuti majelis 
Imam Ahmad. Di majelis tersebut hadits tersebut Imam Ahmad membacakan Al Musnad 
kepada putra-putra beliau. Namun, selama mengikuti mejalis tersebut, Al 
Muthawi’i tidak memiliki catatan, walau hanya satu hadits. Lalu, apa yang 
dilakukan Al Muthawi’i di majelis itu? Beliau ternyata hanya ingin memandang 
Imam Ahmad.
Ternyata, tidak hanya Al Muthawi’i saja yang datang ke majelis hadits hanya 
untuk
 memandang Imam Ahmad. Mayoritas mereka yang hadir dalam majelis tersebut 
memiliki tujuan yang sama dengan Al Mathawi’i. Padahal jumlah mereka yang hadir 
dalam majelis Imam Ahmad saat itu lebih dari 5000 orang, namun yang mencatat 
hadits kurang dari 500 orang. Demikian Ibnu Al Jauzi mengisahkan (Manaqib Imam 
Ahmad, 210).
Apa yang dilakukan Al Muthawi’i, bukanlah hal yang sia-sia. Karena, memandang 
orang shalih bisa memberikan hal yang positif bagi pelakunya. Memandang orang 
shalih, bisa membangkitkan semangat, untuk meningkatkan amalan kebaikan, 
tatkala keimanan seseorang sedang turun. Sebagaimana dilakukan oleh Abu Ja’far 
bin Sulaiman, salah satu murid Hasan Al Bashri. Beliau pernah mengatakan,”Jika 
aku merasakan hatiku sedang dalam
 keadaan qaswah (keras), maka aku segera pergi untuk memandang wajah Muhammad 
bin Wasi’ Al Bishri. Maka hal itu mengingatkanku kepada kematian.” (Tarikh Al 
Islam, 5/109).

Imam Malik sendiri juga melakukan hal yang sama tatkala merasakan qaswah dalam 
hati. Beliau berkisah,”Setiap aku merasakan adanya qaswah dalam hati, maka aku 
mendatangi Muhammad bin Al Munkadar dan memandangnya. Hal itu bisa memberikan 
peringatan kapadaku selama beberapa hari.” (Tartib Al Madarik, 2/51-52).Imam Al 
Hasan Al Bashri sendiri dikenal sebagai ulama yang memandangnya, membuat 
pelakunya ingat kepada Allah, sebagaimana disebut oleh ulama semasa beliau, 
yakni Ibnu Sirin. Ulama lainnya, yang hidup semasa dengan beliau, Ats’ats bin 
Abdullah juga mengatakan,”Jika kami bergabung dengan majelis Al Hasan, maka 
setelah keluar, kami tidak ingat lagi terhadap dunia.” (Al Hilyah, 2/158).
Jika demikian besar dampak positif yang diperoleh saat seorang memandang wajah 
orang-orang shaleh, maka melakukannya dihitung sebagai ibadah, karena telah 
melaksanakan saran Rasulullah. Dimana, suatu saat beberapa sahabat bertanya, 
“Karib seperti apa yang baik untuk kami?” Rasulullah menjawab,”Yakni apabila 
kalian memandang wajahnya, maka hal itu mengingatkan kalian kepada Allah.” 
(Riwayat Abu Ya’la, dihasankan Al Bushiri).
Sebagaimana beliau juga bersabda, “Sesungguhnya sebagian manusia merupakan 
kunci untuk mengingatkan kepada Allah.” (Riwayat Ibnu Hibban, dishahihkan oleh 
beliau).Tak mengherankan jika Waqi’ bin Jarah menilai bahwa memandang wajah 
Abdullah bin Dawud adalah Ibadah. Abdullah sendiri adalah seorang ahli ibadah 
di Kufah saat itu. (Tahdzib At Tahdzi, 7/296).
Lantas, bagaimana bisa, hanya dengan memandang orang shalih, maka pelakunya 
bisa ingat kepada Allah? Sebenarnya penalaran terhadap masalah ini tidak cukup 
susah. Kadang dalam kehidupan sehari-hari kita memiliki teman yang amat suka 
terhadap permainan sepak bola, pembicaraannya tidak pernah keluar dari 
kompetisi sepak bola dan para pemainnya, baju yang dipakai serupa dengan kostum 
klub-klub sepak bola, kamarnya dipenuhi dengan poster para pemainnya, 
kendaraannya dihiasi dengan atribut-atribut
 olah- raga yang kini digemari banyak orang ini. Otomatis, ketika kita melihat 
tampilan fisik teman yang demikian, maka ingatan kita langsung tertuju kepada 
bola.Demikian pula, ketika ada kawan yang “gila” kuliner. Yang selalu berbicara 
mengenai rumah makan dan masakannya di berbagai tempat, dan banyak mencurahkan 
waktu untuk hoby-nya tersebut, maka melihat wajah orang yang demikian, akan 
mengingatkan kita pada makanan.
Tidak jauh berbeda ketika kita memiliki kawan yang amat menjaga perkataan, 
tidak menyeru, kecuali menyeru kapada jalan Allah. Kita pun mengetahui bahwa ia 
selalu menjaga puasa dan shalat, baik yang fardhu maupun yang
 sunnah. Ia pun wara’ (hati-hati) dalam bermuamalah, maka bertemu dengannya, 
bisa membuat kita termotivasi untuk melakukan amalan yang labih baik dari 
sebelumnya.
Apa yang telah dilakukan oleh para salaf di atas, mengingatkan kembali pada 
kita pada sebuah lantunan nasehat, yang sudah cukup akrab di telinga kita. 
Yakni nasehat “Tombo Ati” alias obat hati. “Kaping telu wong kang sholeh 
kumpulono”. Cara yang ketiga mengobati hati yang qaswah, adalah mendekati 
orang-orang shalih.
Kalau para ulama salaf saja masih merasa
 perlu mendekat kepada para shalihin hanya untuk memandang wajah mereka, guna 
melunakkan qaswah dalam hati dan memperbaiki diri. Lantas bagaimana dengan 
kita? Apakah kita sudah memilih, siapa sahabat-sahabat yang bisa mengingatkan 
kita kepada Allah, di saat kita memandangnya? Padahal kita sama-sama sadar 
bahwa kualitas keimanan mereka amat jauh berada di atas yang kita miliki.
Nasihat Memilih Teman
Kondisi teman, bisa berpengaruh banyak hal kapada kita, sehingga perlu bagi 
kita berhati-hati memilih teman. Setidaknya,
 itulah inti dari nasehat yang disebutkan oleh Imam Abu Laits, dimana beliau 
mengatakan,”Seorang tidak akan melakukan 8 hal, kecuali Allah akan memberinya 8 
hal pula. Kalau ia banyak bergaul dengan orang kaya, maka timbul dalam hatinya 
kesenangan terhadap harta. Kalau ia akrab dengan orang miskin, maka timbul 
dalam hatinya rasa syukur dan qana’ah. Kalau ia berteman dengan penguasa, maka 
timbul rasa sombong. Kalau ia berdekatan dengan anak-anak maka ia banyak 
bermain. Kalau ia dekat dengan para wanita, maka syahwatnya akan timbul. Kalau 
ia berkarib dengan orang-orang fasiq, maka datang keinginan untuk menunda-nunda 
taubat. Kalau ia dekat dengan ahli ilmu, maka ilmunya akan bertambah. Kalau ia 
dekat dengan ahli ibadah, maka akan termotivasi melakukant ibadah yang lebih 
banyak.” (Bughyah Al Mustarsyidin, 9).


      

Kirim email ke