sharing artikel bagus dari milis lain.semoga berkenan.
Wassalam,


Nugon

http://groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah/message/20424
Seni berdakwahKalam Al-Habib Umar bin Muhammad Bin HafidzSeorang dai yang 
menyeru ke jalan Allah Ta’âla hendaknya menyampaikan dakwahnya kepada 
masyarakat dengan cara yang mudah dan sederhana. Hendaknya ia memilih tema yang 
sesuai bagi mereka, memilih kalimat yang tidak membangkitkan nafsu, tapi yang 
mendekatkan mereka kepada Allah. Hendaknya ia memilih kalimat yang dapat 
menyucikan nafs dengan cepat, bukannya ucapan yang memberatkan mereka, yang 
mereka anggap berat dan sulit. Seorang dai seharusnya mendahulukan yang lebih 
penting menurut waktu, zaman dan keadaan masyarakat saat itu. Ia harus 
memperhatikan masalah yang lebih besar dan penting, memperhatikan semua yang 
fardhu dan kewajiban-kewajiban utama lainnya.Dakwah dengan tema di atas akan 
sukses jika metode yang digunakan tidak menyebabkan orang lari dan tidak 
mempersulit. Dakwah sebaiknya dilakukan dengan memberikan himbauan (targhib) 
dan juga ancaman (tarhib), sebagaimana dijelaskan dalam
 berbagai hadis.Jika berdakwah kepada para pemula, bila mengajak mereka untuk 
mengerjakan kebaikan, jangan sekali-kali memaksa, jangan menyampaikan 
permasalahan-permasalahan yang tidak dapat dipahami dan dianggap berat oleh 
mereka. Sebab, sesuai tabiatnya, nafs akan lari jika merasa keberatan. Dan jika 
nafs lari, ia akan menentang dan memusuhi kebaikan, kemudian mencari pembenaran 
(justifikasi) bahwa perbuatannya sesungguhnya baik. Jika pemula memandang 
ucapan dai tersebut keras, terlalu berat dan tidak mampu ia laksanakan, maka 
nafs-nya akan memberontak.Bicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkatan 
pemikiran (pendidikan) mereka. Jika berbicara dalam suatu majelis yang dihadiri 
oleh orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, jangan berkata, “Celakalah 
orang-orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, nerakalah tempat mereka.” 
Ucapan semacam ini akan membangkitkan hawa orang yang durhaka tadi sehingga ia 
akan menentangnya. Akan tetapi
 hendaknya kita berkata, “Allah Ta’âla berfirman :“Dan Tuhanmu telah 
memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain-Nya dan hendaklah kamu berbuat 
baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS Al-Isra, 
17:23)“Perhatikanlah, bagaimana Allah yang Maha Mulia memberikan wasiat kepada 
kita, bagaimana Ia menunjukkan kedudukan kedua orang tua. Orang tua memiliki 
hak dan kedudukan yang agung. Orang yang berbakti kepada keduanya akan 
memperoleh berbagai kebaikan. Nabi telah memperingatkan kita agar tidak durhaka 
kepada kedua orang tua. Beliau bersabda begini dan begini.” Jika dakwah 
disampaikan dengan cara demikian, maka akal dan nafs akan mendengarkan dan nafs 
tidak akan memberontak.Dalam ucapan kaum sholihin dan guru-guru kita, banyak 
kita temukan ucapan-ucapan yang keras, tapi masyarakat menerimanya. Sebab, 
mereka memiliki hâl dan maqôm yang agung. Jika ucapan itu muncul dari orang 
lain, masyarakat tidak akan menerimanya dan akan
 menganggap terlalu berat untuk dilaksanakan. Namun, karena mereka yang 
mengucapkannya, maka masyarakat mau menerimanya.Sebagai dai yang masih awam, 
kita jangan menempatkan diri kita di kedudukan kaum khowwâsh, seperti Habib 
Alwi bin Syihab, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri, ayahku Sayid Muhammad 
bin Salim atau kaum sholihin terkemuka lainnya. Mereka kadang kala menyampaikan 
ceramah-ceramahnya dengan keras. Meskipun demikian, ucapan mereka meninggalkan 
kesan dalam hati pendengarnya. Sebab, mereka memiliki hâl dan maqôm yang 
mendukung dan masyarakat yang mau menerimanya. Adapun orang-orang seperti kita 
ini, sebelum berbicara kita wajib memperhatikan dan menyederhanakan pesan yang 
akan kita sampaikan. Jika ada kata-kata yang sulit, hendaknya kita ganti dengan 
kata-kata yang mudah dipahami. Sebagai contoh, jika hendak mencegah seseorang 
dari memutuskan hubungan kekerabatan, jangan berkata, “Di majelis ini ada 
seseorang yang memutuskan hubungan
 kekerabatan.” Atau berkata, “Dewasa ini tidak seorang pun yang tidak 
memutuskan hubungan kekerabatan. Maka mereka semua terkena laknat.”Meskipun 
ucapan ini mengandung kebenaran, tapi masyarakat tidak akan menerimanya. Kita 
tidak boleh berkata demikian, tetapi sebaiknya kita berkata, “Marilah kita 
perhatikan kerabat kita, marilah kita raih pahala lewat mereka, marilah kita 
usahakan agar hubungan kekerabatan menjadi sebuah nikmat. Jika kalian mau 
menundukkan nafs lalu menyambung tali silaturahmi dan berbuat baik kepada 
mereka, maka kabar gembira bagi kalian, kalian akan memperoleh umur yang 
panjang dan rezeki melimpah. Sebab, Nabi saw bersabda :“Silaturahmi 
memperbanyak harta dan memperpanjang umur.” (HR Bukhari dan Muslim)Kalian 
hendaknya menggunakan kalimat-kalimat seperti ini. Jika dakwah disampaikan 
dengan cara demikian, maka semua orang akan menerimanya. Ucapan kalian menjadi 
baik dan mudah diterima oleh nafs. Sebenarnya tujuan orang
 menyampaikan dakwah dengan keras adalah juga untuk menyeru manusia ke jalan 
Allah, tapi caranya tidak benar. Karena itulah Allah berfirman kepada Nabi kita 
Muhammad saw :“Karena rahmat Allah-lah kamu dapat berlaku lemah lembut kepada 
mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka 
menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah 
ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS Ali 
Imran, 3:159)[Diambil dari Manhaj Dakwah, cetakan I, 2001, penerbit Putera 
Riyadi Solo]
http://bisyarah.wordpress.com/2008/01/30/seni-berdakwah/


      

Kirim email ke