Ini Cerita bagus.

Dipahami.




----- Forwarded Message ----
From: bhq2512 <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Thu, July 8, 2010 11:29:47 PM
Subject: [syiar-islam] Kisah Julaibib r.a

  
24  03  2010

Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Kata ini sendiri mungkin sudah 
menunjukkan 
ciri fisiknya; kerdil. Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, 
tentu bukan ia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya. Julaibib hadir 
ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula 
orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak 
dikenal pula, termasuk suku apakah dia. celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak 
bernasab dan tak bersuku adalah cacat sosial yang tak terampunkan.

Julaibib yang tersisih. Tampilan fisik dan kesehariannya juga menggenapkan 
sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya. Wajahnya jelek terkesan sangar. 
Pendek. Bunguk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya 
pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan 
berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum 
hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak tangan. Abu Barzah, 
pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib, "Jangan pernah 
biarkan Julaibib masuk diantara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku 
akan melakukan hal yang mengerikan padanya!"

Demikianlah Julaibib.

Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhluq pun bisa 
menghalangi. Julaibib menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaf terdepan 
dalam shalat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya 
seolah ia tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam. 
Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang 
Nabi saw. "Julaibib", begitu lembut beliau memanggil, "Tidakkah engkau menikah?"

"Siapakah orangnya Ya Rasulullah", kata Julaibib, "yang mau menikahkan putrinya 
dengan diriku ini?"

Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau 
menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya. Rasulullah juga 
tersenyum. Mungkin memang tak ada orang tua yang berkenan pada Julaibib. Tapi 
hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang 
sama. "Julaibib, tidakkah engkau menikah?". Dan Julaibib menjawab dengan 
jawaban 
yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.

Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib dan membawanya 
ke 
salah satu rumah seorang pemimpin Anshar. "Aku ingin", kata Rasulullah pada si 
empunya rumah, "menikahkan putri kalian."

"Betapa indahnya dan betapa barakahnya", begitu si wali menjawab berseri-seri, 
mengira bahwa sang Nabi lah calon menantunya. "Ooh.. Ya Rasulullah,ini sungguh 
akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram di rumah kami."

"Tetapi bukan untukku", kata Rasulullah, "ku pinang putri kalian untuk Julaibib"

"Julaibib?", nyaris terpekik ayah sang gadis

"Ya. Untuk Julaibib."

"Ya Rasulullah", terdengar helaan nafas berat. "Saya harus meminta pertimbangan 
istri saya tentang hal ini"

"Dengan Julaibib?", istrinya berseru, "Bagaimana bisa? Julaibib berwajah lecak, 
tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta. Demi Allah 
tidak. Tidak akan pernah putri kita menikah dengan Julaibib"

Perdebatan itu tidak berlangsung lama. Sang putri dari balik tirai berkata 
anggun, "Siapa yang meminta?"

Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.

"Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku 
padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah yang meminta, maka tiada akan dia 
membawa kehancuran dan kerugian bagiku". Sang gadis yang shalehah lalu membaca 
ayat ini :

"Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah 
dan 
RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain 
tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka 
sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata" (QS. Al Ahzab : 36)

Dan sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah, "Ya Allah, 
limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Jangan Kau 
jadikan hidupnya payah dan bermasalah.."

Doa yang indah.

***

Kita belajar dari Julaibib untuk tidak merutuki diri sendiri, untuk tidak 
menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya. 
Tak mudah menjadi Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas.

Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. 
Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi. Ia Maha 
Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihi yang 
kita sanggup memikulnya.

Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak! Jika kita 
bertakwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di 
luar kuasa kita.

Urusan kita adalah taat kepada Allah. Lain tidak!

***

Maka benarlah doa sang Nabi. Maka Allah karuniakan jalan keluar baginya. Maka 
kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang 
istri 
shalehah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya. 
Julaibib telah dihajatkan langit mesti tercibir di bumi. Ia lebih pantas 
menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak terlalu bersahabat padanya.

Saat syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi ia akan mengajarkan sesuatu 
kepada para sahabatnya. Maka ia bertanya diakhir pertempuran. "Apakah kalian 
kehilangan seseorang?"

"Tidak Ya Rasulullah!", serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda 
ada 
dan tiadanya di kalangan mereka.

"Apakah kalian kehilangan seseorang?", Sang Nabi bertanya lagi. Kali ini 
wajahnya merah bersemu.

"Tidak Ya Rasulullah!". Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak 
seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.

Rasulullah menghela nafasnya. "Tetapi aku kehilangan Julaibib", kata beliau.

Para sahabat tersadar.

"Carilah Julaibib!"

Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua 
dari arah muka. Di seputarannya menjelempan tujuh jasad musuh yang telah ia 
bunuh. Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. Beliau saw 
menshalatkannya secara pribadi. Dan kalimat hari berbangkit. "Ya Allah, dia 
adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya."

Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan. 
Meloncati 
rasa suka dan tidak suka. Melampaui batas cinta dan benci. Karena hikmah sejati 
tak selalu terungkap di awal pagi. Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan 
sesaat. Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan 
terkibas.

Tapi yakinlah, di jalan cinta para pejuang, Allah lebih tahu tentang kita. Dan 
Dialah yang akan menyutradarai pentas kepahlawanan para aktor ketaatan. Dan 
semua akan berakhir seindah surga. Surga yang telah dijanjikanNya..

dia adalah bagian dari diriku
dan aku adalah bagian dari dirinya
-Rasulullah, tentang Julaibib-

http://andiezittelkom.wordpress.com/


 


      

Kirim email ke