Kisah yang patut ditiru.


----- Forwarded Message ----
From: Hari Purnomo <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sat, July 10, 2010 5:28:49 PM
Subject: [Tauziyah] Kesederhanaan Si Fulan

  
Kesederhanaan Si Fulan
 
Oleh Abi Sabila
 
Hidup sederhana, tidak selamanya identik dengan kemiskinan, tapi juga terkait 
erat dengan keinginan dan keimanan. Paling tidak, itulah kesimpulan yang 
kuambil 
dari obrolanku dengan si Fulan.
 
Fulan berasal dari keluarga yang kaya. Aku pernah mengibaratkan bahwa jika aku 
bekerja untuk mencari makan, maka Fulan bekerja hanya untuk mengisi waktu atau 
sekedar mencari tambahan uang jajan. Pendidikan yang tinggi dan jabatan di 
perusahaan yang lumayan, tidak membuatnya tinggi hati. Sebaliknya, Fulan selalu 
terlihat sederhana. Salah satunya dalam hal berpakaian. Fulan selalu memakai 
seragam kerja meskipun sebagian besar rekan kerjanya banyak yang tak lagi 
memakainya.
 
Perusahaan tempatnya bekerja memang memberikan seragam kerja kepada seluruh 
karyawannya. Kecuali top management, seluruh karyawan mendapatkan seragam yang 
sama, baik warna maupun modelnya.
 
Belakangan, beberapa karyawan mulai banyak yang bekerja tanpa menggunakan 
seragam. Sebagian besar mereka adalah para staf, rekan-rekan Fulan. Macam-macam 
alasan, warna dan model yang dianggap kurang layak karena disamakan dengan 
semua 
karyawan atau kondisi seragam yang mulai lusuh karena sudah dua tahun lebih tak 
diganti. Seakan menyadari belum bisa memberikan seragam baru, pihak pemilik 
perusahan tidak menegur stafnya yang tidak memakai seragam.
 
Kesederhanan Fulan menarik perhatianku. Kucoba untuk mengetahui alasannya 
bertahan dengan seragam yang dikenakannya. Yang jelas bukan kaena Fulan tak 
memiliki baju untuk dipakai kerja. Ku tahu pasti, koleksi bajunya di rumah 
memenuhi lemari. Model dan warnanya bagus-bagus, hampir semuanya bermerk. 
Sebelum mendapat seragam, Fulan selalu menjaga penampilannya. Dia selalu datang 
ke tempat kerja dengan pakaian rapi dan bersahaja.
 
Jawaban Fulan sungguh membuatku terkesan. Mematuhi aturan yang ditetapkan 
perusahaan, itu jawaban pertamanya. Sebagai staf, semestinya dia bisa 
memberikan 
contoh disiplin kepada karyawan lainnya. Lebih nyaman, itu jawaban keduanya. 
Dalam tugasnya, terkadang Fulan harus menemui operator di lapangan. Dengan 
memakai seragam, Fulan merasa leluasa berbaur dengan mereka. Sama warna sama 
rasa , itu alasan ketiganya. Bisa saja Fulan berganti pakaian setiap hari, toh 
koleksi pakaiannya memungkinkan untuk itu. Tapi Fulan tak ingin terlihat 
mencolok dengan pakaiannya. Fulan tak ingin mencitpakan kesenjangan antara 
dirinya sebagai staf dengan karyawan lainnya.
 
Hanya itu jawaban Fulan? Tidak, itu intinya. Panjang lebar Fulan menjawab 
setiap 
pertanyaan yang kuajukan. Dan semuanya kusimpulkan bahwa gaya hidupnya yang 
sederhana bukan berkaitan dengan kemiskinan, tapi sebuah keinginan yang 
dilandasi oleh keimanan. Memakai pakaian bagus tidak selamanya bisa dikatakan 
riya atau takabur, tapi bisa jadi sebagai wujud rasa syukur. Tapi tentunya 
dengan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan keperluannya. Bagi Fulan, tak 
perlu ia memakai pakaian-pakaian bagusnya untuk bekerja. Toh sudah ada seragam 
yang diberikan. Ia khawatir akan membuat karyawan lainnya merasa rendah diri. 
Ia 
takut menjadi takabur dan ingin dipuji orang karena penampilannya.
 
Tak ada alasan bagi Fulan untuk merasa malu, apalagi jika alasannya hanya 
karena 
seragam kerjanya sama model dan warnanya dengan operator dan tukang sapu. Di 
mata fulan, semuanya sama, apapun tugas dan jabatannya. Tak ada alasan untuk 
merasa lebih tinggi dari karyawan yang lain. Tugas dan tanggung jawab memang 
berbeda, tapi di perusahaan ini sama-sama sebagai pekerja. Sama-sama disuruh 
dan 
dibayar oleh orang lain.
 
Saat kutanya pendapatnya mengenai karyawan yang tidak mau menggunakan seragam, 
Fulan hanya tersenyum saja. Fulan tak memberikan tanggapan apa-apa. Sebagai 
sahabat, aku paham dengan kebiasaan Fulan. Dia selalu berhati-hati memberikan 
komentar, terutama jika menyangkut pendapat dan alasan orang lain. Baginya 
lebih 
baik diam, biarlah yang bersangkutan yang memberikan jawaban.
 
**
 
Pelajaran berharga tentang hidup sederhana kudapat dari Fulan. Kesederhanaan 
yang kujalani ternyata berbeda dengan kesederhanaan Fulan. Bagiku hidup 
sederhana adalah sebuah keharusan untuk tetap bisa bertahan. Apa yang bisa 
kuandalkan dari pekerjaanku yang hanya buruh biasa. Bagi Fulan, hidup sederhana 
adalah keinginan. Keinginan yang didasari oleh rasa keimanan. Dengan hartanya, 
dengan ketinggian ilmunya, dengan jabatannya, Fulan bisa saja memilih  gaya 
hidup mewah. Dia bisa, dia mampu, dia pantas untuk itu. Dia orang berada, dia 
punya semuanya. Tapi bukan itu yang ada dalam pikiran Fulan. Apa yang 
dimilikinya adalah anugerah sekaligus amanah. Rasa syukur terhadap nikmat yang 
Allah berikan tidaklah harus dinampakan dalam gaya  hidup sehari-harinya. Jauh 
lebih penting dan semestinya rasa syukur itu diwujudkan dengan berbagi kepada 
sesama. Atau paling tidak, jangan melakukan hal-hal yang bisa melukai perasaan 
orang lain. Jangan ciptakan dan jangan nampakan kesenjangan sosial yang akan 
menimbulkan kecemburuan pada orang lain.
 
Terima kasih Fulan, pelajaran berharga kudapat darimu. Sungguh kau telah 
menyadarkanku bahwa hidup sederhana bukanlah sebuah keterpaksaan, tapi juga 
bukti nyata keimanan.
 
abisabila.multiply. com


 


      

Kirim email ke