Munarman : Saya 
Mengagendakan Pembubaran JIL
  Kamis, 22 Juli 2010 | 11:26 WIB
  
  
  
  
     
                   
                   
          
           
           
           
              
                                  
         
         
         
         
  
  
        Sebagai organisasi yang selama ini 
lantang menyuarakan liberalisasi agama (Islam), Jaringan Islam Liberal 
(JIL), dalam beberapa tahun terakhir terlihat mati suri.

Hidup 
segan mati tak mau, karena sumber pendanaan adalah musuh bebuyutannya, 
mereka dari The Asia Foundation, 
USAID,Gorge Soros melalui Yayasan Tifa, mendadak 
dihentikan. Akibatnya proyek- proyek subversive politik dan agama yang 
mereka lancarkan menjadi kehilangan darah
Tapi baru saja salah satu 
pentolannya, Ulil Absar Abdalah, dipercaya partai penguasa (Partai 
Demokrat) menjadi pengurus di jajaran DPP, JIL kembali bersuara. Sudah 
mendapat suplai dana? Yang pasti, kali ini target utamanya FPI. Tak 
tanggung-tanggung, Ulil bersuara lantang melalui media yang menjadi 
corongnya, menyuarakan pembubaran PPI. Padahal, kasus yang menjadi pintu
 masuk, kasus Banyuwangi, sama sekali tidak melibatkan FPI.
 
Karenanya,
 FPI melalui juru bicaranya Munarman barbalik menuntut pembubaran JIL. 
Kenapa FPI menuntut pembubaran JIL? Apa celah hukum yang memungkinkan 
pembubaran organisasi pengasong Sepilis ini? Untuk manjawab pertanyaan 
itu, wartawan Sabili Dwi Hardianto dan Lufti Avianto mawawancarai Ketua 
DPP FPI Bidang Nahi Munkar, Munarman SH. Berikut petikannya :
 
Pembubaran FPI adalah isu lama. Kenapa 
muncul lagi ?
Karena memang agenda meraka sejak awal 
FPI harus dibubarkan karena FPI dianggap menghalangi agenda liberalisasi
 di Indonesia dari kelompok Sepilis. Karena dianggap sabagai panghalang 
di berbagai bidang, seperti ekonomi, politik, apalagi di bidang agama, 
maka FPI menjadi target pambubaran oleh kelompok-kelompok Sepilis ini. 
Sebenarnya, agenda liberalisasi mereka secara fundamental bukan 
liberalisasi politik dan akonomi, tapi liberalisasi agama. Dengan 
liberaliaasi agama ini mereka bisa membuat tafsir baru pada Al-Qur’an 
yang sesuai dengan selera dan kehendak mereka. Tafsir ini membongkar 
tafsir resmi yang selama ini sudah menjadi jumhur (kesepakatan) ulama.
 
Di mana kaitannya dengan tuntutan pembubaran FPI
 ?
Sebagai ormas Islam yang memiliki tradisi kuat 
untuk menjaga keotentikan Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah 
tentu saja menolak cara-cara yang ditempuh kalangan Sepilis. Karenanya, 
FPI pun mendapat penentangan karas dari kelompok-kelompok Sepilis di 
negeri ini. Mereka mengetahui bahwa FPI adalah salah satu ormas Islam 
yang menurut perhitungan mereka manjadi organisasi yang paling krusial 
untuk mereka hadapi. Paling krusial bukan saja pada tahap pertarungan 
idaologi, tapi juga sebagai organisasi yang paling siap pada level atau 
front partarungan fisik. Ini yang sebenamya mereka takuti pada FPI.
 
Karenanya, tarkait kasus Banyuwangi, sebenarnya 
hanya menjadi pintu masuk untuk membubarkan FPI?
Batul.
 Tadinya, mereka sebenarnya akan manggunakan kasus Singkawang sebagai 
pintu masuk untuk membubarkan FPI. Kasusnya, berawal dari sindrom 
kalangan minoritas yang berasal dari etnik Tionghoa dan non Muslim. 
Kebetulan, Walikota Singkawang juga berasal dari etnis Tionghoa. Maka 
Walikota mencari dukungan dari kalangan non Muslim lainnya, khususnya 
etnis Tionghoa dan suku Dayak. Caranya, sang walikota mambuat konstruksi
 sajarah yang diambil dari pemahaman kaum orientalis dalam sebuah 
seminar tahun 2008.
 
Pada seminar itu, Sang Walikota mengatakan, 
masyarakat Melayu sepanjang sejarah di Kalimantan Barat telah 
memperbudak suku Dayak. Kamudian datanglah etnis Tionghoa yang menurut 
sang Walikota telah membebaskan orang Dayak dari perbudakan. Karenanya, 
dalam makalah itu, sang Walikota yang bernama Hasan Karman ini menulis, 
orang Tionghoa lebih suka melakukan hubungan sosial dan perdagangan 
dengan suku Dayak dibanding suku Melayu. Mendengar penjelasanya ini, 
masyarakat Melayu di Kota Singkawang pun memprotesnya dengan melakukan 
demo besar-besaran. Nah, dalam demo ini, terlibat juga laskar FPI, 
sebagai salah satu komponen, Akhirnya, sang walikota harus meminta maaf 
kepada Sultan Sambas yang dijabat oleh keturunan sultan yang masih 
berumur 15 tahun, sehingga sang walikota merasa malu besar.
 
Kasus
 kedua, sang Walikota membangun patung singa sebagai simbol lperayaan 
Cap Gomeh sebagai salah satu bentuk ritual Konghucu. Nah, pembangunan 
patung ini juga ditentang oleh masyarakat Muslim Singkawang. Nah, dalam 
proses   menentang kebijakan walikota ini, selain ormas Islam lain, 
terdapat juga unsur FPI sebagai salah satu elemen. Tapi walikota 
melihat, FPI-lah yang berperan besar  dalam menghalangi agenda dan 
kepentingannya. Karenanya, sang walikota menuntut pembubaran FPI, awal 
Juni lalu.
 
Pada saat itu, walikota memprovokasi masyarakat Dayak
 dan minoritas Tionghoa untuk menuntut pembubaran FPI di Kota 
Singkawang. Dalam aksi itu,  suku Dayak diorganisir sedemikian rupa, 
sehingga mereka berdatangan dari pedaIaman untuk melakukan demo 
besar-besaran menuntut pembubaran FPI. Tapi, demo ini tidak diangkat 
oleh media massa lokal maupun nasional. Media massa tidak berani 
mengangkat isu ini karena sangat sarat bermuatan sentimen SARA, sehingga
 media khawatir jika diangkat akan menimbulkan kasus seperti di Sampit, 
Kalimantan Tengah.
Sebenarnya, pengusaha dan tokoh non Muslim 
Singkawang berupaya menemui FPI pusat. Mereka datang ke Jakarta dipandu 
seorang aktivis dari ormas Islam besar di Indonesia, agar FPI melunak. 
Mereka berpikir, yang mengkoordinir masyarakat Melayu dan Muslim 
Singkawang adalah FPI, padahal kami hanya menjadi salah satu elemen 
dalam demo itu. Mereka mengajukan klausul agar dibangun juga patung yang
 menggambarkan simbol masyarakat Melayu, Dayak, dan Batak. Tapi, kami 
tetap menolak usul itu, karena patung makhluk hidup bagi kami adalah 
haram.
 
Karena gagal mengangkat isu Singkawang menjadi pintu 
masuk membubarkan FPI, ketika muncul kasus Banyuwangi, FPI kembali 
dianggap sebagai biang keladinya. Mereka beranggapan kejadian di 
Banyuwangi tidak akan menimbulkan konflik horizontal dan konflik SARA, 
karena hanya merupakan permainan isu media saja. Mereka berharap isu ini
 bisa digembungkan dan naik ke media massa nasional. Sehingga, ada 
faktanya atau tidak menjadi tidak penting lagi. Yang panting, FPI 
diributkan media masa. Tapi desain ini tidak sampai ke tingkat grass 
roat hanya di tataran elit saja.
 
Ini merupakan kepentingan siapa?
Ada
 dua kepentingan yang bertemu di sini. Mafia berita dan mafia jabatan. 
Mafia berita itu adalah yang membela kepentingan kaum Sepilis dan 
biasanya dibiayai Amerika. Kalau mafia jabatan adalah orang-orang yang 
menginventasikan calon tertentu agar bisa menang dalam Pilkada. Dengan 
kata lain, men-` jadikan politik sebagai upaya mendapatkan proyek.
 
Anda melihat ada pengalihan isu pada 
kasus Banyuwangi?
Iya, dilihat dari segi mafia berita
 yang, bertemu dengan kepentingan liberalisasi  ekonomi untuk 
mengalihkan isu Tarif Dasar Listrik (TDL), BBM, kasus Century dan 
lainnya, sehingga isu-isu ekonomi yang sebenarnya menyengsarakan rakyat 
ini menjadi hilang dalam wacana media. Dan, mafia berita juga. 
berkesempatan berkolaborasi dengan rezim penguasa yang kebetulan diisi 
kalangan neoliberal. lni adalah kesempatan mereka untuk mengalihkan isu 
itu.
 
Jadi ada distorsi?
ini
 dipaksakan betui. Meski kasus di Banyuwangi sama sekali tidak 
melibatkan FPI, tapi dicitrakan seakan-akan FPI yang memiliki kerjaan. 
Di awal pemberitaan, Dia (Ribka Tjiptaning, red) sudah gencar sekali 
melakukan sosialisasi bahwa FPI pelakunya.
 
Kabarnya Anda punya VCD yang menunjukkan bahwa 
pertemuan di Banyuwangi adalah Temu Kangen Kader PKI?
Betul.
 Bukti ini bukan sekedar untuk  meng-counter opini. Tapi akan kita 
gunakan untuk melaporkan kegiatan mereka yang sebenarnya. Isinya, dia 
(Ribka, red) melakukan ceramah, karena ini adalah acara temu kangen 
anggota eks PKI, bahwa orang-orang takut sama kita. Kita harus buktikan.
 Rasa dendam Ribka terlihat ketika ia bertekad bahwa ideologi tidak akan
 bisa dimusnahkan. Isi VCD itu menegaskan bahwa ini rnemang temu kangen 
eks PKI. Pembawa acara juga berkali-kali menyebutkannya. Sehingga, nggak
 ada hubungannya dengan sosialisasi kesehatan yang diklaim mereka. 
Anehnya, saat ada aksi pembubaran acara oleh massa, sudah ada wartawan 
dari semua stasiun televisi untuk merekamnya. Ini menunjukkan sudah ada 
yang mensetting. Rieke Diyah Pitaloka sendiri juga merasa heran.
 
FPI merasa diadu domba dengan PDI-P?
Nggak.
 Saya yakin betul orang-orang PDIP mengetahui siapa yang memiliki agenda
 ini. Misainya, serta-merta Ulil Abshar Abdalla, tokoh JIL yang sekarang
 menjadi petinggi Partai Demokrat menyatakan, ”Mari kita lupakan kasus 
Century, kita bersatu bubarkan FPI .” Saya tahu persis, ini adalah upaya
 dari kelompok JIL. Memang, di PDIP ada yang berpaham liberal yang juga 
dimanfaatkan tapi saya yakin DPP PDIP tidak akan terprovokasi oleh aksi 
ini.
 
Apa langkah anda 
berikutnya?
Kita sedang menyusun rencana pembubaran 
JIL. Pasalnya, JIL itu bukan organisasi resmi cuma sekumpulan orang yang
 dimanfaatkan Ulil. Jika Ulil mengagendakan pembubaran FPI, maka saya 
mengagendakan pembubaran JIL. Saya, yakin,isu pembubaran JIL akan 
mendapat dukungan besar dari umat lslam. Tapi isu membubarkan FPI tidak 
akan laku.
 
Apa celah yang 
bisa digunakan untuk membubarkan JIL ?
Salah satu 
syaratnya adalah menerima dana asing. Seluruh pendanaan JIL selama ini 
berasal dari asing, khususnya  Amerika, melalui The Asia Foundation, 
USAID, Gorge Soros melalui Yayasan Tifa. Ulil sekolah ke Amerika  juga 
atas dana asing. Dana asing itu digunakan untuk subversive politik dan 
agama, artinya mereka telah meresahkan masyarakat. Jika JIL berbentuk 
ormas, kita minta ke Kementrian Dalam Negeri. Kalau berbentuk yayasan, 
kita minta ke pengadilan. Jika tidak berbentuk badan hukum, kita  akan 
membubarkan dengan cara yang tidak berbentuk juga. Sampai hari ini, saya
 belum menemukan apa sebenamya bentuk badan hukum dari JIL itu. 
 
Jika JIL tidak berbentuk badan hukum ?
Mestinya
 pemerintah menghentikan aktivitas yang meresahkan masyarakat itu. 
Pasalnya, mereka telah melakukan subversif politik dan agama. Jika 
temyata tidak berbentuk badan hukum, kita akan melaporkan secara 
personal dari tiap pengurusnya.
 
Adakah evaluasi berkala yang dilakukan internal 
FPI ?
Jangankan bulanan, setiap aksi, FPI selalu 
melakukan evaluasi, ]ika. berbentuk program, evaluasi dilakukan di dalam
 rapat. Setelah terlaksana dilakukan evaluasi. Sebelum melakukan 
kegiatan,FPI sudah mengingatkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan
 oleh anggota. Kita juga berkoordinasi dengan aparat hukum termasuk 
kepolisian.
 
Tarkait 
Ramadhan, Apakah FPI akan melakukan pawai antimaksiat?
Tetap.
 Itu nggak akan berhenti. Itu akan dilaksanakan di Jakarta dan 
berkoordinasi dengan aparat kepolisian. Jika kita menernukan indikasi 
kemaksiatan kita akan kirimkan surat ke walikota setempat untuk 
menertibkan tempat maksiat itu. Sebenarnya bukan hanya bulan Ramadhan, 
tapi ini hanya momentum saja
Apakah akan bekerjasama dengan ormas 
lain ?
Sebagai agenda tahunan FPI jika ormas lain mau
 gabung ya silakan.Secara terbuka kita undang mereka untuk bergabung 
memerangi kemaksiatan.
 
Tanggapan
 terhadap rencana ravisi UU No. 8/1985 tentang Ormas?
Nggak
 masalah, yang pasti dalam revisi itu tidak boleh ada agenda untuk 
mempermudah membubarkan ormas Islam. Ini yang nggak boleh dan yang patut
 diperhatikan oleh para legislator di DPR.
 
Anda menduga revisi itu untuk membubarkan
 ormas Islam?
Betul. ltu agenda utama kalangan 
Sepilis dan Islamfobia.
 
Jika
 revisi itu arahnya menuju pada Asas Tunggal Pancasila ?
Upaya
 ke arah itu pasti ada, agar gampang dalam memberangus Ormas Islam yang 
berasas Islam. Saya kira kekuatan yang tidak suka pada Islam akan tetap 
berusaha. Kita anggap sebagai pertarungan politik, karenanya kita 
menolak jika mrevisi dilakukan untuk melemahkan Islam.
 
Acara Ribka lainnya juga dibubarkan 
massa. Apa ada temuan FPI soal keterkaitannya dengan PKI?
Yang
 membubarkan sebenarnya aparat, seperti kasus di Sukabumi. Artinya, dia 
itu bermasalah. Cuma tidak di-blow up. Kenapa Ulil tidak mengangkat isu 
ini? Karena Ulil bagian dari pemerintahan. Dia kan pengurus DPP Partai 
Demokrat yang saat ini berkuasa.

        

        Majalah Sabili No. 26 TH. XVII 10 Syaban 1431 H
        

    Sumber :
 Majalah Sabili No. 26 TH. XVII 10 Syaban 1431 H

Kirim email ke