Gue salut ama pemain bola nasional kita, para crew dan official, juga ama
supporter. Cuman gue masih kesel ama arab (uni emirat dan Saudi Arabia)
mereka “ngadalin” kita tuh. Wasit uni emirat arab gak adil.

 

 

 

DJ

 

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
Janssen
Sent: Tuesday, July 24, 2007 10:27 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [mxrider] OoT :: CATATAN DARI SENAYAN... (18 JULI 2007)

 

seumur-umur baru kali itu gw nonton bola langsung dr stadion GBK, gw bela2in
mesen tiket jauh2 hari buat nonton tuh pertandingan,

emang secara kertas kita kalah tp gw masi ada harapan walau secuil  bahwa
indonesia bakal menang, INDONESIA bagi gw ga kalak dalam pertandingan itu,
karena untuk ukuran korea harusnya bisa bikin gol lbh dr 1 untuk indonesia,
karena semangat juang pemain merah putih dan keberuntungan bagi gw yg blm
berpihak.

Emang kesel waktu besoknya di kantor di ledekin tp mereka diem waktu gw
bilang bahwa "gw tinggal dan hidup di indonesia dan ini hanya sebagian kecil
sumbangsih gw buat dukung "pejuang" kita dari pada lo semua yg bisanya cuma
ngejek"

 

HIDUP INDONESIA.... HIDUP MERAH PUTIH....

 

 

========================================
Regards,
Yan'in
PT. LG ELectronics Indonesia
Display Division - Material System Unit
Office    : +62 21  8989-302
Fax       :  +62 21  8980588
========================================

----- Original Message ----- 

From:  <mailto:[EMAIL PROTECTED]> &#9668;••&#321;&#1094;Çk¥••&#9658; 

To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 

Cc: [EMAIL PROTECTED] ; [email protected] ;
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 

Sent: Tuesday, July 24, 2007 2:30 AM

Subject: [mxrider] OoT :: CATATAN DARI SENAYAN... (18 JULI 2007)

 

right or wrong, it's my country!!
= God Bless Indonesia =

 


CATATAN DARI SENAYAN... (18 JULI 2007) 


Ketika tahu saya akan datang ke GBK untuk menonton pertandingan Indonesia vs
Korea, seorang rekan di kantor bilang "mau kecewa kok bayar". Saya hanya
tersenyum. Saya tahu akan sulit sekali kita akan menang. 


Ada yang bertanya: kenapa tetap ke stadion? 


Jawab saya: Karena saya tahu mereka tetap berjuang dengan semua yang mereka
miliki. Mereka gigih menutupi kekurangan teknis dan fisik dengan semangat
membara dan jiwa patriotisme. Supporter terus mendukung mereka dengan
membahana, karena kami ?supporter Indonesia- tak lagi melihat ada yang layak
didukung dalam keseharian yang lain. 


Tanya: Tidakkah olah raga yang lain begitu juga? 


Jawab: Mungkin. Tapi kebetulan saya tak tahu, apakah ada yang bisa
mengumpulkan 88 ribu manusia Indonesia di dalam stadion dan 30 ribu lainnya
di luar stadion bernyanyi lagu Indonesia Raya dengan hikmat dan haru. Mereka
datang dari Lampung, Makassar, Solo, Surabaya, Malang, Bandung dengan
ikhlas. Antri berhari-hari demi menunjukkan bahwa di Indonesia masih ada
yang bisa diabanggakan. 


Beberapa teman mencela timnas Indonesia dan mencoba menunjukkan bahwa
dukungan saya akan sia-sia. Baiklah. Tapi bukankah memilih bersatu mendukung
perjuangan adalah lebih baik daripada terdiam dan mencela kesalahan orang
lain? 


Pertandingan kemarin adalah sebuah kombinasi antara harapan dan ironi. Ada
harapan untuk memperoleh kemenangan dan mengukir sejarah, tapi harapan itu
sendiri diam-d iam sebenarnya tak bisa mutlak di hati kita. Dalam
pertandingan sepakbola supporter di stadion adalah orang yang siap kecewa
dan pemain siap untuk dicaci. Sepakbola adalah permainan, kemenangan dan
kekalahan adalah sesuatu yang melekat. Kami sadar akan hal itu. Pada setiap
pertandingan ada risiko kekalahan. Setiap dukungan ada risiko kepedihan.
Sebab ada yang tersingkir di sana . 


Akhirnya, saya hanya sedih, tapi tak kecewa. Timnas Indonesia bukanlah tim
mega bintang seperti Brasil atau Italia. Tak akan mengejutkan bila nanti
kita kalah, atau kita melihat sesuatu yang tak beres di sana. Setidaknya
dalam kompetisi, PSSI adalah salah satu contoh yang sering terjadi di
Indonesia: 'mismanagement'. 


Seandainya PSSI diisi para profesional sepakbola, bukan politisi yang
mencari suara, bukan pengusaha yang cuma cari nama, atau golongan tua yang
umumnya dahsyat dalam semangat tapi lembek dalam organisasi kerja, hasilnya
pasti akan lain. 


Untunglah, masih ada supporter Indonesia yang "benar". Mereka bernyanyi
sepanjang pertandingan, memuji pemain meski kalah, karena mereka menilai
pemain dari perjuangan yang diberikan, bukan sekedar hasil akhir.


Saya tak ingat kapan saya merasa bangga menyanyikan Indonesia Raya dengan
sungguh-sungguh. Tapi kemarin, paduan suara 88 ribu supporter Indonesia
membuat buku kuduk saya berdiri, kibaran bendera merah putih membuat air
mata saya mengalir pelan. 


Air mata haru kembali memaksa keluar, ketika menit-menit akhir pertandingan,
dimulai oleh ribuan penonton dari belakang gawang Markus Harrison
menyanyikan lagu Indonesia Raya meski dengan suara parau, kombinasi
kelelahan dan kesedihan. Lagu tersebut memang mampu memompa semangat pemain,
tapi apa daya, tenaga yang benar-benar habis terkuras dan kualitas teknik
yang di baw ah lawan membuat semangat dan perjuangan mereka tak membawa
hasil maksimal. 


Sebagai supporter yang kalah, saya ingin menghibur diri: ternyata ada
kemenangan lain dalam Piala Asia kali ini. Yang juga menang adalah sebuah
rasa kebangsaan yang bernama 'Indonesia '. 


Secara kasat mata, ternyata seluruh supporter datang dan bersatu tanpa ada
sentimen SARA apapun. Bersatu, bernyanyi, dan berteriak membahana Indonesia!
Indonesia! Indonesia! Tak ada pekik kesukuan, etnis, atau simbol agama
apapun. Di sebelah saya berkulit terang, bermata sipit, gadis-gadis ABG
cantik keturunan Tionghoa dengan bangga memakai kaus bertulis "Indonesia "
besar di dadanya, sang pria dengan bangga mengalungkan bendera merah putih
di lehernya, menjadi bak Superman. Di sektor sebelah saya bule-bule berkaus
merah putih, dengan jelas teriak-teriak dan ikut bernyanyi, "Yo ayo, Ayo
Indonesia... Kuingin, Engkau Harus Menang.... " 


Tak ada anarki, semua bernyanyi, bahkan ketika kekalahan terjadi. Lagu wajib
"Yo ayo, Ayo Indonesia... Kuingin, Engkau Harus Menang.... " masih membahana
meski dengan kepala tertunduk dan wajah sedih. Kami pulang dengan langkah
pelan. 


Maka haruskah saya terus merasa sedih? Saya pandangi kaus putih bertuliskan
Indonesia di dada saya. Tiba-tiba saya tergerak untuk mencium lambang Garuda
Indonesia di sebelah kiri, "Karena Gue Cinta Indonesia".... 

 


"Catatan dari seorang teman" 

  _____  

Be a better Globetrotter. Get
<http://us.rd.yahoo.com/evt=48254/*http:/answers.yahoo.com/dir/_ylc=X3oDMTI5
MGx2aThyBF9TAzIxMTU1MDAzNTIEX3MDMzk2NTQ1MTAzBHNlYwNCQUJwaWxsYXJfTklfMzYwBHNs
awNQcm9kdWN0X3F1ZXN0aW9uX3BhZ2U-?link=list&sid=396545469>  better travel
answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out. 

 

Kirim email ke