Dari millis tetangga,
Semoga bermanfaat..............

      Posted by: "marina nurhasanah" [EMAIL PROTECTED]
      Mon Sep 10, 2007 10:04 am (PST)

      bismi-lLah wa-lhamdu li-lLah wa-shshalatu wa-ssalamu
      'ala rasuli-lLah
      wa 'ala alihi wa ashhabihi wa ma-wwalah,
      amma ba'd, assalamu 'alaikum wa rahmatu-lLahi wa
      barakatuH.

      Dari milis tetangga..

      Klab Santri Peduli : Dalam satu kesempatan tak
      terduga, saya bertemu
      pria ini. Orang-orang biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya
      tertarik dengan
      falsafah hidupnya, yang menurut saya, sudah agak
      jarang di zaman ini,
      di Jakarta ini. Dari sinilah perbincangan kami
      mengalir lancar.

      Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi
      keguruan yang diprogram
      sebuah LSM bekerja sama dengan salah satu departemen
      di dalam negeri.
      Tapi, saya justru mendapat banyak pelajaran bernilai
      bukan dari
      pelatihan itu. Melainkan dari pria ini.

      Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang
      dan mapan. Karena
      penampilannya rapih, menarik, dan wajah yang tampan.
      Namun tidak
      seperti yang saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga
      yang pas-pasan.
      Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang
      dialaminya dengan
      sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat
      dan saya pahami
      dari beberapa kali perbincangan yang kami bangun.

      Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai
      guru. Bertukar
      informasi dan memperbandingkan nasib kami satu dengan
      yang lain, satu
      sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita tentang
      dapur kami
      masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok.
      Kami sama-sama
      bernasib "guru" yang katanya pahlawan tanpa tanda
      jasa. Yang membedakan
      sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah sikap
      hidupnya yang amat
      berbudi.
      Darinya saya tahu hakikat nilai di balik materi.

      Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak
      logis untuk membiayai
      seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga
      masih memiliki
      tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya
      hingga selesai SMA.
      Sering pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu
      bapaknya yang tak lagi
      berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika
      gajinya barulah bisa
      mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya
      dikalikan 3 kali dari
      jumlah yang diterimanya.

      "Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan
      angka-angka. Ada
      dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis."

      "Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?"

      "Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan
      menjadi orang pelit.
      Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena
      berapa pun
      sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan
      pernah merasa cukup.
      Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk
      kita saja kurang."

      "Kenyataannya memang begitu kan, Mas?" kata saya
      mengiayakan. "Mana
      mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup
      tenang, bisa sedekah.
      Bisa berbagi." Saya mencoba menegaskan pernyataan
      awalnya.

      "Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir
      matematis. Cobalah keluar
      dari medium itu. Oke, sekarang jawab pertanyaan saya.
      Kita punya uang
      sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga
      ribu. Yang seribu
      kita berikan pada pengemis, berapa sisa uang kita?"

      "Tidak ada. Habis," jawab saya spontan.

      "Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa
      seribu rupiah. Dan
      seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang
      tidak terduga."

      Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya
      agak tercenung
      pada jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana
      mungkin masih tersisa
      uang seribu rupiah? Dari mana sisanya?

      "Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah
      itu, kan sudah
      diberikan pada pengemis," saya tak sabar untuk
      mendapat jawabannya.

      "Ya memang habis, karena kita masih memakai logika
      matematis. Tapi
      cobalah tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada
      logika sedekah.
      Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah,
      bisa jadi
      puluhan lontaran do'a keberkahan untuk kita keluar
      dari mulut pengemis
      itu atas pemberian kita. Itu baru satu pengemis.
      Bagaimana jika kita
      memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar
      Allah. Itu
      menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong
      di akhirat.
      Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang
      abadi. Sementara nilai
      bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC."

      Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang
      dilontarkannya.
      Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui
      contoh kecil yang
      hidup di tengah-tengah kita yang sering terlupakan.
      Sedekah memang
      berat.
      Sedekah menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang
      yang telah merasa
      cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah harta
      tapi tidak mau
      sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia
      merasa masih kurang
      serta sayang untuk memberi dan berbagi.

      Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih
      panjang melalui
      pola hubungan anak dan orangtua. Dalam obrolannya, Mas
      Ajy seperti
      ingin menggarisbawahi, bahwa berapa pun nilai yang
      kita keluarkan untuk
      mencukupi kebutuhan orangtua, belum bisa membayar
      lunas jasa-jasanya.
      Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya,
      dan sejagat haru
      biru perasaannya. Tetapi di saat bersamaan, semakin
      banyak nilai yang
      dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya
      berlipat-lipat.

      "Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan
      nilai matematis
      dengan dimensi sedekah itu?"

      "Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi
      miskin, tapi
      sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat
      dengan
      keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan
      rizki. Ketiga,
      lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas. Dan yang
      terakhir, padukanlah
      nilai qana'ah, ridha, dan syukur".

      Saya semakin tertegun. Dalam hati kecil, saya meraba
      semua garis hidup
      yang telah saya habiskan. Terlalu jauh jarak saya
      dengan Mas Ajy.
      Terlalu kerdil selama ini pandangan saya tentang
      materi. Ada
      keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada.
      Seolah-oleh semua
      penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme
      kecongkakan saya
      dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang
      telah lama
      diabaikan.

      Ya Allah, saya mendapatkan satu untai mutiara melalui
      pertemuan ini.
      Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir
      mutiara lain yang
      masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan.

      "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh)
      orang-orang yang
      menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa
      dengan sebutir benih
      yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir
      seratus biji. Allah
      melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia
      kehendaki. Dan Allah
      Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui." (QS.
      Al-Baqarah [2] :
      261).

      wa bi-lLahi-ttaufiq wa-lhidayah, subhanaka-lLahumma wa
      bihamdiKa
      asyhadu alla Ilaha illa Anta, astaghfiruKa wa atubu
      ilaiK.
      wassalamu 'alaikum

      marine sigit


<Disclaimer> :
This e-mail is confidential. If you are not the intended recipient you must
not disclose, distribute or use the information in it as this could be a
breach of confidentiality. If you have received this message in error,
please advise us immediately by return e-mail and delete the document. The
address from which this message has been sent is strictly for business mail
only and the company reserves the right to monitor the contents of
communications and take action where and when it is deemed necessary. Thank
you for your co-operation.


Kirim email ke