bukan masalah itu bro, sedikit banyak hal ini cukup mempengaruhi perspektif
kita terhadap sesuatu, secara mayoritas. kita senang kalo lagu atau
kebudayaan kita di bawakan oleh bangsa lain bahkan bangga. tp tidak dengan
menjadikannya hak komersial dan mengklaim atas miliknya sendiri. ini yang
tidak di benarkan, suatu saat ente nyanyi lagu rasa sayange atau makan getuk
lindri kudu bayar paten kemereka mau??? kalo mereka mengatakan ini lagu yang
sudah umum di kawasan asean bahkan singapura pun pernah menyanyikannya, tp
apa pernah mereka mematenkannya?? ini yang gak bener, tp gue dah tahu bagai
mana ciri bangsa yang beradab itu, asal jangan kita mengklaim barang mereka
milik kita, justru orang kita yang bodoh, beli barang di sono tp made in
indonesia, kayak gue pas di singapura nyaris ketipu mo beli spatu ternyata
made in cibaduyut, bener gak ada indonesianya, tp gue kan gak bodoh
cibaduyut itu dari mana hhehehehhe...... intinya, sekalipun ini masalah yang
berbau politis dan bukan dalam bidang lingkup bahasan kita, setidaknya kita
mulai sekarang mulai membuka mata kita dan berbenah diri, jangan sampe anak2
kita gak hapal pancasila, atau sumpah pemuda seperti kejadian beberapa waktu
lalu di media tivi. sistem pembenahan harus lebih di fokuskan lagi,
pendidikan sejarah harus di tekankan lebih dari yang lain, intinya agar
mereka tetep memiliki wawasan kebangsaan yang baik.
Gue jujur, lebih senang jaman orde baru, kenapa?? jaman itu politik dan
ekonomi kita tergolong stabil, wawasan kebangsaan kita benar2 terasa utuh.
sekalipun gue puyeng belajar sejarah indonesia, tp sekarang gue sadar bahwa
hal itu sangat penting.

sekarang gue kasih pesen sama anak bini gue, sebisa mungkin hindari
berpergian kemalaysia, karena kerabat dekat gue juga beberapa waktu lalu
ketiban sial di sono, sudah nunjukin pasport asli masih di bilang palsu sama
RELA (pamong praja Malaysia), sampai2 harus berurusan di kantor polisi dan
dipaksa nandatangani statement bahwa kerabat gue telah melakukan tindak
pencurian dan telah di jaminkan, padahal dia ada kepentingan bisnis dengan
rekanan disana. Gue sekalipun dari dulu tidak ada cita2 hijrah kalo terpaksa
ke sana, lebih memilih negara lain sekalipun tidak kaya tp masih beradab.
sorry gue bukan cuma subjektif, tp temen kantor gue juga kawin sama orang
malay, dan dia cerita juga disana kalo keadaan disana seperti apa setiap
kali dia berkunjung ke mertuanya.

So mulai sekarang, ayo, kita pertahankan dan lestarikan budaya bangsa dan
berbuatlah untuk negaramu, lupakan malaysia yang hanya bikin kepala kalian
puyeng, lebih baik gimana caranya IPTN bisa di bangkitkan lagi, karena dulu
gue berkunjung kesana, gue kagum dengan hasil karya bangsa yang bsia sampe
ke negeri korea hingga amerika, bahkan Maleo (Calon mobnas) pun pernah
berada di dalam peti yang siap di kirim ke new zealan dan australia untuk di
pasarkan di sana..... gue tahu bangsa kita pandai, tp yang gue gak tahu,
bangsa kita gampang di perdayai khususnya dengan uang..., guru2 gue juga
banyak di pakai di negeri tetangga, dan selalu bercerita bagaimana mereka
mengajari murid2 disanan bernyanyi lagu nasional indonesia karena mereka
tidak tau lagu daerah atau nasional mereka. Sayang di negara kita, orang
pandai tidak punya tempat, hanya yang punya power saja sekalipun bodoh yang
bisa hidup di sini. berbeda dengan negara tetangga satu saja yang pandai,
minta ampun dihargainya mereka, disini kalo mo dihargai kudu ngeluarin duit
baru bisa di hargai.
Ayo mulai sekarang maksimalkan produk dalam negeri, agar kita bisa tahu
kualitas bangsa kita dan tidak terlalu bergantung pada mereka. ayo, bantu
sodara-sodaramu agar mereka tidak di sebut pendatang haram di negeri yang
mengundang mereka untuk membantu kerjaan mereka. jangan egois, tp pedulilah
barang sedikit.

salam
heru herlambang
malang
"Orang yang prihatin dengan bangsa sendiri"

Pada tanggal 30/10/07, SL. Ibrahim <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
>
>    Duh, biarin az lah malay mo' pake lagu indo.
>
> Artinya bangsa malay cinta Indonesia….
>
> pembelaan kan jelas dibuktikan secara otentik oleh pemerintah kita.
>
> Bahwa karya" kita yang dibajak adalah murni dari budaya indonesia.
>
> Atau jangan" karya pengarangnya sudah dibeli malaysia ( secara malaysia
> lebih kaya dari indonesia )
>
>
>
> Cape euy dengernya. L
>
>
>  ------------------------------
>
> *From:* [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] *On
> Behalf Of *anggoro y
> *Sent:* 30 Oktober 2007 9:06
> *To:* [email protected]
> *Subject:* [mxrider] oot Fwd: Fw: [Guyon-Yook] Makin Taik Aja Malaysia!
>
>
>
>
>
> *Suryanah Tjandra <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:
>
> Date: Mon, 29 Oct 2007 18:35:26 -0700 (PDT)
> From: Suryanah Tjandra <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Fw: [Guyon-Yook] Makin Taik Aja Malaysia!
> To: PTMG PujiRaharjo <[EMAIL PROTECTED]>,
> JCers Angga Gett <[EMAIL PROTECTED]>,
> JCers AndriHerianton <[EMAIL PROTECTED]>,
> JCers DavidLiando <[EMAIL PROTECTED]>,
> SMA2 EfffyIntanSari <[EMAIL PROTECTED]>,
> PTMG mingchemglobalindo <[EMAIL PROTECTED]>, GNA <[EMAIL PROTECTED]>
>
>
>
> ----- Forwarded Message ----
> From: Revan <[EMAIL PROTECTED]>
> To: guyon yook <[EMAIL PROTECTED]>; as rame <
> [EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Monday, October 29, 2007 5:42:01 PM
> Subject: [Guyon-Yook] Makin Taik Aja Malaysia!
>
> Tokyo (ANTARA News) - Konsulat Jenderal RI di Osaka melayangkan surat
> protes kepada Direktur Malaysian Tourism Office di Osaka, menyusul
> penggunaan kembali lagu daerah Indonesia dalam acara Asia Festival 2007 yang
> berlangsung di Osaka pada pertengahan Oktober lalu.
>
> Konsul Jenderal RI Pitono Purnomo mengemukakan hal itu kepada Antara di
> Tokyo, Kamis, ketika dikonfirmasi mengenai aksi "pembajakan" tersebut.
>
> "Kami sudah mengirimkan surat protes kepada pihak Malaysia namun belum ada
> respon sama sekali dari mereka," katanya.
>
> Pihak Konsulat juga sudah melakukan koordinasi dengan pejabat Departemen
> Luar Negeri RI di Jakarta serta petinggi Departemen Kebudayaan dan
> Pariwisata, termasuk Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Kuala Lumpur.
>
> "Surat protes ini penting sebagai peringatan keras terhadap Malaysia agar
> tidak lagi sembarangan menggunakan lagu-lagu Indonesia. Kejadian ini nanti
> bisa diartikan negatif, misalnya seperti menantang Indonesia," ujarnya.
>
> Oleh sebab itu, katanya, pihak konsulat buru-buru mengirimkan surat
> peringatan agar Malaysia bisa menahan diri agar hubungan kedua bangsa
> menjadi semakin memburuk. Terlebih kedua negara merupakan tetangga yang
> dekat.
>
> Lebih jauh ia menjelaskan bahwa sebetulnya Indonesia tidak
> mempermasalahkan penggunaan lagu-lagu Indonesia oleh Negara lain, asalkan
> secara jujur memberikan penjelasan yang lengkap bahwa lagu tersebut berasal
> dari Indonesia.
>
> "Kita sebetulnya bangga juga kalau lagu kita diperkenalkan oleh pihak
> lain, tetapi bukan begitu caranya," kata Pitono lagi.
>
> Ia menegaskan bahwa kesengajaan mengubah sebagian lirik dan aransemen lagu
> oleh pihak Malaysia dapat mengakibatkan penonton beranggapan bahwa
> keseluruhan penampilan baik musik dan tariannya adalah tari dan musik dari
> Malaysia.
>
> Asal Sumbar
>
> Menurut informasi yang diperoleh, penggunaan lagu Indonesia itu diketahui
> saat berlangsungnya acara Asia Festival 2007 yang diikuti oleh Negara-negara
> ASEAN, termasuk Indonesia dan Malaysia pada 12-14 Oktober lalu.
>
> Salah seorang staf konsulat Jenderal Osaka ketika itu tengah menyaksikan
> penampilan tim kesenian Malaysia "Cinta Sayang" pada 14 Oktober lalu. Salah
> satu tarian yang ditampilkan Malaysia menggunakan iringan musik yang berasal
> dari Sumatera Barat (Sumbar), yaitu "Indang Sungai Garinggiang" .
>
> Sebelum dan sesudahnya pihak Malaysian Tourism Office di Osaka yang
> mengelola penampilan tim kesenian tersebut sama sekali tidak memberi
> penjelasan bahwa lagu yang dipakai sebagai musik pengiring tarian itu adalah
> lagu yang berasal dari Indonesia.
>
> Guna memastikan, pihak konjen RI Osaka menghubungi berbagai pihak di
> Jakarta dan juga tokoh-tokoh masyarakat asal Sumatera Barat dan diperoleh
> kepastian bahwa pencipta lagu "Indang Sungai Garinggiang" adalah Tiar Ramon,
> seniman musik dan penyanyi asal Sumbar pada tahun 1981.
>
> "Memang sang penciptanya sudah meninggal, tetapi semua data-data yang kita
> miliki sudah cukup kuat untuk bisa memperingati Malaysia," kata seorang
> warga Minang yang tinggal di Osaka.
>
> Menurut keterangannya, lagu itu diciptakan atas permintaan Pemda Sumbar
> untuk digunakan sebagai musik pengiring "Tari Indang". Lagu itu
> diperkenalkan pertama kali dipertunjukkan secara nasional pada upacara
> pembukaan MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur?an) tingkat nasional di Padang pada
> tahun 1983.
>
> Berdasarkan semua data itulah Konsul Jenderal Osaka Pitono Purnomo
> menyurati Azhari Haron, Direktur Malaysian Tourism Office juga di Osaka pada
> 19 Oktober 2007 untuk memberikan penjelasan yang selengkapnya atas
> penggunaan lagu itu.
>
> Tembusan surat juga dilayangkan ke pihak penyelenggara festival FM Cocolo
> guna mengeRti persoalannya dengan memberikan penjelasan yang lengkap.
>
> Sebelumnya lagu daerah asal Maluku "Rasa Sayange" juga dibajak oleh Negara
> tetangga itu yang semakin menyulut sentimen bangsa Indonesia, menyusul
> serangkaian perlakukan buruk dan meremehkan warganegara Indonesia yang
> bermukim di Malaysia.
>
> *Salam,
>
> **Revantino, S.T.**
> Laboratorium Fisika Bangunan & Akustik
> Jl. Ganesha No. 10 Bandung 40132, Labtek VI
> Telp 022 - 250 4424 ext. 124, 127, 129
> HP. 0856 21 87625
> E-mail: [EMAIL PROTECTED] com, [EMAIL PROTECTED] ac.id***
>
>  
>



-- 
Heru Herlambang
Operational Manager
Galerinet Cybercafe Malang
http://www.galerinet.web.id
http://www.galerinet.org/
KSNET Port Malang (Internet Service Provider)
http://mxrider.or.id/
http://mx135.multiply.com
milis: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke