Note: forwarded message attached.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/net-trade/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 
--- Begin Message --- Menaikkan Harga Bensin Premium

Kwik Kian Gie

JUDUL tulisan ini tidak seperti lazimnya, yaitu
"Mencabut Subsidi BBM". Mengapa? Pertama, lebih
dimengerti rakyat jelata menggunakan istilah "bensin"
ketimbang bahan bakar minyak atau BBM. Kedua, dengan
harga bensin premium yang berlaku sekarang, yaitu Rp
1.810 per liter, pemerintah sama sekali tidak memberi
subsidi. Sebaliknya, pemerintah memperoleh kelebihan
uang tunai.

MINYAK mentah yang ada di bawah permukaan bumi disedot
sampai ke atas permukaan bumi. Untuk itu ada biayanya,
yaitu Rp X per liter. Minyak mentah yang sudah ada di
atas permukaan bumi diproses sampai menjadi bensin.
Biayanya Rp Y per liter. Bensin itu harus diangkut ke
pompa-pompa bensin. Biayanya Rp Z per liter. Rp X + Rp
Y + Rp Z = 10 dollar AS per barrel. Satu barrel sama
dengan 159 liter. Kalau nilai tukar rupiah satu dollar
AS sama dengan Rp 8.600, maka keseluruhan biaya untuk
1 liter adalah (10 x Rp 8.600) : 159 = Rp 540,88,
dibulatkan menjadi Rp 540 per liter. Seperti kita
ketahui, bensin premium dijual dengan harga Rp 1.810
per liter. Jadi, untuk setiap penjualan satu liter
bensin premium, pemerintah kelebihan uang sebanyak Rp
1.270, yaitu kemasukan uang dari menjual bensin
sebanyak Rp 1.810 per liternya dikurangi dengan
pengeluaran uang sebanyak Rp 540 itu tadi.

Ditinjau dari sudut keluar masuknya uang, pemerintah
kelebihan uang tunai. Mengapa dikatakan pemerintah
memberi subsidi ?

Pengertian subsidi

Pemerintah merasa memberi subsidi kepada rakyat yang
membeli bensin premium karena seandainya bensin
premium itu dijual di luar negeri, saat ini harganya
50 dollar AS per barrel. Dengan kurs yang sama, yaitu
Rp 8.600 per dollar AS, harga minyak mentah di luar
negeri per barrel sebesar 50 x Rp 8.600 = Rp 430.000.
Per liternya dibagi 159 atau sama dengan Rp 2.704,4,
dibulatkan menjadi Rp 2.700. Ini harga minyak mentah
di luar negeri. Kalau dijadikan bensin, ditambah
dengan tiga biaya itu tadi, yakni biaya penyedotan,
pengilangan, dan transportasi yang keseluruhannya
berjumlah Rp 540 per liter, maka harga bensin di luar
negeri Rp 2.700 + Rp 540 = Rp 3.240 per liter.

Selisih harga bensin di luar negeri yang Rp 3.240 per
liter dengan harga bensin di Indonesia yang Rp 1.810
per liter ini, atau Rp 1.430 per liternya, ini disebut
subsidi. Pemerintah merasa memberi subsidi karena
tidak bisa menjual bensin dengan harga dunia,
gara-gara adanya kewajiban memenuhi kebutuhan
rakyatnya akan bensin premium dengan harga yang
rendah, yaitu hanya Rp 1.810 per liternya.

Pemerintah jengkel, merasa sial benar tidak dapat
menjual bensinnya di luar negeri dengan harga Rp 3.240
per liter. Seandainya tidak perlu menjual kepada
rakyatnya sendiri dengan harga Rp 1.810, pemerintah
akan memperoleh tambahan pendapatan sebesar selisihnya
yang disebut "subsidi" itu tadi sebesar Rp 3.240 - Rp
1.810 atau Rp 1.430 per liternya. Bayangkan, berapa
kesempatan yang hilang. Ya, kesempatan itulah yang
hilang, bukan uang tunai.

Jadi, jelas kiranya, yang dinamakan subsidi itu
pengertian abstrak yang sama sekali tidak berimplikasi
adanya uang keluar. Dalam kenyataan pemerintah
mendapatkan kelebihan uang. Hanya, kelebihannya tidak
sebesar seandainya rakyat Indonesia diharuskan membeli
bensin produksi dalam negeri dengan harga dunia.

Berapa kelebihan uang pemerintah?

Angkanya yang pasti tidak dapat saya peroleh karena
saya tidak berhasil mendapatkan kuantitas minyak
mentah yang menjadi haknya bangsa Indonesia.

Sekitar 92 persen dari minyak mentah kita disedot oleh
kontraktor asing. Hasilnya dibagi antara kontraktor
asing dan bangsa Indonesia yang memiliki minyak mentah
karena terdapatnya di dalam perut bumi Indonesia.
Perhitungannya ruwet sekali.

Yang sering kita dengar hanyalah kontrak bagi hasil
antara pemerintah yang diwakili oleh Pertamina dan
kontraktor asing dalam perbandingan 85 persen untuk
bangsa Indonesia dan 15 persen untuk kontraktor asing.
Tetapi, ada faktor-faktor lain yang membuat ruwet
seperti apa yang dinamakan cost recovery, pro rata,
dan in kind dasehingga kita sulit mendapatkan angkanya
yang eksak. Maka, kita katakan saja minyak mentah yang
menjadi haknya bangsa Indonesia netonya sebesar Q
liter per tahunnya. Kelebihan uangnya per tahunnya ya
Q liter dikalikan dengan Rp 1.270 itu tadi. Jumlah ini
banyak sekali. Kalau kita andaikan bersihnya 70 persen
dari produksi minyak mentah yang 1,125 juta barrel per
hari hak bangsa Indonesia, ini sama dengan 70 persen x
1.125.000 barrel atau 787.500 barrel per hari atau
125.212.500 liter per hari, yaitu 787.500 barrel
dijadikan liter dengan mengalikannya dengan 159 (1
barrel = 159 liter). Per tahunnya dikalikan 365
menjadi 45.702.562.500 liter. Kelebihan u! ang per
liternya Rp 1.270. Jadi, kelebihan uang per tahunnya
adalah 45.702.562.500 x Rp 1.270 atau Rp
58.042.254.375.000

Harus impor

Kebutuhan bensin kita 60 juta kiloliter per tahunnya
atau 60.000.000.000 liter. Produksinya seperti kita
lihat tadi, hanya 45.702.562.500 liter. Maka, kita
harus impor sebesar 14.297.437.500 liter. Ini harus
dibayar dengan harga dunia sebesar Rp 3.240 per
liternya, atau Rp 46.323.697.500.000.

Jadi, ada kelebihan uang sebesar Rp
58.042.254.375.000. Tetapi, ada kebutuhan impor dengan
jumlah uang sebesar Rp 46.323.697.500.000. Alhasil
masih ada kelebihan uang sebesar Rp
11.718.556.875.000. Masih kelebihan uang

Jadi, walaupun sebagian dari kebutuhan bensin harus
diimpor dengan harga dunia, masih ada kelebihan uang
tunai sebesar Rp 11.718.556.875.000

Harga bensin terlampau murah

Apakah harga bensin premium yang Rp 1.810 per liternya
itu tidak terlampau murah? Rasanya ya karena satu
botol Coca Cola di restoran dijual Rp 10.000 sampai Rp
15.000. Maka, kalau mau dinaikkan memang pantas,
asalkan kenaikannya tidak terlampau memberatkan.

Dengan menaikkan harga bensin premium, pemerintah
memang mendapat pemasukan lebih besar yang dapat
dipakai untuk tujuan-tujuan baik atau dikorupsi.

Tetapi, kalau dikatakan bahwa harga bensin premium
tidak dinaikkan, pemerintah harus keluar uang sekitar
Rp 10 triliun per bulannya jelas tidak betul. Yang
betul malah kelebihan uang sebesar Rp 11,73 triliun
per tahun.

Keseluruhan gambaran dari tulisan ini sangat amat
disederhanakan dari kenyataan. Demikian juga
angka-angkanya. Tulisan ini adalah model untuk
mendapat pengertian yang sebenarnya. Jadi, bukan
angka-angka eksak yang dipentingkan. Maksudnya hanya
menjelaskan bahwa tanpa menaikkan harga bensin
premium, pemerintah sudah kelebihan uang tunai dari
keseluruhan eksploitasi minyak mentah untuk dijadikan
bensin premium.

Apakah harganya terlalu rendah sehingga perlu
dinaikkan adalah urusan lain lagi. Tetapi, jangan
menakut-nakuti rakyat dengan mengatakan kalau tidak
dinaikkan sampai harga dunia, pemerintah harus keluar
uang Rp 10 triliun per bulannya, dan karena itu
keuangan negara menjadi bangkrut.

Artikel ini hanya membahas bensin premium, belum
bensin pertamax dan pertamax plus serta gas yang
semuanya surplus lebih besar lagi

Kwik Kian Gie Mantan Menteri Negara Perencanaan
Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencana
Pembangunan Nasional


=====

Odnamee






__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com


--- End Message ---

Kirim email ke