Ehhmm... di karaoke room ma bokin juga seruu... ad yg ud prnh coba...??? 
wkwkwkwwwwwwww....

--- In [email protected], dedy kusnaedi <accord...@...> wrote:
>
> Ini klo boleh tau disadur dari pengalaman lo kan dan!!!...klo nga salah 
> loh...kwkwk...untung ama cewe!!! coba klo ama cowo...maho disini pasti pada 
> intens bacany!!!!!!!...
>  
> wkwkwkk...acau..lo klo ditanya ama polisi...jangan bawa'' nama g ya!!! wkwk
> 
> --- Pada Sen, 8/6/09, Danny Siwu <danny.s...@...> menulis:
> 
> 
> Dari: Danny Siwu <danny.s...@...>
> Topik: [ninja_gokill] OOT : Nambah Ilmu :P
> Kepada: [email protected]
> Tanggal: Senin, 8 Juni, 2009, 4:28 PM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Menerabas Mitos Seks
> 
> Faktanya, mitos itu cenderung merugikan.
> 
> http://www.korantem po.com/korantemp o/koran/2009/ 06/03/Gaya_ Hidup/krn. 
> 20090603. 166973.id. html
> Sepasang anak muda mengendap-endap dalam gelap malam. 
> Di kamar sebuah losmen kecil dekat situ di pinggiran Jakarta . 
> Dalam ruangan yang terkunci mereka mencopot baju sampai bertelanjang bulat. 
> Kemudian saling menjamah dan berbalas cium. 
> Suara keduanya mendesah. 
> Adegan bercinta ini mereka tidak lakukan sekali-dua kali. 
> Padahal mereka masih menyandang status sebagai murid sekolah menengah atas. 
> Sebut saja namanya Randi dan Santi. 
> Setiap kali berpacaran, keduanya kerap menyewa hotel jam-zaman untuk memadu 
> kasih. Malah kalau kepepet, mereka biasa berbulan madu di warung Internet 
> yang biliknya tertutup. Bagi Randi, dia merasa aman berhubungan intim dengan 
> Santi. 
> Sebab, ia tidak membuang air maninya di dalam vagina. 
> Randi juga percaya bahwa bercinta di dalam air akan membunuh sperma yang 
> telanjur menerobos vagina, sehingga kehamilan pun tak bakal terjadi. 
> Inilah rumus yang ia yakini. 
> Namun, menurut pengasuh rubrik kesehatan di salah satu majalah kesehatan 
> nasional, dr Handrawan Nadesul, pendapat Randi cuma mitos. 
> Melakukan hubungan seksual dengan senggama terputus tak berarti aman dari 
> kehamilan. "Tetap ada potensi pembuahan," katanya seusai diskusi bertajuk 
> "Percaya Mitos, Menguntungkan atau Merugikan?" di Hotel Atlet Century, 
> Jakarta , pekan lalu.. 
> Menurut Handrawan, saat ejakulasi belum berlangsung, titik-titik air mani 
> sebenarnya sudah ada di permukaan liang penis. 
> Sperma itu jumlahnya ratusan juta dan hanya dibutuhkan beberapa saja untuk 
> membuahi sel telur. 
> Lain lagi mengenai mitos bahwa hubungan seksual di dalam air bakal 
> melumpuhkan sperma. Dalam buku Mitos Seputar Masalah Seksualitas dan 
> Kesehatan Produksi karya dr Kartono Mohamad dan dr Handrawan Nadesul, 
> dijelaskan, sebagian sperma memang mati dalam air. Air panas membuat testikel 
> menjadi kepanasan dan sperma mati. 
> Tapi metode tersebut bukanlah metode efektif untuk mencegah kehamilan. 
> Sebab, sperma berkualitas bagus tetap berpotensi meloloskan diri dan berenang 
> ke dalam vagina. 
> Handrawan, yang juga penyair, menjelaskan bahwa mitos seks berkembang secara 
> turun-temurun selama puluhan tahun. 
> Sewaktu mengasuh majalah Kartini dan Hai pada 1970-an dan 1980-an, dia kerap 
> menerima surat-surat seputar mitos seks yang tumbuh di masyarakat. 
> Sampai-sampai dia menganggap bahwa sederet mitos itu menyesatkan. 
> "Mitos itu biasanya diberi tahu teman, orang tua, maupun berasal (dari) 
> tradisi dan kultur," pria kelahiran Karawang ini menjelaskan. 
> Sementara itu, mantan Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia , dr 
> Kartono Mohamad, menyatakan mitos itu muncul karena kurangnya informasi untuk 
> menjelaskan sebuah fenomena. 
> Biasanya masyarakat menelan mentah-mentah karena diyakini sebagai sesuatu hal 
> yang benar meski belum tentu dapat dibuktikan kebenarannya.
> "Faktanya, mitos itu cenderung merugikan," ia menegaskan. 
> Sebut saja mitos keperkasaan seorang lelaki ditandai dengan ukuran penisnya 
> yang besar. Akibatnya, para lelaki berlomba memperbesar penis mereka dengan 
> segala cara. 
> Mereka berburu obat perkasa dan pengobatan ala Mak Erot dengan tarif ratusan 
> ribu rupiah. Padahal, definisi keperkasaan pria, dijelaskan Handrawan, yang 
> penting adalah subur, mampu ereksi, dan bisa menghamili (bisa membahagiakan 
> istri). 
> "Tiga itu saja," dia menambahkan. 
> Sebab, G-spot atau sensitivitas vagina cuma sepertiga dari kedalaman vagina.. 
> Sepertiga dari kedalaman vagina itu cuma 6 sentimeter. 
> Artinya, penis yang berukuran 6 sentimeter pun sebenarnya sudah cukup membuat 
> perempuan "bahagia". 
> Lagi pula jarang sekali penis lelaki berukuran 6 sentimeter. 
> "Paling kecil biasanya 10 sentimeter. Jadi, nggak perlu besar-besar." 
> Dari kalangan kaum Hawa, ada juga yang beranggapan bahwa vagina yang kering 
> bisa memberi kepuasan lebih ketimbang yang becek, sehingga banyak perempuan 
> ramai-ramai makan buah pinang agar alat vitalnya menjadi kering. 
> Padahal, normalnya, perempuan yang terangsang secara seksual akan bereaksi 
> dengan mengeluarkan lendir dari dinding vaginanya. 
> Nah, cairan ini berfungsi sebagai pelicin. 
> Bila keadaannya masih kering, berarti vagina belum siap untuk dipenetrasi. 
> Jika dipaksakan, bisa lecet, luka, dan terjadi peradangan dalam vagina.. 
> Adapun makna kering atau "peret", kata Handrawan, bukan diartikan tidak 
> becek, melainkan kemampuan otot-otot dinding vagina yang berkontraksi. 
> Kemampuan otot-otot dasar panggul inilah yang membedakan kualitas seks 
> seorang perempuan. 
> Lebih dalam, ada mitos populer yang menyebutkan, cara menggugurkan kandungan 
> yang aman adalah dengan meloncat-loncat, lalu makan nanas muda. 
> Padahal secara medis sudah jelas bahwa loncat-loncat tidak akan mengeluarkan 
> sperma. Dan tetap ada kemungkinan terjadinya pembuahan. 
> Ada pula mitos yang mengatakan perempuan remaja yang belum haid tidak mungkin 
> dapat hamil. 
> Namun, ditemukan sejumlah remaja yang sudah ovulasi (sel telurnya matang) 
> sebelum menstruasi datang, sedangkan kehamilan itu berkaitan dengan ovulasi. 
> Artinya, tak berarti remaja yang belum haid tidak bisa hamil. 
> 
> Yang lebih populer adalah mitos mengenai kewajiban sunat pada perempuan di 
> beberapa daerah. Guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas 
> Indonesia , Profesor dr Budi Utomo, mengatakan dari sudut medis, sunat 
> perempuan itu sebenarnya tidak baik. 
> Hal ini cuma refleksi konstruksi sosial bahwa lelaki memiliki kewenangan 
> mengontrol organ seksual perempuan. 
> "Apalagi ini terkait dengan agama dan budaya," ujar Budi dalam kesempatan 
> yang sama. Namun, di beberapa daerah Indonesia , sunat perempuan dilakukan 
> secara simbolis saja, tidak secara medis (dipotong klitorisnya) . 
> "Paling cuma dioles kunyit saja," ujar profesor yang juga Ketua Yayasan Mitra 
> INTI ini. 
> 
> Mitos-mitos seks yang tumbuh subur di masyarakat seperti di atas mungkin 
> didorong belum masuknya pendidikan seksual di bangku sekolah. 
> Akibatnya, masyarakat awam seperti tersesat di dalam hutan belantara. 
> Padahal di Malaysia dan Singapura, pendidikan seks sudah masuk kurikulum 
> taman kanak-kanak. . 
> Malah di Amerika, saat perempuan mendapat haid pertama kali, secara terbuka 
> diberi selamat oleh orang tuanya dan dipesan agar menjaga diri. 
> "Pendidikan seks itu pendidikan nilai, sehingga membuat seseorang menghargai 
> dirinya sendiri," demikian kata Handrawan. HERU TRIYONO 
> 
> 6 Kesalahan Pandangan 
> - Berhubungan seksual di dalam air akan membuat sperma mati. 
> - Penis yang besar merupakan representasi keperkasaan pria. 
> - Vagina yang dianggap dapat memuaskan pasangan adalah vagina yang kering. 
> - Menggugurkan kandungan bisa dengan cara meloncat-loncat dan makan nanas 
> muda. 
> - Perempuan belum haid tidak bisa hamil. 
> - Kaum Hawa wajib sunat.
>  
> 
> 
> --- 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>       Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk 
> Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka 
> browser. Dapatkan IE8 di sini! 
> http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer
>


Kirim email ke