Salam,
Agama Kristen dan Islam( sebenarnya semua agama tetapi yang berpropaganda ala 
komunis hanya 2 agama ini). setelah 2000 tahun terbukti tidak membuat manusia 
dan dunia menjadi lebih baik. Bahkan lebih terpuruk seperti  sekarang.
Karena itu SADARLAH( suatu harapan kosong dan tidak munkin terlaksana karena  
ybs sudah dicuciotak ala komunis sedari dalam kandungan oleh orang tua dan 
linkungannya). Karena itu dipersilahkan  menjalankan agama masing2 yang 
dipercayainya  SE-BAIK2NYA dan menjadi HAL sepenuihnya dari masing2 manusia 
untuk melakukan demi KEBAHAGIAANNYA.. tanpa MENGGANGGU orang lain.
Dengan  STOP  propaganda agama  sesuai doktrin dalam GOSPEL dan DAKWAH yang 
LEBIH menyesatkan manusia seperti terbukti sekarang ini.

Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Ming, 25/7/10, dede wijaya <[email protected]> menulis:


Dari: dede wijaya <[email protected]>
Judul: -:: Milist NB::- PENTINGNYA KEBENARAN
Kepada: "ishak sugianto" <[email protected]>
Tanggal: Minggu, 25 Juli, 2010, 6:02 PM


  








PENTINGNYA KEBENARAN

Belilah kebenaran dan jangan menjualnya (Amsal 23:23a)


Kebenaran merupakan hal yang terbaik dan terindah di dunia, meskipun sukar dan 
mengecilkan hati. Tetapi toh kita selalu bersikap ambivalen dan ambigu terhadap 
kebenaran, ketika kebenaran membawa kita ke tempat yang tidak kita inginkan. 
Ada orang yang gembira, bersyukur tak kala kebenaran menghampirinya. Mereka 
akan melakukan apa saja untuk memperoleh kebenaran (lihat: Mat. 13:44-45). Ada 
pula yang gugup, takut, dan menjauh ketika kebenaran mulai tampat jelas di 
depan matanya (band: Yoh. 6:66). Bisa jadi, harga yang harus dibayar untuk 
kebenaran terlalu besar. Kendati, pada abad mula-mula sampai pertengahan, harga 
memiliki kebenaran sejati adalah nyawanya sendiri.


Sejarah gereja penuh dengan jejak darah orang-orang yang mempertaruhkan 
nyawanya demi kebenaran. Jhon Bunyan dipenjarakan selama 12 tahun karena 
kebenaran. Jhon Hus dibakar hidup-hidup, Marthin Luther dikejar-kejar, Felix 
Manz ditenggelamkan hidup-hidup karena kebenaran, dan ada jutaan orang percaya 
yang dibunuh, dianiaya karena kebenaran.

Oleh sebab itu, orang-orang Kristen di zaman ini seharusnya malu karena tidak 
mau membayar harga sedikit untuk sebuah kebenaran. Padahal harga yang 
seharusnya mereka bayar tidak sebanding dengan orang-orang Kristen sebelumnya. 
Paling banter mereka ditinggalkan teman-teman atau dijauhi keluarga. Andai saja 
mereka mau merenungkan ganjaran bila mereka menerima kebenaran, nyawa pun akan 
mereka korbankan. 



Membeli kebenaran memang ada harga yang harus dibayar (Amsal 23:23). Namun, 
bila kita merenungkan kembali bagaimana Yesus Kristus dengan rela memberi 
diriNya disiksa, dipukul, dicambuk, direndahkan dan dibunuh, betapa kecilnya 
harga yang harus kita bayar. Lagi pula kebenaran akan membuahkan berkat rohani 
yang tak ternilai harganya.


Jika hari ini Anda menerima kebenaran, dampak rohani terhadap diri Anda besar 
sekali. Kehidupan rohani Anda akan bertumbuh pesat. Anda akan mengerti agenda 
Allah dan menjadi alat yang sangat efektif dalam rencana besar Allah. Tidak 
berhenti di situ, dampak rohaninya akan menular kepada anak-anak Anda dan 
orang-orang disekitar Anda. Pada akhirnya keputusan Anda akan menyelamatkan 
generasi ini dan generasi yang akan datang. Pilihan ada pada Anda dan Saya. 
Anda memilih menjadi penonton setia atau pelaku kebenaran. Ingat! Keputusan 
Anda akan Anda pertanggung jawabkan kelak dihadapan Tuhan (1Kor. 3:13; 2Kor. 
5:10).


GBIA berkomitmen dan bertekat memperjuangkan kebenaran-kebenaran sejati tanpa 
kompromi, meski sadar feedback-nya cukup besar. Apa yang kami lakukan bukan 
untuk GBIA sendiri, tetapi untuk kebaikan semua orang. Dan perjuangan ini akan 
terasa ringan bila ada orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan turut 
serta menjadi pembela-pembela kebenaran.


Mengapa kebenaran penting ?
Mengapa kebenaran begitu sangat penting? Bukankah kebenaran akan berdiri tegak 
sendiri tanpa harus ditegakkan? Itu benar, Jika kita semua adalah robot dan 
iblis tidak pernah ada. Kebenaran menjadi mahal harganya dan harus ditegakkan, 
dikarenakan kebenaran sedang diserang. Yang lebih menakutkan adalah 
kebenaran-kebenaran Kristen sedang gencar dipalsukan. Keputusan Anda menjadi 
penonton hanya akan membawa malapetaka besar di dunia ini. Pikirkan itu!


1. Kebenaran penting karena inti kepercayaan kita dipertaruhkan.
Teolog Kristen, J. Gresham Machen, berpendapat, “apabila doktrin dan kebenaran 
Alkitab ditinggalkan maka bukan kekristenan liberal yang kita dapatkan, 
melainkan suatu agama yang sama sekali berbeda, yakni agama palsu.” Kita 
melihat bagaimana hal ini membuat gereja-gereja arus utama merosot pada abad 
lalu dan hingga sekarang ini. Gereja-gereja konservatif pun terancam bahaya 
yang sama hari ini. Jajak pendapat yang dipublikasikan dari tahun ketahun 
menunjukkan kemerosotan signifikan. Barna Research Group, sebuah badan riset 
yang paling kredibel di dunia mendapati 49 persen pendeta Protestan menolak 
kepercayaan inti Alkitab (www.worldmag. com). Pada tahun 2005 saja, Barna 
Research mengadakan jajak pendapat dikalangan Kristen dengan tema “Belief: 
Heaven and Hell”. Hasilnya, 54 % orang Kristen percaya bahwa jika seseorang itu 
secara umum baik, atau melakukan perbuatan baik bagi orang lain selama hidup 
mereka, mereka akan mendapatkan tempat di surga,
 dan 39 % percaya sesuai dengan Alkitab bahwa seseorang harus bertobat dan 
percaya jika ia ingin ke sorga (www.georgebarna. com). 
Saya sendiri (Gbl. Alki) baru-baru ini mendengar seorang pendeta yang melayani 
disebuah gereja besar di Depok yang mengatakan bahwa Yesus bukan satu-satunya 
Juruselamat. Ada lagi seorang hamba Tuhan yang menyandang gelar S.Th pernah 
berdiskusi dan menurutnya, “Semua agama sama, berbeda jalan, namun menuju 
terminal yang sama.” Artinya, Pendeta itu inging berkata, “semua agama sama 
saja, meskipun namanya berbeda, namun semua akan menuju ke sorga.” Fenomena 
mengerikan ini sedang menghancurkan kekristenan. Atas nama pluralisme dan 
toleransi, inti kebenaran telah khianati. Alhasil, iman Kristen kini dipandang 
sekedar salah satu kepercayaan biasa yang sama dengan agama-agama lainnya. 
Setiap penyimpangan doktrin disikapi dengan tenggang rasa. Coba pikirkan, Jika 
Kekristenan tidak bedanya dengan Islam, Katolik, Hindu dan Budha, maka tidak 
ada alasan bagi kita untuk mempertahankan iman Kristen, dan semua klaim-klam 
mengenai kebenaran Kristen adalah
 kebodohan dan juga, semua misionaris, penginjil, dan duabelas murid yang telah 
mempertaruhkan nyawanya demi kebenaran yang mutlak eksklusif dan antithesis 
adalah orang-orang bodoh. Pada akhirnya, kekristenan kata seorang atheis, 
Friedrich Nietzsche, “akan hilang sendirinya.”


2. Tanpa kebenaran, injil diselewengkan.
Melemahkan komitmen kita kepada kebenaran memungkinkan kita merusak injil tanpa 
menimbulkan protes siapa pun. Anda bisa membuktikannya dengan menghadiri gereja 
lain secara acak. Anda akan menemukan injil-injil murahan sedang dikhotbahkan 
di mimbar-mimbar gereja. Para pengkhotbah tidak lagi mengkhotbahkan pertobatan 
sebagai tema utama (Mat.3:2; 4:17; Kisah.2:38; 20:21). Berita tentang dosa 
nyaris tak terdengar. Akibatnya, dosa tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang 
sangat menjijikkan, melainkan suatu kelemahan biasa, lumrah dan bisa dimaklumi. 
Berkat, Mujizat, kaya, kasih, sukses, telah menjadi tema utama (2Tim.4:3-4) . 
Sementara itu, mereka yang jujur memberitakan kebenaran dianggap tidak toleran, 
tidak punya kasih, menghakimi dan kaku. Banyak Hamba-hamba Tuhan, karena 
khawatir tidak diundang lagi, mereka mendisain ulang Injil menurut selerah 
orang. Asal jemaat senang, racun diubah menjadi madu.


3. Menolak kebenaran mengakibatkan buta Alkitab.
Bahwa kebenaran sudah ditinggalkan terbukti dari meluasnya buta Alkitab. 
Tanyakan pada diri Anda sendiri seberapa sering Anda membaca dan merenungkan 
firman Allah dalam sehari? Apakah gereja di mana Anda berjemaat menuntun Anda 
agar hidup Anda melekat dengan Alkitab? Apakah gereja Anda mengadakan 
kelas-kelas study Alkitab supaya Anda paham dan mengerti isi Alkitab, bahkah 
Anda sanggup menjelaskan kebenaran Alkitab kepada orang lain? Yang saya 
saksikan justru mengerikan. Sangat sedikit orang Kristen yang telah membaca 
habis Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu. Sangat sedikit orang Kristen yang 
paham mengenai pokok-pokok iman Kristen, apalagi menjelaskannya. Jangan heran 
bila dosa semakin merajalela.
4. Menolak kebenaran menyebabkan kebingungan etika.
Menyangkal kebenaran wahyu Allah merusak setiap upaya untuk menghadapi 
pertanyaan-pertanya an etika kontemporer, khusunya dalam hal seks, yang punya 
peran besar dalam seluruh kehidupan kita. Sering kali di situlah kita ingin 
mengarang aturan sendiri. Limapuluh tahun lalu kita akan sulit menemukan 
sepasang laki-laki dan perempuan yang hidup bersama tanpa ikatan perkawinan. 
Begitu juga dengan mereka yang hamil di luar pernikahan. Apalagi perselingkuhan 
dan perceraian. Perbuatan-perbuatan demikian masih dianggap aib atau dosa besar 
yang sangat memalukan. Tetapi, di abad 20 s/d 21, hal-hal itu dianggap lumrah, 
lazim atau biasa. Hamba Tuhan yang mengecam dosa-dosa itu dianggap kejam, tidak 
punya kasih dan ekstrim. Parahnya lagi, banyak dari mereka yang melakukan 
perbuatan demikian mendapat jabatan penting dalam gereja. Oh, jangan 
menghakimi…. Oh, jangan bilang itu salah…. Oh, semua orang melakukanmya… itulah 
slogan mereka (band: Mat. 5:37; Yoh. 7:24). 



Belum lama ini ada gereja yang meneguhkan pasangan yang ternyata salah satunya 
masih beristri. Anehnya, ketika pasangan ini tahu bahwa perbuatan itu salah, 
bukannya bertobat, mereka meneruskan perbuatan dosa mereka. Dan salah satu dari 
pasangan itu sangat giat melayani di beberapa gereja. Ketika kebenaran 
dikompromikan, akibatnya sangat besar dan terus membesar. Ketika gereja 
menurunkan standart kebenaran, dunia akan mempertontonkan etika buatan iblis, 
yakni: Seks bebas, pembrontakan anak kepada orangtua, anarki, perselingkuhan, 
perzinahan, percabulan, mementingkan diri sendiri, tinggi hati, sombong, dll 
(2Taw. 15:3-6). Mengenai keluarga, George Barna pernah mengadakan riset Pada 
tahun 2007, persentase kelahiran yang terjadi di luar nikah di Amerika mencapai 
40%. Ini adalah dua kali lipat dibandingkan dengan 1980 dan delapan kali lipat 
dari 1950. Di Islandia, 66% kelahiran terjadi pada wanita yang belum menikah; 
di Swedia, 55%; di Norwegia 54%; di
 Denmark 46%. Lagi-lagi, ketika kebenaran Alkitab dikompromikan, hasilnya 
seoerti ini. Firman Allah memperingatkan: “Kebenaran meninggikan derajat 
bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa” (Amsal 14:34).


5. Menolak kebenaran menuntun kepada ilah-ilah palsu.
Ketika Tuhan Alkitab ditolak, orang pun memilih ilah baru. Zaman pascamodern 
telah melantik toleransi sekuler sebagai ilahnya. Dulu teleransi berarti 
mendengarkan semua titik pandang dengan penuh hormat, bebas berdiskusi untuk 
sama-sama mencari kebenaran. tetapi pengakuan iman bagi toleransi, ilah baru 
itu, adalah kebenaran mustahil diketahui. Jadi, setiap orang bebas berpikir dan 
bertindak sesukanya, dengan satu kekecualian: Orang-orang yang berani percaya 
bahwa mereka mengetahui kebenaran, khususnya jika mereka berpikir bahwa Allah 
yang mengungkapkan kebenaran itu kepada mereka, tidak boleh ditoleransi. 
Akibatnya, orang-orang yang memahkotai ilah baru toleransi menjadi wasit mutlak 
atas budaya. Ilah baru toleransi menjadi dalam kedok liberalisme, tiran mutlak. 



Ilah toleransi benci kepada orang Kristen yang mengusung klaim kebenaran. 
Tetapi satu-satunya yang dibencinya melebihi mereka ini adalah orang Kristen 
yang membuktikan dan menyebarkan kebenaran itu. Mengapa kebenaran sangat 
penting? Karena gereja benar-benar tidak bisa menjadi gereja tanpa memihak 
kebenaran. Yesus datang sebagai jawara kebenaran dan sosok yang memihak 
kebenaran. Tanpa kebenaran, gereja berpaling kepada penggunaan terapi dan 
mendapatkan pasien, bukan murid.


Tugas angkatan ini sama seperti setiap angkatan adalah memahami kekristenan 
sebagai pandangan lengkap tentang dunia dan tempat manusia di dalam dunia, 
yaitu sebagai kebenaran. Jika kekristenan bukan kebenaran, ia bukan apa-apa, 
dan iman kita hanyalah perkara yang sentimentil belaka atau mungkin tahayul. 
(by: Gbl. Alki Tombuku GBIA Komunitas Depok)




Recent Posts

Apakah KEBENARAN itu? 
KEKHUSUSAN PANDANGAN ALKITAB TENTANG KEBENARAN 
PENTINGNYA KEBENARAN 
KOMPAS ETIKA 
Berita Mingguan 17 Juli 2010 
Berita Mingguan 10 Juli 2010 
24 Rekor Dunia yang dimiliki Indonesia 
Berita Mingguan 03 Juli 2010 
Berita Mingguan 26 Juni 2010 
Berita Mingguan 19 Juni 2010 
Foto-Foto Unik Pernikahan 
IKAN RAKSASA 
Ir. Basuki Tjahaja Purnama, MM Menuju Gubernur 2015 dan Presiden RI 2024 
PDF Buku “Merubah Indonesia” 
Berita Mingguan 12 Juni 2010 

Dede Wijaya
TOKO BUKU ROHANI DIGITAL
http://kristen- fundamental. blogspot. com
http://www.kristenf undamental. co.cc
http://dedewijaya. blogspot. com
http://dedewijaya83 .blogspot. com
http://dedewijaya. multiply. com
http://dedewijaya83 .multiply. com
http://dedewijaya. wordpress. com
http://www.webkrist iani.co.cc
http://www.kompasia na.com/

http://gbiimaliobor o.wordpress. com/







Kirim email ke