> Wal Suparmo <wal.supa...@...> wrote:
> Kemungkinan adanya korupsi memang 90%,
> kalaupun bukan oleh Pertamina sendiri,
> pasti oleh agen2 RESMINYA yang mencampur
> dengan oksidator supaya beratnya
> bertambah tetapi menambah tekanan yang
> juga memicu ledakan.

Kalo oksidatornya itu dari gas oksigen murni yang biasa dijual kepada tukang 
las rasanya memang tidak mungkin, karena gas oksigen ini juga harganya lebih 
mahal atau hampir sama dengan elpiji itu sendiri.

Oksigen itu memang merupakan bahan oksidator atau pembakar, tetapi bukan 
berarti harus dari produk gas oksigen murni yang digunakan tukang las.  
Oksidator ini bisa dari "air", karena penguraian air ini juga akan menghasilkan 
oksigen yang bisa membuat tabung elpiji meledak.  Apalagi campuran air dan 
karat didalam tabung malah akan merupakan sumber oksigen yang paling manjur 
untuk membuat tabung elpiji meledak.

Kemungkinan memang ini ulah pertamina atau pengecer2nya yang tidak memahami 
reaksi oksidasi dari karat2 didalam tabung yang meskipun sedikit apabila gas 
elpiji ini dicampur air sebanyak 10% saja tentunya akan menambah berat tabung 
elpiji-nya sangat banyak.  Air itu murah, dan sebagai campuran dianggap pengisi 
cairan gas elpiji ini tentu tidak berbahaya, mereka pikir paling juga kompornya 
cuma bler plep, sebentar nyala dan sebentar mati, tidak terpikir malah 
kompornya jadi meledak.

Padahal kalo saja mereka ingat bahwa tukang las itu bisa membuat tabung las-nya 
meledak dengan mencampurkan karbid dengan air.  Tanpa adanya air maka tabung 
las juga tidak bisa meledak.

Jadi KEMUNGKINAN yang PALING BESAR, meledaknya tabung elpiji ini karena 
dicampur isinya dengan air.  Air itu selain murah, juga sangat berat dan 
dianggap tidak berbahaya, dianggap tidak mungkin bisa meledak.


> Kemudian PENYUNTIKAN atau oplosan dalam
> memindahkan tabung 5 kg yang bersusidi
> ke 12 kg, serta adanya slang dan
> regulator palsu (tidak memenuhi standard).

Biarpun slangnya bocor dan regulatornya palsu tidak mungkin bisa bikin meledak 
tabung elpiji.  Ledakan itu khan terjadinya akibat tekanan dalam tabungnya yang 
meninggi dan kalo slang atau regulatornya bocor malah tekanannya jadi menurun 
tidak bakalan meledak.

Namun masalahnya bukan begitu, akibat adanya oksidator didalam gas elpiji, 
menyebabkan tekanan dalam tabung ini meninggi, dan apabila disulut api maka api 
itu menyambar gas elpiji didalam tabung yang sudah bercampur dengan 
oksidatornya ini, akibatnya tekanannya jadi sangat tinggi melebihi batas ambang 
yang dibolehkan, maka meledaklah tabung ini bagaikan bomb atom.

TANPA ADANYA OKSIDATOR DIDALAM TABUNG YANG BERCAMPUR DENGAN GAS ELPIJI TIDAK 
AKAN MUNGKIN TABUNGNYA MELEDAK.

Gas elpiji yang murni yang keluar dari slang, akan bercampur dengan oksigen 
diluar tabung sehingga api kompor bisa menyala.  Karena oksigennya berada 
diluar tabung, maka nyala apinya juga cuma bisa diluar tabung.  Tapi kalo ada 
oksigennya juga didalam tabung, maka nyala apinya juga menyambar kedalam tabung 
akibatnya timbul tekanan yang maha dahsyat, maha tinggi, dan tabung elpiji akan 
meledak seperti yang telah terjadi diberbagai tempat diseluruh Indonesia.

Siapa yang salah dalam hal ini harus menyewa konsultant agar mereka yang jadi 
korban ledakan elpiji ini bisa mendapatkan ganti kerugian.  Namun siapapun yang 
bersalah, karena Pertamina merupakan satu2nya perusahaan monopoli penjualan gas 
diseluruh Indonesia, tetap saja pihak Pertaminalah yang harus memberi ganti 
rugi, sedangkan pelaku2 yang bersalah menjadi tanggung jawab Pertamina untuk 
memecatnya atau menuntutnya kemuka pengadilan.

Ny. Muslim binti Muskitawati.





Kirim email ke