> Wal Suparmo <wal.supa...@...> wrote:
> Abbas yang mewarisi Palestina Fatah
> dari Yasser Arafat adalah pluralis
> dan menjadi lawan dari  Hamasnya
> Hanniyef yang  hendak membentuk
> negara Islam dan tetap mau
> melemparkan Israel kedalam laut Tengah.
> Semua kegalan perundingan disebabkan
> sikap Hamas yang menguasai Gaza.
> yang antara lain di dukung Indonesia.
> 

Kenyataannya memang demikian, tapi karena secara resminya yang jadi presiden 
itu adalah Abas, maka tugas dialah untuk urusan kedalam, Israel, Amerika dan UN 
tak perlu pusing masalah Hamas ini.  Karena bagi dunia luar yang penting khan 
cuma hasilnya aja.

Artinya, kalo Abas sanggup mempersatukan sehingga terbentuk negara Palestina, 
maka dunia cuma memberikan bantuan selanjutnya saja untuk pembangunannya, 
sedangkan kalo Abas gagal, maka kursi di UN untuk negara Palestina terpaksa 
harus dihapuskan lagi.

Jadi urusannya Israel dengan Hamas cuma sebatas sekuriti Israel saja tidak 
menyangkut urusan politik.  Tapi karena kenyataannya pengikut Hamas lebih 
banyak daripada Abas, maka dari sekarang kita sudah bisa memastikan kalo Abas 
itu tidak mungkin berhasil tetapi tetap untuk formalitasnya Abas harus diberi 
kesempatan untuk mempersatukannya sebelum dia secara resmi dinyatakan gagal 
untuk juga secara resmi kursi Palestina dihapuskan kembali.

Pada hakekatnya memang tidak masuk akal negara Palestina dipaksa berdiri karena 
yang namanya negara Palestina itu sebenarnya mencakup Yordania, Israel, 
Libanon, Turki, Syria, dan sebagian Mesir.  Justru Arab Palestina ini bukanlah 
orang Palestina dan sama sekali tidak termasuk orang Palestina tapi mencatut 
nama Palestina untuk digunakan sebagai nama negara baru yang dituntutnya.

Ny. Muslim binti Muskitawati.







Kirim email ke