BAGAIMANA MUNGKIN AKU SIA-SIAKAN HIDUPKU?
(Stephen R. Covey).

Wanita berduka ini menggunakan keempat karunia manusianya untuk menemukan 
hidupnya kembali. 
Perhatikan bagaimana kesadaran dirinya tumbuh, bagaimana ia menggunakan 
daya imaginasi serta hati nuraninya, dan bagaimana ia kerahkan 
kemampuannya 
yang luar biasa untuk menemukan kembali serta memperbaharui hidupnya. 
Sungguh besar kontribusi yang diberikannya! 
Sungguh besar kedamaian pikiran yang dihasilkannya.

Ia berusia empat puluh enam tahun ketika suaminya, Gordon didiagnosa 
mengidap kanker.  Tanpa ragu-ragu, ia pensiun lebih dini agar dapat 
mendampinginya. 
Walaupun kematian suaminya delapan belas bulan kemudian telah 
diperkirakan, 
dukacita sungguh menguasainya. 
Ia berduka atas impian-impian mereka, atas cucu yang tak pernah sempat 
digendong suaminya. 
Ia sering berbicara pada suaminya, lalu ingat bahwa suaminya telah tiada. 
Seluruh jiwanya penuh dengan duka. 
Usianya baru empat puluh delapan tahun, tetapi sudah tidak punya semangat 
hidup.

Di saat terpuruk seperti itu, dengan tubuh, pikiran dan semangat yang 
letih tak terkira, 
ia menemukan 7 Kebiasaan.  Ia bertanya pada diri sendiri, 
“Kalau memang aku berada di sini karena alasan tertentu, apa alasan itu?” 
Ia pun  termotivasi untuk menemukan makna baru dalam hidupnya.

“Merujuk pada Tujuan Akhir” menyarankan untuk menjabarkan peran-peran 
dalam hidup kita. 
Maka ia pun menggambar grafik ‘pie’ dengan peran-perannya yang dulu, 
sebelum kematian suaminya. 
Pada grafik keduanya, ia tinggalkan sepotong besar dimana dulunya adalah 
perannya sebagai pekerja 
serta sebagai istri. 
Potongan kosong yang besar itu mengingatkannya  bahwa hidupnya sudah 
berbeda. 
Ia gambar tanda tanya besar dalam potongan itu dan bertanya, 
“Coba pikir sekarang, apa yang akan jadi peran-peranmu?”

Ia teringat bahwa segalanya diciptakan dua kali – pertama secara mental, 
baru secara fisik. 
Ia bertanya pada dirinya sendiri, “Talenta-talenta apa saja yang 
kumiliki?” 
Maka, ia pun mengikuti tes bakat, yang memberi kejelasan tentang tiga 
kemampuan utamanya. 
Untuk menciptakan keseimbangan dalam hidupnya, 
ia berfokus pada empat dimensi; pada tingkatan intelektual, 
ia sadar bahwa ia suka mengajar; secara rohaniah dan sosial, ia ingin 
terus mendukung keharmonisan rasial; 
secara emosional, ia tahu ia harus memberi kasih. 
Ketika ibunya masih hidup, ibunya menina-bobokan bayi-bayi yang sakit 
parah di rumah sakit. 
Ia ingin memberikan penghiburan seperti ibunya, meneruskan warisannya 
berupa kasih tanpa syarat.

Ia takut gagal, tetapi mengatakan pada dirinya sendiri tidak apa-apa 
mencoba hal-hal baru, 
ibarat mencoba- coba topi. Dan kalau ternyata ia tidak suka, ia tidak 
perlu menekuninya. 
Ia mulai dengan kuliah lagi agar bisa mengajar ditingkat Universitas. 
Kuliah memang berat, apalagi diusia empat puluh delapan. 
Sangat sulit mendisiplinkan diri, tetapi ia tahu ia harus sampai ketempat 
yang ia tuju 
(Kebiasaan 3: Mendahulukan yang Utama). 

Ia menyelesaikan kuliahnya dengan GPA (indeks prestasi) 4.0, 
dan mulai mengajar di kampus Little Rock yang mempunyai sejarah warga 
berkulit hitam. 
Ia ditunjuk gubernur untuk memegang jabatan Martin Luther King Commission 
untuk meningkatkan hubungan rasial di Arkansas.

Sekarang hidupnya sangat baik.  Ia dapat merasakan Gordon tersenyum 
padanya. 
Gordon berulang-ulang mengatakan padanya sebelum meninggal, 
bahwa (Gordon) ingin ia memiliki kehidupan yang penuh tawa, kenangan manis 
dan hal-hal baik. 
Ia berpikir “Bagaimana mungkin saya sia-siakan hidup saya dengan 
arahannya, di hati nurani saya?”

Pelajaran  :

Wanita menakjubkan ini bukan saja berhasil mengendalikan hidupnya,
ia juga punya hikmat untuk secara mental menciptakan kehidupan yang sama 
sekali baru 
(Kebiasaan 2: Merujuk pada Tujuan Akhir). 
Teladannya yang memberikan inspirasi, mengilustrasikan pentingnya 
keseimbangan antara 
keempat dimensi kehidupan yang terwujud dalam Kebiasaan 7: 
Mengasah gergaji – yaitu dimensi fisik, mental, sosial dan rohaniah. 
Ia hadapi rasa  takutnya dengan meninggalkan wilayah amannya di mana ia 
takut gagal. 
Ini bukanlah kisah tentang jalan pintas.  Ia sabar, ulet dan membayar 
harganya.










Kirim email ke