Senin, 25 Oktober 2004 | 10:09 WIB
TEMPO Interaktif, Tangerang: Tembok yang membatasi Sekolah Sang Timur dan Kompleks Keuangan telah dirobohkan. Perobohan tembok terjadi pada pukul 06.25 WIB, Senin (25/10), oleh petugas tramtib linmas Pemkot Tangerang.
Tembok yang menutup pintu pagar Sekolah Sang Timur saat ini hanya berupa puing-puing. Sekitar 100 orang aparat membentuk barikade di jalan yang menuju ke sekolah tersebut.
Puluhan warga komplek Keuangan yang merasa kecewa dan marah karena dibongkarnya tembok pembatas tersebut, saat ini juga berkumpul berhadapan dengan petugas polisi.
Beberapa orang ibu-ibu sempat berteriak-teriak marah kepada petugas dan pers, karena menurut mereka ada beberapa media massa memberitakan fakta yang tidak benar akan kejadian kasus Sang Timur.
GUS DUR KUNJUNGI SANG TIMUR
Senin, 25 Oktober 2004 | 10:58 WIB
TEMPO Interaktif, Tangerang:Gus Dur mengunjungi Yayasan Sang Timur untuk memberi dukungan moral. "Rombongan Gus Dur berencana membantu membuka blokade yang menutup akses ke Sang Timur," kata Juru Bicara Gus Dur, Adhi Massardi pada Tempo melalui telepon, Senin (25/10).
Menurut Massardi, sebelumnya, Gus dur telah menelpon Mendagri M. Ma?ruf untuk segera membuka blokade tersebut. Gus Dur sengaja mendatangi lokasi tersebut untuk melakukan pendekatan-pendekatan terhadap warga yang melakukan protes. "Butuh pendekatan tersendiri," kata Massardi.
Dalam sebuah wawancara di radio swasta, Gus Dur mengatakan, dirinya terpanggil untuk membantu persoalan Sang Timur dengan alasan demokrasi. "Demokrasi itu harus dirasakan oleh semua kalangan," tegasnya.
Seperti diketahui, persoalan ini mencuat ketika warga sekitar sekolah tersebut melakukan protes terhadap rencana pembangunan pembangunan gedung serbaguna oleh Yayasan Sang Timur di dalam lokasi sekolah. Protes warga dijawab Pemerintah Kota Tangerang dengan mencabut izin peribadatan yang selama ini dilakukan di gedung sekolah.
Menurut warga, Zairim, 61 tahun, menjelaskan ada beberapa hal yang dilanggar oleh Yayasan Sang Timur. Antara lain menggunakan akses masuk ke Sang Timur melalui Kompleks Keuangan yaitu Jalan Merbabu merupakan jalan milik warga komplek.
Menurutnya, selama ini orang tua murid Sang Timur dan umat Katolik yang melakukan peribadatan di sekolah tersebut telah menggunakan jalan kompleks
Kesalahan kedua yaitu, izin yayasan yang semula hanya untuk membangun SLB dilanggar. "Sampai saat ini sudah ada TK, SD, SMP, SMK, dan SLBC," ujar Zairim.
Sebab itulah, Minggu (24/10) kemarin, ruas jalan menuju gedung sekolah milik Yayasan Sang Timur di kompleks Departemen Keuangan, Kelurahan Karang Tengah, Ciledug, Tangerang, dipagar setinggi 1,5 meter. Pagar menyulitkan almamater Sang Timur memasuki sekolah. Senin (25/10), pagar tersebut telah di robohkan petugas Tramtib Linmas Pemerintah Kota Tengerang.
Fitrio, Ami Afriatni, Tempo
Ronn Goei <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dibaca artikel dibawah ini, lalu kita gumulkan dan doakan bersama
love and pray
Ronn
SUARA PEMBARUAN DAILY
Tidak Dapat Dijerat Hukum
Franz Magnis-Suseno SJ
MINGGU (3/10/2004) pagi sekitar 150 orang yang menamakan diri 'Fron Pemuda
Islam Karang Tengah' mulai berkumpul di depan gerbang sekolah Katolik Sang
Timur Karang Tengah Cileduk. Mereka menuduh sudah dilakukan pemurtadan dan
menolak penggunaan sekolah sebagai tempat ibadah. Demonstrasi menjadi kasar.
Gerbang dirusak, dibakar ban, seorang pria kedengaran berteriak "Kami harus
memerangi orang kafir."
Jam 9.00, di hadapan camat dan Kapolsek, pastor menandatangani surat
pernyataan akan menghentikan peribadatan di sekolah itu. Camat yang namanya
Syarif menyambut penandatangan itu dengan berpidato kepada massa, di mana ia
kedengaran mengatakan antara lain "Saudara-saudaraku, syukur alhamdulillah,
perjuangan kami sudah tercapai."
Tidak puas dengan itu, para demonstran memaksa menyegel sekolah. Persis di
pintu masuk mereka membangun tembok setinggi 160 cm persis sehingga orang
tidak bisa masuk lagi. Selama seminggu sekolah, dengan lebih dari 2.000
murid, tutup. Sekarang sekolah sudah buka kembali, tetapi murid dan guru
harus masuk dari belakang, dengan jalan kaki jauh. Tembok di depan pintu
masuk, resmi tetap berdiri.
Sebagai latar belakang, ruang serba guna sekolah itu sejak 1992 - atas dasar
surat rekomendasi Nomor 192/ Pem/VII/1992 Kepala Desa Karang Tengah -
dipakai pada hari Sabtu/ Minggu dan hari raya besar oleh 8.975 anggota umat
Paroki Bernadet Ciledug untuk misa kudus karena umat belum berhasil
membangun gereja.
Nah, tiga bulan lalu, tanggal 29 Juli 2004, Kantor Departemen Agama Kota
Tangerang mengirim surat yang meminta agar kegiatan keagamaan dihentikan di
sekolah itu. Tanggal 30 Agustus, Lurah Karang Tengah mencabut surat
rekomentasinya dulu. Sejak itu ibadat umat Katolik Ciledug mulai diganggu.
Usaha umat untuk berdialog, minta agar boleh meneruskan ibadat sementara
belum ditemukan tempat alternatif, dikandaskan tanggal 3 Oktober lalu itu.
Mengapa kejadian ini saya tuliskan untuk dimuat di sini? Saya sudah tidak
tahan melihat kepicikan dan intoleransi di belakang kejadian-kejadian
seperti itu.
Ciledug bukan kejadian satu-satunya. Dua bulan lalu Bupati Bandung per surat
serentak menutup 12 tempat ibadat serupa di Bandung. Kekerasan terhadap
gereja-gereja berjalan terus, de- ngan rata-rata satu kejadi- an per minggu.
Sejak 1990 sudah lebih dari 500 gereja diserang. Apakah ini perkara kecil?
Alasan Kristenisasi bagi saya sangat tidak meyakinkan. Bahwa di sana sini
ada orang masuk tidak perlu disangkal. Tetapi kalau melihat statistik
Indonesia, maka selama 30 tahun ini, tidak ada pertambahan signifikan umat
kristiani di negara ini. Jadi seberapa jauh signifikasi kasus-kasus itu?
Kebenaran adalah kebalikan. Di gereja Ciledug, dan di kebanyakan gereja di
seantero Indonesia, sama sekali tidak dilakukan kristenisasi apa pun. Sama
sekali tidak terjadi umat beragama lain di sekeliling gereja, atau sekolah,
diajak masuk Kristiani. Saya curiga bahwa isu kristenisasi dipakai secara
sengaja untuk membangun emosi.
Lalu terjadi kekerasan, pemaksaan, perusakan, kadang-kadang (ratusan kali)
penghancuran. Orang bisa melakukannya dengan impunity (tidak terjerat hukum)
karena serangan terhadap gereja di Jawa dan di beberapa pulau lain di
Indonesia, dibiarkan saja. Di Ciledug malah Kantor Depag yang menjadi
perintis pencekikan ibadat salah satu umat!
Saya bertanya, kita hidup di negara apa? Omongan tentang toleransi, tentang
persatuan (ingat iklan bagus-bagus di TVRI), tentang Ketuhanan Yang Maha Esa
menjadi lelucon cemooh. Dan para pemimpin, kaum intelektual, para suara hati
bangsa, di mana suara mereka? Tutup telinga, tutup mata, tutup mulut.
Undang-undang dasar kita dengan tegas menyatakan bahwa "orang bebas memeluk
agama dan beribadat menurut agamanya" (Pasal 28E, dan lihat Pasal 29, 2.).
Tetapi sejak puluhan tahun, umat minoritas dihalang-halangi terus kalau
minta izin mendirikan rumah ibadat, juga apabila jelas-jelas ada umat. Surat
Keputusan Bersama 35 tahun lalu sudah menjadi sarana untuk mensabotase
kebebasan beribadat.
Katanya, jangan membangun rumah ibadat di tengah-tengah umat beragama lain.
Tetapi minoritas mau membangun rumah sudah pasti di tengah-tengah mayoritas.
Tidak mungkin di tengah hutan. Izin membangun gereja tidak diberikan, atau
perlu waktu 20 tahun. Tetapi kalau sementara ini umat beribadat di tempat
seadanya, ia diancam dan dilarang.
Saya juga meragukan bahwa itu semua sekadar masalah masyarakat lokal.
Perjuangan kami sudah tercapai!", ujar Camat di depan gerbang sekolah Sang
Timur yang baru dirusakkan. Perjuangan apa? Siapa punya? Siapa "kami" itu?
Benarkah desas-desus bahwa ada jaringan orang-orang ekstrem yang sampai
meresap ke administrasi lokal, yang sudah memutuskan untuk secara dingin
mencekik kehidupan beragama minoritas di negara Pancasila?
Kezaliman terhadap peribadatan minoritas sudah melampaui batas dan mengancam
membuat percuma usaha tulus banyak pihak di agama mayoritas maupun
agama-agama minoritas untuk membangun hubungan yang toleran, berdasarkan
salah percaya. Pertanyaan saya: Apakah pelecehan kebutuhan religius
minoritas yang paling sederhana akan terus berlangsung dengan impunity?
Penulis adalah rohaniwan, guru besar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara
di Jakarta
_________________________________________________________________
Download MSN Messenger emoticons and display pictures.
http://ilovemessenger.msn.com/?mkt=en-sg
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
N T U - I S C F
Nanyang Technological University
--------------------------------
Indonesian Students Christian Fellowship in Singapore
____________________________________________
NTU-ISCF official site : http://www.ntuiscf.tk
Any specific prayer requests? Just send it to :
Samuel S. ([EMAIL PROTECTED]) or Ellen ([EMAIL PROTECTED])
You can also send it via NTU-ISCF Website at:
http://ntuiscf.port5.com/online/prayerrequests.html
**** To GOD be the Glory ****
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
List owner: [EMAIL PROTECTED]
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
N T U - I S C F
Nanyang Technological University
--------------------------------
Indonesian Students Christian Fellowship in Singapore
____________________________________________
NTU-ISCF official site : http://www.ntuiscf.tk
Any specific prayer requests? Just send it to :
Samuel S. ([EMAIL PROTECTED]) or Ellen ([EMAIL PROTECTED])
You can also send it via NTU-ISCF Website at:
http://ntuiscf.port5.com/online/prayerrequests.html
**** To GOD be the Glory ****
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
List owner: [EMAIL PROTECTED]
| Yahoo! Groups Sponsor |
| Get unlimited calls to U.S./Canada |
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ntu-iscf/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
