Ryo Saeba wrote:
> buat jadi saksi ahli rekaman suara si pollycarpus tuh. masak mendadak ciken.
>
> http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/08/tgl/23/time/060013/idnews/820495/idkanal/10
>
>
>
ah ntar lagi juga nongol, kasih dia waktu dong buat install winamp
> 23/08/2007 06:00 WIB
> Inilah Percakapan Pollycarpus dan Indra Setiawan
> Nograhany Widhi K - detikcom
>
> Jakarta - Rekaman percakapan antara Pollycarpus dan mantan Dirut
> Garuda Indonesia Indonesia Indra Setiawan diputar di sidang PK Munir
> di PN Jakarta Pusat Rabu 22 Agustus 2007. Isi percakapan mantan bos
> dan anak buahnya itu mencengangkan orang yang mendengarnya.
>
> Beberapa nama seperti Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan dan mantan
> Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh disebut-sebut dalam pembicaraan panjang
> di telepon itu.
>
> Inilah rekaman pembicaraan Polly (P) dan Indra (I):
>
> P: Halo (mengangkat telepon)
>
> I: Saya ganti nomor
>
> P: Oh ya baik-baik, Pak
>
> I: Bagaimana, baik?
>
> P: Oh, ini sudah rapat, sudah saya sampaikan mengenai kemarin yang dia
> katakan. Dia bilang tenang saja itu tidak ada. Dia bilang gitu.
>
> I: Aku kan takut, otak saya beberapa hari muter terus, otak saya muter
> terus dari kemarin, dari beberapa hari ini mikirin kejadian-kejadian.
>
> P: Iya.
>
> I: Dan itu DO kita ambil, dia kan ngasih rekomendasi buat BIN. Waktu
> itu kan Bapak Ari yang disitu di ruangan saya duduk di situ, di
> ruangan meja itu, tahu sendiri itu kan berkasnya masih ada di situ.
> Saya kuatir dia ngelihat surat dari A. Nah, kenapa dia mau lihat
> iyakan? Terus, karena abis itu saya keluar ruangan saya, ada kamu di
> luar ruangan sebentar, dia kan ada di ruangan saya. Nah itu yang saya
> inginkan adalah ketiga nama ini dianya, diem aja buat saya, iyakan.
> Kita jangan yang setiap..Kita kan tau, kan orang beritanya
> macem-macem. Dia mau iniin soal inilah, saya ingin sekali dia keluar
> dari ruang saya bilang begitu. Surat dari A itu ada disitu. Nah itu
> yang saya. Jadi ingatkan si dia sama heru, yang kita puter semua jejak
> kita ketemu di Sahid, yang di rumah Wira, dan segala macemnya,
> itu. Yang disebutkan satu lagi yang diposin itu, surat penugasan.
> Surat penugasan itu apa dilihat, ada tasnya yang juga ngelihat, kalau
> sekarang kan orang sudah mau pada ngerjain orang kan sekarang.
>
> P: Bapak nggak usah takut itu, karena waktu itu Pak Rudi sendiri, DO
> yang lama sendiri juga mengatakan pada saya, itu dibuat yang baik,
> tolong itu buat laporan ke saya sekarang juga. Karena sudah saya buat
> ke DO ke OS semua sudah, terus dia bilang, ini tolong nanti, ini bagus
> sekali, ini bagus dan tolong bantu kami. Waktu itu saya disuruh
> membantu beliau-beliau juga, Pak Rudi, Pak Gogot dan sebagainya, dia
> respek sekali, kemudian wah ini langkah kamu ini bagus sekali Pol, dia
> bilang gitu.
>
> P: Katanya kamu berani untuk menyarankan untuk pers sperti ini,
> seperti ini, karena waktu itu laporan saya mencontoh si ini sama track
> record itu saya ada, saya tahu untuk itu.
>
> I: Oke..Iya..
>
> P: Pak, kemudian, tolong Pol, ini kalau laporan hanya ceknya saja,
> orangnya ndak usah karena ini laporan ini laporan sekali. Jadi track
> record-tarack record itu nanti juga akan kita tampung, termasuk
> laporan-laporan you. Kemudian itu untuk nanti bahan simulator. Untuk
> simulator, nanti dan MU itu akan ditrader lagi mengenai pucuk
> pimpinan dan untuk bagaimana kinerja perusahaan ini lebih efektif gitu.
>
> I: Iya
>
> P: Kemudian juga dibantu, itu yang, jaman dulu itu kan Pak Rudi sama
> Pak Robi musuhan sama Ari Sapari (Dir Ops PT GI). Pak Ari Sapari kan
> cuman demo-demo melulu gitu loh..
>
> I: Kalau itunya sih oke nggak apa-apa Pol. Cuma yang diijinkan kan,
> sikon kayak gini kok ada yang ngerjain saya, segala macem.
> Dibuat-buat, diedarkan BIN ke meja saya. Saya baru inget, itu lho,
> itu..
>
> P: tapi Pak, itu juga sudah saya sampaikan, insya Allah besok saya
> ketemu, saya manggil Bu Asmini ya.
>
> I: Siapa, siapa, siapa?
>
> P: Ibu Asmini aja, Ibu Asmini. Saya ketemu Ibu Asmini besok. Kalau
> tadi sudah per telepon, melalui orang Ditbangko (?) juga,
>
> I: Siapa dia?
>
> P: Letnan dua angakatan laut, itu ajudannya dia. Ajudannya Bu Asmini.
>
> I: Hm iya
>
> P: Dia bilang, itu tenang aja, itu barang-barang itu sudah nggak ada
> semua, yang ditempat saya juga nggak ada. Kemudian yang di tempat Pak
> Indra kalau sudah nggak ada ya sudah aman.
>
> I: I..iya, saya juga nggak ada, makanya, saya hanya khawatir kalau
> pada proses itu ada di foto kopi. Nah, itu yang saya khawatir.
>
> P: Oh,oh, nggak, kalau punya Bapak, sudah disita ya sudah, sudah habis.
>
> I: Bukan, bukan..
>
> P: Oh, yang di tempat Bapak maksudnya.
>
> I: Iya, iya, barang saya itu. Gitu loh. Kalau saya sih bukan per jam,
> memang suratnya tuh hilang gitu lho.
>
> P: Tapi bapak tau, detailnya nggak?
>
> I: Ya, saya nggak tahu itu siapa, ya kalau bisa sih saya tahu. Anu
> saya kan ada di tas. Tasnya, waktu itu kan mobilnya dijebol orang.
> Orang ambil duitnya kali, dibuang-buang semua, mungkin nggak ada
> apa-apa. Lha, terus satu lagi yang akhirnya M pergi kemana?
>
> P: Oh udah ilang. Yang didengerin itu orang kita semua. (Sedikit
> tertawa) Itu nggak ada itu.
>
> I: Artinya, surat itu dibikin disana? Dikirim disana?
>
> P: Nggak, nggak, nggak dikirim.
>
> I: Itu rangkaian yang kita ketemu di Sahid.
>
> P: Nggak ada, hanya beberapa.
>
> I: Ada orang mungkin. Waktu di BUMN itu, ada yang memberitahu nggak?
>
> P: Waktu di BUMN itu hanya pemberitahuan aja.
>
> I: Nah, itu kemarin ada yang bilang, kemarin gara-gara kalah tender
> dia cari-cari segala macem.. karena dia lihat, batinnya, ah itu bos
> gue gak bikin halus segala macem, dan dia niat ngelukain, kemudian
> begitu kejadian.
>
> P: Yang itu, mohon maaf, itu aman itu. Kalau bapak bisa tahu
> identitasnya, nanti bapak bisa ini..
>
> I: Anak anjing, ingatan dulu orang-orang sekilas begitu
> aja Pol. Itu aja. Yang aku bilang ma kamu Pol, kekhawatiran, itu tidak
> tahu menahu ada surat dari Pan kemudian dikenalin saya kan?
>
> P: Oh, itu juga paham saya. Tadi itu juga sudah saya sampaikan.
>
> I: Kayaknya kita dikasih waktu untuk bertemu di sana, itu segala
> macem. Trus Pak..pernah bilang nggak kalau saya ketemu di Shang rila.
>
> P: Oh, nggak pernah. Sama saya nggak pernah
>
> I: Nggak pernah ya. Kan ketemu hanya mengingatkan saja, Pak suratnya
> gimana. Oh sudah oke. Bilang gitu.
>
> P: Iya, nggak pernah bilang sama dia.
>
> I: Ah, kebetulan, itu ketemu kebetulan gitu loh.
>
> P: Tapi, dia pernah ngadu sama ajudan bilang bapak itu tidak
> akan datang.
>
> I: Di Kejagung, mengenai apa? Makanya Pol, makanya gini saya bilang
> sama you, bagaimana ini kalau seandainya polisi temu gitu lho.
>
> P: Oh iya, itu baiknya sangat tidak mungkin, karena bapak ini sama
> seperti saya. Pak.. Saya ini sebenarnya ndak bisa masuk ke dalem, saya
> ini hanya untuk borok bagaimana supaya Indonesia tidak diembargo.
> Begitu embargo satu saja saya keluar. Kalau bapak ini hanya untuk
> politik. Tapi ya, sekarang ini sudah mulai nasionalisme, nasionalisme,
> sudah bingung, sudah dibanting-banting lagi. Karena saya nggak mau,
> tapi mereka melihat, karena persaingan. Anak ini tegas, anak ini
> tegar, anak ini dikeroyok, lha tapi ini bagus ini, tapi saya ndak
> mau..
>
> I : Nah, sekarang gini, artinya juga Pak Ardiman lihat saya,
> mulainya dari situ. Lha sekarang giliran saya kayak begini, apa sih, coba?
>
> P: Itu dia tetep tidak mau muncul, tapi asal bapak tau, Pak Bagir
> Manan itu orang kita Pak.
>
> I: Apa? Halo?
>
> P: Ketua MA sama wakilnya itu orang kita Pak. Nanti bapak itu
> pura-puranya dikejar untuk supaya novum ke saya. Nantinya, tapi kalau
> itu dipaksakan itu putus di atas.
>
> I: Iya, ya. Saya nggak ngerti, soal hukum gimana, saya juga nggak
> ngerti. Saya cuma jalanin yang sekarang ini aja.
>
> P: Dan hukum itu nggak ada, nggak bakal ada. Bapak ini hanya dicari
> untuk mengejar saya dan itu sebenarnya hanya permainan politik supaya
> SBY ini tidak diubek-ubek sama LSM. Karena SBY ini jadi presiden dari
> LSM-LSM. Saya sudah ketemu Hary Tjan, Hary Tjan itu yang punya CSIS.
> Itu orangnya Ali Murtopo, jadi ini hanya permainan aja.
>
> I: Nggak, Pol, itu permainan-permainan yang di sana, tapi aku kan
> gimana? Aku kan gak ikut-ikut.
>
> P: Iya, Bapak itu cuma, saya itu juga gitu Pak, jadi ini kan 60 hari,
> jadi bapak itu 60 hari maksimum. Ini sudah mendekati. Makanya polisi
> ini di dalam itu terpecah belah Pak. Ada yang ambisi untuk naik
> pangkat, ada yang ambisi yang pengen jadi Kapolwil-lah. Pengen jadi
> apa itu berusaha mati-matian. Tapi nggak ada data. Nah dia itu sudah
> pusing karena sudah mendekati 60 hari. Nah padahal, kalau mau
> dimajukan ke P 21 ke kejaksaan itu adalah 14 hari kerja. 60 itu
> dikurangi 14 hari kerja, ini sudah hampir habis. Kalau berkas Bapak
> dimajukan nanti ditolak sama jaksa. Kalau dimajukan, ditolak, ditolak,
> lama-lama nggak bisa kan. Nah, bapak keluar ini bebas, demi hukum.
> Gitu. Jadi yang ngalamin seperti bapak ini bukan bapak sendiri,
> termasuk saya, karena saya kira nggak ada data kok, yang nggak ada
> sangkut pautnya.
>
> I: Artinya kalau itu dengan kata-kata dengan segala macem tidak ada
> datanya kan..
>
> P: Nah, bayangkan Pak, gak boleh ditengok. Apanya yang nggak boleh
> ditengok Pak. Nah ini nanti saya tulis dalam buku, dalam buku saya
> beberkan semua.
>
> I: Iya..iya, jangan sampai saya bener-bener jadi..
>
> P: Saya ini kenapa nggak kerja Pak? Saya ini nggak mau kerja. Saya ini
> mendampingi Bapak dari luar. Saya itu kalau malem keliling tempat
> bapak Pak. Saya duduk di luar, liat, trus berangkat pagi..
>
> I: Dimana di Mabes?
>
> P: Ini di belakang itu kan ada warung. Di belakang Mabes itu kan ada
> warung. Iya, itu saya sama istri saya, kita masuk nggak ya? Ah ,
> jangan dulu ah, nggak enak. Tapi banyak petugas-petugas itu temen
> saya. Oh ya, ini kan Oki, Bapak inget sama Oki Telon. Oki, Oki..
> Katanya mau negok bapak itu.
>
> I: Oh itu Oki yang ada di luar ya..
>
> P: Iya yang orang bule itu, dia mau nengok bapak, boleh nanti kalau
> ada ini yang orang Polres itu, yang gemuk kalau masih ada. Dulu
> sekolah perwira sih, kalau balik situ itu baik sekali.
>
> I: Yang saya minta itu data awalnya itu, tidak ada orang yang melihat
> kalau kita ketemu, dengan suratnya A, terus ada EO, itu aja.
>
> P: Oke baik, kalau begitu saya ketemu Pak Rudi saja, kita datangi..
> Pokonya saya datangi Pak Dirut, nanti agenda saya besok itu bertemu Bu
> Asmini sama Pak Rudi juga besok saya telpon. Ya, jangan inilah..Tapi
> Pak Rudi di sidang ini kok tidak dengar sama Bapak sih.
>
> I: Makanya, saya disidang, itu pada diem semua kan?
>
> P: Iya, tapi yang jelas pak, kalau memang itu Pak Rudi sudah cerita
> atau apa itu sudah pasti dari dulu. Nah, sekarang,
>
> I: Nah sekarang lagi situasi kayak gini bisa-bisa situasi berubah,
> kayak nggak ngerti orang-orang
>
> P: Nggak-nggak mungkin Pak, nggak berani dia. Kalau dia itu tidak
> mengatakan apa-apa, ternyata di dalam penyidikan itu nggak ada bukti,
> dia bisa kena saksi palsu itu. Dan itu lebih berat itu. Seandainya toh
> dia akan ngomong saya akan lawan. Itu kan ketemu pimpinan saya, Pak
> Dirut itu pimpinan saya, apapun terjadi dia adalah bapak saya,
> pimpinan saya. Saya nggak pernah kok , nganggap surat, itu kan habis
> dia. Habis. Itu bukan habis sama saya saja. Sama, ini apa, pejabat
> Negara ini hampir 90 persen mihak sama kita Pak. Makanya kan diem,
> nggak bicara banyak gitu lho.
>
> I: itu aja, setiap malam ini saya tahajud, saya sholat segala macem,
> saya minta mencari yang terbaik.
>
> P: Dan itu, salam dari Abah, bapak tenang aja. Ini hanya sebentar
> saja, katanya bilang gitu.
>
> I: Abah mana nih?
>
> P: Abah dari Banten.
>
> I: Oh, yang itu, iya..
>
> P: Nah, itu sampai sekarang bilang sama saya. Nah, kalau perlu nanti
> bolehlah sama bapak disitu nanti. Oh baik sekali itu, saya juga
> dibantu sama beliau itu . Oh itu dia liat bisa kok. Pak Polly nanti
> gimana? Saya dulu itu sudah hampir 700 hari Pak, nanti Jumat keluar.
> Bener lho Pak, Jumat keluar saya.
>
> I: Terus saya gimana, Pol? Saya keluar kapan?
>
> P: Ah nanti juga saya tanyain. Tadi saya cross ceck, tadi kan saya
> sudah ke Jawa Timur ke Petilasannya Raden Wijaya sama Majapahit, itu
> dari patih Gajah Mada itu masih leluhur saya. Dia bilang ini hanya
> sebentar aja ini, terang semuanya, begitu.
>
> I: Saya tidak tahu menahu segala macem, jadi saya nggak mau kebawa-bawa dong.
>
> P: Justru itulah, kalau bapak menyampaikan ke penyidik saya ini tidak
> tahu menahu dan sebagainya itu, penyidik itu pinter Pak. Ini saya buka
> lagi, sekali lagi Pak. Bapak punya BAP, dikasih ke saya tapi BAP
> buatannya, itu pramuka (polisi). Itu segala macem dia bikin saya
> seolah begini-begini, begini, saya tutupi itu . Kemudian BAP-nya Yeti
> itu BAP bohong. Ini buktinya, Yeti ngomong, ini mengaku bahwa kamu ke
> dapur begini begini, padahal saya ndak pernah. Itu bohong. Nanti dalam
> buku saya, saya ungkap. Itu kebobrokannya pramuka itu. Kemudian saya
> diadu oleh siapa lagi ya, nggak ada. Saya mau dibawain 4 miliar Pak.
> Dia bilang gini, Pak Anton Karmiang. Dia bilang gini, udahlah, di sana
> itu urusan ntul aja bisa ngomong. Lalu saya bilang gini, lho,
> jangankan urusan Ntul, disini tembok saja bisa ngomong, kalau bapak
> bohong. Bapak kan mengadu saya. Oh, marah dia pak, dia marah. Marah
> saya berdiri, takut dia Pak. Nah, ini wah yang penipu ya di dalam itu.
>
> I: Saya kuatir segala macem, kalau begini kan aku nggak mau nih..Saya
> sudah tiap hari minta petunjuk sama Tuhan mana yang terbaik. Segala
> macem, cuman saya pikir ini kan juga demi negara ya.
>
> P: Iya, tapi bapak sabar, nanti kalau bapak ijinkan saya tengok, saya
> tengok Pak. Kalau bapak ijinkan saya ke sana pak. Saya kalau ke sana,
> malam minggu atau hari minggu Pak.
>
> I: Itu si Asad ini dia bilang nggak mau muncul dia.
>
> P: Dia di bawah tangan. Dia main di bawah, dia main di bawah. Terus
> begini Pak, saya kan takut mengakatakan ya Pak ya, kira-kira Bapak di
> dalam itu perlu apa? Mengenai kamar-kamar itu?
>
> I: Oh, nggak, nggak sudah cukup, saya sih sudah cukup. Nggak apa, gitu aja.
>
> P: Oh, baik Pak. Iya pak. Pokoknya mereka itu sudah wanti-wanti sama
> saya, kita ini semua bekerja bahkan sampai di pucuk atas. Kita semua
> kerja Pol, kamu nggak usah takut.
>
> I: Itu dulu inget nggak lagi sebelum kita ke DPR, iya kan saya ada
> sebelum ke DPR , saya dipanggil, itu ada Ibu Atik.
>
> P: Oh iya
>
> I: Saya pikir dia main.
>
> P: oh, nggak, nggak, dia nggak. Tapi anyway itu, Bagir dan, makanya
> kenapa kok Petruk itu diganti. Saya nyebutnya Petruk ya, si siapa
> Abdulrachman. Itu diganti, itu yang ngganti itu orang kita. Yang
> ngganti orang kita itu Pak. Trus Bagir itu orang kita. Gitu lho. Jadi
> ini hanya lelaku saja, tapi biasanya tuh, jam kita itu jam 12 bukan
> jam 6. Jam 6 itu artinya kita di bawah nih, bagi orang-orang, tapi
> mental saya tetep jam 12. Gitu pak, jadi mohon konsisten saja, tidak
> ada apa-apa itu Pak.
>
> I: Saya sih mana yang terbaik yang saya harus ambil di depan Allah.
>
> P: Tapi gini Pak, pokoknya itu pramuka itu nggak kenal tuhan kalau saya bilang
>
> I: Bukan itu, ini tentang diri saya kok, untuk diri saya segala macem,
> bukan suatu tuntutan.
>
> P: Tapi kuncinya semua itu di sabar kok Pak, sedikit lagi Pak. Ini 60
> hari itu nggak lama kok Pak. Bapak sudah jalan April Mei kan. Ini kan
> Juni sudah hampir selesai. Ini kan katanya katanya akhir Mei, mana,
> nggak ada apa-apa.
>
> I: Saya mau gimana, nih
>
> P: Itu nanti ditolak Pak. Justru Bapak sabar, semakin nggak ada BAP,
> semakin nggak ada pengiriman ke Kejaksaan, bapak akan keluar. Itu,
> kuncinya di situ. Tapi kalau you ngirim berkas ke kejaksaan dan itu
> juga ditolak-tolak. Nggak mungkin orang berani nyidangkan tanpa,
> kecuali saya ya.. Saya juga memang untuk bemper, kalau bapak sih jauh,
> jauh. Percayalah.
>
> I: Saya kan berpegangan pada pendapat itu, saya ngasih penugasan sama
> you, kasusnya saya nggak tau.
>
> P: Betul itu sudah selesai itu
>
> I: Artinya sama sekali saya nggak disalahin
>
> P: Betul, betul, nggiih Pak. Kalau boleh saya merapat ke tempat Bapak,
> Pak. Atau nanti Bapak telpon dulu
>
> I: Jangan deh, jangan deh , lagi situasi kayak gini.
>
> P: O, gitu Pak. Baik, Pak. Terima kasih pak. Sabar ya Pak ya.
>
> I: Iya, ya. (ken/ken)
>
>