Ckckck...kemaren diumpan dgn notebook dan blekberi, skrg dgn makanan.

Eh apaan kayak eni arrow, gw baca sampe tamat ga ada apa2nya 
Dasar gendut birahi. Segitu aja dianggap ngeres!

-----Original Message-----
From: "Peter Hermawan" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 16 Jun 2010 00:50:21 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [ng] buat PBSP dan DES, tips survival mempertahankan karyawan


‎​"@danuradi: sambelnya @el_paladin emang mantabb *hosh hosh* cocok buat yang 
males olahraga tapi pengen cari keringat.. ehehe"

‎​Sambel itu kode lain buat titit kayaknya

Nih katanya ulul loh ya...

Jadi perusahaan gay kayaknya

Dari mojopia ke homoyaya

peter.herma...@mobile

-----Original Message-----
From: "Nusapunk™" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 16 Jun 2010 00:46:14 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [ng] buat PBSP dan DES, tips survival mempertahankan karyawan

Kok gw sih...
Itu jelas2 si danu jadi korban pelecehan kalian dikantor. 
Gw perhatikan si danu nih suka diumpan dgn gadget dulu, trus diembat...ckckck..
Tuntut aja mereka nu, coba hubungi dicky sbg pengacara.
Tapi yaa imbalannya diembat juga paling.

-----Original Message-----
From: rizki <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 16 Jun 2010 06:00:38 
To: nusagames<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [ng] buat PBSP dan DES, tips survival mempertahankan karyawan

KoKiTips
 <http://kolomkita.detik.com/kirimartikel>
 CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
 Pelecehan Seksual Di Tempat Kerja
*Ariana - Jakarta*



*Dear Zeverina, AsMod dan KoKiers di manapun berada.*

*Beberapa hari yang lalu, ketika saya sedang melakukan wawancara kerja
dengan seorang calon karyawati di kantorku, seperti biasa saya mengajukan
beberapa pertanyaan standar, seperti lulusan dari sekolah mana, ketrampilan
yang dimiliki, pengalaman bekerja dan tentu saja alasan pindah bekerja dari
perusahaan sebelumnya, jawaban dari seorang calon karyawati tersebut sempat
membuatku terkejut, selama ini saya belum pernah menerima jawaban sejujur
ini. *



*“Apa alasan kamu berhenti dari perusahaan yang sebelumnya?”*

*“Bossnya genit, bu”*

*“Genit, bagaimana?”*

*“Bossnya suka merayuku, memegang tanganku, pundakku dan bagian tubuh
lainnya”*

*“Oh, kamu tidak mengatakan kalau kamu berkeberatan atas kelakuannya?”*

*“Nggak bisa bu, karena bossnya satu ruangan denganku, dan ia adalah pemilik
perusahaan, makanya saya memilih untuk berhenti bekerja di sana”.*



Saya pun akhirnya mengajukan pertanyaan lain, tentang ketrampilan yang
dimilikinya dan beberapa pertanyaan umum lainnya, akhirnya karyawati itu
diterima di perusahaan tempat  saya bekerja, karena kualifikasi dan
pengalaman bekerjanya sesuai dengan yang dibutuhkan.

Berhubung pada saat itu, saya sedang mencari calon bekerja yang serius
bekerja di department saya, tentunya saya harus mengetahui lebih detail
alasannya untuk pindah bekerja, karena saya menginginkan agar karyawati yang
bekerja di department saya, dapat bekerja dalam jangka waktu yang lama,
karena turn over karyawan yang tinggi, juga akan membuat suatu department
tidak efektif dan produktif, dan pada akhirnya kinerja pada satu department
pun terganggu.

Penampilan calon karyawati tersebut secara umum adalah baik, berpakaiannya
sopan, dan tidak tampak genit,  tidak menggunakan make up yang tebal, dan
bertutur katanya pun halus, dan hasil psikotestnya juga memuaskan.

Pada umumnya pelecehan seksual di tempat kerja, dialami oleh karyawati cewe,
meskipun tidak tertutup kemungkinan dialami pula oleh karyawan cowo pula,
bermula dari sindiran-sindiran atau jokes yang kesan menjurus, tangan yang
rajin menjamah, ukuran pelecehan seksual inipun berbeda untuk satu orang
dengan orang yang lainnya.

Tidak dapat dipungkiri, terkadang pelecehan seksual ini terjadi karena
busana yang digunakan cukup menggoda iman, misalnya rok yang terlalu minim,
atau beberapa kancing baju dibiarkan terbuka, busana yang terlalu ketat,
jika digunakan di tempat kerja, atau bermula dari isengnya melayani gurauan
atau jokes yang menjurus.

Banyak pula para karyawanti cewe dengan terpaksa harus menerima tidakan
pelecehan seksual di tempat kerja, karena di bawah tekanan, yang melakukan
pelecehan adalah orang yang jabatannya lebih tinggi, orang yang seharusnya
dihormati atau mendapat ancaman penilaian hasil kerja yang tidak baik, yang
akhirnya akan mempengaruhi besarnya kenaikan salaries.

Ketika saya bekerja di sebuah perusahaan konsultan beberapa tahun yang
lalu,  baik karyawan maupun karyawati, jumlahnya seimbang, usianya pun
rata-rata sepantaran, fresh graduate dan beberapa diantaranya adalah teman
masa kuliahku ataupun lulusan dari kampus tetangga, serasa kampus pun
pindah tempat ke kantor, tetapi tentu saja hal tersebut dari segi
pertemanan, sementara jika dilihat dari pekerjaan tentunya sangat berbeda
jauh.

Di perusahaan konsultan ini, kita memanggil atasan cukup dengan nama saja
tanpa embel-embel bapak atau ibu, kecuali pimpinan perusahaan. Ternyata
kebiasaan ini rupanya menjadi menjadi kebiasaan pula  untuk saya ketika
memanggil rekan kerja di beberapa perusahaan berikutnya, jika saya akrab
dengan seorang rekan kerja, meskipun usianya berbeda beberapa tahun, saya
suka memanggil nama saja, tetapi dalam hal ini, saya melihat orang juga, ada
yang senang hanya dipanggil nama saja dengan alasan tampak lebih muda dan
akrab, termasuk saya lebih suka dipanggil nama saja, dan selama orang yang
bersangkutan, tidak berkeberatan dipanggil nama saja.

Selama saya bekerja di kantor konsultan ini, penugasan di dalam kota,
seringkali saya ditugaskan bersama rekan kerja pria, kecuali untuk penugasan
ke luar kota, biasanya dengan rekan wanita, selain untuk menghemat akomodasi
hotel, dan juga untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Untuk penugasan di dalam kota, seringkali saya berada dalam satu ruangan
dengan rekan pria hanya berdua saja, bahkan beberapa kali kita sempat
menginap di kantor klien, karena dead line yang sangat ketat, dan saya pun
tidak merasa takut ataupun timbul rasa kuatir terhadap rekan kerja, dan
mereka pun selama ini sangat sopan, baik dan perhatian, bahkan tidak jarang
kita bersenda gurau, apalagi jika ditugaskan dengan rekan kerja satu
almamater, bahkan beberapa rekan kerja di perusahaan konsultan ini
bersahabat baik dengan saya hingga saat ini, dan gaya bicara dengan rekan
ini pun menggunakan gaya bahasa “gue dan elu”, terkadang kita saling curhat,
biasanya tentang seputar stress, atasan yang galak, deadline yang super
ketat.

Selama saya bekerja di kantor konsultan, tidak pernah sekalipun saya
mendengar adanya kasus pelecehan di kantorku maupun klien, baik dilakukan
oleh rekan kerja, atasan langsung atau oleh staff klien, semuanya sangat
bersikap professional dan baik.

Kalau mengenai cinta lokasi ataupun cinta antar rekan sekerja, hmmm… sering
dan banyak sekali, maklum kesibukan yang padat, sehingga teman bermain pun
agak terbatas, bahkan banyak diantaranya telah melangsungkan ke jenjang yang
lebih serius.

Di perusahaan konsultan ini, meskipun kedua karyawan/ti telah melangsungkan
pernikahan, masih diperbolehkan bekerja di perusahaan yang sama, karena
pembagian kerja berdasarkan  client’s account. Oh ya, saat yang paling saya
tunggu-tunggu adalah adalah saat acara outing, hmm... kenangan yang indah,
mengesankan dan tak terlupakan. Andai waktu bisa diputar ulang.

Setelah saya bekerja beberapa tahun di perusahaan konsultan, saya pun
mengundurkan diri dan bekerja di perusahaan lainnya, tentunya dengan suasana
yang berbeda pula. Di perusahaan tempat saya bekerja saat ini, seringkali
saya harus menghadiri acara meeting, di mana semua pesertanya mayoritas
rekan kerja pria dan kebetulan kedua atasanku juga pria, selama ini
rekan-rekan kerjaku ini baik sekali, meskipun sekali-kali kalau dalam
meeting, suka juga ada perbedaan pendapat, tetapi biasanya semuanya dapat
mencapai kata sepakat demi kemajuan perusahaan tempat kita bekerja.

Biasanya sebelum acara meeting dimulai dan  boss juga belum hadir, biasanya
kita suka ngobrol-ngobrol, berhubung saya cewe sendirian sebagai peserta
meeting, kadang-kadang mereka suka berkomentar mengenai bajuku atau  gaya
rambut baruku, selama ini tidak ada yang namanya pelecehan, rekan-rekan
kerja cowo semuanya baik, bahkan beberapa di antaranya sangat baik, kalau
lagi stress sama boss, terkadang kita suka saling curhat dan makan bareng
bersama.

Namanya rekan-rekan kerja cowo kalau pada kumpul, kadang-kadang ada  jokes
yang menjurus, biasanya saya suka cuek atau pura-pura tidak mendengar, atau
kadang-kadang cukup tersenyum saja, dan biasanya mereka pun cukup mengerti.

Selama kita dapat bersikap professional, rekan-rekan kerja cowo pun akan
menghargai kita, bahkan ketika suatu hari boss marah kepadaku, mereka
memberikan dukungan moril yang sangat berarti, sampai terharu.

Salah seorang bossku adalah berkewarganegaraan asing, orangnya supel dan
kalau bicara apa adanya, misalnya ketika kita menghadiri suatu conference di
Singapura, pada malam harinya saya hanya berdua dengan boss, rencananya akan
makan di Newton Circus, ketika itu di dalam MRT, bossku melihat seorang cewe
cantik sekali di MRT, secara spontan beliau berkata “Ri, kalau jadi cewe
tuh, feminim, dandan, rambut panjang, pakai rok, seperti cewe itu”, sambil
melirik seorang cewe yang duduk dengan manis di MRT. Aku pun menjawab dengan
spontan dan cueknya “Gimana, mau dandan Pak, kebanyakan dead line sih,  mau
modis, juga nggak sempat”.

Saya sudah beberapa kali mendampingi boss untuk mengikuti conference, bahkan
pernah pula mengikuti short college selama sepekan di Hotel Royal Plaza,
Singapura, bahkan ketika kita mengikuti conference di Langkawi, Malaysia,
kita sempat makan malam dekat Hotel Andaman, tempatnya romantis banget,
melewati hutan kecil dan pantai, sampai pada saat itu aku menghayal,
seandainya perginya bukan sama boss dan begitu pula ketika makan malam di
Barn Thai, Langkawi, untuk mengunjungi resto ini, kita harus naik sampan
kecil melewati sebuah sungai kecil.

Beberapa pasang mata pengunjung di resto tersebut memandangku dengan tatapan
mata aneh, mungkin karena perbedaan usia kita seperti ayah dan anak, atau
kita terlihat agak aneh, sedikit formil, lha namanya juga anak buah sama
boss, dan saya sama sekali tidak ada rasa kuatir meskipun pada malam hari,
karena boss juga sangat sopan kepada saya, dan rekan-rekan cewe  lainnya
yang menjadi bawahan, meskipun boss ini cukup terkenal pengagum perempuan
muda yang cantik (It’s his privacy).

Ketika beliau berulang tahun, secara spontan beliau akan cipika cipiki
(hanya menempel pipi saja) saya dan rekan kerja cewe lainnya di depan
teman-teman kerjaku, pada awalnya saya cukup terkejut, hanya saja mau
menghindari juga tidak enak, kebetulan bossku yang sebelumnya meninggal
dalam usia belia ketika sedang tidur, kalau beliau berulang tahun, kita
cukup hanya bersalaman tangan, sambil memberi ucapan selamat.

Dengan berjalannya waktu, acara ini cipika cipiki ini  berlangsung  pada
saat beliau atau saya berulang tahun, tanpa ada maksud apa-apa, mungkin
budaya di sana, mau menolaknya saya merasa sungkan, dan  bukan termasuk
pelecehan, meskipun saya agak sedikit jengah, karena boss ini sangat
kebapakan sekali, dan selama beberapa kali tugas conference ke luar negri,
beliau juga bersikap sangat sopan dan baik.

Selama saya bekerja di perusahaan ini, setahuku hampir tidak pernah ada
kasus pelecehan seksual di kantorku, karena peraturan pada kesepakatan kerja
bersama cukup jelas, kalau seorang melakukan perbuatan yang tidak
menyenangkan orang lain, apalagi pelecehan seksual di tempat kerja, dapat
dikenakan sanksi berupa pemutusan hubungan kerja, bahkan kalau pekerja baku
hantam secara fisik ataupun  memaki dengan kata yang kasar, dapat dikenakan
sanksi yang
sama.

*Beberapa Tips untuk menghindari pelecehan seksual di tempat kerja:*

Bekerja secara professional, kita harus dapat membedakan mana hal-hal yang
bersifat pribadi dan bukan dan apa yang boleh dilakukan atau  tidak boleh
dilakukan di tempat kerja.


Berpakaian yang sopan sesuai dengan lingkungan tempat kita bekerja kita,
beberapa kantor pada saat ini memperbolehkan karyawannya berbusana casual
and chic, tidak menyolok, harus dibedakan antara busana bermain di pantai
dengan busana kerja.


Berperilaku dan berbicara sopan ketika berkomunikasi dengan rekan kerja,
bukan berarti kita tidak boleh bercanda dengan rekan kerja atau  harus
selalu serius.


Bersikap ramah dan bersahabat, bukan berati kita bertutur kata genit dan
menghindari gaya bicara manja, jika sedang berdiskusi dengan rekan kerja
pada saat jam kerja di tempat kerja.
Jika kita mengetahui ada rekan kerja yang cendrung suka melakukan pelecehan
seksual baik dari gaya bicara maupun secara tindakan, lebih baik
berkomunikasi dengannya, hanya untuk tujuan pekerjaan saja.


Menghindari berdua saja dengan rekan pria di tempat yang sepi, selain untuk
menghindari gosip yang sering kali beredar di tempat kerja, dan untuk
menghindari terjadinya pelecehan seksual di tempat kerja.


Jika kita merasa ada jokes-jokes yang sudah menjurus ke arah negatif, adalah
bijaksana untuk tidak menanggapi jokes-jokes tersebut..


Jika kita merasa ada rekan kerja yang melakukan pelecehan seksual di tempat
kerja, kita dapat melaporkan kelakukannya kepada atasan langsung kita
ataupun ke human resources manager.
Mengundurkan diri dari perusahaan tempat kita bekerja, adalah pilihan
terakhir, jika dalam keadaan sangat terpaksa dan mendesak.


*Saya bersyukur mulai dari pertama kali bekerja di perusahaan konsultan
hingga di perusahaan  saat ini saya bekerja, tidak pernah sekali pun
mengalami pelecehan seksual di tempat kerja, meskipun saya selalu bersikap
ramah dan bersahabat kepada siapa pun tanpa memandang apa  jabatan
seseorang,  bahkan ketika saya memutuskan berhenti bekerja untuk
perkembangan karir di suatu perusahaan, seorang office boy di departmentku
sampai menitikan air mata, ketika memberikan pigura berisi foto diriku pada
saat acara Farewell Party, hal ini membuat sangat membuatku terharu.*

*Salam maniez,*

*Ariana*


-- 

Q

Reply via email to