maaf pak
perasaan lapor pajak ngak dipersulit deh
lewat pos juga bisa kan

To: obrolan-bandar@yahoogroups.com
From: [EMAIL PROTECTED]
Date: Sun, 16 Nov 2008 20:21:17 +0700
Subject: RE: [obrolan-bandar] Re: Hari Begini Mainan Capital Control - Ajaib 
Tapi Nyata



















    
            


Betul 
pak!
Ini 
masalah NPWP buat pembeli USD sebenarnya sudah lama mau diberlakukan, cuma 
sekarang bener2 saatnya tidak tepat.
Sama 
seperti banyak hal yg lainnya. Seperti orang yang bingung ngak tahu musti 
ngapain buat meredam pembelian USD.
 
Kelihatan hari pertama diberlakukan, langsung nyungsep 
itu RP. Dan dari yang sy denger banyak pengusaha yg sama sekali ngak 
comfortable 
dgn aturan baru tsb, bukan karena NPWPnya, karena mereka semua punya, tapi 
masalah kontrolnya.
What 
next kata mereka!
 
Dan 
ttg pencantuman NPWP itu sebenarnya lebih untuk kontrol pajak. Seperti kata 
Dirjen Pajak bilang, "Bisa beli USD 10.000 duit dari mana". Coba deh, bagi yg 
sekarang usianya sekitar 65thn keatas dan sudah retired, rata2 punya aset cukup 
"lumayan".
Sepanjang hidupnya sudah dipalakin berkali2 sama 
berbagai pihak, sekarang udah tua begitu masih disuruh ambil NPWP 
lagi?
Masih 
ditanya lagi sama Dirjen Pajak, "punya duit dari mana". Memangnya orang2 tsb yg 
berpuluh2 tahun bekerja ngak punya simpanan???
 
Biasalah di Indonesia, kalau bisa dibikin susah kenapa 
musti digampangin.
Orang 
punya NPWP saja masih dipersulit dalam pembuatan laporan! Apalagi kalo ada yg 
musti dikembaliin, mendingan kita kasih aja biarin hitung2 buang sial, daripada 
diminta balik, pasti diobok2 dan pasti ada aja yang salah, sampe akhirnya musti 
bayar tambah.
Orang 
yg mau bayar pajak saja dipersulit. Ngakunya di suratkabar sih, sudah 
dipermudah 
bla bla bla, memang ada benarnya, tapi tetep saja sama buntutnya. Indonesia 
gitu 
lho!
Selama, sekali lagi selama, yg dikorupsi masih jauh 
diatas daripada yg dibuat untuk membangun negara ini, selama itu juga orang 
ngak 
mau bayar pajak!
Buat 
apa? Orang susah payah kerja buat buang duit ke binatang. Kok enak 
yah!
 
 

  
  -----Original Message-----
From: 
  obrolan-bandar@yahoogroups.com [mailto:[EMAIL PROTECTED] On 
  Behalf Of jsx_consultant
Sent: Sunday, November 16, 2008 12:49 
  PM
To: obrolan-bandar@yahoogroups.com
Subject: 
  [obrolan-bandar] Re: Hari Begini Mainan Capital Control - Ajaib Tapi 
  Nyata


  
  Yang embah lagi bicarakan ialah: Efek pemberlakuan beli Valas
pake NPWP 
  terhadap gejolak kurs kemarin.

Policy moneter yg REAKTIF pada keadaan 
  tidak normal akan
mengakibatkan TAMBAHAN gejolak yg tidak perlu apalagi 
  saat ini 
kesadaran bayar pajak masih rendah. 

Coba anda bayangkan 
  kalo:
- Ibu ibu kepasar beli sayur harus pake NPWP, yg engga punya
NPWP 
  engga boleh beli sayur.

Apa akibatnya ?

Pilihan jawaban:
1. 
  Ibu ibu antri minta NPWP ke kantor pajak atau 
2. Harga sayur akan naik 
  RATUSAN PERSEN jika polisi mengenforce
peraturan ini dengan mengawasi 
  tukang sayur jualan.

Note:
- Kebijaksanaan beli valas pake NPWP 
  wajar2 aja, tapi jangan
diberlakukan secara REAKTIF.

--- In obrolan-bandar@yahoogroups.com, 
  "Tommy Jayamudita" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
  Embah, kalau membeli valuta asing harus memilik syarat (seperti 
  
mencantumkan NPWP) seperti bukan hal baru di berbagai negara maju 
atau 
  negara berkembang. Saya pikir ini bukan capital control. Memang 
transaksi 
  valuta asing di Indonesia terlalu bebas selama ini, dan 
(katanya) menjadi 
  negara yang paling bebas di dunia. 
> 
> Inggris, Perancis juga 
  pernah menerapkan hal serupa, bahkan China 
sangat ketat dalam perdagangan 
  valuta asing. Dengan cara ini 
pemerintah melindungan ekonomi negaranya, 
  dan terbukti negara mereka 
tetap maju berkembang. Saya merasa aneh, kok 
  justru rakyat Indonesia 
sendiri yang menggerutu ketika perdagangan valuta 
  asing diatur (untuk 
menangkis spekulasi valas), apa mereka tidak berpikir 
  kalau negaranya 
babak belur mereka juga akan hidup susah (seperti 1998). 
  Siapapun 
yang duduk di pemeritahan, seharusnya kita dukung dalam kondisi 
  
seperti saat ini, bukan selalu mengeritik, mengungkit bahkan 
menyerang 
  tanpa solusi yang baik secara keseluruhan (bukan sepotong-
potong dalam 
  bagian kepentingan makro).
> 
> Situasi seperti saat ini 
  seharusnya semua lapisan masyarakat bisa 
bersatu (contohnya rakyat Jepang, 
  walaupun tabungan di bank bunganya 
0%, bahkan masih nombok biaya 
  administrasi di tahun 80-an akhir 
karena tidak ada pertumbuhan ekonomi, 
  mereka tetap menabung di bank), 
pinjam istilah Pak DE, RAPATKAN 
  BARISAN!
> 
> Salam,
> TJ
> 
> 
> ----- 
  Original Message ----- 
> From: jsx_consultant 
> To: obrolan-bandar@yahoogroups.com 
  
> Sent: Saturday, November 15, 2008 11:44 PM
> Subject: 
  [obrolan-bandar] Re: Hari Begini Mainan Capital Control -
Ajaib Tapi 
  Nyata
> 
> 
> Pak Sirait,
> 
> Di Indonesia 
  banyak orang kaya yg dulunya mungkin sekolahnya
> cuman lulusan SD. 
  Meskipun cuman lulusan SD tapi duitnya 
> ribuan kali duitnya yg S3. 
  Orang model begini paling bandel
> kalo bayar pajak karena mereka 
  dulunya orang susah jadi
> sekarang pelit. Mungkin banyak dari mereka 
  kalo bayar
> pajak cuman sedikit, jadi kalo dibandingin jumlah
> 
  dollar yg mereka beli engga masuk akal. Jadi mereka engga
> mungkin beli 
  dollar pake NPWP karena akan langsung
> keliatan ama pajak.
> 
  
> Banyaknya rumor negatif menjelang pemilu, berita negatif
> 
  tentang krisis yg berkepanjangan membuat mereka yg sudah
> mengalami 
  kerusuhan 98 mencari jalan aman beli dollar.
> 
> Semakin 
  pemerintah melarang orang beli dollar, semakin
> curiga mereka, tentu 
  ada apa apanya. Semakin mereka pengen
> beli dollar.
> 
> 
  Larangan membeli dollar tanpa NPWP, tentunya membuat mereka 
> membeli 
  dollar diluar negri. Ini akan membuat Rupiah dibanting
> di luar negri 
  yg volumenya lebih tipis dari pada di JKT.
> sehingga rupiah turun 
  drastis dalam sesaat.
> 
> MUNGKIN ini penyebab kejatuhan rupiah 
  yg drastis setelah
> pengumuman larangan beli dollar harus pake 
  NPWP.
> 
> Note:
> Dulu rasanya ada larangan membawa rupiah 
  keluar negri supaya
> rupiah engga bisa dikerjain diluar negri ?
> 
  
> --- In obrolan-bandar@yahoogroups.com, 
  "yokorusi" <yokorusi@> 
> wrote:
> >
> > http://unpublisheddream.blogspot.com/
> 
  > 
> > Seorang teman baik di Singapore mengirimkan sebuah email 
  berisi 
> pujian
> > terhadap posisi aliran dana asing di 
  Indonesia yang masih 
bertahan 
> di
> > daerah positif 
  dalam hitungan total 25 minggu terakhir. 
Setidaknya
> > saya 
  berbangga dengan fakta tersebut yang (turut) membuktikan 
> 
  pendapat
> > tendesius nan keliru dari JP Morgan terhadap surat 
  hutang di
> > Indonesia. Tetapi biarkanlah pendapat tersebut terus 
  hadir dan
> > bersemayam dalam berbagai situs internet sehingga 
  semakin 
banyak 
> yang
> > mengetahui kualitas dan posisi 
  pandang analis JP Morgan terhadap
> > Indonesia.
> > 
  
> > Terdorong dari pujian tersebut, saya coba melakukan riset 
  
kembali
> > mengenai posisi aliran dana asing di Indonesia. Dari 
  data yang 
saya
> > dapatkan dana yang telah keluar dari Asia-6 
  (Indonesia, India,
> > Thailand, Taiwan, Korea dan Philippines) sejak 
  awal tahun telah
> > mencapai USD 64 billion. Sedangkan Japan untuk 
  periode yang 
sama 
> telah
> > kehilangan sebanyak USD 18.8 
  billion. Dari ketujuh negara 
tersebut,
> > Indonesia adalah 
  satu-satunya yang masih memiliki aliran bersih 
dana
> > asing 
  dalam posisi positif sebesar USD 1 billion. Terburuk 
dialami
> > 
  oleh Taiwan dan Korea.
> > 
> > Tetapi fakta di atas bukan 
  berarti posisi Indonesia secara 
overall
> > dapat dikatakan aman 
  dalam setahun ke depan. Bila ditilik lebih 
> dalam
> > maka 
  sebenarnya posisi Indonesia sedang dalam posisi riskan 
terhadap
> 
  > terjadinya krisis ekonomi. Mengapa demikian? Ada beberapa 
faktor 
  
> yang
> > memberikan indikasi tersebut.
> > 
> 
  > Pertama, mengenai pertumbuhan real GDP di 2009. Dari sebuah 
  
riset
> > dikatakan bahwa pertumbuhan real GDP hanya akan 
  mencapai 3.5% 
di 
> 2009
> > atau terendah sejak 1999. Ini 
  menunjukkan bahwa aktifitas 
ekonomi 
> akan
> > segera 
  merosot dalam beberapa bulan ke depan. Bila pertumbuhan 
> 
  rendah
> > maka daya tarik investasipun akan memudar sehingga akan 
  terjadi
> > penghentian ataupun penundaan investasi asing. Hal yang 
  sama 
> terlihat
> > dari posisi net foreign trade yang telah 
  semakin menurun 
dibanding
> > posisi awal tahun 2008 sebagai 
  akibat dari krisis global.
> > 
> > Kedua, tingkat suku 
  bunga 9.5% yang terus dipertahankan oleh 
Bank
> > Indonesia 
  merupakan keputusan yang tidak tepat. Dengan jatuhnya
> > Consumer 
  Price Inflation di Oktober maka semakin terlihat bahwa
> > keputusan 
  ini hanyalah untuk mempertahankan posisi Rupiah. 
Ironisnya
> > 
  nilai tukar IDR justru semakin merosot dari hari ke hari. 
  
Depresiasi
> > sebesar 14% hanya dalam bulan Oktober 2008. Di 
  sisi lain, suku 
bunga
> > tinggi telah membuat pasar kredit 
  semakin lesu dan membuat 
putaran
> > ekonomi semakin melambat. 
  Lalu apa manfaatnya? Apa yang terjadi 
bila
> > nilai tukar 
  semakin lesu? Intervensi saja tidak cukup. Sudah
> > seharusnya titik 
  tolak dari tingkat suku bunga adalah 
memperbaiki
> > dinamika 
  perekonomian domestik sehingga akan memberikan impact
> > terhadap 
  daya tahan perekonomian di sektor riil. Untuk itu 
> diperlukan
> 
  > suku bunga yang cukup rendah.
> > 
> > Ketiga, 
  keputusan Bank Indonesia untuk menerapkan kontrol 
terhadap
> > 
  pembelian mata uang asing adalah kurang tepat. Ini justru 
membuat
> 
  > pasar bergejolak dan membuat tekanan lebih besar terhadap posisi
> 
  > Rupiah. Lagipula Indonesia tidak memiliki pengalaman didalam 
  
capital
> > control sehingga gejolak yang terjadi dapat melebihi 
  antisipasi 
yang
> > telah diperhitungkan. Dengan posisi one-month 
  NDF pada 12,650 
> beberapa
> > hari yang lalu, sudah 
  seharusnya BI segera meninjau ulang 
keputusan
> > tersebut. Tidak 
  ada variable lain yang berubah secara 
signifikan 
> dalam
> 
  > seminggu terakhir kecuali keputusan tersebut dan response pasar 
> 
  adalah
> > sangat negatif.
> > 
> > Dari ketiga hal 
  diatas, dua terakhir terkait dengan BI sebagai 
bank
> > sentral 
  Indonesia. Apa yang saya lihat adalah kesan bahwa 
beberapa
> > 
  kebijakan BI di dalam penetapan suku bunga dan stabilisasi 
Rupiah
> 
  > tidak matang dan seadanya. Saya khawatir bila BI tidak mampu 
  
koreksi
> > diri untuk mengambil kebijakan yang memihak ekonomi 
  riil maka 
> kondisi
> > mata uang kita akan sampai pada 
  kondisi yang mengenaskan. 
Capital
> > control seharusnya 
  diimplementasikan secara berangsur pada 
kondisi
> > ekonomi 
  stabil dan sehat. Sebaliknya pada kondisi ekonomi yang 
tidak
> > 
  sehat maka keputusan capital control harus diimplementasikan 
  
secara
> > menyeluruh pada saat yang bersamaan.
> > 
  
> > Kondisi nilai tukar Rupiah saat ini bukan studi kasus di ruang 
  
> kuliah
> > tapi fakta di lapangan yang menyangkut nasib 
  orang banyak. 
Lihat 
> fakta
> > jangan berangan 
  angan.
> > 
> > Socrates Rudy Sirait, PhD
> > http://unpublisheddream.blogspot.com/
> 
  >
>



      

    
    
        
        
        
        


        


        
        
_________________________________________________________________
Easily publish your photos to your Spaces with Photo Gallery.
http://get.live.com/photogallery/overview

Kirim email ke