Dalam suatu forum ekonomi dunia, Menkeu Sri Mulyani pernah melontarkan kritikan 
kepada negara-negara industri maju yang berencana menerbitkan obligasi 
besar-besaran untuk membiayai bail out dan stimulusnya. Hal ini dikatakannya 
bakal menyedot cadangan devisa di negara-negara berkembang akibat pelarian dana 
investor asing. Saat Hillary keliling Asia untuk menawarkan obligasi AS, Menkeu 
kita yang "iron woman" ini bergerak cepat dengan menjual obligasi berdenomiasi 
dollar ke AS dan Jepang. Masalahnya, bunga yang 11% itu gile juga yah. Apakah 
ini tindakan cemerlang atau blunder untuk jangka panjang? 

Salam,
RW

Kirim email ke