Hmmmm.............

Jadi ingat mendiang Baharuddin Lopa. Semoga arwahnya senantiasa diberi
kelapangan.
Amin.

Regards, Faisal



2009/5/14 Muttaqien yk <muttaqien...@gmail.com>:
>
>
> Sisi lain Pak Boed yang saya kenal Oleh Faisal Basri - 14 Mei 2009 - Dibaca
> 93 Kali -
>
> Saya pertama kali mengenal Pak Boed pada akhir 1970-an lewat buku-bukunya
> yang enak dibaca, ringkas, dan padat. Pada akhir 1970-an. Kalau tak salah,
> judul-judul bukunya selalu dialawali dengan kata ”sinopsis,” ada Sinopsis
> Makroekonomi, Sinopsis Mikroekonomi, Sinopsis Ekonomi Moneter, dan Sinopsis
> Ekonomi Internasional. Kita mendapatkan saripati ilmu ekonomi dari
> buku-bukunya yang mudah dicerna.
>
> Pada suatu kesempatan, Pak Boed mengutarakan pada saya niatnya untuk
> merevisi buku-bukunya itu. Mungkin ia berniat untuk menulis lebih serius
> sehingga bisa menghasilkan buku teks yang lebih utuh. Kala itu saya
> menangkap keinginan kuat Pak Boed untuk kembali ke kampus dan menyisihkan
> waktu lebih banyak menulis buku. Karena itu, ia tak lagi berminat untuk
> kembali masuk ke pemerintahan setelah masa tugasnya selesai sebagai Menteri
> Keuangan di bawah pemerintihan Ibu Megawati.
>
> Pak Boed dan Pak Djatun (Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menko Perekonomian)
> bekerja keras memulihkan stabilitas ekonomi yang “gonjang-ganjing” di bawah
> pemerintahan Gus Dur. Hasilnya cukup mengesankan. Pertumbuhan ekonomi
> mengalami peningkatan terus menerus. Di tengah hingar bingar masa kampanye
> seperti dewasa ini, Ibu Mega ditinggalkan oleh wapresnya, dua menko, dan
> seorang menteri (Agum Gumelar). Ternyata perekonomian tak mengalami gangguan
> berarti. Kedua ekonom senior ini bekerja keras mengawal perekonomian.
> Hasilnya cukup menakjubkan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan keempat 2004
> mencapai 6,65 persen, tertinggi sejak krisis hingga sekarang.
>
> Selama dua tahun pertama pemerintahan SBY-JK, perekonomian Indonesia
> mengalami kemunduran. Tatkala muncul gelagat Pak SBY hendak merombak
> kabinet, sejumlah kawan mengajak Pak Boed bertemu. Niat para kolega ini
> adalah membujuk Pak Boed agar mau kembali masuk ke pemerintahan seandainya
> Pak SBY memintanya. Agar lebih afdhol, kolega-kolega saya ini juga mengajak
> Ibu Boed. Mungkin di benak mereka, Ibu bisa turut luluh dengan pengharapan
> mereka. Akhirnya, Pak Boed menduduki jabatan Menko Perekonomian. Mungkin
> sahabat-sahabat saya itu masih terngiang-ngiang sinyal penolakan Pak Boed
> dengan selalu mengatakan bahwa ia sudah cukup tua dan sekarang giliran yang
> muda-muda untuk tampil. Memang, Pak Boed selalu memilih ekonom muda untuk
> mendampinginya: Mas Anggito, Bung Ikhsan, Bung Chatib Basri, Mas Bambang
> Susantono, dan banyak lagi. Semua mereka lebih atau jauh lebih muda dari
> saya.
>
> Interaksi langsung terjadi ketika Pak Boed menjadi salah seorang anggota
> Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Saya ketika itu anggota Tim Asistensi Ekonomi
> Presiden (anggota lainnya adalah Pak Widjojo Nitisastro, Pak Alim Markus,
> dan Ibu Sri Mulyani Indrawati). Ibu Sri Mulyani memiliki jabatan rangkap
> (jadi bukan sekarang saja), selain sebagai anggota Tim Asistensi juga
> menjadi sekretaris DEN. Pak BOed tak pernah mau menonjolkan diri, walau ia
> sempat jadi menteri pada masa transisi.
>
> Sikap rendah hati itulah yang paling membekas pada saya. Lebih banyak
> mendengar ketimbang bicara. Kalau ditanya yang “nyerempet-nyerempet ,”
> jawabannya cuma dengan tersenyum. Saya tak pernah dengar Pak Boed
> menjelek-jelekkan orang lain, bahkan sekedar mengkritik sekalipun.
>
> Tak berarti bahwa Pak Boed tidak tegas. Seorang sahabat yang membantunya di
> kantor Menko Perekonomian bercerita pada saya ketegasan Pak Boed ketika
> hendak memutuskan nasib proyek monorel di Jakarta yang sampai sekarang
> terkatung-katung. Suatu waktu menjelang lebaran, Pak Boed dan sejumlah staf
> serta, kalau tak salah, Menteri Keuangan dipanggil Wapres. Sebelum meluncur
> bertemu Wapres, Pak Boed wanti-wanti kepada seluruh stafnya agar kukuh pada
> pendirian berdasarkan hasil kajian yang mereka telah buat. Pak Boed sempat
> bertanya kepada jajarannya, kira-kira begini: “Tak ada yang konflik
> kepentingan, kan? Ayo kita jalan, Bismillah …  Keesokan harinya, saya
> membaca di media massa bahwa sekeluarnya dari ruang pertemuan dengan Wapres,
> semua mereka berwajah “cemberut” tanpa komentar satu kata pun kepada
> wartawan.
>
> Adalah Pak Boed pula yang memulai tradisi tak memberikan “amplop” kalau
> berurusan dengan DPR. Tentang ini, saya dengar sendiri perintahnya kepada
> Mas Anggito.
>
> Ada dua lagi, setidaknya, pengalaman langsung saya berjumpa dengan Pak Boed.
> Pertama, satu pesawat dari Jakarta ke Yogyakarta tatkala Pak Boed masih
> Menteri Keuangan. Berbeda dengan pejabat pada umumnya, Pak Boed dijemput
> oleh Ibu. Dari kejauhan saya melihat Ibu menyetir sendiri mobil tua mereka.
>
> Kedua, saya dan isteri sekali waktu bertemu Pak Boed dan Ibu di Supermarket
> dekat kediaman kami. Dengan santai, Pak Boed mendorong keranjang belanja.
> Rasanya, hampir semua orang di sana tak sadar bahwa si pendorong keranjang
> itu adalah seorang Menko.
>
> Banyak lagi cerita lain yang saya dapatkan dari berbagai kalangan. Kemarin
> di bandara Soekarno Hatta setidaknya dua orang (pramugara dan staf ruang
> tunggu) bercerita pada saya pengalaman mengesankan mereka ketika bertemu Pak
> Boed. Seperti kebanyakan yang lain, kesan paling mendalam keduanya adalah
> sikap rendah hati dan kesederhanaannya.
>
> Dua hari lalu saya dapat cerita lain dari pensiunan pejabat tinggi BI. Ia
> mengalami sendiri bagaimana Pak Boed memangkas berbagai fasilitas yang
> memang terkesan serba “wah.” Dengan tak banyak cingcong, ia mencoret banyak
> item di senarai fasilitas. Kalau tak salah, Pak Boed juga menolak mobil
> dinas baru BI sesuai standar yang berlaku sebelumnya. Entah apa yang
> terjadi, jangan-jangan mobil para deputi dan deputi senior lebh mewah dari
> mobil dinas gubernur.
>
> Kalau mau tahu rumah pribadi Pak Boed di Jakarta, datang saja ke kawasan
> Mampang Prapatan, dekat Hotel Citra II. Kebetulan kantor kami, Pergerakan
> Indonesia, persis berbelakangan dengan rumah Pak Boed. Rumah itu tergolong
> sederhana. Bung Ikhsan pernah bercerita pada saya, ia menyaksikan sendiri
> kursi di rumah itu sudah banyak yang bolong dan lusuh.
>
> Bagaimana sosok seperti itu dituduh sebagai antek-antek IMF,
> simbol Neoliberalisme yang bakal merugikan bangsa, dan segala tuduhan miring
> lainnya. Lain kesempatan kita bahas tentang sikap dan falsafah ekonomi Pak
> Boed. Kali ini saya hanya sanggup bercerita sisi lain dari sosok Pak Boed
> yang kian terasa langka di negeri ini.
>
> Maju terus Pak Boed.
>
> 


------------------------------------

+ +
+ + + + +
Mohon saat meREPLY posting, text dari posting lama dihapus 
kecuali diperlukan agar CONTEXTnya jelas.
+ + + + +
+ +Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/obrolan-bandar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/obrolan-bandar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:obrolan-bandar-dig...@yahoogroups.com 
    mailto:obrolan-bandar-fullfeatu...@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    obrolan-bandar-unsubscr...@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke