Nanti kan ada penjelasan di KPK asetnya apa saja. 
Pak Oen tdk salah, ini cerita RIIL seorang pns rendahan yg bs sukses dengan 
memulai peruntungan investasi di logam mulia saat OIL SHOCK, return 100% in 6 
months. Beliau mengumpulkan 'modal' tsb sedikit demi sedikit dari sisa setoran 
gaji buat keluarga (=isteri) dan ongkos naik kereta commutering ke kantor di 
jakarta dari pondok mertua indah di luar jakarta. Jaman itu jauuuh lebih susah 
dibanding sekarang. Suksesnya sekarang seperti apa, di hari tuanya bs santai 
menunggu BEAR moment and BULL moment.   
Salam,


--- On Fri, 5/22/09, jacob oen <oenja...@yahoo.com> wrote:

From: jacob oen <oenja...@yahoo.com>
Subject: Re: [ob] Jalan Lurus Pak Boed (MBM TEMPO)
To: obrolan-bandar@yahoogroups.com
Date: Friday, May 22, 2009, 3:16 AM








        
 












Saya memaknai tulisan Tempo tentang Pak Boed sebagai pembelajaran dan contoh 
seorang Birokrat yang santun, sederhana, jujur, bertanggung jawab dan di atas 
segalanya mengutamakan kepentingan orang banyak.
 
Menurut saya setiap orang pasti memiliki spirit (semangat) sebagai seorang 
Salary-man maupun sebagai seorang Entreprenuer, cuma bobotnya berbeda-beda bagi 
setiap orang.
 
Sebagai contoh seorang pegawai yang punya pengahasilan tetap dan atau tidak 
tetap, jika punya dana lebih tentunya ingin memanfaatkan dana lebih tersebut 
untuk mendapatkan return yang lebih tinggi, bisa dengan cara menabung, membeli 
obligasi, reksadana, saham, tanah, property atau logam mulia . Prinsip yang 
ingin mendapatkan manfaat maximal dari sebuah investasi ini bisa dikatakan 
memiliki sifat Entreprenuership.
 
Menurut saya (by common sense) untuk rentang years of productivity > 40 
thn.....apalagi dia seorang teknokrat, cerdas, pekerja keras, hemat dan hidup 
bersahaja adalah sangat wajar jika memiliki total asset 18 M....... (jika ada 
yang berpendapat beda...it's OK..and nothing wrong with that).   





From: ARRAY27 <arra...@gmail.com>
To: obrolan-bandar@yahoogroups.com
Sent: Thursday, May 21, 2009 1:19:04 PM
Subject: Re: [ob] Jalan Lurus Pak Boed (MBM TEMPO)



Apa Cawapres yang ini pengusaha atau investor saham juga??? Hitung2 ajeg 
depositoin 5.000.000 sebulan dengan 9%/th selama 35 th terkumpul paling 14 M. 
Apa iya abdi negara bisa nabung 5 jt sebulan dari gaji+tunjangan, sekalipun 
seorang pejabat 4e/profesor/ peneliti utama/jenderal. Bingung kalo ada PNS yang 
bisa punya harta sampai M, kalau tidak punya usaha sendiri atau dapat warisan.


Pada 20 Mei 2009 21:52, jacob oen <oenja...@yahoo. com> menulis:












Jalan Lurus Pak Boed
Selalu berhemat dan memangkas biaya. Kekayaannya lebih dari Rp 18 miliar.
 

PERTEMUAN tingkat internasional itu berlangsung di Bali, dua tahun lalu. Agam 
Embun Sunarpati berangkat lebih dulu untuk mencari hotel buat Menteri 
Koordinator Bidang Perekonomian, Boediono. 
Di Bali, Agam memesan kamar seharga Rp 6 juta semalam. Pagu anggaran penginapan 
menteri memungkinkan Boediono tinggal di hotel dengan tarif Rp 6 juta, dan 
acara memang berlangsung di hotel itu. 
Agam, orang yang menyusun jadwal Boediono ketika menjabat Menteri Koordinator 
Perekonomian, 2005-2008, menelepon bosnya yang masih di Jakarta. Ternyata 
Boediono menolak. ”Itu mahal, sayang uangnya,” kata Boediono, seperti ditirukan 
Agam. ”Itu kan uang rakyat.” Bergegas Agam membatalkan pesanan kamar, dan 
menemukan hotel dengan tarif Rp 800 ribu semalam. 
Mei tahun lalu, Pak Boed—demikian ia biasa dipanggil—diangkat menjadi Gubernur 
Bank Indonesia. Jumat pekan lalu, Boediono dideklarasikan sebagai calon wakil 
presiden dalam pemilihan presiden tahun ini, mendampingi calon presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono. 
Bagi Agam, Pak Boed orang sederhana dan tak suka kemewahan. Dalam sejumlah 
kunjungan, Boediono selalu mencari hotel yang relatif murah. Dalam pertemuan 
menteri perekonomian di Singapura, misalnya, Boediono memilih tinggal bersama 
anaknya ketimbang menginap di hotel yang disediakan panitia. 
Pengamat ekonomi Faisal Basri pernah satu pesawat dengan Boediono ke 
Yogyakarta. Boediono hanya dijemput istrinya yang menyetir sendiri mobilnya. 
Faisal juga pernah memergoki Boediono bersama istrinya di supermarket. Dengan 
santai, Boediono mendorong keranjang belanja. ”Rasanya, hampir semua orang tak 
sadar bahwa si pendorong keranjang adalah menteri koordinator,” kata Faisal, 
seperti ditulis dalam blognya. 
Kesederhanaan Boediono itu juga terlihat dalam pola makan. Menurut Agam, pria 
kelahiran Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943 itu paling hanya menyukai kepala 
kakap, soto, atau gado-gado. Minumnya air putih. ”Pokoknya, asal murah,” kata 
Agam. 
Agam mengatakan, Pak Boed tak mau jatah makannya di kantor melebihi Rp 27 ribu. 
Jumlah ini mengacu pada standar biaya makan eselon satu dan dua. Kalau ternyata 
ada makanan yang disukai tapi harganya lebih dari Rp 27 ribu, Boediono 
mengeluarkan uang sendiri. 
Ia juga ketat menjaga anggaran buat para tamu. Kalau datang ke kantor Boediono, 
para menteri sudah bisa menebak harga makanan yang disajikan. Pasti hidangan 
utamanya tak lebih dari Rp 25 ribu, dan makanan ringan Rp 7 ribu seorang. 
Ketika menjadi Menteri Koordinator Perekonomian, Boediono memiliki sembilan 
staf khusus, termasuk Agam. Boediono selalu menyapa setiap dia datang dan 
pulang. Bekas Menteri Keuangan ini biasanya sudah sampai di kantor sekitar 
pukul tujuh. Ia lalu joging tanpa pengawalan di taman Lapangan Banteng. 
Suatu ketika, Agam dan staf lain melihat baju hangat Boediono sobek di bagian 
belakang. Boediono dengan santai memakai sweater itu. Padahal, kalau melongok 
kekayaannya menurut Komisi Pemberantasan Korupsi, jumlahnya Rp 18,66 miliar dan 
US$ 10 ribu. Gaji dan tunjangannya di Bank Indonesia lebih dari Rp 150 juta. 
Sweater abu-abu itu terus melekat dan sering dipakai dalam berbagai kegiatan 
dinas. Beberapa stafnya mencoba memberi tahu sobekan itu. Boediono hanya 
senyum. ”Nanti Ibu (istrinya, Herawati) yang menjahit,” katanya. Boediono terus 
memakai sweater bolong itu. 
Para staf lalu membuat kejutan dengan memberikan kado pas ulang tahunnya. 
Isinya sweater dengan model dan warna sama, abu-abu. ”Bapak orangnya tak mau 
model aneh-aneh,” ujar sekretaris pribadi yang tak mau disebutkan namanya. 
Kesederhanaan Boediono sudah te-cermin sejak kecil di Kepanjen Lor, Blitar, 
kampung halamannya. Ia dilahirkan dari pasangan Ahmad Siswo Harjono dan 
Samilah. Ayahnya, yang pedagang batik, menyulap ruang tamu 3 x 8 meter kediaman 
mereka sebagai toko. Tapi hasil jualan batik itu belum cukup untuk menutupi 
kebutuhan keluarga. 
Samilah membantu dengan berjualan perhiasan. Syamsiah Syafaat, teman sekolah 
Boediono, mengatakan Samilah sangat ketat mengatur kebutuhan ketiga anaknya, 
yakni Boediono, Tutik, dan Kuncoro Jati. Karena itulah sejak kecil hingga 
remaja Boediono dan dua adiknya tidak pernah bergaya seperti remaja lainnya. 
Boediono menempuh pendidikan hingga sekolah menengah atas di Blitar. Ia masuk 
pada 1957 dan menjadi angkatan ketiga sejak SMA Negeri 1 Blitar itu berdiri—SMA 
satu-satunya waktu itu. Di sinilah Boediono mengenal ilmu ekonomi. ”Meski 
pendiam, beliau sangat pintar menyerap pelajaran di kelas,” kata Syamsiah 
Syafaat, 69 tahun. 
Boediono murid paling muda. Temannya rata-rata lebih tua dua tahun. Namun ia 
mampu mengungguli rekannya, terutama dalam pelajaran ilmu hitung dagang dan 
ilmu perekonomian. Boediono diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah 
Mada pada 1960. Setelah tingkat II, ia menerima beasiswa Colombo Plan dan 
kuliah di Australia. 
Balik ke Indonesia, ia sempat bekerja di sebuah bank di Jakarta, dan kembali ke 
kampus sebagai dosen, pada 1972. Setelah kematian ayahnya pada 1974, Boediono 
mengajak ibunya ke Yogyakarta. ”Rumah di Blitar dikontrakkan,” kata Bambang 
Heri Subeno, saudara sepupunya. 
Dibyo Prabowo, koleganya ketika menjadi dosen, mengatakan Boediono mulai ke 
Jakarta ketika menulis artikel di media tentang pembangunan Indonesia pada 
1990-an. Rupanya, tulisan itu dibaca J.B. Sumarlin, Menteri Negara Perencanaan 
Pembangunan Nasional. Boediono dipanggil lalu diangkat menjadi Kepala Biro 
Ekonomi. ”Dari sana baru ke Bank Indonesia,” kata Dibyo. 
Boediono menjadi Direktur III Bank Indonesia Urusan Pengawasan Bank Perkreditan 
Rakyat pada 1996. Setahun kemudian ia menjadi Direktur I Bank Indonesia Urusan 
Operasi dan Pengendalian Moneter. Pada periode ini, Boediono sering dikaitkan 
dengan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. 
Sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat mempertanyakan kasus bantuan 
likuiditas itu ketika Boediono menjadi kandidat Gubernur Bank Indonesia tahun 
lalu. Ia beberapa kali dipanggil kejaksaan sebagai saksi. Boediono mengatakan, 
bantuan itu merupakan tindakan darurat. ”Saat itu langit seperti mau runtuh, 
tiap jam ada berita bank mau ambruk,” katanya. 
Pada era Presiden B.J. Habibie, 1998-1999, Boediono menjadi Menteri Negara 
Perencanaan Pembangunan Nasional. Ia menjadi Menteri Keuangan ketika Megawati 
menjadi presiden, pada 2001. Pada Desember 2005, ia diangkat Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono menjadi Menteri Koordinator Perekonomian, menggantikan 
Aburizal Bakrie. 
Setelah setahun menjadi Gubernur Bank Indonesia, Boediono menyatakan 
kesiapannya menjadi calon wakil presiden pada pemilu Juli nanti. Boediono 
mendapat banyak protes karena dianggap berhaluan neoliberal. Ia menepis tuduhan 
itu dalam pidatonya di Bandung. 
Menurut dia, perekonomian Indonesia tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada 
pasar bebas. Namun negara juga tak boleh campur tangan karena akan mematikan 
kreativitas. ”Negara tidak boleh hanya tertidur,” katanya. ”Untuk itu perlu 
pemerintah yang bersih.” 
Yandi M.R. (Jakarta), Hari Tri Wasono (Blitar), Pito Agustin Rudiana 
(Yogyakarta)





























From: Asep Buhori <asepbuh...@yahoo. com>
To: obrolan-bandar@ yahoogroups. com
Sent: Wednesday, May 20, 2009 9:24:20 PM
Subject: Bls: Bls: [ob] Next Crisis Will Be in Currencies: Jim Rogers





Santai pak TF, kalo bozz gak ada lawan tanding paling2 indeks diturunin,
tapi kalo tiba2 ada lawan sepadan baru seru deh, bakal naik ke langit ke tujuh

 




Dari: Thomas Frederick <thomaszone_2000@ yahoo.com>
Kepada: OB <obrolan-bandar@ yahoogroups. com>
Terkirim: Rabu, 20 Mei, 2009 20:57:44
Topik: Re: Bls: [ob] Next Crisis Will Be in Currencies: Jim Rogers



Aduhhh tapi dow plus lumayan nih 100an... Kayaknya 1600an tinggal kenangan.

Padahal tadi candle nya doji udah seneng banget..

Hikz hikz... Barang gw ngga full nihh... Hikz hikzz 


From: Asep Buhori 
Date: Wed, 20 May 2009 21:25:48 +0800 (SGT)
To: <obrolan-bandar@ yahoogroups. com>
Subject: Bls: [ob] Next Crisis Will Be in Currencies: Jim Rogers





Untuk negara2 dg cadangan devisa dan PDB yang masih tumbuh positif (terutama yg 
didrive oleh konsumsi dalam negeri) tentu tidak akan terlalu masalah.
So bursa2 asia spt indonesia, china, india akan tetap tumbuh.
Penyesuaian sejenak tentu ada untuk rebalancing.





Dari: Saham Oke <wasi...@yahoo. com>
Kepada: obrolan-bandar@ yahoogroups. com
Terkirim: Rabu, 20 Mei, 2009 20:06:20
Topik: [ob] Next Crisis Will Be in Currencies: Jim Rogers







The next financial meltdown will be in the currency markets, as central banks 
around the world have been printing money, giving the appearance of massive 
government intervention to weaken their currencies, legendary investor Jim 
Rogers, chairman, Rogers Holdings, told CNBC Wednesday.

http://www.cnbc. com/id/30838252/

Apa yaa dampak ke IHSG.....ada yg punya opini.....



Dapatkan nama yang Anda sukai! 
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail. com. 




Yahoo! Mail Sekarang Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya! 





Lebih bersih, Lebih baik, Lebih cepat - Yahoo! Mail: Kini tanpa iklan. Rasakan 
bedanya! 







      








    
    










      

Kirim email ke